Menyisir Puing-puing Agam, Menembus Lumpur Sedalam 3 Meter

Segenap ikhtiar dilakukan tim pencarian dan penyelamatan untuk menemukan warga yang menjadi korban bencana di Sumatera.

10 Des 2025 20:22 WIB · Politik & Hukum

Kompas/Willy Medi Christian Nababan

Oleh Willy Medi Christian Nababan

Hujan yang mengguyur lokasi bencana di Palembayan, Agam, Sumatera Barat, Rabu (10/12/2025) pagi, seolah tak memberi jeda. Langit kelabu dan curah hujan kian deras di siang hari.

Arus air membahayakan nyawa pencari dan semakin membenamkan jejak mereka yang hilang di bawah lumpur. Namun, misi utama menemukan mereka yang masih hilang di balik timbunan adalah hal mendesak bagi tim pencarian dan penyelamatan korban bencana.

Pada siang hari, ketika curah hujan kian deras, Koordinator Lapangan Penanganan Bencana Kecamatan Palembayan, Atta Priyono, mengambil keputusan taktis. Demi keselamatan, personel SAR yang menyisir manual di sepanjang aliran sungai ditarik mundur ke titik aman. Namun, operasi tak boleh mati total.

Di tengah guyuran itu, lima alat berat—dua dari Basarnas dan tiga dari pemerintah setempat—tetap diperintahkan beroperasi, menjadi garda terdepan membelah lumpur saat tenaga manusia harus menepi.

Personel SAR gabungan menjalani apel pagi sebelum berangkat ke logasi masing-masing untuk mencari orang yang masih hilang di Palembayan, Agam, Sumatera Barat, Rabu (10/12/2025).

Kerja keras itu menemukan titik terang tepat pukul 14.55. Di sebuah area yang sebelumnya adalah garasi rumah, di bawah reruntuhan atap dan puing bangunan, satu jasad korban berhasil ditemukan. Penemuan ini tidak terjadi begitu saja.

Sutrisno, Komandan Tim (Dantim) Bravo SAR, menuturkan, timnya harus terlebih dahulu menyingkirkan bangkai mobil dan sepeda motor yang terperangkap lumpur untuk membuka akses. Setelah tumpukan itu tersingkap, sosok tubuh yang tertimbun reruntuhan itu terlihat.

Quote

Kalau (operasi bencana) ini tahu-tahu, mana tahu ada si mayat di bawah. Jadi harus alon-alon.

Erika Desra (32) mengumpulkan pakaian peninggalan almarhumah ibunya, Ernita (58), dari puing-puing rumah yang hancur akibat banjir bandang atau “galodo” di Jorong Subarang Aia, Nagari Salareh Aia Timur, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Kamis (4/12/2025). Sang ibu tewas dalam bencana galodo yang menghantam dua ratus lebih rumah di sekitar Sungai Nanggang atau Alahan Anggang di Palembayan pada Kamis (27/11/2025) sore. Jenazah sang ibu ditemukan di bawah reruntuhan rumah pada Minggu (30/11/2025) siang setelah Erik nekat menyewa ekskavator karena lambannya penanganan bencana. Selain ibu, adik, dan tiga keponakan Erik meninggal dalam kejadian yang merenggut lebih dari seratus jiwa dan puluhan korban hilang di Palembayan ini. Mengumpulkan barang-barang peninggalan almarhumah jadi bentuk penghormatan Erik bagi sang ibu.

Jasad pun langsung dibungkus dengan kantong mayat lalu diantar ke RSUD Lubuk Basung. Jenis kelamin dan identitas korban belum dapat dipastikan saat dievakuasi.

Tak berselang lama, pada pukul 16.40, kabar penemuan kembali terdengar dari sektor Salareh Aia Barat. Satu korban lagi ditemukan tersangkut di tumpukan material aliran sungai. Jenazah pun langsung dievakuasi ke RSUD Lubuk Basung untuk proses identifikasi lebih lanjut.

Dengan demikian, total korban yang dievakuasi di Palembayan mencapai 127 orang. Namun, tugas masih jauh dari selesai. Masih ada 42 nama lagi yang tercantum dalam daftar pencarian orang hilang.

Operator ekskavator

Di balik penemuan tersebut, ada peran vital alat berat yang dikendalikan dengan kehati-hatian tingkat tinggi. Wawan Setiawan (46), operator ekskavator dari Dinas PUPR Kabupaten Agam yang telah 10 hari bertugas di lokasi, menyebutkan medan kali ini sebagai ujian berat.

Lumpur tebal dengan kedalaman mencapai 3 meter menjadi tantangan utama, menyulitkan manuver ”tangan besi” ekskavator. Belum lagi keberadaan batu-batu raksasa seberat 5 hingga 6 ton yang terseret arus banjir bandang. Saking beratnya, batu-batu itu tak bisa diangkat, hanya sanggup digeser atau diseret oleh ekskavator.

Wawan Setiawan (46), operator ekskavator dari Dinas PUPR Kabupaten Agam.

Bagi Wawan, mengoperasikan alat berat di zona bencana menuntut perubahan pola pikir total dibanding saat bekerja di proyek konstruksi jalan atau jembatan. Jika biasanya bekerja dengan prinsip ”main hantam” dan keruk secara cepat, kini ia harus bergerak perlahan-lahan.

”Kalau (operasi bencana) ini tahu-tahu, mana tahu ada si mayat di bawah. Jadi harus alon-alon,” ujar Wawan.

Sinergi antara mesin dan manusia terlihat saat hidung atau mata menangkap tanda. Begitu tercium aroma tak lazim atau terlihat sesuatu yang mencurigakan, Wawan segera mematikan mesin. ”Berhenti dulu,” kata Wawan.

Di momen hening itu, personel Basarnas yang siaga di sisi kiri dan kanan alat berat langsung turun tangan. Mereka rela terjun mengais lumpur secara manual. Tujuannya satu, agar jasad korban tidak rusak terkena besi alat berat sehingga memudahkan proses identifikasi kelak.

Personnel SAR berjalan melewati medan berlumpur yang baru dibuka aksesnya di Palembayan, Agam, Sumatera Barat, Rabu (10/12/2025).

Tim di lapangan tak hanya mengevakuasi korban jiwa, tetapi juga memilah barang-barang yang hancur. Wawan memperkirakan sudah ada sekitar 50 unit sepeda motor yang ditemukan sejak ia bertugas, semuanya dalam kondisi rusak berat. Motor ditumpuk dengan motor, mobil dengan mobil, sementara tabung elpiji dipisahkan demi keamanan.

Wawan mengungkapkan, saat cuaca cerah, kerumunan warga yang datang sekadar untuk menonton kerap memicu kemacetan parah yang menghambat pergerakan alat berat. ”Kalau cuaca cerah, macetnya dari masyarakat itu, kasarannya menghambat pekerjaan kita,” keluh Wawan.

Hari itu, di bawah langit kelabu dan hujan yang tak henti, kerumunan itu menghilang, menyisakan ruang bagi mesin dan tim SAR untuk bekerja dalam sunyi. Mereka berupaya menembus lumpur 3 meter demi mencari dan menjemput korban yang masih tertinggal.


Kerabat Kerja

Penulis:

Willy Medi Christian Nababan
 | 

Editor:

Cyprianus Anto Saptowalyono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar