Pewarta Foto di Tengah Arus Kencang Multimedia

Ketidakpastian nasib media konvensional membuat pewarta foto harus lebih kreatif menghadapinya.  Belajar banyak keterampilan menjadi salah satu cara untuk bertahan.

26 Agt 2025 07:00 WIB · Klinik Foto

Oleh Fakhri Fadlurrohman

Disrupsi digital hari ini memaksa media konvensional harus beradaptasi. Kecepatan yang tidak terbendung membuat wartawan saat ini dituntut memiliki multi keterampilan. Wartawan tidak lagi hanya memiliki satu keterampilan seperti menulis, memotret, atau merekam video. 

Hal itu disampaikan Shoot Editor BBC News Asia Pasific, Haryo Bangun Wirawan, dalam lokakarya yang digelar Pewarta Foto Indonesia (PFI) Jakarta pada Sabtu (23/8/2025). Lokakarya ini merupakan rangkaian dari pameran  Foto Rekam Jakarta 2025 bertajuk ”Metamorph” yang berlangsung pada 22 sampai 28 Agustus 2025. 

Haryo menyampaikan bahwa wartawan saat ini harus sadar dengan kecepatan digital yang mengharuskan wartawan memiliki lebih dari satu keterampilan. Ia mencontohkan, wartawan foto yang sehari-hari bekerja memotret kini harus bisa mengembangkan keterampilannya di bidang videografi. Pengembangan ini memerlukan adaptasi yang memengaruhi ritme kerja wartawan foto.

Shoot Editor BBC News Asia Pasific, Haryo Bangun Wirawan, berbicara di lokakarya bertajuk ”Menyongsong Dunia Konten Kreator di Tengah Ledakan Multimedia” di Cemara 6 Galeri - Toeti Heraty Museum, Jakarta, Sabtu (23/8/2025).

”Foto itu bisa lebih cepat selesai liputannya dibandingkan dengan video. Kalau videografer banyak frame yang dibuat dan juga harus membangun alur cerita yang berkesinambungan,” ujar Haryo di Cemara 6 Galeri - Toeti Heraty Museum, Jakarta.

Dalam lokakarya itu, Haryo memperlihatkan cara bagaimana membuat video-video yang dapat menarik tingkat interaksi warganet saat melihat konten yang dibuat. Ia menyebutkan, dalam membuat video, ide cerita harus sederhana. Alur cerita dan naskah pun harus diperhatikan dengan baik.

Beberapa teknis pembuatan video juga ia paparkan, di antaranya seperti adegan pembuka di video haruslah adegan yang paling menarik agar membuat orang bertahan di konten yang ia buat.

”Dalam sepersekian detik, orang bisa bertahan atau meninggalkan konten yang dia lihat hanya dengan menggulirkan jari di ponselnya,” ucapnya.

Wartawan di Katedral

Pengembangan keterampilan itu tidak hanya sebagai kebutuhan media tempat wartawan itu bekerja. Namun, dalam hal yang lebih luas, keterampilan-keterampilan baru itu bisa digunakan wartawan untuk membangun personal pribadi di media sosialnya dengan cara membuat konten. Menurut dia, wartawan saat ini sudah harus bisa membuat konten yang bisa menjadi pemasukan di luar pekerjaan utamanya.

Cara itu menjadi salah satu upaya agar wartawan dapat bertahan di tengah era disrupsi digital. Wartawan saat ini dihadapkan dengan tantangan zaman yang tidak mudah. Ekosistem media massa yang tidak baik-baik saja membuat ancaman pemutusan hubungan kerja atau PHK bisa datang kapan saja.

Wartawan foto senior, Bagus Indahono, sudah mempraktikannya. Menurut Bagus, yang sejak 2003 bergabung dengan agensi foto European Pressphoto Agency (EPA) Images, hampir seluruh penugasan yang dikerjakannya adalah memotret peristiwa. Namun, kebiasaan kerjanya itu berubah pada 2022 saat perusahaannya menugaskan wartawan foto untuk juga mengambil video.

Siluet Shoot Editor BBC News Asia Pasific, Haryo Bangun Wirawan, berbicara dalam lokakarya bertajuk ”Menyongsong Dunia Konten Kreator di Tengah Ledakan Multimedia” di Cemara 6 Galeri - Toeti Heraty Museum, Jakarta, Sabtu (23/8/2025).

Tugas kerja yang menambah ini membuat Bagus sedikit keteteran. Alur kerja yang tidak biasa membuat ia harus beradaptasi dengan cepat.

”Yang pasti awalnya rumit. Saya harus membiasakan diri kapan waktunya untuk memotret dan kapan waktunya untuk mengambil video,” kata Bagus.

Dua keterampilan dalam satu waktu ini terkadang membuat Bagus harus mengorbankan moment di salah satu tugasnya. Tidak jarang Bagus harus merelakan momentum untuk foto saat dia sedang mengambil video, begitu juga sebaliknya.

”Ketinggalan moment itu juga menjadi masalah di tempat kerja. Terkadang, redaktur menanyakan kenapa tidak dapat moment bagus itu difoto. Tapi, akhirnya mereka memaklumi juga karena tugas saya sekarang jadi double,” tuturnya.

Kebiasaan membuat video itu disambut dengan positif oleh Bagus. Keterampilannya itu tidak hanya ia gunakan untuk pekerjaannya, kini Bagus membuat konten video dari hobi memancingnya.

Konten hobinya itu ia unggah di platform Youtube dan sudah memiliki sebanyak 10.000 pengikut. Akun Youtubenya itu akan ia kembangkan sebagai tabungan setelah pensiun menjadi wartawan foto.

Pewarta foto dengan berbagai peralatan saat mengabadikan turnamen Piala Asia di Qatar bulan Januari 2024. KOMPAS/IWAN SETIYAWAN (SET) 21-01-2024

PFI sebagai wadah yang menaungi profesi pewarta foto juga sudah menangkap pergeseran ini sejak lama. Pada tahun 2017, di ajang Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI), dimunculkan kategori multimedia menjadi salah satu kategori karya yang dilombakan. APFI merupakan lomba karya foto jurnalistik tahunan paling bergengsi bagi kalangan pewarta foto di Indonesia. Namun, sayangnya, kategori multimedia ini hanya bertahan di tiga tahun penyelenggaraan sebelum ditiadakan karena kurangnya peminat.

Jauh sebelum PFI membuat kategori multimedia, ajang bergengsi tingkat dunia World Press Photo Contest sudah lebih dulu memunculkan kategori multimedia di tahun 2011. Meskipun di awalnya terjadi pro dan kontra tentang batasan visual still (foto) dan motion (video), kategori ini terus berkembang dan bertahan hingga saat ini seiring berkembangnya teknologi digital dan akal imitasi.

Wartawan Kompas mengabadikan burung maleo di Pusat Konservasi Eksitu Maleo yang dikelola PT Donggi Senoro LNG di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, 26 Juni 2019. KOMPAS/IWAN SETIYAWAN (SET) 26-06-2019

Yayasan World Press Photo pada tahun 2012-2013 pernah melakukan riset tentang multimedia yang dipimpin David Campbel, seorang profesor yang ahli di bidang visual. Di hasil risetnya, Campbel mengungkapkan bahwa yang disebut konten multimedia tidak bisa dimasukkan hanya satu genre. Multimedia melibatkan kombinasi gambar, suara, grafik, dan teks untuk menghasilkan sebuah cerita, dan muncul dalam berbagai bentuk. Kombinasi itu dapat berupa galeri foto daring tempat gambar digabungkan dengan keterangan teks, hingga tayangan slide audio, video linear (baik berdurasi pendek maupun panjang), infografis animasi, interaktif non-linear, serta dokumenter web skala penuh dan film siaran.

Perkembangan teknologi digital di dunia fotografi turut mendorong perkembangan karya multimedia. Saat ini hampir semua kamera foto yang digunakan para pewarta foto juga dilengkapi fitur perekam video. Alangkah mubazir jika pewarta foto tidak mengoptimalkan teknologi yang sudah disematkan di alat kerjanya. Melengkapi karya foto dengan karya video atau multimedia akan menambah kualitas berita ataupun konten yang dibuat.

Di tengah ketidakpastian nasib media konvensional hari ini memaksa wartawan harus lebih kreatif dalam menghadapinya. Multi keterampilan menjadi salah satu cara agar wartawan bisa bertahan di tengah era yang tidak mudah.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fakhri Fadlurrohman
 | 

Editor:

Iwan Setiyawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto