BINA DAMAI

Menlu Oman: Bantulah AS Keluar dari Perang

Teman-teman AS perlu menyampaikan fakta, termasuk bahwa AS telah kehilangan kendali atas politik luar negerinya.

19 Mar 2026 17:07 WIB · Internasional

AFP

Oleh Kris Mada

LONDON, KAMIS — Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi meyakini, peluang menghentikan serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran masih terbuka. Teman-teman AS harus membantu negara itu keluar dari perang.

Hingga Kamis (19/3/2026), tak ada tanda peredaan ketegangan. Setelah Israel menyerang ladang gas South Pars milik Iran, kilang Ras Laffan milik Qatar diserang Iran. Menurut Teheran, serangan itu pembalasan atas ulah Israel.

Sementara itu, terminal minyak Yanbu milik Arab Saudi di Laut Merah dilaporkan diserang pesawat nirawak. Pelabuhan itu menjadi alternatif tunggal pengiriman minyak Riyadh setelah Selat Hormuz ditutup. Dampaknya, pemuatan di pelabuhan itu dilaporkan terhenti.

Sejak hari pertama serangan AS-Israel, Albusaidi telah menyatakan bahwa jalan diplomasi masih terbuka. ”Netralitas konstruktif Oman mendorong kami untuk menyampaikan pendapat kami kepada semua pihak dalam upaya mewujudkan perdamaian. Artikel di The Economist ini bertujuan untuk berkontribusi pada percakapan serius tentang solusi,” tulisnya di media sosial pada Kamis (19/3/2026).

Ia mengutip unggahan akun The Economist soal rangkuman artikel itu. ”Ini bukanlah yang diinginkan Pemerintah Amerika. Begitu pula rakyatnya, yang tentu saja tidak melihat ini sebagai perang mereka,” tulis Albusaidi.

Dalam laporan terpisah, The Economist juga menulis 55 persen responden di AS menentang serangan ke Iran. Hanya 32 persen mendukung serangan itu.

Albusaidi mengingatkan, pada Juni 2025 dan Februari 2026, AS-Iran hampir bersepakat pada hal sulit. Semua gagal gara-gara AS-Israel menyerang Iran di tengah proses perundingan.

In this photo released by the Oman's Foreign Ministry, Steve Witkoff, White House special envoy, centre, shakes hands with Oman's Foreign Minister Sayyid Badr Albusaidi as Jared Kushner, left, looks on during their meeting prior to Iran and the U.S. negotiations, in Muscat, Oman, Friday, Feb. 6, 2026. (Oman Foreign Ministry via AP)

Albusaidi menengahi perundingan AS-Iran sepanjang Januari-Februari 2026. Penasihat Keamanan Nasional Inggris, Jonathan Powell, hadir di putaran terakhir di Geneva, Swiss, pada 26 Februari 2026.

Powell, berdasarkan laporan The Guardian, menilai perundingan di Geneva sebenarnya bisa mencegah perang. Walakin, AS tetap menyerang Iran bersama Israel. Lalu, siklus serangan dan pembalasan tak kunjung berhenti.

”Pembalasan Iran terhadap apa yang diklaimnya sebagai target Amerika di wilayah negara tetangganya adalah hasil yang tak terhindarkan, meskipun sangat disesalkan dan sama sekali tidak dapat diterima. Dihadapkan dengan apa yang digambarkan oleh Israel dan Amerika sebagai perang yang dirancang untuk mengakhiri Republik Islam, ini mungkin satu-satunya pilihan rasional yang tersedia bagi kepemimpinan Iran,” lanjut Albusaidi.

Dengan situasi sekarang, menghidupkan kembali perundingan AS-Iran akan sulit. ”Namun, jalan keluar dari perang, meskipun mungkin sulit bagi kedua pihak untuk mengikutinya, mungkin harus melalui dimulainya kembali dialog ini,” sambungnya.

Mitra membantu

Para mitra AS dapat membantu mewujudkan situasi itu. Untuk melakukan, hal pertama yang perlu dilakukan adalah menyampaikan fakta. ”Bahwa ada dua pihak dalam perang ini yang tidak mendapatkan keuntungan apa pun darinya, dan bahwa kepentingan nasional Iran dan Amerika terletak pada pengakhiran permusuhan sesegera mungkin,” lanjutnya.

Fakta itu akan sangat pahit. Sebab, sama saja menyatakan AS telah kehilangan kendali atas politik luar negerinya.

Menurut dia, para pemimpin AS perlu memikirkan dengan masak: apa sebenarnya kepentingan nasional AS? ”Penilaian yang bijaksana terhadap kepentingan tersebut akan menunjukkan bahwa kepentingan tersebut harus mencakup pengakhiran yang pasti dan tegas terhadap proliferasi senjata nuklir di kawasan tersebut, rantai pasokan energi yang aman, dan peluang investasi baru dalam konteks meningkatnya signifikansi ekonomi global kawasan,” lanjutnya.

Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi (kiri) didampingi First Secretary Embassy of the Islamic Republic of Iran Ali Jameh Bozorg (kanan) menemui Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla di Markas Pusat PMI, Jakarta, Rabu (18/3/2026). Dalam pertemuan tersebut selain membahas situasi terkini perang Iran dengan Israel - AS, Boroujerdi juga meminta bantuan PMI untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan, seperti obat-obatan, bagi masyarakat Iran korban perang.

Semua ini akan paling baik dicapai dengan Iran yang berdamai dengan negara-negara tetangganya. Hal-hal ini mungkin dapat diidentifikasi sebagai tujuan bersama bagi semua negara Teluk. Bagaimana mencapai tujuan tersebut dari bencana saat ini adalah tantangannya.

Nuklir sipil dan untuk keperluan damai, lanjut Albusaidi, bisa menjadi jawaban atas kondisi itu. Perundingan AS-Iran diluaskan menjadi kerangka kawasan untuk kerja sama energi nuklir dan transisi energi.

”Semua negara di kawasan ini melihat ke masa depan pascakarbon bersama mereka, inovasi dan pembangunan yang aman mungkin bergantung pada beberapa kesepakatan dasar tentang peran yang akan dimainkan teknologi nuklir,” tulis Albusaidi. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul