Berkaca pada lahirnya AUKUS, kerja sama itu bisa memicu perlombaan senjata, menghadirkan ketegangan, dan berpotensi melahirkan ”kekuatan global” baru di kawasan.
06 Des 2025 08:00 WIB · Tajuk Rencana
AFP/GETTY IMAGES NORTH AMERICA/CHIP SOMO
Dukungan dan persetujuan Amerika Serikat pada pengembangan teknologi nuklir oleh Korea Selatan memicu perhatian kawasan.
Dukungan dan persetujuan tersebut terkait dengan adopsi Seoul pada kemampuan untuk memperkaya uranium dan mendaur ulang bahan bakar nuklir bekas. Selama ini, untuk menunjang pembangkit listrik tenaga nuklir yang dimilikinya, Seoul mengimpor uranium yang diperkaya dari sejumlah negara, di antaranya Rusia, Inggris, dan Perancis.
Tentu saja, dengan memiliki kemampuan memperkaya uranium, Seoul dapat menghemat sekaligus meningkatkan kapabilitasnya dalam teknologi nuklir. Seiring dengan itu, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menegaskan bahwa setiap upaya yang dikembangkan Seoul terkait nuklir tidak melemahkan komitmen Seoul pada kesepakatan nonproliferasi nuklir dan denuklirisasi Semenanjung Korea.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/06/dd3ddfc62f942953b7d7c7a3c5f5ca03-South_Korea_Canada_133717474.jpg)
Ringkasnya, Lee hendak memperlihatkan bahwa penguasaan teknologi nuklir oleh Korea Selatan diarahkan untuk tujuan damai. Apalagi, sejak tahun 1975, Korea Selatan menjadi salah satu dari 191 negara di dunia yang berkomitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.
Namun, Seoul juga tidak menampik bahwa pengembangan kapal selam bertenaga nuklir—sebagai bagian dari dukungan Washington pada pengembangan teknologi nuklir Seoul—ditujukan untuk mengantisipasi Pyongyang. Menteri Pertahanan Korsel Ahn Gyu-back mengatakan, memiliki kapal selam bertenaga nuklir merupakan sebuah lompatan besar dalam memperkuat pertahanan negara itu melawan Korea Utara (Kompas.id, 4/12/2025).
Pernyataan Lee dan Ahn memperlihatkan, Seoul ingin menjaga fleksibilitas strategis Korsel. Dengan kemampuan teknologi yang dimiliki saat ini, didukung kemampuan dan kapasitas ekonomi serta sumber daya manusia yang memadai, Seoul ingin menjaga keunggulan kompetitif, inovasi, sekaligus menjawab tantangan kawasan, memitigasi risiko dan ancaman di masa depan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/06/d3c2a491bcacbbe274238c96d5399b5c-TOPSHOT_NKOREA_POLITICS_134416319.jpg)
Sebagai negara berdaulat, serta memiliki orientasi jangka panjang, adalah hak Korsel untuk membangun kapasitas dan kapabilitasnya. Namun, Seoul perlu menjelaskan bahwa arah pengembangan kapal selam nuklir dan pengayaan uranium semata-mata demi kebutuhan energi dan bertujuan damai.
Berkaca pada lahirnya AUKUS, kerja sama pengembangan kapal selam nuklir oleh Australia, Inggris, dan AS itu menjadi perhatian serius negara-negara di kawasan, khususnya China. Sejumlah pihak menilai, AUKUS bisa memicu perlombaan senjata, menghadirkan ketegangan, dan berpotensi melahirkan ”kekuatan global” baru di kawasan.
Sebagaimana Seoul, Tokyo pun boleh jadi akan tertarik untuk mencari dukungan yang sama dari AS. Sebagaimana AUKUS pula, situasi ini perlu menjadi perhatian. Di tengah deraan ketidakpastian dan sulitnya memprediksi perkembangan global, para pemangku kepentingan di kawasan diharapkan lebih mampu menahan diri, meningkatkan sikap saling percaya, daripada mencederainya.
Penulis:
RedaksiEditor:
Muhammad Samsul Hadi, Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan