Dunia tidak berjalan hanya dengan satu roda saja. Tidak ada lagi satu kekuatan yang boleh dan bisa mendiktekan semua gagasannya semau-maunya sendiri.
14 Jan 2025 16:35 WIB · Internasional
Presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump akan resmi kembali ke Gedung Putih setelah dilantik pada 20 Januari. Tentu akan banyak mata mengarah ke AS saat pelantikan itu digelar.
Seiring hadirnya peristiwa itu, dunia saat ini juga ”harap-harap cemas” pada kebijakan-kebijakan yang diambil Trump. Saat ini setidaknya banyak pihak mulai dan telah berjaga-jaga dengan ”tarif”, perangkat perdagangan yang bagi Trump diposisikan sebagai salah satu senjata andalannya.
Asumsi yang terbangun saat ini adalah Trump akan ”memainkan tarif ”sebagai cara untuk mendiktekan kebijakannya pada mitra eksternal AS. Seiring dengan itu, ada ”senjata” lain yang kini dimiliki Trump, yaitu Elon Musk.
CEO Tesla, SpaceX, dan platform media sosial X itu adalah penguasa big data. Akhir-akhir ini melalui X, Musk kerap melontarkan kritik dan pandangan yang mencemaskan sejumlah pemimpin dunia, termasuk politisi-politisi Barat, mitra dekat AS.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/31/ac6c9acb-5d61-4be2-b67c-b0f449d85d89_jpg.jpg)
Pada 20 Desember 2024, Musk mencuit, ”Hanya AfD yang dapat menyelamatkan Jerman”. AfD sedang dalam pengawasan badan intelijen domestik karena diduga melakukan ekstremisme.
Saat ini, politik Jerman memang sedang gonjang- ganjing setelah koalisi tiga partai yang dipimpin Kanselir Olaf Scholz yang berhaluan kiri-tengah runtuh. Musk memilih untuk mendukung partai sayap kanan, AfD (Alternative for Germany), di Jerman (Kompas.id, 9 Januari 2025).
Musk berdalih cuitannya adalah bagian dari kebebasan berekspresi dan berpendapat. Namun, bagi sejumlah kalangan, cuitan Musk justru dinilai mengancam nilai-nilai Eropa dan menyokong gerakan kanan. Para pemimpin negara-negara utama di Eropa pun gerah. X yang menjadi platform mendesiminasi pandangan politik kini menjadi ruang diskursus yang ”tidak sehat”.
Persoalannya adalah bukan baik atau tidak baik, benar atau salah. Dengan minimnya mekanisme kontrol, beragam diskursus yang mengemuka bakal tertelan begitu saja oleh publik. Tak terbayangkan bagaimana implikasi selanjutnya dari situasi tersebut.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/10/09/1644b969-aca2-4b69-82da-25d83b8db737_jpg.jpg)
Yang jelas, kecemasan para pemimpin Eropa tidak bisa dianggap angin lalu. Tatanan global dan tatanan internasional pun berpotensi terpengaruh. Penguasaan big data oleh beragam platform, termasuk X, terbukti memiliki dampak signifikan pada gerakan massa. Trump sendiri telah mengalaminya saat dia digembosi oleh para remaja penyuka K-pop saat kampanye pilpres AS 2020.
Dengan pengaruh, dana, dan platform yang dimilikinya, Musk adalah ”kekuatan” yang jauh lebih dahsyat dari itu. Bahkan, kini sebagai salah satu orang yang dipercaya Trump untuk isu efisiensi pemerintahan, jangkauannya bisa jauh lebih lebar dan sekaligus dalam.
Apabila semata-mata berkutat pada situasi itu, yang terbayang adalah kekhawatiran. Akan tetapi, dunia sejatinya tidak berjalan hanya dengan satu roda saja. Dunia dan tatanan global adalah sebuah kumpulan solid yang meskipun bergerak dalam ”arus yang berbeda” sejatinya tarik-menarik.
Bagaimanapun juga, dengan beragam ”senjata” yang dimilikinya, Trump dan AS tetaplah entitas yang memerlukan entitas lain untuk menyokongnya. Karena apabila Trump mengambil langkah sebaliknya, potensi menjadi teralienasi–tentu dalam kadar tertentu–menjadi kian besar. Bahwa AS di era pertama Trump–yang cenderung menarik diri dari pendekatan multilateralisme–justru membuat Washington kehilangan banyak pengaruh perlu menjadi pengingat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/07/29/60fb5572-09d2-4b0d-b3c4-27cf70c481ec.jpg)
Jika Washington tidak ingin semakin kehilangan peran utama dalam tatanan global–yang kini perlahan-lahan digantikan oleh China–Trump perlu bijak memainkan kekuatan yang dimilikinya saat ini.
Kini dalam relasi dunia yang lebih multipolar, setiap negara relatif lebih leluasa untuk menjalin aliansi dan kerja sama. Tidak ada lagi satu kekuatan yang boleh dan bisa mendiktekan semua gagasannya semau-maunya sendiri.
Di sisi lain, dunia juga berharap, Trump benar-benar mewujudkan pernyataannya, yaitu turut aktif menyudahi perang di Ukraina. Senyampang Trump mengaku kenal dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, dunia dapat berandai-andai Trump dapat membujuk Putin untuk berdialog dengan Ukraina.
Tentu bukan perkara mudah, tetapi bukan berarti hal itu tidak dapat diwujudkan.
Penulis:
Bonifasius Josie Susilo HEditor:
Fransisca Romana Ninik W