Menteri PU Dody berjanji bakal mengatasi rob di Demak, Jateng, dengan tanggul laut raksasa. Dody juga minta maaf karena penanganan lamban.
15 Jun 2025 21:23 WIB · Lingkungan
DEMAK, KOMPAS — Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo turut menghadiri istigasah atau doa bersama memohon dibebaskan dari rob yang digelar di Jalan Raya Pantura Demak, Jawa Tengah, Minggu (15/6/2025). Dody menyebut, pembentukan badan otorita khusus dan pembangunan tanggul laut raksasa bakal menjadi solusi mengatasi rob yang melanda sejumlah daerah, termasuk Demak.
Menurut Dody, rob yang melanda sejumlah daerah di pantura Jawa terjadi karena kondisi global, seperti kenaikan suhu bumi dan perubahan iklim. Di samping itu, terjadi penurunan tanah di sejumlah titik yang membuat air laut lebih mudah masuk ke daratan.
Untuk mengatasi rob tersebut, Dody menyebut, Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan para menterinya membangun giant seawall atau tanggul laut raksasa dari pantura Banten sampai Jawa Timur. Pembentukan Badan Otorita Tanggul Laut Pantura Jawa yang nantinya bakal mengurus pembangunan tanggul laut juga bakal dilakukan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/15/c9c5ba8a940402caaa3227cc29fc8a1f-IMG_3374.JPG)
Badan Otorita Tanggul Laut Pantura Jawa dinilai Dody penting karena waktu untuk membangun tanggul laut tersebut tidak singkat. Ia memperkirakan butuh 2-3 kali periode kepresidenan untuk menyelesaikan proyek itu. Dengan adanya badan khusus yang mengurusi proyek tersebut, Dody meyakini, siapa pun presiden yang akan menjabat ke depan, pembangunan tidak akan mandek.
”Tapi, mohon juga bersabar karena, kan, kami anggarannya juga sangat terbatas. Ada prioritasnya sana-sini, tapi bukan berarti kami diam. Saya juga minta maaf karena kami lamban menanganinya, tapi insya Allah kami akan tetap berjuang bersama-sama untuk segera menyelesaikan segala permasalahan rob ini, khususnya yang yang terjadi di Pekalongan, Semarang, Demak, Jepara, Rembang, dan juga sepanjang pantura Jawa,” kata Dody dalam sambutannya, Minggu.
Dody menyebut, dalam pembangunan tanggul laut raksasa, pemerintah akan menggandeng pihak swasta dan investor asing untuk memperkuat penandaan. Di samping itu, pemerintah juga akan meminta bantuan berupa teknologi dari negara-negara lain.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/15/318a4f32cb614b8cf40a20f6c6a0da63-20250615WEN10.jpg)
Menurut Dody, pemerintah pusat juga sedang membangun Tol Tanggul Laut Semarang-Demak untuk mengatasi rob, khusus di Kota Semarang dan Demak. Pembangunan proyek tersebut ditargetkan rampung pada akhir 2027.
Selain itu, pemerintah pusat juga bakal mempertimbangkan usulan dari Pemerintah Provinsi Jateng terkait penambahan tanggul laut sepanjang 20 kilometer dari ujung Tol Semarang-Demak hingga perbatasan Jepara. Usulan itu akan dikaji, kemudian diusulkan ke Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden.
”Jadi, tetap akan menjadi proses kita semua karena kami juga tidak mau rakyat sulit, rakyat susah. Kami juga enggak mau memori-memori indah (rakyat) di tahun-tahun lalu hilang gara-gara tanahnya menghilang karena ada rob dan seterusnya,” ucapnya.
Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen juga hadir dalam kegiatan istigasah yang digelar di tengah genangan rob tersebut. Dalam sambutannya, Yasin meminta maaf kepada masyarakat Demak karena selama memimpin Jateng di periode sebelumnya belum bisa menangani rob di wilayah itu.
”Saya yang minta maaf pada panjenengan semua. Saya yang salah tidak perhatian terhadap panjenengan semua. Jangan salahkan siapa-siapa, salahkan saya, saya yang salah,” ujar Yasin.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/15/b53fcae461d2b87f25a464ecc39acf51-IMG_3363.JPG)
Sepekan terakhir, Pemprov Jateng gencar melakukan sejumlah upaya untuk mengatasi rob di Demak. Upaya itu, menurut Yasin, adalah menurunkan sejumlah pompa air untuk menyedot genangan dan menurunkan beberapa eskavator untuk mengeruk Sungai Sayung-Dombo yang menurun daya tampungnya.
Pemeriksaan kesehatan gratis dan pemberian bantuan berupa alat tulis juga dilakukan kepada warga terdampak rob. Selain itu, Pemprov Jateng, disebut Yasin, juga membantu menguruk satu SD yang tergenang rob.
Turun langsung
Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Demak sekaligus Koordinator Istigasah, Mustain, mengatakan, kegiatan pada Minggu diharapkan bisa dihadiri langsung oleh Presiden Prabowo. Sayangnya, Presiden tidak hadir dalam doa bersama itu. Padahal, dengan turun langsung ke Demak, warga berharap, Presiden bisa mengetahui secara langsung dampak rob yang telah melanda wilayah itu puluhan tahun terakhir.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/15/d60abd395533d8cc2b58c5bed4726062-20250615WEN14.jpg)
”Agar beliau (Presiden) tahu, turun sendiri, menyaksikan sendiri (kondisi rob). Penanganan yang dilakukan pemerintah daerah tidak mampu menanggulangi bencana ini, justru rob semakin tidak tertanggulangi, air rob semakin naik ke jalan raya, dan sudah menenggelamkan beberapa desa di Kecamatan Sayung, Karangtengah, Bonang, dan Wedung,” kata Mustain.
Kegiatan istigasah yang digelar di tengah kubangan rob di Jalan Raya Pantura Demak, tepatnya di depan PT Polytron di Kecamatan Sayung, pada Minggu dihadiri ratusan warga nahdliyin. Salah satu yang hadir, Agus (50), warga Desa Sidogemah, Kecamatan Sayung.
Agus menyebut, dalam beberapa tahun terakhir, desanya tergenang rob. Namun, kondisinya menjadi kian parah sekitar setahun terakhir atau sejak ada proyek pembangunan Tol Tanggul Laut Semarang-Demak.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/15/6235f3eadf807f7bd7bc0648cc011a65-20250615WEN13.jpg)
”Setelah ada pembangunan tol itu, air larinya ke timur, ke desa kami. Biasanya, rob datang siang, lalu sore sudah surut. Tapi, sekitar setahun terakhir susah surutnya, bisa sampai berhari-hari belum surut,” ucap Agus.
Banjir rob di desanya, kata Agus, membuat warga kesulitan saat beraktivitas. Air rob yang menggenang juga memicu kerusakan pada alat-alat elektronik dan kendaraan bermotor milik Agus.
Menurut Agus, desanya berbatasan langsung dengan laut. Tidak ada tanggul yang melindungi desanya dari air laut. Ia berharap, ke depan, pemerintah membangun tanggul laut agar desanya terlindungi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/15/ce52a9364e70b094338969c3b870a93b-20250615WEN5.jpg)
”Semoga dengan adanya istigasah ini, harapan kami bisa didengar pemerintah yang ada di pusat, kemudian segera ada solusi. Selama ini, desa kami tidak pernah dapat bantuan. Dikunjungi bupati atau gubernur juga belum pernah,” ujarnya.
Jengah
Puluhan tahun hidup dilanda rob membuat Jumarni (64), warga Desa Sriwulan, Kecamatan Sayung, jengah. Jumarni berharap, pemerintah segera melakukan sesuatu agar banjir rob segera teratasi.
”Kalau istigasah saja, enggak dibangun, ya, enggak selesai (persoalan) robnya. Harusnya, habis istigasah, ya, terus dibangun, kasihan warga,” kata Jumarni.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/15/dfaff98d4b1cd9b60f1a8d6e06447fa2-IMG_3353.JPG)
Menurut Jumarni, dirinya harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 20 juta per tahun untuk meninggikan rumahnya. Upaya itu dilakukan agar air rob tidak masuk ke dalam rumahnya. Di samping itu, kendaraan bermotor miliknya juga mudah rusak karena setiap hari digunakan untuk menerjang rob.
”Kerja setahun, uangnya belum tentu cukup untuk beli sepeda motor. Setiap beli sepeda motor baru, belum ada setahun juga sudah rusak lagi, keropos karena terkena rob setiap hari,” ucapnya.
Tak hanya warga Demak, Siti Saadah (56), warga Kecamatan Genuk, Kota Semarang, juga turut hadir dalam istigasah tersebut. Siti datang karena ingin menunjukkan solidaritasnya untuk warga Demak yang selama ini terdampak rob.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/15/47ef0225cf4ba1ed8ee1e5e65b3e49ef-20250615WEN12.jpg)
”Saya ke sini mau meminta sama Allah supaya Demak terhindar dari bencana banjir rob. Sebagai sesama manusia, ada yang terkena musibah, saya ikut merasakan penderitaan mereka,” ujar Siti.
Siti memiliki kerabat dan saudara yang tinggal di Demak. Mayoritas rumah milik saudara dan kerabat Siti itu juga terdampak banjir rob. Menurut Siti, mereka menderita karena dampak bencana itu.
”Saya ikut terdampak rob juga saat berkunjung ke tempat mereka. Lewat di sini juga selalu terkena rob,” kata Siti saat ditemui di tengah-tengah istigasah di Jalan Pantura Demak.
Penulis:
Kristi Dwi UtamiEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto