JFF 2025 digelar untuk mengumpulkan ide-ide inovatif dari masyarakat demi mewujudkan Jakarta yang lebih baik dan lebih berkelanjutan.
13 Jun 2025 18:38 WIB · Metropolitan
Jakarta Future Festival 2025 yang digelar pada 13-15 Juni 2025 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, menjadi ajang penting untuk memperkuat partisipasi publik dalam merencanakan masa depan Ibu Kota. Festival ini digelar untuk mengumpulkan ide-ide inovatif dari masyarakat demi mewujudkan Jakarta yang lebih baik dan lebih berkelanjutan.
Jumat (13/6/2025) siang tadi, suasana di sekitar Taman Ismail Marzuki dipenuhi energi positif. Pengunjung yang datang dari berbagai latar belakang tidak hanya ingin menikmati beragam pertunjukan seni dan budaya, tetapi juga berpartisipasi dalam diskusi, workshop, dan kegiatan interaktif lainnya.
Jakarta Future Festival (JFF) 2025 bukan sekadar festival biasa, melainkan ruang terbuka bagi warga untuk menyuarakan harapan, ide, dan solusi kreatif demi Jakarta yang lebih baik. Satu per satu, warga Jakarta menuliskan harapan mereka melalui kode QR yang disediakan.
Di samping itu, tertera informasi tentang berbagai proyek pembangunan yang direncanakan untuk Jakarta dalam beberapa tahun mendatang.
Bagi Rania Renata (22), seorang mahasiswa asal Jakarta Pusat, festival ini memberikan kesempatan berharga untuk memahami bagaimana dirinya, sebagai bagian dari generasi Z, bisa berkontribusi dalam merancang masa depan kota.
”Saya datang ke festival ini untuk tahu lebih banyak tentang Jakarta dan bagaimana saya bisa memberikan kontribusi,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/13/2b168e6b89b5259b7bbe292db34992d6-WhatsApp_Image_2025_06_13_at_16.52.29.jpeg)
Selain berbagai kegiatan menarik, seperti talk show dan workshop seni, festival ini juga menjadi ajang bagi Rania dan teman-temannya untuk mengungkapkan harapan mereka, salah satunya tentang pendidikan yang lebih merata.
”Pendidikan harus merata, tidak hanya di pusat kota, tetapi juga di daerah pinggiran. Anak-anak di daerah pinggiran juga berhak mendapatkan pendidikan berkualitas,” kata Rania.
Ia menekankan bahwa pendidikan bukan hanya soal fasilitas, melainkan juga tentang keterampilan hidup yang relevan dengan tantangan kota. Ia berharap kualitas pendidikan dapat ditingkatkan agar anak-anak di Jakarta siap menghadapi masa depan yang penuh dengan perubahan.
Harapan Rania tidak hanya terfokus pada pendidikan. Sebagai generasi yang akan menjalani masa depan Jakarta, ia juga menginginkan agar anak muda diberi kesempatan lebih besar untuk terlibat dalam perencanaan kota.
”Anak muda perlu diberi ruang untuk berkontribusi dalam merancang kebijakan yang mampu merespons perkembangan zaman dan teknologi,” ujarnya.
Rania juga menyampaikan bahwa Jakarta harus menjadi kota yang mendukung inovasi dan kewirausahaan. Ia menginginkan kota ini tidak hanya menjadi tempat untuk mencari pekerjaan, tetapi juga ruang yang memungkinkan setiap orang untuk berkembang dan menciptakan peluang kerja baru.
Melalui JFF 2025, warga Jakarta Selatan, Budi Gimawan (28), juga menyampaikan harapan besarnya terkait pembangunan kota. Menurut dia, meskipun ruang publik yang buka hingga malam memberikan kesan positif, Jakarta perlu menciptakan lebih banyak ruang terbuka yang ramah bagi semua kalangan.
”Harapan saya, Jakarta bisa lebih fokus pada keberlanjutan, dengan lebih banyak area hijau dan tempat untuk berkumpul bagi semua orang. Kami butuh kota yang tidak hanya nyaman untuk bekerja, tetapi juga kota yang sehat untuk dihuni,” kata Budi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/13/030b0645a966cb6d0dd7f368a6532a79-WhatsApp_Image_2025_06_13_at_16.52.29.jpeg)
Isu pengelolaan sampah juga menjadi perhatian Budi. Ia berharap Jakarta dapat lebih serius dalam mengurangi sampah plastik dan meningkatkan fasilitas daur ulang.
”Pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama untuk menciptakan kampanye pengurangan sampah plastik. Jakarta harus menjadi contoh dalam pengelolaan sampah yang ramah lingkungan,” ujarnya.
Dalam hal pengembangan kuliner Jakarta, moderator komunitas Jalansutra, Lidia Tanod, mengungkapkan bahwa Jakarta memiliki potensi besar untuk menjadi pusat gastronomi urban yang diakui dunia.
Jakarta memiliki peluang untuk merestrukturisasi dan mengorganisasi lanskap kulinernya sekaligus menonjolkan keanekaragaman rasa, kualitas makanan, dan aksesibilitas yang lebih baik bagi semua lapisan masyarakat.
Sebagai kota dengan sejarah panjang serta titik temu berbagai budaya, Jakarta telah berkembang menjadi surga kuliner yang kaya akan hidangan yang mencerminkan keberagaman tersebut. Kawasan-kawasan kuliner seperti Blok M, Glodok, dan Cikini telah memainkan peran penting dalam membentuk identitas kuliner kota ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/18/3e7e538487f809e737199918b3daecbe-20250417AGS_46.jpg)
Setiap kawasan memiliki karakteristik dan daya tarik masing-masing, mulai dari warung tenda hingga restoran mewah, yang menyajikan hidangan khas beragam.
Namun, meskipun Jakarta kaya akan pilihan kuliner yang memanjakan lidah, masih ada beberapa tantangan yang perlu dihadapi, terutama dalam hal aksesibilitas ke beberapa kawasan kuliner tertentu. Sebagai contoh, Muara Karang, yang terkenal dengan hidangan laut segar dan masakan khas Jakarta Utara, masih terbilang sulit dijangkau oleh banyak pengunjung, terutama dari luar kawasan tersebut.
”Kawasan ini membutuhkan perbaikan infrastruktur untuk mempermudah akses, seperti pembangunan transportasi publik yang lebih terintegrasi,” ujarnya dalam gelaran JFF 2025.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/13/65fc0c8e83814efad182930923691cb7-WhatsApp_Image_2025_06_13_at_16.52.29.jpeg)
Begitu halnya dengan kawasan Glodok yang masih membutuhkan perhatian terkait pengelolaan sampah dan peningkatan kenyamanan pengunjung. Dengan pembangunan MRT Jakarta yang semakin mempermudah akses, kawasan ini diharapkan dapat berkembang menjadi distrik kuliner yang lebih ramah bagi warga.
Ke depan, Jakarta memiliki peluang besar untuk menjadi destinasi kuliner global. Dengan perbaikan infrastruktur dan dukungan dari sejumlah pihak, Jakarta dapat menciptakan distrik kuliner yang tidak hanya menyajikan makanan lezat, tetapi juga mencerminkan keberagaman budaya di kota ini.
Pelaksana Harian Kepala Pusat Riset dan Inovasi Daerah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta Arimbi Putik Apsari menyatakan bahwa Jakarta Future Festival 2025 memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk menyampaikan harapan dan gagasan mereka tentang kota masa depan. Festival ini bukan sekadar ajang hiburan, melainkan juga platform bagi partisipasi publik dalam merancang masa depan Jakarta yang lebih baik.
”Acara ini bertujuan untuk menggali ide-ide inovatif dari berbagai elemen masyarakat guna menciptakan masa depan Jakarta yang lebih baik,” ujarnya.
Acara ini bertujuan untuk menggali ide-ide inovatif dari berbagai elemen masyarakat guna menciptakan masa depan Jakarta yang lebih baik.
JFF 2025 merupakan edisi kedua setelah acara serupa yang digelar tahun lalu di Lapangan Banteng pada Desember 2024. Untuk tahun ini, Taman Ismail Marzuki dipilih sebagai lokasi karena, selain menjadi pusat hiburan di Jakarta, kawasan ini juga sangat tepat untuk membahas berbagai gagasan dan ide.
”Pemda Jakarta memilih TIM untuk mengaktivasi kawasan ini sebagai ruang publik terbuka dan pusat kebudayaan Jakarta,” kata Arimbi.
Dalam mewujudkan acara ini, Bappeda DKI Jakarta menggandeng sejumlah mitra, seperti Urun Daya Kota, Kementerian Ekonomi Kreatif, dan Karsa City Lab. Kolaborasi ini diharapkan bisa memperkaya JFF 2025 dengan melibatkan banyak sektor dalam merancang masa depan Jakarta yang lebih inovatif dan berkelanjutan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/13/bfb23488963ac7dffab2d884443695c3-WhatsApp_Image_2025_06_13_at_16.52.28.jpeg)
Tahun ini, JFF mengusung tema ”Collaborate to Elevate”, yang mengajak semua elemen masyarakat untuk berkolaborasi dalam membangun Jakarta. Masyarakat dapat berpartisipasi aktif melalui diskusi, dialog, dan menyampaikan harapan mereka mengenai masa depan kota.
Festival ini juga diselenggarakan untuk menyambut tiga momentum penting bagi Jakarta, yaitu penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah 2025-2030, peringatan 500 tahun Jakarta, dan rencana pencapaian Jakarta menuju peringkat ke-20 global city.
”Festival ini menjadi wadah terbuka bagi masyarakat, khususnya generasi Z dan generasi Alfa, untuk berperan aktif dalam merumuskan arah pembangunan Jakarta sebagai kota global,” ujarnya.
JFF 2025 diramaikan dengan banyak kegiatan menarik, seperti talkshow, workshop, dan aktivitas komunitas. Lebih dari 20 seniman dan musikus ternama memeriahkan acara ini, termasuk JKT48, Candra Darusman, Jakarta Philharmonic Orchestra, Efek Rumah Kaca (ERK), D’Masiv, Warna, dan Institut Musik Jalanan.
Untuk para penggemar wisata, tersedia eksplorasi budaya Betawi, jelajah kawasan Cikini, dan eksplorasi kuliner Cikini-Gondangdia. Pengunjung juga dapat mengikuti pelatihan bahasa isyarat, kerajinan kertas bersama Ichinogami, pelatihan tari Betawi, merangkai bunga, piknik sambil membuat bag charm, workshop menulis lagu, pemutaran film, permainan ular tangga, dan fun science lab bersama Kok Bisa.
Bagi penyuka buku, tersedia sesi silent book reading, Kawanpuan Reading Club bersama Hannah Al Rasyid, dan Bacot Buku Bareng bersama Bookhive.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/13/bfd4549bcd8bfd06bd9a7d190e4319aa-WhatsApp_Image_2025_06_13_at_16.52.30.jpeg)
Untuk memastikan kelancaran JFF 2025, Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo mengungkapkan, pihaknya telah menyiapkan rekayasa lalu lintas secara situasional dan bertahap.
Sebagai bagian dari upaya pengaturan lalu lintas, arus kendaraan menuju lokasi festival dari arah Tugu Tani atau Jalan Menteng Raya akan dialihkan ke beberapa ruas jalan alternatif, antara lain Jalan Cut Meutia, Jalan Teuku Umar, Jalan Taman Suropati, dan Jalan Pangeran Diponegoro. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi beban lalu lintas di sekitar kawasan Cikini.
Syafrin juga mengimbau pengunjung untuk tidak memarkir kendaraan di sepanjang badan jalan sekitar Jalan Cikini Raya selama gelaran JFF 2025 pada 13-15 Juni 2025. Sebagai alternatif, Dinas Perhubungan menyediakan layanan shuttle bus dari beberapa lokasi parkir resmi yang telah ditentukan untuk kenyamanan pengunjung dan kelancaran arus lalu lintas.
”Kami telah menyiapkan shuttle bus dari beberapa lokasi parkir menuju Taman Ismail Marzuki. Hal ini bertujuan untuk memberikan kenyamanan kepada pengunjung sekaligus mengurangi beban lalu lintas,” ujar Syafrin.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/12/25/fb964d42-cde7-429e-a872-e986b691caac_jpeg.jpg)
Shuttle bus akan beroperasi dari empat lokasi utama, yaitu IRTI Monas, Stasiun Cikini, Taman Parkir Raden Saleh, dan Taman Menteng. Pengunjung diimbau untuk memarkir kendaraan mereka di tempat-tempat parkir resmi yang disediakan.
Secara keseluruhan, terdapat 10 tempat parkir yang telah disiapkan, antara lain Taman Ismail Marzuki (khusus VIP, tamu undangan, dan panitia), Menteng Huis, Taman Parkir Raden Saleh, Graha Mantap Mandiri Taspen, Gedung CCM/Berca, Kolam Renang Cikini, IRTI Monas, Cikini Gold Center, Taman Menteng, dan Menteng Park Apartemen.
”Total daya tampungnya lebih dari 1.300 mobil dan 1.800 motor dengan jarak ke lokasi acara bervariasi, antara 240 meter hingga 3,2 kilometer,” katanya.
Dengan sejumlah fasilitas itu, Jakarta Future Festival 2025 diharapkan menjadi oase budaya sekaligus bisa menyerap aspirasi warga mengenai masa depan Jakarta.
Penulis:
Atiek Ishlahiyah Al HamasyEditor:
Siwi Yunita CahyaningrumPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti