Arsip Foto ”Kompas”: Merawat Ingatan Tragedi Mei 1998

Kerusuhan Mei 1998 merupakan salah satu tragedi terbesar dalam sejarah Indonesia. Peristiwa tersebut menyebabkan ribuan orang tewas dan banyak bangunan rusak.

10 Mei 2025 10:11 WIB · Foto

Oleh Bahana Patria Gupta

Perjalanan bangsa Indonesia hingga saat ini telah melewati banyak  peristiwa. Beberapa di antaranya tercatat sebagai peristiwa terkelam dalam sejarah sejak bangsa ini berdiri. Salah satu peristiwa tersebut adalah Tragedi Mei 1998. Sebuah peristiwa kerusuhan massal yang banyak merenggut korban jiwa.

Tragedi Mei 1998 berawal dari krisis ekonomi akibat merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat pada 8 Juli 1997. Penurunan nilai tukar menjadi efek domino, menyebabkan banyak perusahaan bangkrut dan jutaan orang kehilangan pekerjaan.

Ketika krisis keuangan terjadi di Thailand sekitar Mei 1997, pemerintah sangat yakin bahwa krisis baht (mata uang Thailand) tidak akan berpengaruh terhadap rupiah. Kondisi ini  tidak berbanding lurus dengan kondisi utang luar negeri pemerintah dan swasta.

Kerusuhan di kawasan Pasar Baru, Jakarta, Kamis (14 /5/1998). Di tempat lain juga terjadi kerusuhan serupa yang ditandai dengan aksi penjarahan. (Geser ke kanan untuk foto-foto lainnya).
Warga membakar sebuah sepeda motor saat kerusuhan di Jakarta, Kamis (14/5/1998).
Warga membakar barang-barang saat kerusuhan di Jakarta, Kamis (14/5/1998).
Pembakaran kendaraan bermotor melanda sebagian Jakarta, Rabu (13/5).
Sebuah truk terbakar saat kerusuhan melanda di Jakarta, Rabu (13/5/1998).

Dilihat dari struktur utang luar negeri negara ASEAN yang tercatat pada akhir tahun 1996, utang luar negeri Pemerintah Indonesia mencapai 109,3 miliar dollar AS atau 48 persen dari produk domestik bruto (PDB). Angka ini jauh lebih besar daripada Pemerintah Thailand yang mencapai 76,5 miliar dollar AS atau 43 persen dari PDB.

Pada tahun 1998 tanda-tanda krisis ekonomi tampak jelas ketika perekonomian Indonesia mulai goyah dan tidak mampu mengatasi krisis moneter (keuangan). Akibat krisis ini, sebanyak 786 pengembang anggota Real Estate Indonesia tumbang, mengakibatkan berbagai proyek strategis mengalami penundaan.

Penjarahan sebuah gedung saat kerusuhan melanda Jakarta, Kamis (14 /5/1998). (Geser ke kanan untuk foto-foto lainnya)
Seorang mahasiswa tergeletak di tepi jalan saat terjadi kerusuhan menyusul demontrasi mahasiswa di depan kampus Universitas Trisakti, Jakarta, Selasa (12/5/1998)
Korban luka kerusuhan di sekitar Kampus Trisakti, Jakarta, Rabu (13/5/199). Kerusuhan menjalar ke banyak tempat di Jakarta.
Anggota Brimob sedang mengamankan kerusuhan di sekitar Kampus Trisakti, Jakarta, Rabu (13/5/1998).
Warga mengangkat bangkai mobil yang terbakar saat kerusuhan di Jakarta, Rabu (13/5/1998).
Sebuah bus kota jatuh ke sungai setelah kerusuhan melanda Jakarta, Sabtu (16/5/1998).

Krisis ekonomi semakin terasa dampaknya di masyarakat setelah terjadi pengetatan kebijakan keuangan. Sistem ekonomi Indonesia kewalahan dan sebanyak 16 bank harus dilikuidasi.

Morat-maritnya perekonomian berdampak terhadap naiknya harga-harga bahan pokok makanan. Kondisi ini dimanfaatkan oleh berbagai kepentingan, baik dari dalam maupun luar negeri, yang memicu terjadinya kerusuhan di sejumlah daerah di Indonesia.

Selain faktor ekonomi, krisis politik juga menjadi salah satu faktor penyebab peristiwa tersebut. Keinginan masyarakat untuk perubahan tatanan kehidupan politik, khususnya pergantian kekuasaan, semakin membesar. Masyarakat, dimotori mahasiswa, menginginkan perubahan radikal, pergantian Presiden Soeharto yang telah menjabat selama 32 tahun.

Masyarakat dan mahasiswa menilai bahwa kekuasaan Presiden Soeharto yang terlalu lama menyebabkan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) tumbuh subur.

Sebuah bagian pertokoan Glodok setelah kebakaran saat kerusuhan, Sabtu (30/5/1998). (Geser ke kanan untuk foto-foto lainnya)
Sisa-sisa gedung Pasar Glodok, Jakarta Barat, akhir April lalu mulai dibongkar - setelah hampir setahun terbengkalai, Selasa (11/5/1999). Gedung pasar milik PD Pasar Jaya itu hancur saat kerusuhan Mei 1998.
Pusat perdagangan di kawasan Pasar Minggu habis terbakar akibat kerusuhan, Jakarta, Jumat (22/5/1998). tampak pusat perbelanjaan Robinson juga tak luput dari penjarahan dan dibakar massa.
Warga melintasi deretan ruko yang terbakar pascakerusuhan , Jakarta, Jumat (15/5/1998).
Sebuah rumah dan mobil yang hangus terbakar dalam Kerusuhan 13-15 Mei 1998, Senin (7/6/1998). Puluhan rumah dan kendaraan pribadi lain di Blok Camar, Perumahan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara ikut menjadi korban penjarahan dan pembakaran dalam peristiwa kerusuhan itu.

Kerusuhan Mei 1998 merupakan salah satu tragedi terbesar dalam sejarah Indonesia. Berdasarkan data Kompas, 18 Mei 1998, kerugian fisik yang terjadi akibat kerusuhan dalam dua hari, 13-14 Mei, di Jakarta sekitar Rp 2,5 triliun.

Kerusuhan tersebut merusak 13 pasar, 2.479 ruko, 40 mal/plaza, 1.604 toko, 45 bengkel, 2 kecamatan, 11 polsek, 383 kantor swasta, 65 kantor bank, 24 restoran, 12 hotel, 9 pom bensin, 8 bus kota dan metromini, 1.119 mobil, 821 motor, 486 rambu lalu lintas, 11 taman, 18 pagar, dan 1.026 rumah penduduk dan gereja. Selain itu, korban meninggal di DKI Jakarta mencapai 288 orang dan ada 101 korban luka-luka.

Jumlah korban tewas di setiap wilayah berbeda-beda dengan kisaran mencapai lebih dari seribu jiwa. Sebagian besar hangus terpanggang di kebakaran kantor dan pusat perbelanjaan.

Suasana Jalan MH Thamrin, Jakarta, saat satuan keamanan dari berbagai unsur menutup jalan, Kamis (21/5/1998). (Geser ke kanan untuk foto-foto lainnya).
Sejumlah warga mengadakan pengamanan mandiri di kawasan permukiman mereka terkait info akan adanya kerusuhan, Jakarta, Jumat (15/5/1998).
Masyarakat aktif membangun keamanan setempat dengan siskamling seperti terlihat di perumahan Bintaro, Jakarta Selatan terkait akan adanya kerusuhan, Jumat (15/5/1998).
Bangkai mobil sisa kerusuhan Mei 1998 di Jalan Ciledug Raya, Tangerang, Sabtu (16/5), dibersihkan dengan alat-alat derek.
Kondisi pertokoan Glodok di Jakarta Barat usai kerusuhan, Minggu (31/5/1998) . Pusat penjualan barang elektronik terbesar di Jakarta ini tak luput dari sasaran amukan massa dalam peristiwa itu. Nampak para pemulung mengambil sisa-sisa rongsokan bekas bangunan yang dibakar massa.

Munculnya kerusuhan dalam waktu serentak merupakaan sejarah baru dalam kerusuhan Indonesia. Pola ini menimbulkan dugaan adanya provokator yang terlibat secara terencana. Secara khusus, pada kerusuhan 13-15 Mei 1998, etnis Tionghoa menjadi sasaran perampokan, penjarahan, pemerkosaan, dan pembunuhan.

Isu-isu penjarahan kemudian tersebar ke banyak tempat. Warga di perumahan-perumahan kemudian melakukan pengamanan swadaya. Mereka bergantian menjaga wilayah rumah dengan mempersenjatai diri dengan kayu dan juga senjata tajam.

Para orangtua korban Kerusuhan Mei 1998 meminta pemerintah menindaklanjuti hasil Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) hingga selesai. Pengusutan hendaknya tidak pada soal pemerkosaan saja, tetapi juga kekerasan lain, termasuk pembakaran supermarket di Klender, kasus Semanggi II dan III. Dengan memegang foto para almarhum, mereka yang menamakan diri Paguyuban Korban Peristiwa Mei, Semanggi I dan II, berunjuk rasa di depan Istana Negara, Selasa (7/3/2000). (Geser ke kanan untuk foto-foto lainnya).
Aktivis perempuan meletakkan bunga di nisan tempat pemakaman massal korban tragedi Mei 1998 saat acara Napak Tilas 24 Tahun Perkosaan Mei '98 di TPU Pondok Ranggon, Jakarta, Selasa (24/5/2022). Peringatan ini diadakan untuk merawat ingatan kolektif bangsa Indonesia agar bersama-sama mencegah ini berulang serta terus menagih komitmen pemerintah untuk menuntaskan kasus pemerkosaan Mei 1998.
Para peserta Napak Tilas Tragedi Mei 1998 mengamati diorama yang menggambarkan kekerasan aparat terhadap masyarakat sipil pada Tragedi 1998 di Museum Trisakti, Kampus Universitas Trisakti, Jakarta, Minggu (12/5/2024). Napak Tilas Reformasi 1998 yang digelar oleh Komisi Nasional Perempuan ini menjadi rangkaian Peringatan Tragedi Mei 1998 dengan tema "Pelanggaran HAM Masa Lalu di Persimpangan Jalan".
Aktivis Koalisi Masyarakat Antikorupsi menaburkan bunga saat menggelar aksi Refleksi 23 Tahun Reformasi di depan Gedung Kompleks Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (21/5/2021). Mereka menilai bahwa selama 23 tahun pascatumbangnya rezim Orde Baru sistem demokrasi belum baik dan ideal. Hal itu ditandai dengan belum dituntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM, korupsi makin marak, kebebasan berpendapat yang mulai terancam, hingga adanya upaya pemberangusan upaya-upaya pemberantasan korupsi.

Data Tim Relawan Kemanusiaan dan Tim Gabungan Pencari Fakta Peristiwa Kerusuhan Mei 1998 menyebutkan, 1.250 orang meninggal akibat kerusuhan Mei 1998. Selain itu, terdapat 152 perempuan menjadi korban kekerasan seksual di DKI Jakarta, Surakarta, Medan, Palembang, dan Surabaya.

Sejak satu tahun peristiwa tersebut terjadi, sejumlah gerakan untuk mengusut tuntas tragedi tersebut digulirkan. Para penyintas, juga para keluarga korban, tidak pernah henti menyuarakan kekecewaannya. Sejumlah gerakan untuk mengenang peristiwa tersebut juga dilakukan.

Gerakan-gerakan yang dilakukan untuk memperingati peristiwa tersebut tentu bukan untuk merawat luka, melainkan sebagai pengingat agar generasi yang akan datang tidak mengalami hal serupa.

Peringatan 25 Tahun Reformasi di TPU Pondok Rangon


Kerabat Kerja

Penulis:

Bahana Patria Gupta
 | 

Editor:

Heru Sri Kumoro, Demitrius Wisnu Widiantoro, Muhammad Yuniadhi Agung
 | 

Foto:

AP Susetyo Wijatmoko
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .