Siapa pun yang mau mengekstrak kekayaan logam tanah jarang di Greenland pasti berpikir panjang. Ekstraksi logam tanah jarang di Greenland terkendala kerasnya alam.
13 Jan 2026 10:00 WIB · Internasional
AP Photo/Evgeniy Maloletka
Greenland diperebutkan konon karena kekayaan alam logam tanah jarangnya. Padahal, tak akan mudah mengolah kekayaan alam itu.
Presiden AS Donald Trump seakan tak sabar ingin mengambil alih Greenland dan menguasai wilayah Arktika karena khawatir China dan Rusia akan mendahuluinya. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning, mengingatkan agar AS tak memakai negara lain sebagai alasan mencapai tujuannya.
Mao, pada Senin (12/1/2026), di Beijing mengatakan bahwa kegiatan China di Akrtika untuk tujuan damai dan pembangunan berkelanjutan. Masalah Arktika menjadi perhatian komunitas internasional
Di luar soal keributan itu, tambang untuk mengekstrak logam tanah jarang Greenland pasti akan sulit. Sebab, kondisi alam yang keras dan infrastruktur utamanya yang minim. Proses ekstraksi juga akan sangat membutuhkan teknologi tinggi.
Jika pun Trump berhasil mengambil alih Greenland, tetap saja tak akan mudah bagi AS untuk mengambil logam tanah jarangnya.
Greenland saja mungkin tidak akan pernah mampu memproduksi logam tanah jarangnya sendiri. Sejumlah perusahaan tetap berusaha meski sulit. Namun, upaya mereka untuk menggali sebagian dari 1,5 juta ton unsur tanah jarang itu masih pada tahap eksplorasi. Seluruh kekayaan alam itu terbungkus dalam batuan di Greenland.
Trump berharap kekayaan Greenland akan menyelesaikan masalah pasokan logam tanah jarang yang dibutuhkan AS. Trump memprioritaskan pemutusan cengkeraman China atas pasokan global logam tanah jarang sejak China membatasi siapa yang dapat membelinya pascapemberlakuan tarif AS pada China.
Pendiri dan Direktur Eksekutif Critical Minerals Institute, Tracy Hughes, mengatakan, ia sejatinya tidak yakin Trump tertarik pada logam tanah jarang Greenland.
Trump tampaknya lebih tertarik melawan pengaruh Rusia dan China di Arktik ketimbang mengamankan unsur-unsur logam tanah jarang yang sulit diucapkan, seperti neodimium dan terbium. Logam tanah jarang ini digunakan untuk menghasilkan magnet berkekuatan tinggi yang dipakai kendaraan listrik, turbin angin, robot, pesawat jet tempur, dan lain-lain.
”Urusannya lebih tentang manuver geopolitik, kepentingan strategis militer, dan narasi promosi saham. Bukan solusi pasokan sektor teknologi,” kata Hughes.
Siapa pun, bahkan AS sekalipun, pasti akan berpikir beberapa kali lipat sebelum mulai mengekstrak kekayaan mineral-mineral penting di Greenland. Tantangan pertama yang jelas adalah membangun tambang karena lokasinya terpencil.
Di wilayah selatan yang penduduknya lebih padat saja infrastruktur jalannya minim dan tidak ada jalur kereta. ”Listrik juga harus dihasilkan secara lokal. Tenaga kerja ahli juga harus didatangkan,” kata peneliti geologi ekonomi di Survei Geologi Denmark dan Greenland.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/12/3c674708f829cfd6ee64ad1a9d0e5645-wires_photo_129.jpg)
Peneliti di program Lingkungan dan Masyarakat di lembaga kajian Chatham House, Inggris, Patrick Schröder, juga mengingatkan risiko bahan kimia beracun yang digunakan untuk memisahkan mineral dari batuan. Proses pengolahannya akan mencemari lingkungan karena logam tanah jarang sering ditemukan bersamaan dengan uranium radioaktif. Padahal, saat ini Greenland sedang coba membangun industri pariwisata.
Iklim yang keras menyelimuti mayoritas Greenland dengan es dan membekukan wilayah utara hampir sepanjang tahun. Sementara unsur tanah jarangnya terbungkus dalam jenis batuan kompleks yang disebut eudialit.
Belum pernah ada yang mengembangkan proses yang mudah untuk mengekstrak logam tanah jarang dari jenis batuan itu. Di lokasi lain, selain Greenland, unsur-unsur ini biasanya ditemukan dalam formasi batuan yang berbeda yang disebut karbonatit dan sudah ada metode yang terbukti untuk mengolahnya.
”Jika sedang berlomba untuk mendapatkan mineral penting, kita harus fokus pada sumber daya yang paling mudah dipasarkan,” kata David Abraham, ahli unsur tanah jarang dan penulis buku The Elements of Power.
Proyek yang paling menjanjikan pun akan susah untung, terutama ketika China menggunakan taktik dumping material berlebih ke pasar. Taktik ini menekan harga dan menyingkirkan pesaing dari bisnis, seperti yang telah dilakukannya berkali-kali. Saat ini mayoritas mineral penting harus diproses di China.
AS sedang berusaha memperluas pasokan logam tanah jarang di luar China selama masa penangguhan satu tahun dari pembatasan yang lebih ketat yang menurut Trump telah disetujui Presiden China Xi Jinping pada Oktober 2025.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/08/b3dce71a-6fa4-404d-85e3-b7e72f95d909.jpg)
Sejumlah perusahaan di seluruh dunia sudah memproduksi logam tanah jarang atau magnet dan dapat mengirimkan lebih cepat daripada apa pun di Greenland. ”Semua orang sekarang sedang berlari untuk mencapai titik akhir. Dan, kalau mencoba eksplorasi ke Greenland, itu seperti kembali ke titik awal,” kata Guru Besar Ekonomi di Colorado School of Mines Ian Lange.
Banyak pelaku industri mineral tanah jarang yang berpendapat AS sebaiknya fokus saja membantu perusahaan-perusahaan yang sudah terbukti berhasil, alih-alih coba membangun tambang logam tanah jarang baru di Greenland, Ukraina, Afrika, atau tempat lain.
Sejumlah proyek pertambangan lain di AS dan negara-negara sahabat, seperti Australia, sudah lebih maju dan berada di lokasi yang jauh lebih mudah diakses. Pemerintah AS sudah berinvestasi langsung di perusahaan yang mengoperasikan satu-satunya tambang logam tanah jarang di AS, yakni MP Materials. Selain itu juga pada perusahaan penambang litium dan perusahaan yang mendaur ulang baterai serta produk lain yang mengandung logam tanah jarang.
CEO Noveon Magnetics Scott Dunn mengatakan, investasi tersebut seharusnya lebih efektif mengurangi pengaruh China, tetapi sulit untuk mengubah perhitungan dengan cepat ketika lebih dari 90 persen logam tanah jarang dunia berasal dari China. Noveon Magnetics memproduksi sekitar 2.000 metrik ton magnet setiap tahun di pabrik di Texas, AS, dari bahan-bahan yang diperoleh dari luar China.
BBC, 6 Januari 2026, menyebutkan, selain China, logam tanah jarang juga ditemukan di Afrika. Kepala Keberlanjutan dan Perencanaan di Universitas Aalborg, Denmark, Anne Merrild, mengatakan, ketika tambang di wilayah lain mulai mengering, endapan di Arktik menjadi lebih menarik. Namun, eksplorasi mineral tetap jadi usaha paling menantang dan berisiko.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/12/418bc6107e1f52e3cdb8b0087679ce73-wires_photo_132.jpg)
Direktur Pusat Penelitian dan Geologi Ekonomi di Universitas Nevada, AS, Ralph J Roberts mencatat, untuk setiap 100 proyek eksplorasi mineral, satu di antaranya mungkin bisa jadi tambang. Jika hasil eksplorasi mengungkapkan ada potensi tambang, masih butuh minimal 10 tahun untuk bisa mengolah mineralnya, tergantung dari daerahnya.
Mengolah logam tanah jarang juga penuh tantangan. Tidak seperti mineral seperti emas yang ditemukan dalam keadaan aslinya di dalam batuan. Logam tanah jarang terkunci dalam mineral lain yang rumit. Jika hasil menambang menemukan ada mineral radioaktif yang terikut logam tanah jarang, proses menambang bisa dihentikan sebelum satu gram diproses.
Ini karena pada 2021, Greenland mengesahkan undang-undang yang membatasi jumlah uranium dalam sumber daya yang ditambang. Ini yang kemudian membekukan pengembangan tambang logam tanah jarang di Greenland Selatan. (AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Retma Wati