Menilik Pemicu Kecelakaan Maut Bus Vs Truk di Km 77 Tol Pandaan-Malang

Peristiwa kecelakaan truk dengan bus di Kilometer 77 Tol Pandaan-Malang pada 23 Desember 2024 merenggut empat korban jiwa dan puluhan penumpang bus terluka.

28 Des 2024 16:34 WIB · Kriminalitas

Oleh Defri Werdiono

Kecelakaan truk dan bus yang menewaskan empat orang di ruas Tol Pandaan-Malang menambah daftar panjang kecelakaan yang melibatkan dua kendaraan besar itu. Lantas, mengapa peristiwa itu bisa terjadi? Bagaimana detik-detik sebelum kecelakaan terjadi?

Mengenakan baju warna oranye dengan plester luka masih menempel di dahi kiri, Sigit Winarno (65) memperagakan adengan demi adegan saat prarekonstruksi kasus kecelakaan maut di Kilometer 77 Tol Pandaan-Malang, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (27/12/2024).

Total ada 24 adegan yang dibawakan oleh sopir truk yang tengah memuat pakan ternak itu. Bagaimana detik-detik sebelum truk bernomor polisi S 9126 UU yang dia kemudikan terlibat kecelakaan dengan bus Tirto Agung, Senin (23/12/2024). Total ada empat korban meninggal dan 48 orang luka dalam peristiwa tersebut.

Korban meninggal adalah Untung Subagyo (47), sopir bus; Tri Subangkit M dan Iyan Maryana selaku pendamping; serta kernet bus, Ahmad B Rozi. Adapun korban luka dilarikan ke beberapa rumah sakit di Lawang, Singosari, dan Kota Malang. Rombongan siswa ini tengah dalam perjalanan mengikuti rangkaian program Kemah Intensif Bahasa Inggris, 19 Desember 2024-3 Januari 2025.

Sigit pun memperagakan bagaimana dirinya berusaha ”menjinakkan” truk berbobot 9,5 ton dan muatan 11,2 ton itu, mulai sejak dia melihat indikator truk yang menunjukkan kondisi mesin panas (overheat), lalu menepikan kendaraan di bahu tol di Km 78+100A yang kondisinya menikung dan menanjak, serta mengambil tindakan keluar dari kendaraan dan mengganjal ban depan sisi kanan menggunakan kayu tetapi gagal.

Suasana usai prarekonstruksi yang menghadirkan Sigit Winarno, sopir truk yang terlibat kecelakaan dengan bus di Kilometer 77 Tol Pandaan-Malang, Jumat (27/12/2024).

Truk wingbox yang dia kemudikan dari Surabaya menuju Malang itu pun mundur tak terkendali. Bus berpindah lajur dari bahu jalan, jalur kiri, dan ke kanan. Sementara situasi jalanan di belakang ramai oleh kendaraan, termasuk bus Tirto Agung yang tengah mengangkut rombongan pelajar SMP Islam Terpadu Darul Quran Mulia Putri, Bogor, Jawa Barat. Tabrakan pun tak terhindarkan di Km 77+300A.

”Kegiatan hari ini untuk membuat terang, meruntutkan kejadian kecelakaan beberapa hari lalu. Supaya pada saat nanti pemeriksaan, jika masih ditemukan hal-hal lain, kami akan dalami,” ujar Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Malang Ajun Komisaris Widyagana Putra Dhirotsaha.

Sigit yang sebelumnya menjalani perawatan di RS Prima Husada, Singosari, telah ditetapkan sebagai tersangka setelah Polres Malang melakukan gelar perkara. Selama prarekonstruksi, tersangka kooperatif dan memberikan keterangan sesuai fakta.

Dari hasil olah tempat kejadian menggunakan alat analisis kecelakaan lalu lintas (traffic analysis accident) oleh Polres Malang bersama Direktorat Lalu Lintas Polda Jatim, termasuk keterangan saksi dan saksi ahli, truk diketahui mengalami overheat.

Sebelumnya, Kepala Polres Malang Ajun Komisaris Besar Putu Kholis Aryana mengungkapkan detail bagaimana terjadinya kecelakaan. Bagaimana kondisi truk sesaat setelah overheat dan sesaat setelah hilang kendali.

Menurut Kholis, kondisi selang radiator truk sudah lepas sebelum peristiwa terjadi. Selang yang lepas meimbulkan masalah kebocoran pada sistem pendingin (cooling system) sehingga mengakibatkan overheat. Adapun kondisi jalan miring 2-4 derajat.

Ia juga melihat buku uji kir mulai Juli hingga Desember. Terdapat dua bagian yang tidak dilakukan pengecekan secara berkala, yakni temperatur air dan radiator. Ditambah temuan selang radiator putus menunjukkan jika truk sudah bermasalah sejak lama. Menurut keterangan sopir, dia sudah menyampaikan masalah itu kepada pemilik kendaraan. Namun, pengakuan yang bersangkutan tidak ada respons. Polisi pun berencana memanggil pemilik truk untuk dimintai keterangan.

Kondisi bus yang ringsek dalam kecelakaan bus vs truk di Jalan Tol Pandaan-Malang, Jawa Timur, Senin (23/12/2024). Empat korban meninggal dunia dalam peristiwa ini.

”Kami juga mendatangkan tim dari Mitsubishi. Kesimpulanya truk mengalami overheat karena diduga ada kebocoran di bagian cooling system. Temperatur air dan radiator tidak pernah dilakukan pengecekan rutin 6-7 bulan terakhir. Overheat terjadi karena minimnya perawatan sistem pendingin. Kendaraan mundur karena parkir di jalur menanjak dan rem tangan tidak berfungsi maksimal,” katanya.

Lokasi sopir menghentikan truk di bahu jalan yang menanjak juga menjadi persoalan. Saat berhenti, kendaraan besar semestinya mesin dimatikan, posisi presneling gigi 1, dan rem tangan maksimal. Namun, dalam kasus ini, sopir tidak mematikan mesin. Dia hanya mengganjal ban depan—memakai kayu yang kemudian pecah—padahal beban truk berat di bagian belakang.

Sementara sebagian kendaraan di sisi belakang bisa menghindari truk yang melaju mundur. Namun, naas bus Tirto Agung yang melaju di lajur kanan tidak bisa menghindari karena di sisi kiri ada kendaraan lain. Saat itu kecepatan bus diasumsikan 82 kilometer per jam (global positioning system).  

”Bus tidak sempat mengerem, asumsi sopir bus terkejut. Tidak ada jejak pengereman dari bus. Melihat kerusakan yang terjadi, bus menabrak bagian belakang truk sisi kiri,” kata Kholis.

Terlepas dari kasus yang terjadi, berdasarkan catatan Kompas, setidaknya sudah dua kali kecelakaan di lokasi sama yang melibatkan bus dengan kendaraan besar. Pada 26 September 2022, bus Restu jurusan Malang-Surabaya terlibat kecelakaan beruntun dengan dua truk tangki bahan bakar dan dua kendaraan lain di jalur B (menurun). Sopir bus meninggal dalam peristiwa ini.

Akademisi Program Studi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah Masyarakat Transportasi Indonesia Pusat, Djoko Setijowarno, mengatakan, mobilitas masyarakat pada periode Natal dan Tahun Baru tinggi. Mereka banyak pergi ke lokasi wisata karena bersamaan dengan libur sekolah.

Berdasarkan survei Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan (2024), sebanyak 45,67 persen warga berlibur ke lokasi wisata, 31,36 persen pulang kampung, 19,96 persen merayakan Natal dan Tahun Baru di kampung, serta 2 persen tugas atau pekerjaan.

Kecelakaan beruntun melibatkan bus Restu dan sejumlah kendaraan terjadi di Tol Pandaan-Malang, Kilometer 77, Minggu (25/9/2022) petang. Satu korban meninggal dalam peristiwa ini.

Menurut Djoko, diperlukan pembenahan menyeluruh pada bisnis angkutan truk. Lini bisnis ini perlu dijalankan secara lebih profesional dengan sistem manajemen keselamatan serta hubungan industrial yang optimal. ”Proses perekrutan pengemudi juga dilakukan dengan benar, kompetensi, batasan jam kerja, dan pendapatan minimal jadi syarat mutlak,” ujarnya.

Dalam tata kelola angkutan logistik di Indonesia, kata Djoko sedikitnya ada 12 kementerian/lembaga yang terlibat. Sejak 2017, Kementerian Perhubungan mulai membenahi persoalan truk yang melebihi dimensi dan kapasitas (ODOL) tetapi gagal karena penolakan Kementerian Perindustrian dan Asosiasi Pengusaha Indonesia lantaran khawatir inflasi naik. Isu ini hanya bisa dituntaskan oleh ketegasan presiden.

Selain persoalan kelebihan muatan, kata Djoko, Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mencatat masalah kegagalan pengereman kendaraan angkutan barang masih sering terjadi akibat tidak adanya regulasi wajib perawatan rem secara berkala.

Di sisi lain, KNKT kerap menemukan adanya operasional truk pada proyek pemerintah yang melebihi dimensi dan kapasitas. Kondisi ini ironis mengingat pemerintah gencar menertibkan kendaraan kelebihan muatan yang menjadi penyebab kemacetan dan kerusakan jalan. Oleh sebab itu, ketegasan penanganan diperlukan agar kecelakaan dan kecelakaan tidak lagi terulang.


Kerabat Kerja

Penulis:

Defri Werdiono
 | 

Editor:

Neli Triana
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan