Membangun Fondasi Ekonomi melalui Talenta Sains dan Teknologi

Mimpi Indonesia menjadi negara maju pada 2045 perlu didukung penguatan sains dan teknologi. Talenta STEM berkualitas tinggi dibutuhkan.

12 Jan 2026 18:31 WIB · Pendidikan & Kebudayaan

KOMPAS/PRIYOMBODO

Oleh Ester Lince Napitupulu

Menyiapkan talenta bidang sains dan teknologi harus dilakukan Indonesia untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berdaya saing global. Ekosistem penyiapan talenta di bidang sains, teknologi, engineering (teknik), dan matematika atau STEM menjadi fokus mulai dari SMA Unggul Garuda hingga Beasiswa Garuda yang mendukung talenta STEM Indonesia berkuliah dari jenjang sarjana, magister, hingga doktor di perguruan tinggi top dunia.

Keberadaan talenta STEM Indonesia berkualitas internasional dibutuhkan dalam mendukung delapan bidang strategis yang berpotensi memacu tumbuhnya industri berbasis sains dan teknologi untuk membawa Indonesia menjadi negara maju pada 2045. Penguasaan STEM dibutuhkan untuk memperkuat inovasi berbasis sains dan teknologi dalam bidang ketahanan pangan, energi, pertahanan, digitalisasi—terutama kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor—kesehatan, hilirisasi dan industrialisasi, maritim, serta material dan manufaktur maju.

Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Ahmad Najib Burhani yang dihubungi di Jakarta, Senin (12/1/2026), mengatakan penyiapan talenta STEM menjadi salah satu fokus. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan beasiswa LPDP yang mulai tahun 2026 tidak lagi secara umum atau acak, tetapi fokus untuk bidang STEM dan STEM-adjective (ilmu sosial dan humaniora pendukung STEM).  Sebanyak 80 persen beasiswa untuk mengisi delapan prioritas nasional.

Adapun SMA Garuda dikhususkan untuk menyiapkan talenta STEM. Sebagai seleksi awal, dilihat kemampuan bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan matematika. Setelah bersekolah dikuatkan bidang STEM, selanjutnya diarahkan untuk memilih program studi di perguruan tinggi ternama yang sesuai kebutuhan bangsa.  

Guna menarik minat masyarakat pada bidang STEM, terutama di kalangan anak muda, Kemendiktisaintek juga menggagas beragam program untuk membumikan sains dan teknologi. Kehadiran sains dan teknologi akan menjawab kebutuhan dan juga menjadi solusi atas berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari ataupun di dunia industri.  

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie memaparkan bukti ilmiah tidak ada perbedaan signifikan kemampuan perempuan dan laki-laki dalam bidanag STEM saat menghadiri L’Oréal–UNESCO For Women In Scinece National Fellowship 2025 Award Ceremony di Jakarta, Selasa (11/11/2025).

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengatakan, salah satu program penyiapan talenta STEM yang dinilai strategis oleh Presiden Prabowo Subianto adalah melalui SMA Garuda, baik dengan mendirikan sekolah baru (20 sekolah) maupun menunjuk sekolah eksisting menjadi SMA Garuda Transformasi (12 sekolah).

”Perekonomian Indonesia tidak akan bisa maju pesat tanpa kekuatan sains dan teknologi. Strategi yang memberi dampak multiplier, salah satunya sekolah unggulan dan beasiswa khusus untuk talenta STEM,” kata Stella pada seminar web Garuda Academic of Excellence (ACE): Dari Pelatihan Riset Ilmu Komputer Terbuka sampai Panduan Mencari Beasiswa S-2/S-3 Kampus Luar Negeri yang diinisiasi Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington DC, AS, Kamis (8/1/2026).

Melalui sekolah khusus STEM, talenta unggul dari Indonesia disiapkan untuk bisa masuk dalam top 100 perguruan tinggi dunia. Sejak 2025, Beasiswa Garuda diberikan untuk 368 lulusan SMA, yang 40-50 persen berkuliah di Amerika Serikat (AS) dan negara lain.

Quote

Beasiswa tetap dari Indonesia lewat dana LPDP. Namun, kesempatan bagi mahasiswa Indonesia terbuka berkuliah di kampus top dunia.

Menurut Stella, Kemendiktisaintek berkolaborasi dengan sejumlah perguruan top dunia. Di antara perguruan tersebut Tsinghua University di China yang memberikan kuota 50 mahasiswa Indonesia dan kelas diadakan dalam bahasa Inggris.

”Beasiswa tetap dari Indonesia lewat dana LPDP. Namun, kesempatan bagi mahasiswa Indonesia terbuka berkuliah di kampus top dunia,” kata Stella.

Infografik Jumlah Penerima Beasiswa LPDP Berdasarkan Jenis Program  Tahun 2022-2024

Stella menjelaskan bahwa penguatan ekosistem riset mencakup aspek pendanaan dan kesejahteraan peneliti. Anggaran riset di Kemendiktisaintek dapat ditingkatkan 218 persen menjadi Rp 3,2 triliun. Selain itu, pemerintah juga mulai menerapkan standar global dengan memberikan insentif hingga 25 persen bagi peneliti yang menggunakan dana hibah APBN per tahun 2026.

Selain itu, ada pula skema untuk menggandeng ilmuwan diaspora Indonesia di berbagai perguruan tinggi di dunia. Bisa dengan riset bersama profesor di Indonesia, membuka peluang untuk membimbing mahasiswa doktor asal Indonesia yang kuliah di luar negeri, hingga menjadi dosen di perguruan tinggi di Tanah Air.

Penyiapan yang serius

Penyiapan talenta STEM dari Indonesia untuk bisa menembus perguruan tinggi top dunia butuh penyiapan yang serius. Peluang untuk mendapat beasiswa kuliah di jenjang doktoral bidang STEM di AS sebenarmya terbuka, tanpa harus bergantung pada beasiswa pemerintah Indonesia.

Haryadi Gunawi, profesor di Departemen Ilmu Komputer di Universitas Chicago, AS, mengatakan, beasiswa jenjang doktor, khususnya untuk ilmu komputer di perguruan tinggi di AS, sebenarnya cukup banyak. Peluang inilah yang dimanfaatkan mahasiswa internasional dari China dan India, yang merupakan mahasiswa internasional terbesar, tanpa bergantung beasiswa dari pemerintah.

Pada 2018, ada 55.000 lulusan perguruan tinggi di AS, sekitar 77 persen bidang sains dan engineering. Sebanyak 15.000 di antaranya mahasiswa doktoral di bidang sains dan teknik.

Pada 2018 tersebut ada 6.182 mahasiswa China dan India mencapai 2.040 mahasiswa. Adapun Indonesia hanya 82 mahasiswa. ”Ada peluang untuk mahasiswa doktoral bisa gratis dengan menjadi asisten pengajar ataupun riset. Tidak hanya uang kuliah yang gratis, ada tambahan gaji bulanan. Di kampus saya bisa 4.000 dolar AS per bulan,” kata Haryadi.

Para pelajar SMA Bruderan Purwokerto mencoba sedotan kacamata dalam acara Seminar dan Workshop Pembelajaran dan Praktikum Fisika-Biologi Berorientasi STEM (Science Technology Engineering Matematics) : Menggunakan Gamifikasi Berbasis Web di Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (18/11/2022). Mereka diajak mencintai science lewat permainan.

Menurut Haryadi, mengejar peluang kuliah PhD kombo (S-2 dan S-3) di AS belum banyak diketahui masyarakat Indonesia. Masih banyak mitos yang menghambat warga Indonesia untuk mengejar studi hingga S-3 di bidang STEM.

Haryadi pernah menyurvei mahasiswa Indonesia dari perguruan tinggi ternama. Semua mahasiswa berpandangan mengejar gelar doktor di bidang STEM, terutama komputer, cocok untuk mereka yang mau menjadi dosen, profesor, atau instruktur.

Padahal, fakta di AS menunjukkan sekitar 70 persen lulusan doktor bidang STEM berkarir di industri. ”Di Indonesia belum terlihat karena ekosistem teknologi belum advance. Negara pun jadi bingung menyerap dan menggaji lulusan doktor STEM,” kata Haryadi.

Menurut Haryadi, guna mendorong talenta STEM mampu mengejar peluang kuliah S-3 di AS, penyiapan perlu dilakukan. Salah satunya lewat Garuda ACE yang menyiapkan calon mahasiswa doktoral sejak jenjang S-1 hingga S-2.

Di AS, untuk lanjut ke S-3 tidak harus lulus S-2. Ada program pendidikan doktor program kombo yang bisa meraih S-2 dan S-3 langsung selama 5-6 tahun. Untuk tembus peluang ini, penyiapan untuk bisa tembus penerimaan menjadi krusial.

Suasana US Graduate Fair 2018 di Jakarta, Minggu (16/9/2018). Ratusan orang menghadiri pameran pendidikan pascasarjana di Amerika Serikat yang diadakan EducationUSA tiap tahun. Pengunjung bisa menggali informasi dari perwakilan PT di AS yang hadir maupun peluang beasiswa kuliah di AS.

Salah satu persiapan yang dilakukan sejak mahasiswa S-1 di dalam dan di luar negeri, yakni dengan memperkuat kemampuan riset, khususnya untuk STEM di bidang ilmu komputer. Mahasiswa bisa mencari peluang berkolaborasi dengan profesor di perguruan tinggi di luar negeri yang melaksanakan open lab dengan komitmen riset 20-40 jam/minggu selama dua tahun. Ini bisa dilakukan melalui daring atau jarak jauh. Lalu nanti, ada output 1-2 publikasi/submissions (di jurnal/konferensi ternama).

Menurut Haryadi, di kurun 2014-2025, program Garuda ACE (Garuda Ilmu Komputer/GIK) sudah membantu 200 siswa/mahasiswa. Namun, sekitar 33 persen saja yang mampu bertahan dan 95 persen di antaranya berhasil mendapat beasiswa S-3 di AS.

Sementara itu, Duta Besar Indonesia di AS Indroyono Soesilo mengatakan di AS ada 80 diaspora di di berbagai perguruan tinggi yang siap mendukung penyiapan talenta STEM Indonesia. Termasuk pula memperluas kolaborasi riset di antara para profesor AS dan diaspora dengan profesor di Indonesia dalam bidang STEM untuk mendukung pembangunan bangsa.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ester Lince Napitupulu
 | 

Editor:

Ichwan Susanto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Yuliana Karim