Mereka Menyemai Impian Berani

Tak hanya berani bermimpi, anak-anak dari sejumlah kota ini juga bermimpi sesuatu yang ”berani”, yakni menjadi pesepak bola putri. Impian yang butuh dukungan.

05 Feb 2025 11:20 WIB · Olahraga

Oleh Rebiyyah Salasah

Ketika memutuskan pindah sekolah pada Oktober lalu, Amanda Fitriani (12) tak pernah menyangka jalan baru benar-benar terbentang untuknya tiga bulan kemudian. Saat itu, Amanda hanya percaya, keputusan tersebut adalah salah satu cara untuk mendekatkan pada impian yang muncul sejak usia 9 tahun, yakni menjadi pesepak bola putri.

Di Indonesia, menjadi pesepak bola putri merupakan pilihan yang tak mudah untuk diambil. Ini adalah impian yang ”berani” karena untuk mewujudkannya, mereka yang punya mimpi itu harus menempuh jalan terjal.

Selain menghadapi stigma dan pandangan sebelah mata, mereka tidak punya wadah untuk mewujudkan impian tersebut. Ketika Amanda mulai bermimpi selepas menonton pertandingan timnas, saat itu bahkan belum ada turnamen sepak bola putri yang rutin digelar dan berjenjang. Liga sepak bola putri pun mati suri sejak 2019.

Amanda merasa relevan saat menyaksikan film animasi ”Nyla”, yang berkisah soal gadis asal Sumba, Nusa Tenggara Timur, mengejar impian menjadi pesepak bola putri. Bedanya, kata Amanda, orangtuanya mendukung impian tersebut. Sementara itu, Nyla sempat mendapatkan tentangan dari ibunya saat mencoba mewujudkan mimpi dengan ikut turnamen di Jakarta.

Pemain MilkLife All-Stars Kudus, Rere Zenita Farza (kanan), berusaha melewati hadangan pemain MilkLife All-Stars Solo, Adinda Resti Widayati, pada laga final MilkLife Soccer Challenge All-Stars di SuperSoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Minggu (26/1/2025). Dalam laga final, Kudus mengalahkan Solo dengan skor 1-0.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO
26-10-2025

Dukungan orangtua menjadi salah satu kekuatan Amanda dalam meniti langkahnya. Dukungan paling nyata ialah ketika mengizinkan Amanda pindah dari SDN 079 Pajagalan ke SDN 073 Pajagalan agar bisa ikut MilkLife Soccer Challenge 2024 seri kedua Bandung. Ini adalah turnamen sepak bola putri antarsekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah untuk kelompok usia 10 tahun dan 12 tahun.

Pada seri pertama, Amanda tak bisa ikut karena sekolahnya tak mengirimkan tim. Tidak ada juga ekstrakurikuler sepak bola putri yang bisa diikuti. Keputusan Amanda untuk pindah pun terbukti tepat. Dia mampu bersinar dengan keluar sebagai pencetak gol terbanyak (22 gol) dan terpilih mewakili Bandung untuk bersaing dengan tujuh kota lain pada turnamen puncak, MilkLife Soccer Challenge All-Stars 2025.

”Teman-teman aku sempat bilang, jangan pindah, nanggung juga sudah kelas 6. Aku bilang, ’Enggak apa-apa demi cita-cita. Nanti bisa ketemu lagi’,” kata Amanda yang sempat takut tak punya teman di sekolah baru, tetapi mengatasi ketakutan itu pada akhirnya.

Di lapangan Stadion Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Minggu (26/1/2025), setelah namanya dipanggil Timo Scheunemann, Amanda tak bisa menahan air matanya jatuh. Sementara itu, rekan setimnya semringah, memeluk kaptennya itu, dan memberinya ucapan selamat.

Sebanyak 12 pemain U14 yang berlaga di MilkLife Soccer Challenge All-Stars terpilih untuk dikirim ke JSSL Singapore Professional Academy 7's berfoto di SuperSoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Minggu (26/1/2025). 

KOMPAS/HERU SRI KUMORO
26-01-2025

Amanda menjadi pilihan Timo, Pelatih Kepala MilkLife Soccer Challenge sekaligus tim pencari bakat, untuk jadi bagian tim yang akan dikirim turnamen ke Singapura. Tim itu ibarat timnas, pemain-pemain terbaik yang dipilih dari beberapa daerah di Indonesia untuk berlaga di ajang internasional.

Seperti Amanda, Ayla Dva Khala Ahisma (12) juga terpilih untuk masuk tim yang akan bertanding dalam turnamen sepak bola untuk usia muda Junior Soccer School and League (JSSL) pada April 2025 itu. Seperti Amanda juga, Ayla seolah melihat jalan semakin terbentang untuk mewujudkan impian kendati langkahnya bersama tim Yogyakarta terhenti secara dramatis pada fase grup di MilkLife Soccer Challenge All-Stars.

Kesamaan lain, keduanya berani untuk memimpikan sesuatu yang berani. Orangtua mereka masing-masing sempat meminta anak-anak itu berhenti karena tak tega harus beradu fisik di lapangan atau sedih saat menelan kekalahan. Namun, karena anak-anak itu berkukuh, orangtua mereka luluh dan akhirnya mendukung penuh.

Lain Ayla dan Amanda, lain juga Ika Wonda (10). Pemain asal Puncak Jaya, Papua Tengah, ini tidak pernah terpikir pada akhirnya punya mimpi jadi pesepak bola putri. Impian itu baru tumbuh saat mengikuti turnamen sepak bola putri untuk pertama kalinya di MilkLife Soccer Challenge 2024 seri Surakarta.

”Saya pengin kayak Kak (Marsela) Awi, bisa main di timnas,” kata Ika yang selalu tersenyum. Marsela Awi adalah pesepak bola putri yang juga berasal dari Tanah Papua. Dia beberapa kali membela timnas Indonesia.

Pemain MilkLife All-Star Solo, Ika Wonda (kiri), berebut bola dengan pemain MilkLife All-Star Tangerang, Shilen Nailenka Khanza, pada babak grup MilkLife Soccer Challange All-Star di SuperSoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (25/1/2025). Solo menang 4-0. KOMPAS/HERU SRI KUMORO 25-01-2025

Impian Ika kian menguat ketika mendapatkan tambahan motivasi dari para pemain timnas lainnya yang datang ke Kudus. Claudia Scheunemann, Shafira Ika, dan Sheva Imut datang menyaksikan Ika dan tim Surakarta bertarung melawan tim Kudus dalam partai final MilkLife Soccer Challenge All-Stars.

Inspirasi pemain timnas

Terutama Claudia, pemain timnas menjelma idola bagi para pesepak bola putri belia. Nama Claudia bahkan sering disebut ketika para pesepak bola putri belia ini ditanya soal siapa idola mereka.

Saat Claudia, Shafira, dan Sheva datang ke tribune, para pemain antusias meminta tanda tangan dan foto. Tak sedikit yang bahkan mendadak membuka sepatu untuk ditandatangani idolanya. Mereka tersenyum lebar ketika berhasil mendapatkan tanda tangan tersebut.

”Clau senang ada turnamen khusus sepak bola putri. Dulu waktu Clau kecil tidak ada. Jadi, lihat ini luar biasa,” ujar Claudia, yang debut bersama timnas putri senior pada usia 13 tahun.

Para pemain MilkLife All-Stars Kudus menyapa penonton yang memberikan dukungan dalam laga final Milk-Life Soccer Challenge All-Stars di SuperSoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Minggu (26/1/2025). Kudus menjadi juara setelah mengalahkan Solo dengan skor tipis 1-0.
Pemain MilkLife All-Stars Solo, Delisha Cahaya Istighfara (dua dari kanan), menggunakan penyangga kaki karena cidera saat akan dimulainya laga final MilkLife Soccer Challenge All-Stars melawan Kudus di SuperSoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Minggu (26/1/2025).
Selebrasi para pemain MilkLife All-Star Solo setelah wasit meniup peluit panjang berakhirnya pertandingan semifinal MilkLife Soccer Challange All-Star melawan tim MilkLife All-Star Jakarta di SuperSoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (25/1/2025).
Selebrasi para pemain MilkLife All-Stars Kudus setelah memenangi pertandingan melawan tim Solo dalam laga final Milk-Life Soccer Challenge All-Stars di SuperSoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Minggu (26/1/2025). Kudus menjadi juara setelah menang tipis 1-0.
Selebrasi pemain MilkLife All-Stars Surabaya setelah wasit meniup peluit berakhirnta pertandingan melawan tim MilkLife All-Stars Jakarta pada laga perebutan tempat ketiga MilkLife Soccer Challenge All-Stars di SuperSoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Minggu (26/1/2025).
Ucapan syukur pelatih dan pemain tim MilkLife All-Stars Surabaya, Ridwan Anwar (kiri) dan Emily Zitara setelah memenangi laga perebutan tempat ketiga MilkLife Soccer Challenge All-Stars melawan tim MilkLife All-Stars Jakarta di ruang ganti SuperSoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Minggu (26/1/2025).
Laga final MilkLife Soccer Challenge All-Stars antara tim Kudus melawan Solo di SuperSoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Minggu (26/1/2025). Kudus menjadi juara setelah menang tipis 1-0.

Claudia berharap turnamen yang telah berjalan sejak 2023 ini terus digelar secara konsisten dan berjenjang. Dengan begitu, para pemain juga bisa reguler ikut kompetisi. ”Harus kerja keras, jangan cepat putus asa, tapi juga jangan cepat puas diri, harus banyak latihan,” kata Claudia berpesan kepada adik-adiknya.

Pelatih timnas putri Satoru Mochizuki, yang juga datang ke Kudus, mengatakan, turnamen akan menjawab keinginan atau impian perempuan menjadi pesepak bola. Turnamen jadi panggung kemampuan mereka sekaligus tempat untuk menyebarkan kecintaan pada sepak bola.

Mochizuki juga meyakini inspirasi dan motivasi dari para pemain timnas putri akan turut menguatkan hati para anak dengan impian berani mereka. Impian itu tidak bisa berdiri sendirian. Perlu ada dukungan dari berbagai pihak agar jalan yang terjal itu bisa dilewati.

Menyemai mimpi bersama

Dukungan itu pula yang menjadi landasan di balik penyelenggaraan MilkLife Soccer Challenge. Ketika menggagas turnamen itu, Presiden Direktur Djarum Foundation Victor Hartono memiliki mimpi besar membangun sepak bola putri Indonesia hingga mencapai level dunia. Victor percaya, jalan Indonesia ke Piala Dunia Putri akan terbuka jika sepak bola putri memiliki fondasi yang kuat.

Untuk itu, Victor menekankan pentingnya dukungan lewat pembinaan yang diawali dengan pemasalan, lalu penyelenggaraan turnamen, serta memastikan turnamen berjalan regular dan berjenjang. Hal itu terwujud lewat MilkLife Soccer Challenge.

”Kita mendekati mimpi itu,” ujar Victor. Namun, menurut Victor, masih ada beberapa tahun lagi untuk terus mengevaluasi dan mengembangkan sepak bola putri.

”Kita sudah mulai pada umur 10 dan 12 tahun, lalu akan lanjut pada usia 14 dan 16 tahun. Nanti ada tantangan baru dalam bentuk Piala AFF U-16 sebagai tuan rumah. Kuncinya adalah berjenjang dan berkelanjutan,” ujarnya.

Pemain MilkLife All-Stars Kudus, Giada Soebianto (kanan), berhasil melewati pemain MilkLife All-Stars Solo, Adinda Resti Widayati, pada laga final MilkLife Soccer Challenge All-Stars di SuperSoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Minggu (26/1/2025). Dalam laga final, Kudus mengalahkan Solo dengan skor 1-0.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO
26-10-2025

Seiring perjalanannya, Victor juga melihat sepak bola putri juga jadi wajah keberagaman bangsa. Dengan para pemain datang dari berbagai sekolah, daerah, dan latar belakang suku dan agama, turnamen sepak bola putri menjadi pengingat bahwa meski berbeda-beda, mereka tetap satu lapangan dan impian jua.

Bagi Amanda, Ayla, Ika Wonda, ataupun para pemimpi belia ini, dukungan sekeliling berarti membuat dunia yang dulunya tampak jauh dari jangkauan kini terasa dekat. Impian mereka telah disemai dan mulai tumbuh.

Saat Amanda mengingat momen tiga bulan lalu ketika memutuskan pindah sekolah, lagu ”Menggapai Puncak Dunia” milik JKT48 dan Laleilmanino yang jadi soundtrack animasi Nyla terdengar di Stadion Supersoccer Arena. Amanda tersenyum.

Tak ingin mimpiku jadi

Bunga di tidurku lagi

Biarkan angan ini

Kubawa pergi terbang tinggi melayang

Menggapai puncak dunia…


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji