Arsip foto menjadi bukti sejarah otentik dan kekayaan dokumentasi. Jika dikelola dengan baik dan benar, dapat memberi banyak manfaat.
01 Jul 2025 07:00 WIB · Klinik Foto
Sejak pertama kali secara resmi terbit pada 28 Juni 1965, Harian Kompas sudah memasang foto untuk menunjang berita tulis. Ada tiga foto yang dipasang pada Kompas edisi perdana yang terbit empat halaman itu. Tiga foto yang dipasang merupakan foto potret orang terkait berita yang ditulis.
Selain itu, ada lima ilustrasi gambar yang semuanya merupakan ilustrasi potret orang. Pemasangan ilustrasi gambar ini dilakukan karena saat itu Kompas belum punya stok foto orang yang diberitakan. Ada dua ilustrasi coretan tangan gambar Presiden Sukarno yang saat itu melengkapi berita dan artikel yang terbit. Masih terbatasnya wartawan yang bisa memotret dan ketiadaan stok foto membuat ilustrasi gambar tangan digunakan untuk mendampingi tulisan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/30/5d876088148df8643af3a0c1e2af82c4-KLIK_SET.jpg)
Hingga lima tahun berselang, Kompas belum punya wartawan foto yang ditugaskan khusus untuk membuat foto berita. Baru pada tahun 1970, salah satu pendiri sekaligus Pemimpin Redaksi Kompas saat itu, Jakob Oetama, menunjuk Pat Hendranto, yang sebelumnya wartawan tulis, menjadi wartawan foto. Penunjukan ini pun dilakukan spontan karena saat itu Kompas membutuhkan wartawan yang harus meliput satu peristiwa dan membutuhkan fotonya. Kebetulan Pat Hendranto dikenal sebagai wartawan yang sering membawa kamera dan gemar memotret.
Sejak memiliki fotografer tersebut, Kompas mulai mengarsipkan foto-fotonya. Saat itu teknologi fotografi masih menggunakan film negatif hitam putih yang harus diproses sendiri untuk cuci cetaknya. Kamar gelap untuk memproses pun dibuat. Film negatif disimpan dalam amplop dengan mencantumkan catatan data fotografer, tanggal, peristiwa, dan keterangan lain tentang apa yang dipotret di film negatif itu.
Kesadaran untuk menyimpan arsip foto sejak awal ini yang menjadi kunci Kompas dengan mudah menampilkan arsip pemberitaan untuk memperkaya konten jurnalistik yang terus disajikan untuk publik hingga saat ini. Arsip foto menjadi bukti sejarah dan kekayaan dokumentasi yang memiliki banyak manfaat. Namun, jika tidak kelola dengan benar, arsip tersebut hanyalah sekadar rekaman visual dua dimensi tanpa keterangan tentang isinya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/09/08/c76dca6a-e265-4e17-b754-e3268d28816e_jpg.jpg)
Kompas menggunakan negatif film hingga akhir dekade tahun 1990-an. Penggunaan teknologi fotografi digital pertama diterapkan saat peliputan referendum di Timor Timur tahun 1999. Setelah itu, Kompas pun mengikuti perkembangan teknologi dengan mulai mengadopsi teknologi digital.
Pada awal tahun 2000-an, beberapa fotografer Kompas sudah memakai kamera digital untuk liputan keseharian. Namun, penggunaan kamera analog dengan film negatif juga masih dipakai karena belum semua wartawan dilengkapi peralatan kerja kamera digital.
Penerapan teknologi digital secara penuh pada fotografer Kompas terjadi tahun 2004. Menyusul kemudian wartawan tulis atau reporter juga semua beralih menggunakan kamera digital. Tradisi jurnalistik Kompas mewajibkan wartawan, baik tulis maupun foto, harus membuat foto untuk menunjang liputan keseharian. Pada tahun 2004 inilah secara resmi Kompas tidak menyediakan stok rol film negatif yang bisa dipakai wartawan setiap saat.
Peralihan teknologi analog ke digital membawa konsekuensi pada pengarsipan foto. Dari yang sebelumnya menyimpan negatif dalam amplop menjadi menyimpan arsip foto digital dalam peladen. Di awal teknologi fotografi digital muncul, penyimpanan arsip foto tiap-tiap fotografer dilakukan dalam bentung keping cakram padat atau CD (compact disc) denga kapasitas terbatas. Seiring kemajuan teknologi kemudian munculnya DVD, hardisk eksternal, hingga komputasi awan.
Fotografi digital tidak hanya tentang gambar yang terlihat, tetapi juga tentang metadata. Metadata pada dasarnya adalah data yang menyediakan informasi tentang data lain atau kumpulan data yang mengandung informasi dari suatu data agar data tersebut mudah dikelola kembali. Dalam ranah file digital, metadata berfungsi sebagai lapisan deskriptif yang membantu pengguna dan komputer memahami, mengatur, dan mencari file secara efisien.
Di dunia jurnalistik dan industri media, lazim digunakan metadata IPTC (International Press Telecommunications Council), metadata yang sering digunakan dalam industri pers dan media. Jenis metadata ini mencakup keterangan, kata kunci, dan informasi hak cipta sehingga memudahkan pengelolaan dan pendistribusian gambar.
Sejak beralih ke teknologi fotografi digital, Kompas pun menyusun standar baku pengarsipan menggunakan metadata IPTC ini. Semua wartawan diwajibkan mengisi metadata foto sesuai dengan standar ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/09/09/a1100f81-1453-4ca3-bafe-26fcd27732b4_jpg.jpg)
Pada tahun 2013, Kompas memulai proyek digitalisasi foto analog dari film negatif diubah menjadi arsip foto digital. Hasilnya ada sekitar 2 juta bingkai foto hasil pemindaian arsip film sejak tahun 1965. Saat digitalisasi dilakukan, banyak ditemukan negatif film yang rusak, sebagian besar karena terkena air atau lembab sehingga emulsi film memudar atau bereaksi yang merusak visual. Negatif-negatif yang rusak ini sebagian tetap dipindai karena masih menyimpan data visual yang berguna.
Setelah berbentuk arsip digital, foto-foto tersebut juga dilengkapi dengan metadata IPTC. Kini ada sekitar 3 juta bingkai arsip foto digital yang disimpan. Arsip-arsip ini yang menjadi kekayaan tersembunyi Kompas.
Arsip foto yang tersimpan dalam bentuk digital memudahkan penggunaan untuk berbagai keperluan. Dalam keseharian kerja redaksional, arsip ini dipakai untuk memperkaya konten berita. Menampilkan foto-foto lama sebagai pembanding dengan foto terbaru zaman ini bisa memberikan gambaran lebih luas bagi publik. Selain itu, arsip foto lama juga bisa ditampilkan tersendiri menjadi satu konten tulisan yang menarik.
Harian Kompas (kompas.id) secara rutin menampilkan artikel yang bersumber dari arsip foto. Penyajian arsip foto ini biasanya memanfaatkan momentum tertentu, seperti saat HUT Jakarta, HUT Kemerdekaan RI, pemilu, arus mudik Lebaran, atau hari penting lain. Arsip foto juga bisa dimunculkan bersamaan dengan peristiwa terkini yang terkait peristiwa lampau.
Penggunaan arsip foto yang lain adalah untuk menunjang pembuatan buku. Kompas sering menerbitkan kumpulan tulisan, berita, ataupun artikel yang pernah dipublikasikan dalam bentuk buku. Arsip foto digunakan untuk melengkapi ilustrasi buku.
Selain itu, beberapa kali juga pernah diterbitkan buku foto tentang liputan ataupun ekspedisi jurnalistik Kompas. Bahkan Kompas pernah pula menerbitkan buku foto yang berisi arsip foto jurnalistik yang belum pernah dipublikasikan di koran ataupun secara daring.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/30/d8685e3f3c2a1d4a350338a2f752700a-KKLIK_SET_A.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/30/45635f3808f589d6c0d14daeb8395940-1751298305079.jpg)
Pada usianya yang ke-60 tahun, Harian Kompas membuat edisi khusus koran cetak 60 halaman yang berisi rangkuman pemberitaan Kompas dari tahun 1965 hingga sekarang. Pada edisi khusus ini dibutuhkan ratusan foto ilustrasi tentang peristiwa-peristiwa penting yang pernah diliput Kompas secara langsung.
Beruntung, karena arsip foto tertata dengan baik sehingga memudahkan pencarian untuk digunakan pada edisi khusus ini. Meskipun demikian, butuh ketekunan dan kecermatan melihat serta memilah jutaan arsip foto yang cocok untuk ditampilkan dalam edisi khusus tersebut.
Selain untuk keperluan internal, arsip foto tersebut juga dibuka aksesnya bagi masyarakat luas. Sudah banyak peneliti, mahasiswa, ataupun akademisi yang memanfaatkan arsip foto sebagai bahan kajian keilmuan. Arsip foto yang dikelola dengan baik dan benar merupakan sumber sejarah otentik yang bernilai mahal.
Penulis:
Iwan SetiyawanEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Nur Adji