Mesin Kapal Mati, Lalu Miring, dan Tenggelam Ditelan Selat Bali

Penumpang musibah kecelakaan KMP Tunu Pratama Jaya yang selamat menceritakan bagaimana detik-detik peristiwa tenggelamnya kapal itu di Selat Bali.

04 Jul 2025 19:08 WIB · Nasional

Oleh Defri Werdiono

Mesin kapal mati. Peristiwanya berlangsung cepat. Tidak ada alarm. ”Hanya 2-3 menit, badan kapal yang semakin miring itu lalu tenggelam ditelan laut,” kata Bahrul (26), salah satu penumpang Kapal Motor Penumpang Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di Selat Bali, Rabu (2/7/2025).

Bersama keluarga dan sejumlah kerabat, Jumat (4/7/2025) siang, Bahrul memilih bertahan di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur. Beralaskan selembar tikar, lelaki asal Ledokombo, Jember, itu memilih duduk lesehan di teras ruang tunggu penumpang. Dia menunggu kabar mengenai adik iparnya, Budi Hartono (29). Doa dan harapan pun terpanjat agar sang adik yang belum diketahui nasibnya itu bisa ditemukan dalam kondisi selamat.

Seperti biasa, pada malam naas itu, Bahrul bersama Budi tengah dalam perjalanan dari Jember menuju Kintamani, Bali. Keduanya mengendarai mobil bak terbuka untuk mengantar ikan konsumsi. Kegiatan seperti itu biasa mereka lakukan, bahkan hingga tiga kali dalam sepekan, termasuk saat gelombang tinggi terjadi. 

Namun, Rabu malam itu, begitu pikap yang mereka naiki masuk lambung Kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya, Budi langsung naik ke dek penumpang. Sementara Bahrul yang mengemudikan pikap Mitsubishi L300 itu memilih tetap di kabin kendaraan sambil main telepon seluler.

Akan tetapi, baru beberapa saat berlayar, kondisi tidak biasa terjadi. Air masuk mulai ke lambung. ”Tiba-tiba kapal mati lampu, mesinnya juga. Lalu miring. Merasa ada yang tidak beres dan mendengar teriakan, saya langsung naik ke dek. Sampai di dek, Budi memberikan pelampung ke saya. Dia juga mengenakan pelampung,” ujarnya.

Keluarga penumpang KMP Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di Selat Bali tengah menunggu kabar keluarga mereka di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (4/7/2025).

Kepanikan pun terjadi. Dalam situasi gelap, banyak penumpang, termasuk anak kecil, berteriak minta tolong sebelum badan kapal lenyap ditelan Selat Bali. Sebagian berebut skoci dan lainnya ada yang langsung terjun ke laut tanpa melihat lagi teman dan sanak saudara di sampingnya, termasuk Bahrul yang tidak tahu ke arah mana Budi berupaya menyelamatkan diri.

Bahrul sendiri berhasil naik ke skoci bersama 15 orang lainnya dari total kapasitas skoci yang 25 orang. Setelah sekitar tujuh jam terombang-ambing di perairan, sekitar pukul 07.00 WIB, Bahrul dan penumpang lainnya diselamatkan oleh nelayan di daerah Pebuahan, Bali.

”Saya sempat menolong menaikkan ibu dan seorang anak berusia tiga tahun ke atas skoci. Namun, sayangnya, sang anak kemudian meninggal. Dia digendong ibunya. Di atas skoci, ibunya tidak sadarkan diri,” tuturnya.

Dari informasi yang beredar, menurut Bahrul, kemungkinan masih ada penumpang yang tidak bisa menyelamatkan diri saat kapal itu tenggelam. Ketika di lambung kapal, biasanya, tak semua penumpang keluar dari kendaraan dan naik ke dek. Apalagi kondisinya malam, banyak yang tidur. ”Infonya masih ada yang didalam (kendaraan) travel,” ujarnya.

Tak hanya Bahrul dan keluarga besar yang rela menunggu kabar sanak saudara. Hingga hari kedua pascamusibah, ada puluhan keluarga lainnya yang masih bertahan di ruang tunggu penumpang Dermaga Penyeberangan Ketapang. Salah satunya Sutrisno (55).

Sambil menghabiskan nasi kotak, Sutrisno mengaku bergantian dengan anggota keluarga yang lain. Warga Desa Sumbergondo, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, itu menunggu kabar terbaru tentang keponakannya, Daniar, yang turut menumpang KMP Tunu Pratama Jaya.

Keluarga penumpang KMP Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di Selat Bali tengah menunggu kabar keluarga mereka di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (4/7/2025).

Kala itu, sang keponakan yang bekerja di salah satu tambang di Kalimantan naik travel menuju Bali untuk menemui calon istrinya. ”Harapannya, dia bisa segera ditemukan dan selamat. Itu ibunya juga ikut menunggu di sini. Sejauh ini, tim SAR gabungan telah bekerja keras mencari keberadaan penumpang kapal,” ujarnya.

Sutrisno mendapat informasi terkait musibah itu pada Kamis dini hari. Saat itu juga keluarga langsung meluncur ke Ketapang.

Proses pencarian penumpang kapal terus dilakukan oleh tim SAR gabungan. Penyisiran tak hanya dilakukan melalui perairan, tetapi juga sepanjang pantai di Ketapang dan Glimanuk. Pencarian juga dilakukan melalui udara.

Upaya pencarian sepanjang Jumat (4/7/2025) tidak membuahkan hasil. Terkait data korban, dari hasil konfirmasi ulang, total penumpang yang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat sebanyak 30 orang dan 6 orang lainnya meninggal dunia. Berdasarkan data jumlah manifes, KMP Tunu Pratama Jaya membawa 53 penumpang, 12 kru, dan 22 unit kendaraan. Dengan demikian, total penumpang dalam pencarian sebanyak 29 orang.

Deputi Bidang Operasi Pencarian dan Pertolongan dan Kesiapsiagaan Basarnas R Eko Suyanto mengatakan, upaya pencarian terus dilakukan dengan melibatkan berbagai elemen, mulai dari Basarnas, TNI, Polri, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP), hingga sejumlah pihak lain.

Pencarian melibatkan sejumlah kapal, seperti Kapal Negara (KN) Permadi dan KN Arjuno. Ada juga tambahan dari TNI Angkatan Laut berupa KRI Teluk Ende, KRI Tongkol, serta satu pesawat CN-235. Dari Polri juga ada tambahan satu helikopeter dan 1 helikopter Basarnas.

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, yang turun langsung ke Ketapang, memberi arahan agar pencarian dioptimalkan dengan memaksimalkan periode golden time 3 x 24 jam. Tak hanya pada siang hari, pencarian juga dilakukan di malam hari.  

Upaya pencarian korban Kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di Selat Bali diintensifkan dengan memanfaatkan masa krusial "golden time" selama 3 x 24 jam sejak insiden terjadi pada Rabu (2/7/2025) malam.

Sementara itu, Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) akan melakukan investigasi penyebab tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali. Namun, investigasi itu akan dilakukan setelah pencarian dan pertolongan oleh tim SAR gabungan selesai.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan, investigasi akan dimulai sejak kapal berangkat, terkait bagaimana proses pengeluaran Surat Persetujuan Berlayar (SPB) hingga apakah persyaratan-persyaratan di dalamnya, seperti cuaca, kelaikan kapal, dan dokumen-dokumen sesuai peraturan.

”KNKT tugasnya melakukan investigasi guna mengetahui penyebab kecelakaan. Namun, di dalam operasi SAR ini kita saling membantu bagaimana bisa menemukan korban, baik yang selamat maupun meninggal, secepatnya. Jadi, yang bisa kita lakukan saat ini adalah ikut koordinasi dengan SAR. Nanti kalau SAR sudah closed (selesai), kami akan lakukan investigasi,” ujarnya.

Saat musibah terjadi, kata Soerjanto, pelaksanaan tanggap darurat di kapal ikut menjadi perhatian. ”Kami juga mengumpulkan bukti-bukti video dari media sosial bagaimana kondisi ketika kerjadi darurat di kapal,” katanya.

Di kapal juga ada alat keselamatan, termasuk alat yang memancarkan beacon ketika tenggelam secara otomatis, serta rakit penyelamat (skoci). ”Nah, berapa skoci yang aktif saat kecelakaan terjadi? Sebab, dalam kondisi darurat, keberadaan skoci sangat membantu penumpang untuk menyelamatkan diri sambil menunggu tim penyelamat tiba,” ujarnya.

Pihaknya juga akan melakukan evaluasi mengapa saat kecelakaan, saat kecelakaan sebelumnya, di sini, mengalami hal yang sama, yakni live raft-nya (rakit penyelamat) tidak berkembang. ”Hal-hal yang berulang seperti ini akan jadi perhatian kami untuk segera keluarkan rekomendasi serupa untuk segera dilakukan evaluasi,” ujarnya.

Menurut Soerjanto, mengapa terjadi korban dan masalah penyebab kecelakaan nantinya akan jadi bahan evaluasi. Kelemahan-kelemahan ini akan dimasukkan dalam rekomendasi KNKT agar ke depan kecelakaan dengan penyebab yang sama bisa dihindarkan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Defri Werdiono
 | 

Editor:

Mukhamad Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto