Kerusuhan Mei 1998 merupakan salah satu tragedi terbesar dalam sejarah Indonesia. Peristiwa tersebut menyebabkan ribuan orang tewas dan banyak bangunan rusak.
10 Mei 2025 10:11 WIB · Foto
Perjalanan bangsa Indonesia hingga saat ini telah melewati banyak peristiwa. Beberapa di antaranya tercatat sebagai peristiwa terkelam dalam sejarah sejak bangsa ini berdiri. Salah satu peristiwa tersebut adalah Tragedi Mei 1998. Sebuah peristiwa kerusuhan massal yang banyak merenggut korban jiwa.
Tragedi Mei 1998 berawal dari krisis ekonomi akibat merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat pada 8 Juli 1997. Penurunan nilai tukar menjadi efek domino, menyebabkan banyak perusahaan bangkrut dan jutaan orang kehilangan pekerjaan.
Ketika krisis keuangan terjadi di Thailand sekitar Mei 1997, pemerintah sangat yakin bahwa krisis baht (mata uang Thailand) tidak akan berpengaruh terhadap rupiah. Kondisi ini tidak berbanding lurus dengan kondisi utang luar negeri pemerintah dan swasta.
Dilihat dari struktur utang luar negeri negara ASEAN yang tercatat pada akhir tahun 1996, utang luar negeri Pemerintah Indonesia mencapai 109,3 miliar dollar AS atau 48 persen dari produk domestik bruto (PDB). Angka ini jauh lebih besar daripada Pemerintah Thailand yang mencapai 76,5 miliar dollar AS atau 43 persen dari PDB.
Pada tahun 1998 tanda-tanda krisis ekonomi tampak jelas ketika perekonomian Indonesia mulai goyah dan tidak mampu mengatasi krisis moneter (keuangan). Akibat krisis ini, sebanyak 786 pengembang anggota Real Estate Indonesia tumbang, mengakibatkan berbagai proyek strategis mengalami penundaan.
Krisis ekonomi semakin terasa dampaknya di masyarakat setelah terjadi pengetatan kebijakan keuangan. Sistem ekonomi Indonesia kewalahan dan sebanyak 16 bank harus dilikuidasi.
Morat-maritnya perekonomian berdampak terhadap naiknya harga-harga bahan pokok makanan. Kondisi ini dimanfaatkan oleh berbagai kepentingan, baik dari dalam maupun luar negeri, yang memicu terjadinya kerusuhan di sejumlah daerah di Indonesia.
Selain faktor ekonomi, krisis politik juga menjadi salah satu faktor penyebab peristiwa tersebut. Keinginan masyarakat untuk perubahan tatanan kehidupan politik, khususnya pergantian kekuasaan, semakin membesar. Masyarakat, dimotori mahasiswa, menginginkan perubahan radikal, pergantian Presiden Soeharto yang telah menjabat selama 32 tahun.
Masyarakat dan mahasiswa menilai bahwa kekuasaan Presiden Soeharto yang terlalu lama menyebabkan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) tumbuh subur.
Kerusuhan Mei 1998 merupakan salah satu tragedi terbesar dalam sejarah Indonesia. Berdasarkan data Kompas, 18 Mei 1998, kerugian fisik yang terjadi akibat kerusuhan dalam dua hari, 13-14 Mei, di Jakarta sekitar Rp 2,5 triliun.
Kerusuhan tersebut merusak 13 pasar, 2.479 ruko, 40 mal/plaza, 1.604 toko, 45 bengkel, 2 kecamatan, 11 polsek, 383 kantor swasta, 65 kantor bank, 24 restoran, 12 hotel, 9 pom bensin, 8 bus kota dan metromini, 1.119 mobil, 821 motor, 486 rambu lalu lintas, 11 taman, 18 pagar, dan 1.026 rumah penduduk dan gereja. Selain itu, korban meninggal di DKI Jakarta mencapai 288 orang dan ada 101 korban luka-luka.
Jumlah korban tewas di setiap wilayah berbeda-beda dengan kisaran mencapai lebih dari seribu jiwa. Sebagian besar hangus terpanggang di kebakaran kantor dan pusat perbelanjaan.
Munculnya kerusuhan dalam waktu serentak merupakaan sejarah baru dalam kerusuhan Indonesia. Pola ini menimbulkan dugaan adanya provokator yang terlibat secara terencana. Secara khusus, pada kerusuhan 13-15 Mei 1998, etnis Tionghoa menjadi sasaran perampokan, penjarahan, pemerkosaan, dan pembunuhan.
Isu-isu penjarahan kemudian tersebar ke banyak tempat. Warga di perumahan-perumahan kemudian melakukan pengamanan swadaya. Mereka bergantian menjaga wilayah rumah dengan mempersenjatai diri dengan kayu dan juga senjata tajam.
Data Tim Relawan Kemanusiaan dan Tim Gabungan Pencari Fakta Peristiwa Kerusuhan Mei 1998 menyebutkan, 1.250 orang meninggal akibat kerusuhan Mei 1998. Selain itu, terdapat 152 perempuan menjadi korban kekerasan seksual di DKI Jakarta, Surakarta, Medan, Palembang, dan Surabaya.
Sejak satu tahun peristiwa tersebut terjadi, sejumlah gerakan untuk mengusut tuntas tragedi tersebut digulirkan. Para penyintas, juga para keluarga korban, tidak pernah henti menyuarakan kekecewaannya. Sejumlah gerakan untuk mengenang peristiwa tersebut juga dilakukan.
Gerakan-gerakan yang dilakukan untuk memperingati peristiwa tersebut tentu bukan untuk merawat luka, melainkan sebagai pengingat agar generasi yang akan datang tidak mengalami hal serupa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/10/e1ea2afff1a4b200e671a0657e12f3fd-20230513Z1911.JPG)
Penulis:
Bahana Patria GuptaEditor:
Heru Sri Kumoro, Demitrius Wisnu Widiantoro, Muhammad Yuniadhi AgungFoto:
AP Susetyo WijatmokoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .