Mengapa Timnas Brasil Memilih Carlo Ancelotti sebagai Pelatih Baru?

Timnas Brasil yang ingin bangkit dari keterpurukan akhirnya menggaet Carlo Ancelotti. Pelatih bertangan dingin itu ditargetkan membawa Brasil menjuarai Piala Dunia.

13 Mei 2025 12:34 WIB · Olahraga

Oleh Emilius Caesar Alexey

Setelah melakukan berbagai pendekatan selama tiga tahun, seusai Piala Dunia Qatar 2022, timnas Brasil akhirnya berhasil menggaet Carlo Ancelotti sebagai pelatih baru Selecao. Kepastian Ancelotti akan melatih timnas Brasil diumumkan Federasi Sepak Bola Brasil atau CBF pada Senin (12/5/2025) waktu setempat atau Selasa (13/5/2025) WIB.

”Membawa Carlo Ancelotti untuk melatih Brasil lebih dari sekadar gerakan strategis. Ini adalah pernyataan kepada dunia bahwa kami bertekad untuk merebut kembali posisi puncak podium,” kata Presiden CBF Ednaldo Rodrigues.

”Dia adalah pelatih terhebat dalam sejarah dan, sekarang, dia akan bersama tim nasional terhebat di planet ini. Bersama-sama, kita akan menulis babak baru yang gemilang dalam sepak bola Brasil,” sambung Rodrigues.

Ancelotti akan mulai melatih pada 25 Mei setelah Liga Spanyol berakhir. Pelatih yang saat ini masih menangani Real Madrid itu diharapkan segera memilih para pemain yang akan dibawa untuk menghadapi Ekuador dan Paraguay pada 5 Juni dan 10 Juni 2025 dalam laga babak kualifikasi Piala Dunia 2026.

Tugas Ancelotti kali ini sangat berat karena harus membangkitkan timnas Brasil yang sedang terseok-seok di babak kualifikasi Piala Dunia seusai kalah 1-4 dari Argentina, 25 Maret yang lalu. Ancelotti tidak hanya bertugas meloloskan Brasil ke babak utama Piala Dunia 2026, tetapi juga membawa Selecao menjadi juara Piala Dunia lagi. Trofi Piala Dunia sudah tidak pernah dipegang Brasil sejak terakhir direbut pada Piala Dunia 2002.

Pelatih kepala Real Madrid Carlo Ancelotti memegang trofi La Liga di Lapangan Cibeles di Madrid, Spanyol, Minggu, 12 Mei 2024. Gelar juara musim ini jatuh ke tangan Madrid saat pertandingan masih tersisa empat laga. Ini menjadi gelar juara ke-36 bagi Madrid. Bagi Carlo Ancelotti, ini gelar La Liga kedua setelah ia melakukannya pada musim 2021/22. AP/MANU FERNANDEZ

Kenapa Ancelotti?

Setelah Piala Dunia Qatar 2022, CBF menyadari ada satu masalah yang membuat Brasil sulit berprestasi lagi pada Piala Dunia. Lima kali ajang Piala Dunia dalam dua dekade dilewati tanpa pencapaian yang berarti. Bahkan, dalam Piala Dunia 2014 yang digelar di Brasil, tim ”Samba” hanya bisa mencapai posisi keempat.

Sebagai penghasil pemain-pemain berbakat, Brasil tentu tidak kekurangan talenta di lapangan hijau. Para pemain Brasil bertaburan di berbagai klub elite sampai klub medioker di liga-liga terbaik Eropa. Namun, saat berkumpul sebagai tim nasional, permainan Brasil tidak terlihat istimewa.

Pakar sepak bola Amerika Selatan, Tim Vickery, kepada BBC mengungkapkan, masalah mendasar dari timnas Brasil adalah tidak ada pelatih yang mampu memahami kelebihan dan kekurangan setiap pemain secara detail, meramu semua talenta, melepaskan sisi terbaik setiap pemain tanpa hambatan dan sekaligus menjaga disiplin permainan, serta menenangkan tim jika terjadi dinamika yang menekan para pemain. Ketiadaan pelatih semacam itu membuat para pemain senior tidak menaruh hormat kepada pelatih dan dampaknya adalah permainan tim menjadi tidak maksimal.

Mantan pemain timnas Brasil, Zico, mengatakan, Ancelotti merupakan pelatih yang bakal dihormati oleh para pemain timnas Brasil karena memiliki prestasi yang luar biasa sebagai pemain dan pelatih. Pelatih berpaspor Italia itu pernah membawa timnya menjuarai Liga Champions Eropa, baik sebagai pemain maupun pelatih.

Sebagai pelatih, Ancelotti pernah membawa klubnya menjadi juara liga di Italia, Inggris, Spanyol, Perancis, dan Jerman. Lima liga terbaik di Eropa. Pada ajang Liga Champions, Ancelotti membawa AC Milan dua kali juara dan Real Madrid tiga kali juara, dalam dua masa kepelatihan yang berbeda.

Reaksi Pelatih Real Madrid. Carlo Ancelotti, saat tim asuhannya melakukan selebrasi sebagai juara Liga Champions Eropa di Stade de France, Paris, Minggu (29/5/2022) dini hari WIB. Real Madrid mengalahkan Liverpool, 1-0, dalam pertandingan final tersebut. ***Real Madrid's Italian coach Carlo Ancelotti (C) gestures as he celebrates with his team after their victory in the UEFA Champions League final football match between Liverpool and Real Madrid at the Stade de France in Saint-Denis, north of Paris, on May 28, 2022. (Photo by FRANCK FIFE / AFP)

Selain itu, Ancelotti mengenal banyak pemain Brasil yang berlaga di Eropa. Pengenalan terhadap para pemain itu penting untuk memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing saat melatih di timnas.

Secara kepribadian, Ancelotti, yang telah menulis buku berjudul ”Quiet Leadership”, dikenal karena karakternya yang tenang dan hangat. Pada klub-klub yang dilatihnya, yaitu AC Milan, Chelsea, Paris Saint Germain, Bayer Muenchen, dan Real Madrid, Ancelotti selalu dapat mengendalikan para pemain bintang dan mampu meredam setiap gejolak dalam tim.

Kualitas semacam itu diperlukan timnas Brasil yang bermaterikan banyak pemain bintang dengan ego yang tinggi. Jika ada pemain yang berulah atau bermain tidak sesuai dengan arahannya, Ancelotti dapat mengoreksi pemain itu tanpa menunjukkan emosi yang berlebihan.

Di Real Madrid, Ancelotti dapat mendorong Vinicius Junior dan Rodrygo Goes untuk menampilkan kemampuan terbaiknya. Demikian juga dengan pemain remaja Endryk dan bek Eder Militao.

Keberhasilan dorongan Ancelotti terhadap Vinicius dan Rodrygo diharapkan dapat diterapkan kepada para pemain Brasil lainnya. Jika semua pemain Brasil tampil dalam performa terbaik, bukan tidak mungkin Selecao dapat kembali menjadi juara.

Real Madrid's head coach Carlo Ancelotti, centre, celebrates with his players Vinicius Junior, right, and Antonio Rudiger after winning the Champions League semifinal second leg soccer match between Real Madrid and Bayern Munich at the Santiago Bernabeu stadium in Madrid, Spain, Wednesday, May 8, 2024. Real Madrid won 2-1. (AP Photo/Jose Breton)

Ancelotti dianggap sebagai manajer manusia yang hebat, yang akan memungkinkannya untuk mendapatkan hasil terbaik dari tim nasional yang kaya akan bakat.

”Ancelotti akan menjadi ideal karena semua orang, termasuk lawan, menghormatinya. Dia tahu sepak bola dan menyadari bahwa pemain lebih penting daripada taktik,” kata Zico, legenda Brasil.

Kekhawatiran dan dukungan

Penunjukkan Ancelotti oleh CBF dinilai terlambat dan sulit untuk membangkitkan kembali timnas Brasil. Mantan pemain timnas Brasil, Luis Antonio Correa da Costa atau Muller, mengatakan, Ancelotti memiliki pengalaman yang hebat, tetapi dikhawatirkan tidak bisa memberi dampak yang signifikan.

”Ini terlalu dekat (dengan Piala Dunia), Brasil tidak memiliki tim dan Ancelotti tidak akan punya waktu untuk mendapatkan formasi seperti yang dia lakukan di klubnya,” kata Muller.

”Ini adalah pelatih yang memiliki beban berat, tetapi tim yang ringan. Ia telah menang jauh lebih banyak daripada semua pemain Brasil ini. Saya tidak berpikir CV (curriculum vitae/daftar riwayat hidup)-nya akan berdampak di tengah performa kami yang sangat buruk akhir-akhir ini,” tambah Muller.

Real Madrid's head coach Carlo Ancelotti, left, talks with Real Madrid's Eder Militao during a Media Opening day training session in Madrid, Spain, Tuesday, May 24, 2022. Real Madrid will play Liverpool in Saturday's Champions League soccer final in Paris. (AP Photo/Manu Fernandez)

Kekhawatiran Muller beralasan karena timnas Brasil dinilai tidak memiliki kualitas yang mumpuni dalam tiga tahun terakhir. Di sisi lain, Piala Dunia 2026 hanya berjarak satu tahun dari saat ini.

Sementara itu, Ana Thais Matos, salah satu pakar sepak bola TV Globo dari Brasil, menyetujui perekrutan Ancelotti. Namun, Matos mengatakan, Ancelotti akan menghadapi tantangan besar dalam memperbaiki mentalitas tim nasional.

”Saya tidak percaya pada potensi psikologis pemain generasi ini. Generasi ini rapuh, mereka tidak banyak mengkritik diri sendiri,” kata Matos.

Timnas Brasil akan menjadi pengalaman internasional pertama Ancelotti sebagai pelatih penuh waktu. Sebelumnya, Ancelotti pernah menjadi asisten pelatih Italia, Arrigo Sacchi, di Piala Dunia 1994.

Bagi timnas Brasil, Ancelotti akan menjadi pelatih non-Brasil ketiga yang memimpin tim Samba. Namun, Ancelotti bakal menjadi pelatih non-Brasil terlama dibandingkan dengan ketiga pelatih lainnya.

Ketiga pelatih itu adalah Joaquim Guimares Ramon Platero yang melatih pada 6 Desember-25 Desember 1925, Joreca dari Portugal pada 14-17 Mei 1944, Filpo Nunez pada 7 September 1965.

Ancelotti akan dikontrak sampai usai Piala Dunia 2026 dan bisa diperpanjang. Pelatih berusia 65 tahun itu akan mendapat bayaran sekitar Rp 11 miliar dan difasilitasi jet pribadi untuk perjalanan dari Eropa ke Brasil guna mengamati para pemain Brasil. Bonus 5 juta euro atau sekitar Rp 92 miliar juga disediakan bagi Ancelotti jika mampu mengantarkan Brasil menjadi juara Piala Dunia 2026. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .