Menyongsong Era Kedua Donald Trump

Dunia tidak berjalan hanya dengan satu roda saja. Tidak ada lagi satu kekuatan yang boleh dan bisa mendiktekan semua gagasannya semau-maunya sendiri.

14 Jan 2025 16:35 WIB · Internasional

Oleh Bonifasius Josie Susilo H

Presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump akan resmi kembali ke Gedung Putih setelah dilantik pada 20 Januari. Tentu akan banyak mata mengarah ke AS saat pelantikan itu digelar.

Seiring hadirnya peristiwa itu, dunia saat ini juga ”harap-harap cemas” pada kebijakan-kebijakan yang diambil Trump. Saat ini setidaknya banyak pihak mulai dan telah berjaga-jaga dengan ”tarif”, perangkat perdagangan yang bagi Trump diposisikan sebagai salah satu senjata andalannya.

Asumsi yang terbangun saat ini adalah Trump akan ”memainkan tarif ”sebagai cara untuk mendiktekan kebijakannya pada mitra eksternal AS. Seiring dengan itu, ada ”senjata” lain yang kini dimiliki Trump, yaitu Elon Musk.

CEO Tesla, SpaceX, dan platform media sosial X itu adalah penguasa big data. Akhir-akhir ini melalui X, Musk kerap melontarkan kritik dan pandangan yang mencemaskan sejumlah pemimpin dunia, termasuk politisi-politisi Barat, mitra dekat AS.

LANCASTER, PENNSYLVANIA - OCTOBER 26: SpaceX and Tesla founder Elon Musk speaks during an America PAC town hall on October 26, 2024 in Lancaster, Pennsylvania. Musk has donated more than $75 million to America PAC, which he co-founded with fellow Silicon Valley venture capitalists and tech businessmen to support Republican presidential nominee, former U.S. President Donald Trump. Samuel Corum/Getty Images/AFP (Photo by Samuel Corum / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Pada 20 Desember 2024, Musk mencuit, ”Hanya AfD yang dapat menyelamatkan Jerman”. AfD sedang dalam pengawasan badan intelijen domestik karena diduga melakukan ekstremisme.

Saat ini, politik Jerman memang sedang gonjang- ganjing setelah koalisi tiga partai yang dipimpin Kanselir Olaf Scholz yang berhaluan kiri-tengah runtuh. Musk memilih untuk mendukung partai sayap kanan, AfD (Alternative for Germany), di Jerman (Kompas.id, 9 Januari 2025).

Musk berdalih cuitannya adalah bagian dari  kebebasan berekspresi dan berpendapat. Namun, bagi sejumlah kalangan,  cuitan Musk justru dinilai mengancam nilai-nilai Eropa dan menyokong gerakan kanan. Para pemimpin negara-negara utama di Eropa pun gerah. X yang menjadi platform mendesiminasi pandangan politik kini menjadi ruang diskursus yang ”tidak sehat”.

Persoalannya adalah bukan baik atau tidak baik, benar atau salah. Dengan minimnya mekanisme kontrol, beragam diskursus yang mengemuka bakal tertelan begitu saja oleh publik. Tak terbayangkan bagaimana implikasi selanjutnya dari situasi tersebut.

Kanselir Jerman Olaf Scholz memberikan pernyataan mengomentari situasi di Israel di Kantor Kanselir di Berlin, Jerman, Minggu (8/10/2023). Baku tembak terjadi pada tanggal 8 Oktober 2023 antara militan Hamas dan pasukan Israel sehari setelah kelompok Islam tersebut melancarkan serangan mendadak terhadap Israel dari Gaza, yang merupakan peningkatan dramatis konflik Israel-Palestina. AFP/ Odd ANDERSEN 08-10-2023 *** Local Caption *** German Chancellor Olaf Scholz gives a statement to comment on the situation in Israel, on October 8, 2023 at the Chancellery in Berlin. Gun battles raged on October 8, 2023 between Hamas militants and Israeli forces a day after the Islamist group launched a surprise attack on Israel from Gaza, in a dramatic escalation of the Israel-Palestinian conflict. (Photo by Odd ANDERSEN / AFP)

Yang jelas, kecemasan para pemimpin Eropa tidak bisa dianggap angin lalu. Tatanan global dan tatanan internasional pun berpotensi terpengaruh. Penguasaan big data oleh beragam platform, termasuk X, terbukti memiliki dampak signifikan pada gerakan massa. Trump sendiri telah mengalaminya saat dia digembosi oleh para remaja penyuka K-pop saat kampanye pilpres AS 2020.

Dengan pengaruh, dana, dan platform yang dimilikinya, Musk adalah ”kekuatan” yang jauh lebih dahsyat dari itu. Bahkan, kini sebagai salah satu orang yang dipercaya Trump untuk isu efisiensi pemerintahan, jangkauannya bisa jauh lebih lebar dan sekaligus dalam.

Apabila semata-mata berkutat pada situasi itu, yang terbayang adalah kekhawatiran. Akan tetapi, dunia sejatinya tidak berjalan hanya dengan satu roda saja. Dunia dan tatanan global adalah sebuah kumpulan solid yang meskipun bergerak dalam ”arus yang berbeda” sejatinya tarik-menarik.

Bagaimanapun juga, dengan beragam ”senjata” yang dimilikinya, Trump dan AS tetaplah entitas yang memerlukan entitas lain untuk menyokongnya. Karena apabila Trump mengambil langkah sebaliknya, potensi menjadi teralienasi–tentu dalam kadar tertentu–menjadi kian besar. Bahwa AS di era pertama Trump–yang cenderung menarik diri dari pendekatan multilateralisme–justru membuat Washington kehilangan banyak pengaruh perlu menjadi pengingat.

Foto dokumentasi bertanggal 9 November 2017 memperlihatkan bendera Amerika Serikat berkibar dekat lambang nasional China dalam upacara penyambutan atas kunjungan Presiden AS Donald Trump di luar Gedung Balai Agung Rakyat, Beijing, China.

Jika Washington tidak ingin semakin kehilangan peran utama dalam tatanan global–yang kini perlahan-lahan digantikan oleh China–Trump perlu bijak memainkan kekuatan yang dimilikinya saat ini.

Kini dalam relasi dunia yang lebih multipolar, setiap negara relatif lebih leluasa untuk menjalin aliansi dan kerja sama. Tidak ada lagi satu kekuatan yang boleh dan bisa mendiktekan semua gagasannya semau-maunya sendiri.

Di sisi lain, dunia juga berharap, Trump benar-benar mewujudkan pernyataannya, yaitu turut aktif menyudahi perang di Ukraina. Senyampang Trump mengaku kenal dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, dunia dapat berandai-andai Trump dapat membujuk Putin untuk berdialog dengan Ukraina.

Tentu bukan perkara mudah, tetapi bukan berarti hal itu tidak dapat diwujudkan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W