TIMUR TENGAH

Mengenal ”Kapal Induk” Iran di Selat Hormuz

Iran menyebut pulau-pulau di Selat Hormuz tak bisa dikalahkan. Bak kapal induk, pulau jadi pangkalan drone, kapal rudal, rudal darat, kapal selam, dan ranjau laut.

25 Feb 2026 10:00 WIB · Internasional

AFP

Oleh Iwan Santosa

Situasi Timur Tengah sedang menghangat. Iran menegaskan, mereka bukan negara yang mudah ditekan. Meski Amerika Serikat unggul dalam teknologi dan kekuatan senjata, dan kini mengepung Iran, Kepala Staf Angkatan Laut Iran Laksamana Alireza Tangsiri menegaskan, militer Iran siap menghadapi segala kemungkinan.

Iran pun semakin percaya diri menyiapkan pertahanan negerinya. Dalam laporan kantor berita Turki, Anadolu, Selasa (17/2/2026), Tangsiri mengatakan, Iran memegang kendali penuh atas Selat Hormuz yang menjadi titik penting ekspor migas dunia.

Peta Selat Hormuz
TOPSHOT - This handout photo released by Iran's Revolutionary Guards Corps (IRGC)'s official website Sepanews on February 17, 2026, shows boats manoeuvering around a tanker vessel during a military exercise by members of the IRGC and navy in the Strait of Hormuz. (Photo by SEPAH NEWS / AFP) / == RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / HO / SEPAHNEWS" - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS ==

Iran, menurut Tangsiri, mengontrol sepenuhnya permukaan dan bawah laut perairan Selat Hormuz dan Laut Persia. Bagian paling sempit Selat Hormuz hanya selebar 34 kilometer, rentang yang dengan mudah dijangkau oleh tembakan artileri berkaliber besar milik Teheran. Jalur pelayaran di Selat Hormuz dibagi dua selebar 2 mil (3,2 kilometer) untuk arah masuk dan keluar kawasan Teluk.

”Pulau-pulau kecil milik Iran di Selat Hormuz adalah benteng yang tidak bisa ditembus dan dihancurkan. Pulau dimaksud adalah Abu Musa, Tunb, Siri, dan yang terbesar Qeshm,” ujar Tangsiri.

Pulau-pulau itu ibarat ”kapal induk” bagi Iran yang mengawasi arus lalu lintas keluar masuk Selat Hormuz. Armada Angkatan Laut AS pun mau tidak mau ketika berlayar ke pangkalan di negara Teluk berada dalam jangkauan serangan Iran dari pulau-pulau yang hanya berjarak 40-50 kilometer dari pesisir Uni Emirat Arab (UEA), sekutu AS. Selain itu, Iran juga memiliki kapal induk pengangkut drone yang dikonversi dari sebuah kapal niaga.

This handout photo released by Iran's Revolutionary Guards Corps (IRGC)'s official website Sepanews on February 16, 2026, shows a vehicle firing a missile during a military exercise by members of the IRGC and navy in the Gulf. Iran's Islamic Revolutionary Guard Corps on February 16 began a series of military exercises in the Strait of Hormuz, state media reported, on the eve of talks with the United States. (Photo by SEPAH NEWS / AFP) / == RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / HO / SEPAHNEWS" - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS ==

Dari pulau-pulau tersebut, stasiun radar, rudal, kapal cepat berpeluru kendali (kapal Kamikaze), ranjau laut, pangkalan kapal selam bermesin diesel, armada ribuan drone bisa meluncur menghantam sasaran di selat sempit itu. Tidak ada ruang manuver yang leluasa bagi kapal-kapal perang besar di alur sempit di Selat Hormuz.

Sesumbar dan rasa percaya diri Iran sepertinya bukan omon-omon belaka. Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine menjelaskan soal faktor risiko jika menyerang Iran. The Washington Post edisi Senin (23/2/2026) mengutip keterangan Caine dalam rapat Presiden Donald Trump di Gedung Putih yang mengungkapkan persoalan kekurangan munisi strategis dan rendahnya dukungan Sekutu. Kondisi tersebut menjadi masalah bagi operasi militer AS terhadap Iran kali ini.

Dan Caine menyampaikan kekhawatirannya saat bertemu Presiden Trump dan para pejabat tinggi AS. Sumber daya militer AS sudah terkuras untuk membantu Ukraina dan terutama Israel.

Dominasi Iran sebagai kekuatan regional disadari negara-negara tetangga yang juga memiliki sumber daya keuangan dan militer, salah satunya UEA. Kedutaan UEA untuk AS melaporkan, Iran dapat sewaktu-waktu memblokade Selat Hormuz melalui pulau-pulau yang dikuasai sejak tahun 1971 itu.

Infografik Pangkalan AS yang Berada dalam Jangkauan Rudal Balistik Iran

UEA mencatat, di Pulau Abu Musa, militer Iran memantau pelayaran internasional, Pulau Tunb Besar dan Kecil sepenuhnya dijadikan instalasi militer untuk proyeksi kekuatan di Teluk Persia. Terdapat pangkalan-pangkalan utama pasukan Garda Revolusi Iran di sana.

Pangkalan utama untuk mengendalikan Selat Hormuz terdapat di Pulau Qeshm. Pulau tersebut merupakan basis operasional, logistik, serta penampungan rudal balistik Iran berikut pertahanan udara. Tak jauh dari Qeshm terdapat pelabuhan utama Iran, yakni Bandar Abbas.

Pantauan Israel

Kesiapan dan kendali Iran itu diperhatikan saksama oleh Israel yang bertahun-tahun mendorong AS untuk menghabisi Iran. Dalam laporan The Jerusalem Times, 2 Juli 2025, Israel memantau pergerakan kapal-kapal Garda Revolusi Iran dengan berbagai ranjau laut. Per tahun 2019, dalam data intelijen Israel, sekurangnya Iran memiliki 5.000 ranjau laut yang bisa digunakan menutup Selat Hormuz.

Lalu lintas minyak dunia melalui Selat Hormuz

Di sisi lain, Pangkalan Armada Ke-5 AL AS terdapat di Bahrain yang harus melintasi Selat Hormuz. Armada Ke-5 di Bahrain hanya memiliki empat kapal penyapu ranjau.

Menurut Israel, jika Iran menutup total Selat Hormuz, hal itu akan berdampak pada kekacauan ekonomi dunia. Sekurangnya 20 persen ekspor minyak dunia melalui Selat Hormuz dan 69 persen pasokan minyak itu ditujukan ke India, China, Jepang, dan Korea Selatan.

Pada 22 Juni 2025, sesaat setelah AS mengebom pusat pengembangan nuklir damai Iran, Parlemen Iran sudah mengusulkan untuk menutup Selat Hormuz. Ketika itu, kapal-kapal antiranjau AS justru digeser menjauh dari Bahrain untuk mengantisipasi serangan balasan Iran ke Pangkalan Militer AS di kawasan Teluk.

Lembaga kajian Alma di Israel dalam laporan 3 Januari 2023 mengungkapkan, di Pulau Qeshm, Iran membangun pangkalan peluncuran drone Shahed 171 dan Saegheh 1 (dikembangkan dari drone AS RQ 170 buatan Lockheed Martin) yang berhasil dijatuhkan Iran.

Selain itu, kajian Alma menduga ada pangkalan kapal selam tersembunyi milik Iran di Pulau Qeshm. Kapal selam kelas Kilo bermesin diesel buatan Rusia itu, jika bergerak dengan baterai, nyaris tidak bisa dideteksi lawan.

Lalu, terdapat pulau galangan kapal besar Qeshm Madkandaloo Shipbuilding di sana. Galangan tersebut membuat aneka kapal perang untuk pasukan Garda Revolusi Iran.

Sebuah kapal yang menembakkan rudal selama latihan militer oleh anggota IRGC dan angkatan laut Iran. Korps Pengawal Revolusi Islam Iran pada 16 Februari memulai serangkaian latihan militer di Selat Hormuz.

Dengan segudang persiapan, Iran merasa percaya diri menjadi kekuatan regional terutama dalam mempertahankan diri dari serangan asing. Berbagai persenjataan Iran dibuat massal dengan biaya lebih murah dari senjata buatan Barat. Strategi serangan dalam kerumunan (swarm attack) diyakini bisa membobol sistem persenjataan Barat yang unggul kualitas, tetapi bisa jadi kalah dalam jumlah.

Kapal induk AS tenggelam

Dalam latihan perang AS bertajuk Millenium Challenge tahun 2002, dilakukan simulasi armada AS melawan Iran. Hasilnya, belasan kapal dan kapal induk AS tenggelam. Akhirnya latihan tersebut dihentikan Pentagon dan skenario diganti.

Skenario awal adalah Angkatan Laut AS (Pasukan Biru) melawan Pasukan Merah negara lawan di Timur Tengah yang sebetulnya merujuk pada Iran.

Popular Mechanics dalam laporan berjudul ”AS Kalah dalam Perang (Fiksional) Lawan Iran 18 Tahun Silam”, Januari 2020, menceritakan Jenderal Marinir (Purn) Paul van Riper yang memimpin Pasukan Merah (Iran). Van Riper menggunakan berbagai senjata dan pangkalan yang ada di pesisir dan Selat Hormuz untuk menghabisi armada AS.

Kapal Induk AS USS Abraham Lincoln (CVN72) berlayar di Laut Arab bagian dari operasi menekan Iran, 6 Februari 2026. AS menambah kekuatan militer di Kawasan Teluk untuk menekan Iran menghentikan riset nuklir untuk tujuan damai. In this handout photograph released by the US Navy on February 6, 2026, Nimitz-class aircraft carrier USS Abraham Lincoln (CVN 72) and Arleigh Burke-class guided-missile destroyer USS Frank E. Petersen Jr. (DDG 121) sail in the Arabian Sea, on February 6. The two foes recently resumed indirect talks, after the US president repeatedly threatened military action against Iran, at first over a deadly crackdown on protesters last month then more recently over its nuclear programme. Iran's atomic energy chief on February 19, 2026, said "no country can deprive Iran of the right" to nuclear enrichment, following fresh US warning that there were "many reasons" to strike the Islamic republic. (Photo by Petty officer 1st Class Jesse Monford / US NAVY / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / U.S. Navy/ Mass Communication Specialist 1st Class Jesse Monford" - HANDOUT - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Van Riper yang dikenal berpikir out of the box melakukan serangan sebelum gempuran pendahuluan dilakukan Angkatan Laut AS. Rudal dari darat, gerombolan kapal cepat bersenjata rudal, dan pesawat tempur mematikan komunikasi radio untuk menyerang, hasilnya adalah AS kewalahan.

Sebagai ”Panglima” Iran, Van Riper menenggelamkan 19 kapal AS AL meliputi kapal induk, kapal penjelajah, lima kapal amfibi.

AS semula menilai lawan akan menunggu diserang dan mempertahankan diri. Sebaliknya, Van Riper malah menyerang duluan begitu armada AS dalam jangkauan serangannya di pesisir Iran dan Selat Hormuz.

Kini, memasuki tahun 2026, Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine juga memberikan peringatan serius tentang kerumitan operasi militer terhadap Iran dan perhitungan besaran korban di pihak AS. ”Saya bertanggung jawab memberi pertimbangan atas dampak dan risiko yang terjadi. Itu disampaikan secara rahasia,” kata Caine.

(Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Kris Mada, Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul