Melalui tema ”Metamorph”, Rekam Jakarta 2025 mengabadikan transformasi Jakarta lewat 62 foto tunggal dan 10 foto cerita karya anggota PFI Jakarta.
30 Agt 2025 09:00 WIB · Klinik Foto
Sebuah foto menampilkan sosok anak muda bersorot mata tajam. Dengan tangan berbalut sarung tinju, gestur bengisnya menegaskan ia siap melepas pukulan. Sementara itu, beberapa foto lain merekam momen anak-anak muda saling menjulurkan tangan, beradu jotos, hingga terbaring letih di atas ring.
Foto cerita milik Jamal Ramadhan tersebut menjadi karya pembuka dalam pameran Rekam Jakarta 2025 bertajuk ”Metamorph” yang dihelat sejak Jumat (22/8/2025) di Cemara 6 Galeri, Toeti Heraty Museum, Jakarta. Bukan tanpa alasan, kurator memilih visual bernuansa jalanan itu sebagai introduksi untuk menyiratkan pesan kepada audiens bahwa inilah realitas kehidupan di Jakarta: keras dan saling gilas.
Kita seperti dipersiapkan sejak dini untuk menghadapi kerasnya kehidupan di Jakarta. Hal itu tergambar lewat anak-anak muda yang sedang berlatih tinju.
Siapa sangka, anak-anak muda itu berlatih tinju di sebuah tempat bernama Sasana Ayuba Camp di kolong Tol Papanggo, Jakarta Utara. Di balik kusutnya Jakarta, mereka sibuk menyalurkan energi masa mudanya dengan cara yang positif. Hal ini tentu menjadi anomali di tengah kehidupan remaja pinggiran Jakarta yang kerap diwarnai tawuran.
Di antara visual lain yang menyoroti hal-hal negatif tentang Jakarta, foto cerita Jamal Ramadhan menjadi narasi penyeimbang. Ia berhasil menghadirkan optimisme di tengah kompleksitas masalah di Jakarta. ”Kalau mau nyalurin energi buat berantem, ya, mending begini. Kalau diseriusin, bisa jadi atlet,” ucap pewarta foto Kumparan tersebut.
Seperti yang ditulis Jamal pada narasinya, pendiri Sasana Ayuba Camp bertekad mengubah energi anak-anak muda yang biasa disalurkan untuk berkelahi menjadi prestasi. Bahkan, sejak berdiri pada 2006, beberapa petinju lulusan kolong tol itu berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah nasional dan internasional.
Kisah sasana tinju di kolong tol menunjukkan sisi positif dan negatif Jakarta dalam satu bingkai. Dengan rangkaian foto yang didominasi aksi, teknik slow shutter speed dengan lampu kilat turut memperkuat kesan dinamis pada foto-foto Jamal. Selain itu, warna hitam putih sengaja dipilih untuk menunjukkan pencahayaan yang kontras di kolong tol.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/25/e6c750553c4a56f07bf5cc871aef4836-20250822YGA11.jpg)
Dalam pameran Rekam Jakarta 2025, imaji tentang ibu kota ditampilkan melalui 62 foto tunggal dan 10 foto cerita karya 53 anggota Pewarta Foto Indonesia (PFI) Jakarta. Bertumpu pada tema ”Metamorph”, para pewarta merekam transformasi Jakarta dalam setahun terakhir. Meski demikian, potret abadi Jakarta—seperti banjir, kemacetan, dan kebakaran—masih mendominasi pameran ini setiap tahun.
Menurut Puspa Perwitasari, menyajikan hal baru dalam Rekam Jakarta menjadi tantangan tersendiri bagi para kurator. Dari beragam karya yang masuk, para kurator harus jeli meneliti perubahan Jakarta dari berbagai aspek, antara lain fasilitas publik dan gaya hidup masyarakat. ”Selain menampilkan perubahan, kita juga soroti peristiwa besar yang terjadi setahun terakhir, seperti banjir di Jakarta dan Bekasi awal tahun lalu,” tutur redaktur foto Antara tersebut.
Tahun ini, inovasi hadir dari sisi penyajian karya. Dari 10 foto cerita yang dipamerkan, dua di antaranya dikemas dengan konsep instalasi untuk memperkuat isu yang disampaikan. Karya Ramdani menjadi salah satunya. Pewarta foto Media Indonesia itu menyajikan seri potret para pencari peruntungan di bursa kerja dengan sangat personal. Sebagai pemanis, bingkai serupa map coklat dengan margin merah dan biru yang khas terpasang membayangi setiap foto yang ditampilkan.
Sekilas, foto-foto potret milik Ramdani terasa sederhana. Tampil rapi berkemeja, beberapa orang berpose dengan tumpukan map dan berkas lamaran kerja. Namun, kisah-kisah muram tentang minimnya lapangan kerja di Indonesia terselip di dalamnya. Dengan senyum tipis, mereka seolah menutupi getirnya menjadi pencari kerja di Jakarta.
Jika menilik ke belakang, memotret bursa kerja telah menjadi pengalaman repetitif bagi Ramdani sebagai pewarta foto. Beberapa tahun sebelumnya, pertemuan dengan seorang pencari kerja asal Sukabumi, Jawa Barat, mengilhami Ramdani untuk memotret bursa kerja dengan pendekatan visual yang berbeda. ”Kalau potret itu, kan, enaknya kita punya ikatan emosional dengan subyek yang kita foto, jadi kita bisa ngebayangin berada di posisi mereka kayak gimana,” ucapnya.
Hingga hari ini, Jakarta masih menjadi magnet bagi para perantau. Hal itu tecermin dalam sosok Sandi (23) yang diabadikan Ramdani. Pria asal Sumatera Utara itu rela berangkat dari Karawang, Jawa Barat, sejak subuh agar bisa sampai lokasi sebelum bursa kerja dibuka. Lewat perjuangan orang-orang dalam fotonya, Ramdani ingin menunjukkan bagaimana negara tak mampu lagi menyediakan kesempatan kerja yang seharusnya.
Di tengah wajah Ibu Kota yang terus berubah, Rekam Jakarta hadir sebagai jeda sunyi. Lewat bidikan lensa para pewarta, kita diajak menyusuri kehidupan urban yang kerap luput dari penglihatan.
Penulis:
Adryan Yoga ParamadwyaEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul