Bagaimana pula masa depan prodi Sistem Informasi? Di zaman "big data", benarkah prodi Statisika dan Sains Data yang akan mengemuka?
25 Mar 2026 12:05 WIB · Pendidikan & Kebudayaan
UNIVERSITAS PADJADJARAN
Di sebuah acara buka puasa bersama di Yogyakarta, sekelompok sarjana Teknik Informatika diwawancarai.
”Sekarang kita lagi bukber bersama sarjana TI. Mari kita tanya, kerjanya sekarang apa aja, sih?”
”Saya kerjanya di toko emas,” jawab seorang laki-laki.
”Alhamdulillah, Shopee Food,” kata seorang pria lain sambil menunjuk logo Shopee Food di jaket oranye yang ia kenakan.
”Admin toko plastik,” jawab laki-laki lainnya.
”Admin pembiayaan,” jawab dua rekan perempuan mereka yang turut hadir.
Wawancara yang menjadi konten berjudul ”Lulusan Informatika sekarang kerjaannya apa?” ini diunggah akun tiktok @historyabdull.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/06/02/d9dae4f9-177c-48a2-bb08-2a7a04aee26d.jpg)
Ketimpangan kemampuan lulusan perguruan tinggi dan berubahnya peta pekerjaan mendorong pergeseran pasar tenaga kerja. Laporan ”Future Jobs Report 2025” oleh World Economic Forum (WEF) menyebutkan, akal imitasi (AI) mengubah cara kerja secara fundamental.
Diperkirakan, akan ada pengurangan 92 juta pekerjaan akibat AI dan otomatisasi. Pada saat yang sama, teknologi ini mendorong penciptaan 170 juta pekerjaan baru. Dengan demikian, ada pertumbuhan bersih sekitar 78 juta pekerjaan.
Saat ini, dengan bantuan AI, siapa pun bisa menghasilkan baris kode tanpa perlu menguasai langsung keterampilan coding. Namun, tetap dibutuhkan pengetahuan dasar pemrograman dan pembuatan prompt AI.
Meskipun bidang kerja lulusan Teknik Informatika (TI) mulai terancam dengan kehadiran AI, peminat prodi ini tetap melimpah. Dalam Ujian Tulis Berbasis Komputer-Seleksi Nasional Berbasis Tes (UTBK-SNBT) tahun 2025, rumpun program studi Teknik Informatika menangguk jumlah peminat kedua terbesar (128.317 orang), di bawah akuntansi (141.530 orang), baik untuk jenjang S-1, D-4, maupun D-3.
Khusus untuk S-1, prodi TI paling banyak peminatnya (87.614 orang), di atas prodi Manajemen (84.561 peminat) dan Ilmu Hukum (80.971 peminat). Untuk kelompok S-1 dan D-4, prodi TI di Universitas Sumatera Utara tercatat memiliki tingkat keketatan paling tinggi dalam UTBK 2025, disusul TI Politeknik Negeri Jakarta, Teknologi Informasi Universitas Gadjah Mada, dan TI Universitas Padjadjaran.
Rincian mengenai tingkat keketatan dan rasio penerimaan prodi ini tersaji lengkap dalam tabel di bawah. Tersedia pula fitur ”pencarian” berdasarkan PTN dan prodi serta sortir pada judul kolom untuk mengurutkan data dari yang paling tinggi ataupun paling rendah.
Masifnya penggunaan AI, menurut konsultan pendidikan dan karier, Ina Liem, akan mendegradasi hampir semua prodi dan tidak terbatas pada yang terkait langsung, seperti Teknik Komputer, Informatika, dan sejenisnya.
”Prodi yang tidak mau beradaptasi dengan AI bisa tergilas. Misalnya, bidang seperti arsitektur atau kesehatan akan ketinggalan jika tidak mau beradaptasi dengan teknologi terkini,” kata Ina, Senin (16/3/2026).
Selain Informatika, rumpun Prodi Sistem Informasi (SI) perlahan juga semakin populer. Selama periode 2021-2025, Prodi SI rata-rata diminati 22.849 orang per tahun dengan total peningkatan peminat selama lima tahun terakhir mencapai 5.092 orang.
Prodi Sistem Informasi UPN ”Veteran” Jakarta paling banyak peminatnya, tetapi dengan tingkat keketatan masih di bawah Prodi Manajemen Informasi Kesehatan Universitas Gadjah Mada. Data selengkapnya bisa dilihat pada tabel di bawah ini.
Meskipun mulai menghilangkan kebutuhan tenaga di banyak bidang, kehadiran AI dianggap belum bisa menggantikan bidang pekerjaan tertentu. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Teguh Dartanto, mengatakan, merujuk pada ”Future of Jobs Report 2025”, tren bidang pekerjaan yang diprediksi masih tumbuh tahun 2030 bersifat konvensional (unskilled and semi-skilled workers), seperti di sektor pertanian, kontruksi, dan jasa-jasa layanan.
”Bidang-bidang pekerjaan itu akan terus tumbuh karena sulit sekali digantikan oleh kemajuan teknologi/AI/otomasi,” ujarnya (Kompas.id, 20/1/2025).
Selain itu, ada keunggulan manusia yang juga sulit diotomatisasi, yakni kemampuan berpikir analitik yang dihargai tinggi di mata pemberi kerja.
Sejalan dengan kebutuhan tersebut, minat calon mahasiswa pada bidang pengolahan data pun ikut terdongkrak naik. Rumpun Prodi Statistika dan Sains Data, misalnya, dengan rata-rata 11.948 peminat sepanjang 2021-2025, terjadi tren pertumbuhan dengan peningkatan peminat sebanyak 1.522 orang sepanjang lima tahun terakhir.
Kenaikan jumlah peminat ini berdampak pada semakin ketatnya seleksi masuk program studi. Sejumlah Prodi Statistika dan Sains Data di berbagai perguruan tinggi negeri mencatat rasio persaingan yang cukup tinggi, sebagaimana terlihat pada data berikut.
Di luar negeri, menurut Ina Liem, keterampilan analisis data sudah dimasukkan di hampir semua jurusan karena aktual dan dibutuhkan industri. Ini sejalan dengan perkembangan dunia global yang saat ini menuntut setiap lulusan perguruan tinggi menguasai keterampilan analisis data.
”Mau enggak mau, zaman sekarang harus bisa analisis data meskipun bidangnya katakanlah psikologi. Karena di psikologi ada jabatan yang disebut people analytics yang harus bisa menganalisis data manusia di sebuah perusahaan, tidak sekadar menjalankan fungsi HRD,” tuturnya.
Penulis:
Sri Rejeki, Satrio Pangarso Wisanggeni, Insan AlfajriEditor:
Sri RejekiPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra