Kompas.id Brief
KOMPAS BRIEF

Mengapa Pembukaan Selat Hormuz Terhambat?

Iran telah mengumumkan akan membuka Selat Hormuz. Walakin, AS memutuskan tetap menutup selat itu.

20 Apr 2026 07:57 WIB · Internasional

AFP

Oleh Kris Mada

Apa yang dapat dipelajari artikel ini?

copy title

1. Mengapa Iran menutup lagi Selat Hormuz?

2. Apa alasan lain Selat Hormuz tetap tertutup?

3. Apakah Iran pernah membuka lagi Selat Hormuz?

4. Apa dampak saling blokade?

Selat Hormuz tertutup lagi

copy title

Iran kembali menutup Selat Hormuz setelah membuka jalur itu dan rombongan tanker melintas pada Sabtu (18/4/2026). Penutupan lagi Selat Hormuz terjadi karena Amerika Serikat tetap memberlakukan blokade pada pelabuhan-pelabuhan Iran. Komando gabungan militer Iran, Sabtu, menyatakan, kendali atas Selat Hormuz kembali ke keadaan sebelumnya, yakni di bawah pengelolaan dan pengawasan ketat angkatan bersenjata.

Mereka juga memperingatkan, Iran akan terus menghalangi lalu lintas di selat itu selama blokade AS masih berlaku. Sebelum pembatasan Iran kembali diberlakukan, konvoi tanker minyak melintasi Selat Hormuz pada Sabtu. Menurut data MarineTraffic, rombongan itu terdiri dari empat kapal pengangkut gas minyak cair serta sejumlah tanker produk minyak dan bahan kimia yang melintas di perairan Iran di selatan Pulau Larak.

Sejumlah tanker lain juga disebut menyusul dari arah Teluk. Pergerakan ini merupakan pergerakan besar pertama tanker di Selat Hormuz sejak AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran tujuh pekan lalu.

Operasi Perdagangan Maritim Kerajaan Inggris (UKMTO), Sabtu, mengatakan, dua kapal perang dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) melepaskan tembakan ke arah sebuah tanker yang melintasi Selat Hormuz setelah penutupan kembali jalur air itu. Kapal dan awaknya selamat, tetapi tidak disebutkan nama kapal ataupun tujuannya.

Alasan selat tetap tertutup

copy title

Upaya bina damai antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan buntu. Washington memberikan tuntutan berat terhadap Teheran terkait sejumlah isu-isu utama, khususnya program nuklir Iran.

Oleh sebab itu, menurut Wakil Menteri Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh, Iran belum siap untuk mengadakan putaran baru perundingan damai secara langsung dengan pejabat AS. Apalagi, Washington menolak untuk melepaskan sejumlah tuntutan ”maksimalis”, termasuk penyerahan uranium yang diperkaya kepada AS.

Kapal Tanker Pertamina di Teluk Persia Selat Hormuz

”Saya dapat memberi tahu Anda bahwa tidak ada material yang diperkaya yang akan dikirim ke AS. Ini tidak bisa menjadi titik awal pembicaraan, dan meskipun kami siap membahas setiap kekhawatiran yang ada, kami tidak akan menerima hal-hal yang tidak dapat diterima sejak awal pembicaraan,” kata Khatibzadeh di sela-sela forum diplomasi di Antalya, Turki, Sabtu (18/4/2026).

AS-Iran belum sampai pada tahap untuk melanjutkan ke pertemuan sebenarnya karena ada ”beberapa isu yang belum ditinggalkan oleh AS”. ”Iran berupaya untuk menyelesaikan kesepakatan kerangka kerja sebelum melanjutkan ke pertemuan tatap muka,” ujarnya.

Saling blokade

copy title

Iran mengumumkan pembukaan Selat Hormuz sepenuhnya untuk kapal-kapal komersial selama sisa waktu gencatan senjata hingga 22 April 2026. Namun, Amerika Serikat tetap memblokade kapal dan pelabuhan Iran hingga tercapai kesepakatan untuk mengakhiri perang.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, Sabtu (18/4/2026), mengatakan, Iran akan menutup kembali Selat Hormuz jika AS melanjutkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. ”Dengan berlanjutnya blokade, Selat Hormuz tidak akan tetap terbuka,” tulisnya di X.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyebutkan, Iran telah setuju untuk tidak pernah lagi menutup Selat Hormuz yang merupakan jalur vital energi global. Namun, hal itu tidak serta-merta membuat AS mengakhiri blokade di selat itu.

”Selat Hormuz sepenuhnya terbuka dan siap untuk bisnis dan pelayaran penuh. Namun, blokade (oleh) Angkatan Laut (AS) akan tetap berlaku sepenuhnya,” tulis Trump di media sosial Truth Social, Jumat (17/4/2026) waktu setempat.

AS memutuskan memblokade kapal dan pelabuhan Iran setelah negosiasi kedua negara yang dimediasi oleh Pakistan, Sabtu (11/4/2026), gagal mencapai kesepakatan. Negosiasi ini dilakukan setelah kedua negara sepakat untuk melakukan gencatan senjata selama dua pekan.

Lonjakan harga energi berlanjut

copy title

Setelah perundingan Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan, gagal, situasi di Selat Hormuz kian memanas. AS dan Iran saling blokade selat yang menjadi jalur vital energi global tersebut. Harga minyak dunia diprediksi kembali melonjak.

Perang di Iran yang dipicu serangan gabungan AS dan Israel sejak 1,5 bulan lalu telah mengacaukan distribusi energi global. Merespons serangan itu, Iran memblokade Selat Hormuz, jalur vital energi dunia. Imbasnya, harga minyak mentah tembus hingga di atas 100 dolar AS per barel, meningkat signifikan dibandingkan sebelum perang sekitar 70 dolar AS per barel.

Papan informasi harga untuk beberapa jenis bahan bakar minyak di salah satu SPBU di jalan Gator Subroto, Jakarta, yang telah berbuah seiring Kebaikan harga, Sabtu  (18/4/2026). Tiga jenis BBM mengalami kenaikan harga per 18 April 2026. Kenaikan harga BBM ini terjadi pada Pertamax Turbo dari Rp 13.100 menjadi Rp 19.400 per liter, Pertamina DEX dari harga Rp 14.500 menjadi Rp 23.900 per liter, dan Dexlite dari Rp 14.200 menjadi Rp 23.600 per liter.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
18-4-2026

”Kita akan melihat harga energi yang tinggi, bahkan mungkin naik, sampai kita mendapatkan lalu lintas kapal yang signifikan melalui Selat Hormuz. Itu akan mencapai harga puncak minyak pada saat itu. Itu mungkin terjadi dalam beberapa minggu ke depan,” ujarnya saat menghadiri Forum Ekonomi Dunia Semafor di Washington, AS, Senin (13/4/2026).

Prediksi ini sejalan dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump sebelumnya. Trump menyebutkan, harga minyak kemungkinan akan tetap tinggi hingga November mendatang. Konflik berkepanjangan AS-Israel dan Iran telah menyandera Selat Hormuz sehingga membuat banyak negara menderita karena kesulitan mendapatkan minyak.


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti