KECELAKAAN KAPAL

Menteri Perhubungan: KMP Virgo Transport 8 Tidak Berlebih Muatan dan Kapasitas

Kapal ini disebut mengangkut 243 orang dengan kapasitas armada mencapai 500 orang. Hingga hari kedua pencarian, sedikitnya 114 orang telah ditemukan.

14 Sep 2026 14:05 WIB · Ekonomi & Bisnis

ANTARA FOTO

Oleh Yosepha Debrina Ratih Pusparisa

JAKARTA, KOMPAS — Kementerian Perhubungan menyatakan, Kapal Motor Penumpang Virgo Transport 8 tidak berlebih muatan dan kapasitas. Pencarian para korban dari kapal yang terbalik di Laut Jawa pada Minggu (13/9/2026) itu masih terus berlanjut.

Pencarian penumpang Kapal Motor Penumpang (KMP) Virgo Transport 8 yang mengalami kecelakaan di perairan Laut Jawa, Minggu (13/9/2026) dini hari, terus berlanjut. Dalam hari kedua pencarian, penumpang yang telah ditemukan berjumlah 114 jiwa, dengan 108 orang di antaranya selamat dan 6 orang lainnya meninggal.

Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengemukakan, KMP Virgo Transport 8 mengangkut 243 orang. Ia mengatakan, kapal ini berkapasitas sekitar 500 orang sehingga kondisi armada tidak dalam kondisi kelebihan kapasitas.

Personel gabungan yang melakukan operasi pencarian saat ini jumlahnya bertambah, lebih dari 600 orang. Dengan jumlah itu, proses pencarian diharapkan makin optimal sehingga penumpang lainnya dapat segera ditemukan dalam kondisi selamat.

”Saya berharap cuaca di lokasi kejadian dalam kondisi baik sehingga proses evakuasi dapat berjalan lancar. Saya juga terus mengingatkan agar seluruh unsur yang terlibat dalam operasi ini senantiasa mengedepankan aspek keselamatan dan perkuat koordinasi di lapangan,” tuturnya secara tertulis dalam konferensi pers di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Senin (14/9/2026).

Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengadakan konferensi pers mengenai kecelakaan KMP Virgo Transport 8 di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Senin (14/9/2026). Ia diapit Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono (kiri) serta Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Mohammad Syafii.

Penumpang selamat yang membutuhkan penanganan medis akan dirujuk ke rumah sakit. Sementara penumpang selamat yang kondisinya cukup baik akan diserahkan kepada pihak operator pelayaran untuk diantarkan ke rumah masing-masing.

KMP Virgo Transport 8, Dudy melanjutkan, pada dasarnya tidak kelebihan muatan saat melakukan pelayaran. Berdasarkan informasi yang ia terima, kapasitas kapal tidak terisi maksimal.

”Perlu diketahui, KMP Virgo Transport 8 berlayar dalam kondisi tidak overload. Meski demikian, kita tunggu investigasi menyeluruh dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk mengetahui penyebab pasti kecelakaan kapal tersebut,” ujar Dudy.

Saat ini, KNKT sudah terjun ke lapangan untuk melakukan investigasi awal. Secara paralel, KNKT sudah mengumpulkan data terkait spesifikasi kapal hingga wawancara dengan penumpang serta kru yang selamat.

Sebelumnya, KMP Virgo Transport 8 dijadwalkan berlayar dari Surabaya, Jawa Timur, menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Armada itu hilang kontak di Laut Jawa pada Minggu (13/9/2026) dini hari. Saat ini, sekitar 130 orang lainnya masih dalam pencarian.

Tim SAR gabungan bersiap melakukan evakuasi penumpang korban kapal motor penumpang (KMP) Virgo Transport 8 yang tiba menggunakan Kapal Tanker MT Mauhau milik PT Pertamina di Pelabuhan Tri Sakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Senin (14/9/2026). Tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi sebanyak 15 penumpang selamat dan satu jenazah korban KMP Virgo Transport 8 yang tenggelam pada Minggu (13/9) di Laut Jawa dan selanjutnya jenazah diserahkan kepada tim DVI Polda Kalsel untuk diidentifikasi. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/YU

Kapal berukuran 8.540 gross tonnage (GT) yang dinakhodai Arief Yunianto itu dikabarkan mengalami kemiringan (listing) dan hilang kontak pada Minggu sekitar pukul 02.00 WIB di perairan Masalembo. Kapal sempat mengabarkan sedang menghadapi cuaca buruk di perairan berjarak 80 mil laut atau sekitar 148 kilometer (km) dari Dermaga SAR Basirih, Banjarmasin (Kompas.id, 14/9/2026).

Sebulan sebelumnya, kecelakaan juga menimpa KMP Putri Yasmin di perairan Bali pada Rabu (12/8/2026). Kapal tersebut terbakar dalam perjalanan dari Padangbai, Bali, ke Lembar, Nusa Tenggara Barat. Total 130 orang terdaftar dalam manifes, tetapi jumlah penumpang yang dievakuasi mencapai 173 orang, 1 orang di antaranya meninggal.

Belum genap dua pekan dari insiden itu, KMP Mutiara Sentosa II yang melayani rute Surabaya-Makassar terbakar pada Minggu (2/8/2026). Berdasarkan data operasi SAR, 238 orang berhasil dievakuasi, 5 orang di antaranya meninggal (Kompas.id, 10/8/2026).

Menanggapi kecelakaan ini, Ketua Forum Transportasi Laut Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Hafida Fahmiasari, mengemukakan, rangkaian kecelakaan kapal dalam waktu berdekatan ini sudah menjadi alarm keras. Semua pihak perlu melihat keselamatan pelayaran sebagai satu sistem, bukan hanya persoalan kapalnya.

”Yang mendesak adalah memperkuat pengawasan berbasis risiko, utamanya untuk kapal yang menua. Memastikan ramp check benar-benar sesuai kondisi aktual, bukan hanya dokumen, serta membenahi manifes dengan prinsip one person, one identity. Indonesia juga perlu mulai serius dengan peremajaan armada,” tuturnya.

Tim SAR gabungan mengangkat kantong berisi jenazah korban kapal motor penumpang (KMP) Virgo Transport 8 yang tiba di Pelabuhan Tri Sakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Senin (14/9/2026). Tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi sebanyak 15 penumpang selamat dan satu jenazah korban KMP Virgo Transport 8 yang tenggelam pada Minggu (13/9) di Laut Jawa dan selanjutnya jenazah diserahkan kepada tim DVI Polda Kalsel untuk diidentifikasi. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/YU

Selain itu, pelabuhan harus dievaluasi. Keselamatan dimulai sebelum kapal berlayar, yakni ketika penumpang, kendaraan, dan kargo masuk pelabuhan. Infrastruktur dan teknologi untuk pemeriksaan muatan, termasuk kesesuaian antara deklarasi dan muatan aktual, perlu diperkuat.

”Yang penting, rekomendasi dari setiap kecelakaan harus ditelusuri tindak lanjutnya. Kalau kecelakaan dengan pola yang sama terus berulang, pertanyaannya bukan lagi apakah kita sudah punya aturan, melainkan apakah sistem benar-benar belajar dari kecelakaan sebelumnya?” ujar Hafida.

Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan perlu bergeser dari tindakan reaktif menjadi preventif. Jangan menunggu kecelakaan berikutnya untuk memperketat pengawasan.

Ketika ditanya perbaikan beberapa tahun terakhir, sebenarnya ada sejumlah peningkatan, seperti pelatihan keselamatan, digitalisasi layanan, serta peningkatan perhatian terhadap keselamatan setelah terjadi kecelakaan. Namun, perbaikannya tidak holistik pada sistem yang ada.

Infografik Kebakaran Kapal Motor Penumpang pada Agustus 2026

Hafida menilai, operasionalisasi dan regulasi masih terpecah-pecah, belum signifikan. Masalah yang muncul dalam kecelakaan terdahulu masih ditemukan dalam berbagai kasus, antara lain ketidaksesuaian manifes, kondisi dan pemeliharaan kapal, kesiapan alat keselamatan, serta pengawasan sebelum keberangkatan.

”Ukuran keberhasilan bukan hanya pada training atau regulasi yang sudah dibuat, melainkan apakah rekomendasi dari kecelakaan sebelumnya benar-benar ditindaklanjuti dan menghasilkan perubahan di lapangan,” katanya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yosepha Debrina Ratih Pusparisa
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati