Wajah Indonesia dalam Arsip 10 Tahun ”Kompas”

Arsip foto dokumentasi menjadi salah satu sumber sejarah otentik tentang kehidupan bangsa. Sejak awal ”Kompas” menyadari dan merawat arsip-arsip tersebut.

17 Jun 2025 06:00 WIB · Klinik Foto

Oleh Iwan Setiyawan

Harian Kompas (kompas.id) pernah menerbitkan buku saat berulang tahun ke-10 tahun 1975. Sejak pertama kali terbit pada 28 Juni 1965, wartawan Kompas telah hadir meliput ke berbagai pelosok Nusantara. Dalam tugasnya, selain menuliskan laporan dalam bentuk berita tertulis, wartawan Kompas juga merekam dalam wujud foto. Dari ribuan foto yang terkumpul selama sepuluh tahun itu, sebanyak 250 foto terpilih diterbitkan dalam sebuah buku berjudul Indonesia dalam 250 Foto.

Buku ini berisi foto-foto yang dibuat oleh 34 wartawan Kompas dan 6 orang nonwartawan Kompas. Dari 34 wartawan tersebut, tidak semuanya wartawan foto, hanya 3 orang  yang tercatat sebagai wartawan foto, selebihnya adalah reporter. Meskipun bukan dipotret oleh fotografer, foto-foto yang dibuat kualitasnya tidak kalah dari yang dibuat fotografer. Fakta ini menunjukkan kalau tradisi jurnalistik di Kompas sejak dulu sudah mewajibkan semua wartawannya, reporter dan fotografer, untuk membuat foto liputan yang bagus.

Sampul depan buku "Indonesia dalam 250 Foto" KOMPAS/IWAN SETIYAWAN (SET) 11-06-2025

Dalam sambutan yang tertuang di buku, Pemimpin Redaksi Kompas saat itu, Jakob Oetama, menyebutkan, jumlah 250 foto yang ada di buku ini memang tidak dapat memosaikkan Indonesia dengan sempurna. Namun, lewat foto-foto ini bisa diperoleh gambaran yang memadai dari keragaman bangsa Indonesia. Dengan foto-foto ini para wartawan Kompas mencoba mencerminkan keragaman pribadi masing-masing, tetapi menyatu dalam satu kesatuan tugasnya sebagai wartawan.

Dalam surat kabar atau koran, tulisan dan foto tidaklah terpisah satu sama lain, tetapi saling mengisi dan melengkapi. Tulisan menambah informasi yang tidak diberikan oleh foto dan foto menyumbangkan dimensi yang tidak dapat dicerminkan oleh tulisan. Penyatuan keduanya menghasilkan ”keserasian komunikatif”.

Buku ini dikuratori dan disusun oleh dua wartawan, J Widodo dan Kartono Ryadi. Widodo yang saat itu mengepalai desk luar negeri dikenal juga piawai dalam memotret. Sementara Kartono Ryadi yang sejak awal masuk Kompas menjadi fotografer dikenal dengan karya-karya foto jurnalistiknya yang tak hanya mengejar momen, tetapi juga bernilai estetik.

Foto perkampungan dan adat di Pulau Samosir, Danau Toba, dalam buku ”Indonesia dalam 250 Foto”.
Foto-foto dari pedalaman Kalimantan yang termuat di buku "Indonesia dalam 250 Foto"
Wajah kehidupan di Ternate dalam buku "Indonesia dalam 250 Foto"
Foto-foto Gunung Merapi di buku "Indonesia dalam 250 Foto"
Wajah kehidupan di Jawa dalam buku "Indonesia dalam 250 Foto"
Beberapa foto kemegahan Jakarta yang ada di buku "Indonesia dalam 250 Foto"
Foto arsip kehidupan di Jakarta dalam buku "Indonesia dalam 250 Foto"

Kehidupan di Nusantara

Foto-foto yang termuat di buku ini secara tidak langsung menggambarkan wajah Indonesia dalam sepuluh tahun sejak Kompas terbit. Namun, yang dipilih hanyalah gambaran tentang keindahan alam dan keragaman sosial budaya dari kehidupan di seluruh Nusantara. Berbagai peristiwa dan gejolak politik yang mewarnai bangsa saat itu tidak ditampilkan karena memang tujuan buku ini hanya untuk menggambarkan keragaman itu.

Foto-foto yang ditampilkan cukup menggambarkan betapa luasnya wilayah Indonesia. Pengalaman wartawan Kompas yang mengunjungi tempat-tempat di pelosok menggambarkan bahwa Indonesia saat itu tidak hanya Pulau Jawa. Kehadiran wartawan Kompas di ujung negeri seolah menggambarkan masih begitu banyak wilayah yang saat itu belum terjamah oleh arus informasi dari dunia luar.

Pesta rakyat di Mulia difoto tahun 1974 KOMPAS/P SWANTORO (PS) 16-06-2025

Pengalaman mengunjungi Kepulauan Aru, menyusuri daratan di Sumatera, menyisir kepulauan di Nusa Tenggara, serta berkunjung ke pedalaman Irian Jaya, nama wilayah yang sekarang menjadi Papua. Semua itu dijalani wartawan Kompas sebagai bagian dari tugas untuk lebih memperhatikan dan mengenal wilayah Tanah Air.

Jangan membayangkan perjalanan ke pelosok negeri tersebut dengan kacamata saat ini, tetapi bayangkan itu semua dilakukan lebih dari setengah abad yang lampau. Saat infrastruktur belum memadai, transportasi umum belum banyak pilihan, serta akses komunikasi yang jauh dari layak.

Dalam mencapai wilayah tugas kadang hanya ditempuh dalam hitungan beberapa jam penerbangan. Namun, sering pula wartawan harus menunggu berminggu-minggu di pulau terpencil hanya untuk menunggu datangnya sebuah kapal untuk mengangkut balik. Tak jarang berjalan kaki berhari-hari juga harus ditempuh untuk masuk ke wilayah pedalaman yang terpencil.

Catatan

Dalam catatan perjalanan tersebut, terendap catatan-catatan harian dari wartawan Kompas. Catatan tentang alam Indonesia yang indah yang sering disertai sederhananya hidup. Tentang penderitaan, aspirasi, serta harapan dan kegembiraan yang terkadang sulit dirumuskan.

Gunung Batok dipotret dari puncak Gunung Bromo, tahun 1974.
Masyarakat Tengger yang mencari nafkah berjualan jagung bakar di Gunung Bromo tahun 1974.
Kehidupan warga Desa Wonokitri, Kabupaten Pasuruan, yang berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, tahun 1974.
Candi Gedong Songo di Bandungan, Kabupaten Semarang, difoto tahun 1974.
Kampung adat di Pulau Samosir, Danau Toba, Sumatera Utara, difoto tahun 1975.
Upacara adat penyambutan tamu di Pulau Samosir, Danau Toba, Sumatera Utara, difoto tahun 1975.
kamera yang digunakan wartawan Kompas saat penugasan di cagar Alam Ujung Kulon tahun 1973
Suasana saat tim wartawan "Kompas" disambut warga dan petugas cagar Alam Ujung Kulon tahun 1973.
Rusa timor di Ujung Kulon difoto tahun 1973.
Jejak kaki badak jawa di Ujung Kulon tahun 1974
Pantai indah di wilayah Cagar Alam Ujung Kulon berupa pantai berpasir putih atau yang berbatu karang merupakan wilayah yang dilindungi hukum dari perusakan. Difoto tahun 1973
Fotografer "Kompas", Kartono Ryadi (kiri) dalam tugas peliputan di Ujung Kulon difoto tahun 1973.

Selain keragaman Nusantara, buku ini juga merekam tentang kemegahan Jakarta sebagai ibu kota negara. Perkembangan pembangunan dengan bangunan dan gedung megah. Kesemuanya ditampilkan sebagai bagian dari wajah Nusantara.

Rangkaian kereta api dengan lokomotif uap yang menarik gerbong penuh penumpang hingga atap melintas rel di kawasan Palmerah, Jakarta, seolah membawa ingatan peristiwa yang kini hanya bisa kita lihat sebagai bagian dari sebuah film di layar bioskop. Lokomotif uap sudah lama tidak digunakan di dunia perkeretaapian di Indonesia. Kini hanya ada beberapa yang digunakan untuk keperluan wisata.

Sementara itu, wajah Jakarta yang dipotret dari udara tampak pada beberapa foto yang diambil wartawan Kompas saat naik pesawat terbang yang melintas di atas Jakarta. Kawasan Senayan dengan ikon Stadion GBK, kawasan Bukit Duri dengan depo kereta api, serta simpang susun Semanggi menjadi kawasan-kawasan ikonik ibu kota.

Kereta api melintas di Palmerah, Jakarta, difoto tahun 1973.
Kawasan Senayan, Jakarta, difoto dari udara tahun 1974.
Kawasan Bukit Duri, Jakarta, difoto dari udara tahun 1974.
Kawasan Semanggi, jakarta, difoto dari udara tahun 1974.
Jalan Jendral Sudirman, Jakarta, setelah berlakunya bebas sepeda motor d jalur cepat, kamis (13/2/1975). Mobil-mobil tampak rapi berderet di tiga jalur tanpa sebuah sepeda motor, sedang di jalur lambat ada bis kota, sepeda motor, dan juga mobi pribadi.

Jurnalistik adalah pencatat sejarah. Demikian pula apa yang telah dilakukan Kompas. Lewat arsip-arsip foto yang sebagian dibukukan ini, Kompas telah menunjukkan perannya sebagai pencatat sejarah kehidupan bangsa Indonesia.

Dalam usianya yang memasuki 60 tahun, Kompas telah konsisten hadir di seluruh pelosok negeri untuk menggali dan mengenal semua sisi kehidupan bangsa ini. Dan, tentunya kini arsip foto Kompas sudah bukan ribuan jumlahnya, tetapi ada jutaan. Dari yang awalnya berupa foto analog dalam bentuk negatif film hingga terkini dalam wujud arsip foto digital, semua terdokumentasikan dengan rapi.


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Setiyawan
 | 

Editor:

Heru Sri Kumoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .