OBITUARI

Mengenang Try Sutrisno, Sosok Lintas Generasi yang Teguh Mengawal Arah Pancasila

Megawati Soekarnoputri, Puan Maharani, dan kalangan akademisi mengenang Try Sutrisno sebagai negarawan yang setia mengawal nilai-nilai Pancasila.

02 Mar 2026 15:28 WIB · Politik & Hukum

KOMPAS/RIZA FATHONI

Oleh Nikolaus Harbowo

JAKARTA,KOMPAS — Ucapan dukacita terus mengalir untuk Wakil Presiden ke-6 RI, Try Sutrisno, yang berpulang hari ini. Ia dikenang sebagai sosok prajurit sejati sekaligus negarawan yang dekat dengan semua generasi.

Pandangannya bahwa wajah Indonesia kian liberal-kapitalistik dan semakin menjauh dari etika, moral, serta sendi falsafah Pancasila menjadi pekerjaan rumah bagi generasi penerus untuk meluruskan arah perjalanan bangsa.

Salah satu ucapan dukacita disampaikan oleh Presiden ke-5 RI yang juga Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri melalui Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto, di Jakarta, Senin (2/3/2026).

”Ibu Megawati mengenang almarhum sebagai sosok prajurit sejati dan negarawan yang telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk bangsa dan negara. Bangsa Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya,” kata Megawati sebagaimana disampaikan Hasto.

Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri bersama Wapres ke-6 RI Try Sutrisno saat bersama-sama dalam Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila.

Menurut Hasto, Try Sutrisno selama ini memiliki kedekatan dengan Megawati. Sebelum tutup usia, Try bersama Megawati bersama-sama sebagai bagian dari Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Di BPIP, keduanya kerap berdiskusi soal kebangsaan. Tak hanya itu, Try juga sering hadir dan menjadi tokoh penting di agenda-agenda PDI-P.

Hasto pun menceritakan momentum saat Megawati memperhatikan Try Sutrisno.

”Sesaat sebelum agenda penyerahan duplikat bendera pusaka kepada seluruh Kepala Daerah se-Indonesia di Balai Samudra, Jakarta, 2024 lalu. Di ruang holding ketika Pak Try akan berdiri. Ibu Megawati langsung menegur ajudan Pak Try untuk sigap menyiapkan tongkat Pak Try sebelum beranjak dari sofa,” kata Hasto.

”Ibu Megawati menggandeng tangan Pak Try saat peringatan Hari Lahir Pancasila saat peserta menyampaikan salam kebangsaan dan lagu ’Indonesia Raya’, pada 2025 kemarin,” tambahnya.

Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto (kiri) yang bertindak sebagai inspektur upacara menerima penyerahan Jenazah Wakil Presiden (Wapres) ke-6 RI Try Sutrisno dari pihak keluarga kepada pemerintah melalui upacara serah terima yang digelar di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta Pusat, Senin (2/3/2026). Jenazah Almarhum Try Sutrisno tersebut selanjutnya dimakamkan di TMP Kalibata.

Kompas/Riza Fathoni (RZF)
Putra kedua Wakil Presiden (Wapres) ke-6 RI Try Sutrisno, Taufik Dwi Cahyono menjadi imam salat jenazah sang ayah di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta Pusat, Senin (2/3/2026). Taufik memimpin salah jenazah setelah melangsungkan salat dhuhur.

Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Megawati, lanjut Hasto, menyampaikan doa agar sosok yang sangat disegani di kalangan militer itu diberikan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa serta keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan. ”Atas nama pribadi dan keluarga, Ibu Megawati menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya,” kata Hasto.

Dekat dengan semua generasi

Putri Megawati yang kini menjabat sebagai Ketua DPR, Puan Maharani, pun turut berbelasungkawa atas wafatnya Try Sutrisno. ”Semoga amal dan ibadah beliau mempermudah jalan almarhum menuju surga-Nya. Dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan,” ujar Puan.

Puan pun mengenang sosok Try Sutrisno sebagai panutan yang dekat dengan semua generasi. Ia dan Try Sutrisno kerap bertemu di acara-acara kebangsaan. ”Terakhir saya bertemu almarhum pada sidang tahunan di DPR tahun lalu. Saya menyambut beliau. Dan sama seperti biasanya, beliau selalu hangat dan bersahaja,” tambahnya.

Menurut Puan, kepergian Try Sutrisno merupakan kehilangan bagi seluruh rakyat Indonesia. ”Jasa beliau bagi bangsa dan negara sangatlah besar. Indonesia berduka atas kepergian almarhum. Semoga perjuangan beliau terus dilanjutkan oleh generasi-generasi mendatang dan apa yang menjadi peninggalan Bapak Try Sutrisno akan terus bermanfaat bagi Indonesia,” ucapnya.

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri (kedua dari kanan) ditemani purtinya Puan Maharani (kanan) duduk berdampingan dengan Presiden Joko Widodo (ketiga dari kanan)saat menonton Pertunjukan Teater Kebangsaan "Tripikala", di Taman Ismail Marzuki, Jakarta,Senin (23/10). Pertunjukan teater yang diagarap oleh sutradara Agus Noor dan Penata Musik Djaduk Ferianto tersebut digelar untuk memperingati Ulang Tahun ke-70 Megawati. Pertunjukan ini dihadiri juga sejumlah tokoh, antara lain: mantan Wapres Try Sutrisno dan Boediono, Ketua MPR Zulkifli Hasan, dan sejumlah menteri Kabinet Kerja. Kompas/Lasti Kurnia (LKS) 23-01-2017

Secara terpisah, Rektor Universitas Paramadina Didik J Rachbini mengatakan, Indonesia kehilangan negarawan yang di masa tuanya terus menyemaikan semangat kebangsaan dan bahkan melakukan kritik terbuka. Ini didasarkannya pada pengamatannya pada gagasan-gagasan Try Sutrisno yang dilontarkan di publik, baik pada masa Orde Baru maupun pada masa Reformasi.

Salah satunya, ia mengingat saat Try berpidato di acara ”Pembinaan Ideologi Pancasila dalam Rangka Peringatan 80 Tahun Membumikan Pancasila” dan Peluncuran Pancasila Virtual Expo 2025 di Universitas Indonesia, 21 Juli 2025.

Kritik Try Sutrisno

Di acara itu, ia menyampaikan bahwa kehidupan bangsa Indonesia saat ini cenderung berkarakter liberal yang mengikis moral dan etika kehidupan sesuai Pancasila. Demokrasi yang dijalankan mengarah ke westernisasi sebagai hasil amendemen empat kali UUD 1945. 

”Kritik Pak Try ini, menurut saya, harus dipertimbangkan karena wajah Indonesia sudah liberal kapitalistik dan semakin jauh dari etika, moral, dan sendi falsafah Pancasila,” tambahnya. Lebih lanjut menurut Try, ”Pelaksanaan demokrasi sangat liberal bahkan lebih liberal dari sistem yang berlaku di Amerika Serikat.” 

<p>Amendemen UUD 1945 Infografik 20190814</p>

Amendemen UUD 1945 yang mendadak, bahkan tanpa kajian dan perenungan mendalam, banyak kelemahannya setelah dilaksanakan lebih dari dua dekade terakahir. Dengan demikian, Try Sutrisno mengharapkan ada evaluasi dan kaji ulang terhadap sistem ketatanegaraan.

Yang disayangkan adalah hilangnya pilar musyawarah bangsa di dalam ketatanegaraan kita, yakni lenyapnya MPR sebagai perwujudan lembaga tertinggi negara. Tak ada lagi Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang dibuat oleh MPR  sehingga rakyat tidak lagi menjadi penentu arah kebijakan dan kehidupan negara Indonesia. Kini, arah politik dibuat oleh partai politik yang ritme kehidupannya hanya berjangka pendek untuk menang setiap lima tahunan.

Ke depan, dari pandangan Try, reformasi tidak bisa lagi berdasarkan prinsip liberal, yang tidak sesuai dengan nilai-nilai dasar keindonesiaan.  Try menekankan reformasi seharusnya berakar pada nilai diri bangsa Indonesia, bukan sekadar perubahan yang terpengaruh oleh gelombang luar liberalisasi. 

Wakil Presiden Try Sutrisno  dan BJ Habibie dalam sebuah pertemuan di Istana Negara.

Dalam pandangannya juga, demokrasi hanya merupakan sarana untuk mencapai tujuan kemerdekaan dan bukan tujuan akhir kehidupan bernegara. Untuk bangsa yang besar seperti Indonesia, evaluasi dan tinjauan kembali terhadap praktik demokrasi dan kehidupan berbangsa sangat diperlukan agar sesuai dengan nilai dasar dan karakter bangsa Indonesia. 

”Saya berpandangan bahwa kritik negarawan senior ini perlu untuk direnungkan sebagai diskursus penting dalam kehidupan bernegara,” ujar Didik.


Kerabat Kerja

Penulis:

Nikolaus Harbowo
 | 

Editor:

A. Ponco Anggoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul