Pemerintah akan berupaya melindungi warga sipil dengan mencegah serangan kelompok kriminal bersenjata seperti yang terjadi di Yahukimo tak terulang.
23 Mar 2025 20:47 WIB · Politik & Hukum
JAKARTA, KOMPAS- Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai memastikan korban serangan kelompok Organisasi Papua Merdeka di Distrik Anggruk, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, Jumat (21/3/2025) lalu, tertangani dengan baik. Untuk itu, Menteri HAM telah berkoordinasi dengan otoritas di Papua Pegunungan serta Nusa Tenggara Timur mengingat mayoritas korban berasal dari NTT.
"Saya sudah berkomunikasi langsung dengan Gubernur NTT Melki Lakalena serta otoritas di daerah Papua Pegunungan untuk memastikan penanganan para korban pasca kejadian, termasuk yang korban luka agar tertangani dengan maksimal,” kata Natalius Pigai melalui siaran pers, Minggu (23/3/2025).
Jumat lalu, Organisasi Papua Merdeka (OPM) membakar sebuah rumah di Distrik Anggruk Yahukimo. OPM juga membakar sekolah serta menyerang warga. Serangan itu mengakibatkan seorang guru bernama Rosalina Rerek Sogen yang berasal dari NTT, tewas. Tujuh warga lainnya yang juga berprofesi sebagai guru dan tenaga kesehatan dilaporkan terluka akibat serangan itu.
Natalius Pigai menyampaikan bela sungkawa atas kejadian itu. “Kami sangat menyayangkan kejadian ini dan turut berbelasungkawa dengan keluarga korban atas kejadian di Yahukimo ini," tuturnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/13/55a58429-94bd-4f0c-bda5-df62bb8460af_jpg.jpg)
Lebih jauh, Natalius Pigai memastikan, pemerintah akan berupaya lebih keras lagi untuk melindungi masyarakat sipil, terutama masyarakat yang tinggap di daerah-daerah rawan kekerasan seperti Yahukimo. Pemerintah juga akan mengupayakan, peristiwa serupa tidak terulang di masa yang akan datang.
Selain menewaskan Rosalina, serangan OPM juga mengakibatkan tiga guru mengalami luka berat. Mereka adalah Vidi, Cosmas, dan Tari. Sedangkan tiga lainnya, yakni Vanti, Pascalia, dan Irmawati, mengalami luka ringan setelah sekolah tempat para guru itu mengajar dibakar oleh OPM.
Komandan Satgas Rajawali II Koops TNI Habema Kogabwilhan III, Letkol (Inf) Gustiawan mengungkapkan, jenazah guru yang menjadi korban OPM telah berhasil dievakuasi, Minggu. "Evakuasi dilakukan dengan pengamanan ketat mengingat kondisi di Distrik Anggruk masih sangat rawan. Tim kami harus menghadapi medan berat dan potensi gangguan dari kelompok bersenjata. Namun, berkat koordinasi yang baik, jenazah korban berhasil dibawa ke Bandara Dekai Kab. Yahukimo untuk proses identifikasi lebih lanjut," tuturnya.
Selain mengevakuasi korban, Satgas Habema juga mendokumentasikan kerusakan akibat pembakaran sekolah yang dilakukan oleh OPM.
Pangkoops Habema Mayjen TNI Lucky Avianto menegaskan, akan menjaga keamanan di wilayah tersebut. Menurut dia, Satgas Habema hadir sebagai bagian dari upaya negara dalam memastikan setiap warga negara, termasuk tenaga pendidik, dapat hidup dan bekerja dengan aman.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/23/813df294bb95ab13d364e3fc91d86c73-WhatsApp_Image_2025_03_23_at_09.09.57.jpeg)
"Kami telah mengerahkan personel untuk mengevakuasi jenazah korban, serta mengamankan lokasi agar situasi tetap terkendali," ujar Lucky.
Hingga saat ini, Satgas Habema masih terus memburu pelaku serangan di Yahukimo. Bukan hanya itu, aparat juga meningkatkan patroli di wilayah rawan guna mencegah serangan serupa terulang. Masyarakat diharapkan tetap waspada dan segera melapor kepada aparat bila menemukan aktivitas mencurigakan.
Sebelumnya, juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB-OPM), Sebby Sambom mengakui, pembakaran dan pembunuhan dilakukan kelompoknya. Sebby menuturkan, Elkius Kobak, pimpinan TPNPB-OPM wilayah Yahukimo adalah pelaksana operasi pembakaran itu sekitar pukul 16.00 WIT.
Dalam keterangan tersebut, Sebby berdalih, guru dan tenaga kesehatan merupakan agen intelijen militer Indonesia. Alasan ini kerap digunakan OPM saat meneror dan membunuh guru, tenaga kesehatan, atau warga sipil pendatang di pedalaman Papua.
Penulis:
Anita YossiharaEditor:
A. Ponco AnggoroPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti