Kompas.id Brief

Mengapa Ukraina Keluar dari Perjanjian Antiranjau Darat?

Para tetangga Rusia keluar dari perjanjian yang melarang penyebaran ranjau darat. Senjata pembunuh itu semakin banyak disebar.

01 Jul 2025 08:00 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

Hal yang bisa Anda pelajari dari artikel ini:

1. Mengapa Ukraina keluar dari perjanjian pengendalian antiranjau darat?

2. Apa itu Perjanjian Ottawa?

3. Negara-negara mana saja yang keluar?

4. Bagaimana tanggapan dunia?

1. Apa alasan Ukraina keluar dari perjanjian antiranjau?

copy title

Pada Minggu (29/6/2025), Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengumumkan rencana mengeluarkan Ukraina dari konvensi antiranjau darat. Alasannya, Ukraina sejak 24 Februari 2022 berperang dengan Rusia.

Rusia sejak menginvasi Ukraina menggunakan ranjau darat di dalam taktik perang mereka. Oleh sebab itu, Ukraina sebagai salah satu cara mempertahankan diri dan melawan Rusia memutuskan keluar dari perjanjian antiranjau darat. 

Meskipun demikian, keputusan Ukraina benar-benar keluar dari konvensi ada di tangan DPR. Mereka baru mau bersidang membahas rencana tersebut.

2. Apa itu Perjanjian Ottawa?

copy title

Sesuai namanya, Perjanjian Ottawa dibuat di Ottawa, Kanada, pada 18 Maret 1997. Isi perjanjian adalah melarang pemakaian, penyebaran, dan penimbunan ranjau darat semasa konflik.

Ranjau darat yang ada harus dihancurkan. Perjanjian ini lahir dari fakta begitu banyak korban sipil akibat terkena ledakan ranjau darat.

Senjata ini biasanya dikubur di hutan, ladang, hingga sawah dan menjadi alat pertahanan karena meledakkan manusia ataupun kendaraan yang menginjaknya. Salah satu negara dengan korban sipil akibat ranjau darat terbesar di dunia adalah Kamboja. Para petani tidak sengaja menggali ranjau darat di ladang dan tewas atau menjadi penyandang disabilitas gara-gara ranjau yang tersisa dari perang saudara di tahun 1970-an. 

Pelatih di Pusat Aksi Ranjau Kamboja (CMAC), sebuah otoritas anti ranjau darat Kamboja melatih anjing untuk mendeteksi virus corona Covid-19 pada orang yang membawa virus di provinsi Kampong Chhnang, Kamboja, Senin (27/9/2021). AFP/TANG CHHIN SOTHY 27-09-2021 This photo taken on September 27, 2021 shows trainers training dogs at the Cambodian Mine Action Centre (CMAC) in Kampong Chhnang province, where Cambodia's anti-landmine authorities are training dogs to detect the Covid-19 coronavirus in people carrying the virus. (Photo by TANG CHHIN Sothy / AFP)

Ada 160 negara yang menandatangani Perjanjian Ottawa. Indonesia, Irak, Timor Leste, dan Rwanda termasuk yang meratifikasi. Rusia, Iran, Israel, China, dan Amerika Serikat termasuk negara-negara yang tidak mau masuk ke dalam perjanjian itu.

3. Negara-negara mana saja yang keluar?

copy title

Pada Maret 2025, lima negara  yang berbatasan langsung dengan Rusia mengumunkan rencana keluar dari Perjanjian Ottawa. Mereka adalah Finlandia, Polandia, Latvia, Lituania, dan Estonia.

Sama seperti Ukraina, keinginan keluar diucapkan oleh pemerintahan eksekutif. DPR di tiap-tiap negara masih harus bersidang untuk memutuskan benar-benar keluar dari Perjanjian Ottawa atau tidak.

Alasan kelima negara itu adalah demi pertahanan nasional. Mereka berbatasan langsung dengan Rusia dan mengkhawatirkan invasi bisa melebar melewati perbatasan negara.

4. Bagaimana tanggapan dunia?

copy title

Lituania, pada Maret 2025, juga keluar dari Perjanjian Dublin yang melarang pemakaian bom renteng atau bom tandan selama konflik. Alasan mereka sama dengan keluar dari konvensi pelarangan ranjau darat, yakni demi mempertahankan diri dari Rusia.

Organisasi-organisasi kemanusiaan menyayangkan hal tersebut. Mereka melihat tren membahayakan bahwa negara-negara mengeluarkan diri dari berbagai perjanjian perlindungan hak asasi manusia demi pertahanan negara secara militer.

Dunia harus bekerja keras mengupayakan gencatan senjata dan perdamaian. Pemakaian ranjau darat, bom renteng, dan senjata-senjata berat selama konflik hanya semakin menambah korban sipil.


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto