Tiga ”lighthouse”, yang disebut akan IPO di awal tahun ini, diharapkan dapat membawa dampak positif bagi pasar.
18 Jan 2025 10:00 WIB · Ekonomi
Memasuki tahun 2025, delapan emiten baru sudah melaksanakan penawaran saham perdana atau IPO di Bursa Efek Indonesia. BEI menyebut ada tiga eemiten mercusuar atau lighthouse yang akan IPO di awal tahun ini. Ramainya aksi penerbitan saham perdana dan kecenderungan Indeks Harga Saham Gabungan yang bergerak positif pada Januari ini diharapkan terus berlanjut seiring prospek pertumbuhan ekonomi yang stabil dan dukungan kebijakan moneter.
Setelah melalui tahun 2024 yang menantang, otoritas bursa menargetkan 66 perusahaan akan melaksanakan IPO (initial public offering) pada 2025. Sepanjang 2024, tercatat hanya 41 perusahaan baru dengan total dana yang dihimpun sebanyak Rp 14,3 triliun. Jumlah ini turun dibanding 79 kegiatan IPO di 2023 yang berhasil menghimpun dana Rp 54,1 triliun. Kondisi ini bahkan disebut terendah dalam lima tahun terakhir.
Terkait 41 perusahaan yang melaksanakan IPO pada 2024, analis pasar modal Stocknow.id, Hendra Wardana, menyebut beberapa faktor seperti ketidakpastian ekonomi global, volatilitas pasar, serta tingginya biaya dan regulasi dalam proses IPO yang menjadi tantangan utama.
”Meski begitu, BEI optimistis dengan target 66 perusahaan yang akan IPO di 2025, dengan memastikan bahwa kualitas perusahaan yang melantai tetap terjaga sehingga minat investor dapat terus meningkat dan pasar modal Indonesia semakin berkembang,” ujar Hendra, Jumat (17/1/2025).
Sepanjang Januari, sebanyak delapan emiten tercatat telah melantai di BEI yang berasal dari beragam sektor dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp 3,6 triliun. Dengan demikian, saat ini, total emiten di bursa mencapai 951 perusahaan.
Delapan emiten tersebut yaitu PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (kode emiten CBDK), PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG), PT Brigit Biofarmaka Teknologi Tbk (OBAT), PT Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII), PT Kentanix Supra International Tbk (KSIX), dan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU). Kemudian, PT Raja Roti Cemerlang Tbk (BRRC) dan PT Hero Global Investment Tbk (HGII).
Optimisme pemulihan ekonomi pasca-pandemi, kebijakan pemerintah yang pro pasar, serta meningkatnya minat investor dalam membeli saham baru berkontribusi pada sentimen pasar yang positif.
Menurut Hendra, terdapat beberapa faktor besar yang menjadi pendorong ramainya aksi IPO dan pergerakan positif IHSG di Januari 2025. Faktor tersebut ialah optimisme pemulihan ekonomi pasca-pandemi, kebijakan pemerintah yang pro pasar, serta meningkatnya minat investor dalam membeli saham baru. Semuanya berkontribusi pada sentimen pasar yang positif.
”Dengan prospek pertumbuhan ekonomi yang stabil dan kebijakan moneter yang mendukung, investor semakin percaya diri menempatkan dananya di pasar modal, yang diharapkan terus berlanjut sepanjang tahun,” ujar Hendra.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/30/2e7f2385-2be9-4b91-915b-b23924b5a8d4_jpg.jpg)
Prospek emiten baru yang sudah IPO di awal tahun ini, menurut Hendra, juga menjadi perhatian utama. PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK), misalnya, mencuri perhatian dengan mencatatkan Auto Rejection Atas (ARA) sebanyak empat kali berturut-turut. Hal ini menunjukkan antusiasme investor yang tinggi terhadap saham ini.
Bergerak di sektor properti, CBDK memiliki peluang besar untuk tumbuh seiring dengan meningkatnya kebutuhan perumahan dan properti komersial. Selain itu, BEI juga mencatat ada tiga lighthouse yang akan IPO di awal tahun ini, yang diharapkan dapat membawa dampak positif bagi pasar.
Pada awal tahun ini, CBDK menjadi emiten dengan raihan penawaran umum terbesar. CBDK melepas 566.894.500 saham di harga perdana Rp 4.060 per saham dan meraih dana segar sekitar Rp 2,3 triliun dari aksi IPO. Pada sesi I, Jumat (17/1/2025), saham CBDK juga kembali auto reject atas (ARA) dengan harga Rp 10.450.
IPO saham PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) juga memberi keuntungan bagi investor. Harga saham RATU pada IPO adalah Rp 1.150 per saham. Harga saham RATU pada Jumat (17/1/2025) menyentuh Rp 5.400 per saham. Harga saham RATU pun sempat mengalami kenaikan hingga mencapai batas ARA selama tujuh hari berturut-turut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/30/ab836282-cf68-44ea-9ece-b8e3ad313d32_jpg.jpg)
Pengamat pasar modal sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Budi Frensidy menambahkan bahwa RATU dan CBDK ramai dan disukai investor karena grupnya dikenal pasar. ”Sebagai yang punya pasar komitmen untuk menjaga harga sahamnya atau ada market maker-nya,” kata Budi.
Terkait kegiatan IPO yang turun drastis tahun lalu, Budi lebih menekankan tentang pentingnya kualitas. ”Saya pikir yang lebih penting daripada kuantitas ialah kualitasnya. Yang paling disedihkan ialah jika kuantitas turun, tetapi pada waktu yang sama juga ada beberapa yang tidak berkualitas, sementara harga IPO-nya juga ketinggian,” kata Budi.
Budi menyoroti peristiwa tahun lalu, di mana sedikitnya terdapat lima orang dalam IDX (BEI) yang berkolusi dengan emiten dan calon emiten. ”Adanya kasus ini membuat otoritas dan regulator lebih hati-hati walaupun tetap saja ada yang lolos dengan proses dan valuasi yang tidak wajar,” tambahnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/21/4e2c8d9f-3735-4c7d-9a80-aa114f74297d_jpg.jpg)
Optimisme pemulihan minat IPO di tahun 2025 semakin menjadi topik hangat di pasar modal Indonesia, terutama setelah tidak ada perusahaan BUMN yang melantai di bursa pada 2024. Rencana IPO beberapa BUMN pada 2025, seperti Holding BUMN Industri Pertambangan (MIND ID) dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), menurut Hendra, diyakini dapat menjadi katalis positif.
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir sempat menyatakan, semakin banyak BUMN yang IPO, semakin besar peluang untuk meningkatkan kinerja dan daya saing di pasar global. Langkah ini juga memberikan akses pendanaan yang lebih luas bagi perusahaan untuk ekspansi dan pengembangan bisnis.
”Pasar dan investor senang jika ada emiten baru BUMN, terutama untuk yang berkapitalisas besar, punya fundamental bagus dan pada harga yang menarik,” tambah Budi.
Beberapa emiten yang telah IPO di tahun 2024 antara lain PT Multi Spunindo Jaya Tbk (MSJA), PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII), PT Superior Prima Sukses Tbk (BLES), PT Intra GolfLink Resorts Tbk (GOLF), PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), dan PT Daya Intiguna Yasa Tbk (MDIY).
Berdasarkan nilai dana yang berhasil dihimpun, IPO AADI menjadi yang terbesar sepanjang tahun 2024. AADI berhasil meraup dana segar sebanyak Rp 4,32 triliun.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/30/454a7950-7b63-4271-9ecc-d493b90ac4ec_jpg.jpg)
Sebelumnya, pada Kamis (2/1/2025), ketika perdagangan BEI tahun 2025 resmi dibuka, Direktur Utama BEI Iman Rachman menyampaikan bahwa secara global, kinerja BEI masih menunjukkan daya saing yang kompetitif dibandingkan dengan bursa global lainnya. ”Saya bangga melaporkan bahwa pasar modal kita tidak hanya bertahan di tengah ketidakpastian global, tetapi juga terus menunjukkan daya saing yang tinggi, baik di ASEAN maupun dalam skala global,” ucapnya dalam keterangan tertulis di laman BEI.
Pencapaian positif terlihat dari meningkatnya antusiasme masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia. Total investor pasar modal yang terdiri dari investor saham, obligasi, dan reksa dana meningkat menjadi 14,84 juta investor. Sementara itu, khusus untuk investor saham, terdapat peningkatan lebih dari 1 juta investor saham menjadi 6,37 juta investor saham.
Dari sisi supply, BEI telah berhasil meraih sejumlah Pencatatan Efek Baru, meliputi 41 saham baru, 143 emisi obligasi dan sukuk, 1 ETF baru, serta 495 waran terstruktur pada tahun 2024. Berdasarkan data dari EY Global IPO Trends 2024, Jumlah Pencatatan Saham Baru di BEI menempati peringkat ke-10 di dunia dari sisi jumlah IPO, dengan total fund-raised IPO saham mencapai Rp14,3 triliun.
Pada tahun 2024, pasar modal Indonesia mengalami pergerakan yang dinamis dengan pengaruh dari sisi domestik dan global. Sepanjang tahun 2024, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami perubahan sebesar 2,65 persen dan pada akhir tahun 2024 ditutup pada level 7.079,905.
Penulis:
Mawar Kusuma WulanEditor:
Aloysius Budi Kurniawan