Menuju Seabad Tonggak Modernisasi Kelapa Nusantara

Pada 2027, RI bakal memperingati 100 tahun tonggak penelitian atau modernisasi kelapa. Namun, saat ini, kondisi perkelapaan nasional sedang tidak baik-baik saja.

16 Mar 2025 09:00 WIB · Ekonomi

Oleh Hendriyo Widi

Ketahanan kelapa yang konon mampu mengarungi samudra tengah diuji. Saat ini, produksi kelapa di negara-negara produsen kelapa terbesar dunia, termasuk Indonesia, tengah turun. Jika didiamkan saja, perebutan kelapa di pasar global berpotensi terjadi.

Filipina, India, dan Sri Lanka tengah berupaya mengatasinya. Bagaimana dengan Indonesia yang tengah menuju peringatan seabad atau 100 tahun tonggak modernisasi kelapa Nusantara pada 2027 nanti?

Indonesia, Filipina, India, dan Sri Lanka, merupakan empat negara penghasil kelapa terbesar di dunia. Pada 2024, produksi kelapa di keempat negara tersebut turun akibat dampak El Nino yang terjadi pada semester II-2023 hingga triwulan I-2024.

Di Indonesia, Kementerian Pertanian mencatat produksi kelapa pada 2024 turun 70,55 juta butir secara tahunan menjadi mencapai 14,11 miliar butir. Di Filipina, Perhimpunan Asosiasi Kelapa Filipina (UCAP) menyebutkan produksi kelapa pada 2024 turun 20 persen secara tahunan menjadi 11,94 miliar butir.

Di India, Badan Pengembangan Kelapa (CDB) India memperkirakan produksi kelapa pada 2024 turun sekitar 20 persen dibandingkan dengan produksi pada 2023 yang mencapai 19,31 miliar butir. Adapun di Sri Lanka, Institut Penelitian Kelapa (CRI) memperkirakan produksi kelapa pada 2024 turun menjadi 2,68 miliar butir sehingga bakal kekurangan 200 juta butir kelapa pada Januari-April 2025.

Produksi minyak kelapa dunia 2023-2025

Komunitas Kelapa Internasional (ICC) memperkirakan, penurunan produksi kelapa itu bakal berdampak pada penurunan produksi produk-produk turunan kelapa. Produksi minyak kelapa dunia, misalnya, diperkirakan turun dari 3,28 juta ton pada 2024 menjadi 3,22 juta ton pada 2025.

Pada 2025, Filipina, India, dan Sri Lanka berupaya meningkatkan produksi kelapa melalui penambahan dan peremajaan tanaman kelapa. Filipina bahkan memulai proyek modernisasi pertanian kelapa.

Sri Lanka, misalnya, akan mendistribusikan 400.000 bibit kelapa secara gratis kepada 200.000 keluarga untuk meningkatkan produksi kelapa berbasis keluarga. Setiap keluarga sasaran diminta menanam dua bibit kelapa (EconomyNext, 15/3/2025).

Quote

Basis data itu memungkinkan identifikasi kelapa secara tepat, baik berdasarkan jenis, varietas; tahap reproduksi; deteksi hama, penyakit, dan ketahanan terhadap perubahan iklim, maupun rekomendasi pupuk yang tepat sasaran.

Sementara Filipina menggulirkan proyek proyek penelitian senilai 29,5 juta peso atau sekitar Rp 8,42 miliar. Tujuan adalah memodernisasi pertanian kelapa menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan produktivitas dan meningkatkan pendapatan petani.

Proyek tersebut diharapkan mampu menghasilkan basis data model kesehatan tanaman kelapa tingkat lanjut. Basis data itu memungkinkan identifikasi kelapa secara tepat, baik berdasarkan jenis, varietas; tahap reproduksi; deteksi hama, penyakit, dan ketahanan terhadap perubahan iklim, maupun rekomendasi pupuk yang tepat sasaran (BusinessMirror, 11/3/2025).

Narendra Modi

Adapun India, Perdana Menteri India Narendara Modi tengah memperkuat produk minyak kelapa murni (VCO) yang diproduksi penduduk asli Kepulauan Andaman dan Nicobar. VCO tersebut telah mendapat label indikasi geografis.

”Ini adalah langkah besar menuju pemberdayaan ekonomi masyarakat suku kita. Dari lolakl menuju ke global,” kata Modi (Times of India, 26/1/2025).

Seabad penelitian kelapa

Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia telah memiliki Peta Jalan Hilirisasi Kelapa 2025-2045. Indonesia juga memiliki sejarah panjang modernisasi kelapa yang pada 2027 bakal berusia seabad. Namun, industri pengolahan kelapa nasional justru tengah mengalami krisis bahan bahan baku kelapa.

Kepala Pusat Standardisasi Instrumen Perkebunan Kementerian Pertanian Kuntoro Boga Andri, Jumat (14/3/2025), mengisahkan, tonggak modernisasi kelapa Indonesia ditandai dengan penanaman benih kelapa pada 1927 oleh Thames, peneliti Belanda, di Desa Mapanget, Sulawesi Utara. Awalnya, ia membawa 500 koleksi bibit dari Kebun Raya Bogor untuk uji adaptasi berbagai ekosistem.

Kini, 30 pohon kelapa unggul peninggalannya masih kokoh di kebun Instalasi Pengujian Standar Instrumen Pertanian (IPSIP) Mapanget. Pohon-pohon kelapa tersebut menjadi saksi bisu berdirinya Klapper Proofstation (1930) lembaga penelitian kelapa pertama Indonesia.

Quote

Tonggak modernisasi kelapa Indonesia ditandai dengan penanaman benih kelapa pada 1927 oleh Thames, peneliti Belanda, di Desa Mapanget, Sulawesi Utara.

Kepala Pusat Standardisasi Instrumen Perkebunan Kementerian Pertanian Kuntoro Boga Andri.

Pada 1967, lembaga tersebut berganti nama menjadi Lembaga Penelitian Tanaman Industri (LPTI). Seiring waktu berganti, lembaga itu berubah menjadi Balai Penelitian Tanaman Industri pada 1979, Balai Penelitian Kelapa pada 1984, dan Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain pada 1994.

Pada 17 Januari 2023, balai tersebut bertransformasi menjadi Balai Pengujian Standar Instrumen (BSIP). Hingga kini, balai tersebut berada di bawah koordinasi Pusat Standardisasi Instrumen Perkebunan.

”Tempat ini, bukan sekadar konservasi dan pelestari sejarah kelapa, tetapi garda terdepan modernisasi dan inovasi kelapa Indonesia. Hingga kini, lembaga tersebut telah melepas 60 varietas kelapa, baik itu kelapa dalam, genjah, maupun hibrida,” kata Boga di Bogor, Jawa Barat.

Namun, hampir 100 tahun penelitian kelapa di Indonesia, pengembangan kelapa nasional seakan berjalan di tempat. Dalam delapan tahun terakhir, 2017-2024, luas perkebunan kelapa nasional berkurang dari 3,5 juta hektar menjadi 3,3 juta hektar. Produksi kelapa nasional juga turun dari 2,85 juta ton menjadi 2,83 juta ton.

Infografik Pohon Industri Berbasis Hilirisasi Kelapa

Bahkan sejak Oktober 2024, industri pengolahan kelapa nasional mengalami krisis bahan baku. Berdasarkan survei internal Himpunan Industri Pengolahan Kelapa Indonesia (HIPKI) pada Desember 2024, sebanyak 16 perusahaan kelapa hanya mampu mengoperasikan 33 persen dari total kapasitas produksi maksimum.

Apabila pabrik-pabrik itu tutup karena tidak mendapatkan bahan baku, 21.399 tenaga kerja bakal kehilangan pekerjaan. Kemudian dari pendataan sementara HIPKI, sejak awal Januari 2025 hingga 25 Februari 2025, enam perusahaan telah berhenti berproduksi sementara waktu. Dua perusahaan pengolahan kelapa besar di Riau juga sudah merumahkan sekitar 3.000 karyawan (Kompas, 26/2/2025).

HIPKI menyebutkan, pemicu kelangkaan bahan baku tidak hanya penurunan produksi dan dampak El Nino pada 2023, tetapi juga tak terkendalinya ekspor kelapa butiran atau utuh. Ekspor kelapa butiran, baik secara legal maupun ilegal, ke China, Thailand, Vietnam, dan Malaysia semakin masif.

Menurut Boga, ​​industri kelapa Indonesia menghadapi tantangan signifikan terkait usia tanaman yang menua dan serangan hama. Sekitar 15 persen pohon kelapa di Indonesia berusia lebih dari 50 tahun sehingga mengakibatkan penurunan produktivitas.

”Selain itu, serangan hama Brontispa longissima dapat menyebabkan penurunan produksi hingga 60 persen. Kondisi itu menyebabkan Indonesia berpotensi mengalami kerugian ekonomi sekitar 40 juta dollar AS atau setara Rp 600 miliar per tahun. Potensi kerugian itu belum termasuk mengitung dampak perubahan iklim,” katanya.

Pekerja melubangi buah kelapa untuk diambil airnya di PT Pacific Eastern Coconut Utama (PECU) di Desa Sukaresik, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Kamis (10/8/2022). Melalui teknologi ultra hight temperature (UHT), produk olahan kelapa sudah di ekspor ke 37 negara. Produk olahan tersebut yaitu kelapa parut kering, tepung kelapa, santan dan minuman air kelapa dalam kemasan. PT PECU menyerap 750 karyawan dari Pangandaran dan sekitarnya. Ada 1.251 petani organik dengan luas lahan 812,42 hektar di Pangandaran yang bermitra dengan PT PECU. KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS) 10-8-2022

Pengembangan kelapa

Oleh karena itu, Boga melanjutkan, peremajaan tanaman kelapa dan pengembangan varietas kelapa yang lebih tahan terhadap perubahan iklim perlu digulirkan. Upaya itu juga perlu diikuti dengan pengembangan kelapa di dalam negeri berdasarkan plasma nutfah, kebutuhan industri, dan pasarnya.

Di Kepulauan Morotai, Maluku Utara, misalnya, varietas baru kelapa bido, salah satu jenis kelapa dalam asli Morotai, berhasil dikembangkan. Kelapa bido mulai berbuah di umur tiga tahun, lebih cepat dari rata-rata kelapa dalam biasa yang baru berbuah di umur tujuh tahun.

Dalam rentang usia 60 tahun, tinggi batang kelapa bido hanya mencapai 9 meter, sedangkan jenis kelapa dalam yang lain bisa lebih dari 20 meter. Kelapa bido juga dapat menghasilkan kopra lebih dari 4 ton per hektar per tahun, dengan berat kopra per butir sebanyak 320 gram dan kadar minyak 58,34 persen.

”Kelapa bido tersebut menjadi solusi bagi petani kelapa Morotai yang dahulu kerap mengeluhkan rendahnya produksi. Kelapa bido juga menjadi jawaban atas tingginya biaya operasinal panen. Sebelum varietas kelapa bido dikembangkan, pohon kelapa dalam di daerah tersebut sangat tinggi,” ujar Boga.

Dari kejauhan, seorang pengendara sepeda motor tengah melintas di Jalan Darupa-Sangowo di Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, yang berhiaskan pohon kelapa, sebagaimana diabadikan, Juli 2022 lalu.

Selain itu, Boga juga mengusulkan pengembangkan kelapa berdasarkan kebutuhan pasar dan industri. Di wilayah Jabodetabek, misalnya, kebutuhan kelapa segar untuk minuman cukup tinggi. Kebutuhan itu bisa dipenuhi dengan mengembangkan kelapa kopyor dan genjah pandan wangi di Bogor, Banten, atau daerah-daerah lain yang menjadi penyangga wilayah itu.

Hal serupa bisa diterapkan di daerah-daerah sentra gula kelapa, kopra, VCO di Indonesia. Daerah sentra gula kelapa membutuhkan pengembangan kelapa genjah, sedangkan kopra dan VCO membutuhkan kelapa dalam.

Anna Fitrianingsih dalam bukunya berjudul Morfologi, Taksonomi, dan Filosofi Tumbuhan (2022) menjelaskan, pohon kelapa mampu bertahan di tengah tekanan lingkungan yang bertubi-tubi. Buahnya juga kuat terhadap hantaman atau benturan benda keras.

Buah kelapa bahkan mampu mengapung di lautan dengan kondisi garam dan alkali cukup tinggi. Buah itu akan mengikuti arus sampai menemukan tempat yang baik untuk tumbuh.

Namun, tanpa upaya peremajaan dan pengembangan varietas-varietas baru yang tahan terhadap perubahan iklim, kelapa dan industri pengolahan kelapa di Indonesia bakal berjalan di tempat. Bahkan, bisa jadi meredup di tengah peringatan seabad tonggak modernisasi kelapa Nusantara.


Kerabat Kerja

Penulis:

Hendriyo Widi
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .