Meski dalam Tekanan, Saham Perbankan Masih Memiliki Potensi

Sejak awal tahun, saham-saham perusahaan finansial tengah dalam tren pelemahan. Namun, terbuka potensi penguatan seiring pemangkasan suku bunga.

21 Jul 2025 18:19 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Agustinus Yoga Primantoro

JAKARTA, KOMPAS — Pergerakan harga saham-saham emiten perbankan cenderung melemah. Berkaca dari tren sebelumnya, pemotongan suku bunga acuan hanya dapat memberikan sedikit katalis. Prospek ke depan akan sangat ditentukan oleh laju kredit, yang turut dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi.

Hingga penutupan pasar pada Senin (21/7/2025), pergerakan harga saham-saham emiten perbankan masih menunjukkan tren pelemahan. Harga saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, misalnya, ditutup Rp 3.830 per lembar saham atau melemah 6,13 persen secara tahun kalender berjalan.

Begitu pula dengan saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI, masing-masing melemah sebesar 17,89 persen dan 6,44 persen. Di lini swasta, saham PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dan PT Bank CIMB Niaga Tbk juga mengalami tekanan, masing-masing 12,66 persen dan 1,16 persen.

Sejalan dengan itu, pergerakan harga saham-saham di sektor finansial pun cenderung merosot sejak awal tahun 2025. Pada penutupan perdagangan Senin (21/7/2025), indeks yang mencakup 106 emiten perusahaan finansial itu berada di level 1.375,22 atau melemah 2,71 persen secara tahun kalender berjalan.

Warga melintas di sekitar mesin anjungan tunai mandiri (ATM) di Bandara Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (23/1/2025). Bank Indonesia melaporkan bahwa penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) untuk pembayaran berkembang pesat. Hal ini membuat penggunaan kartu ATM debit untuk bertransaksi semakin berkurang. KOMPAS/HERU SRI KUMORO 23-01-2025

Pengamat pasar modal, Budi Frensidy, berpendapat, kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor, seperti pertumbuhan ekonomi yang melambat, turunnya daya beli, lesunya dunia usaha, serta meningkatnya rasio kredit macet (NPL) perbankan.

”Selain itu, investor juga khawatir bank-bank BUMN mendapatkan banyak penugasan dari pemerintah, seperti Koperasi Desa Merah Putih. Ini semakin menambah sentimen investor, terutama investor asing terhadap sektor perbankan, terutama bank-bank BUMN,” katanya saat dihubungi dari Jakarta.

Kekhawatiran tersebut mengakibatkan aliran modal asing ke pasar saham, khususnya di saham-saham sektor perbankan pun keluar. Ini tampak dari data Bank Indonesia (BI) yang melaporkan, terjadi arus keluar investor asing di pasar saham sebesar Rp 1,91 triliun selama periode 14-17 Juli 2025.

Berdasarkan data setelmen sejak awal tahun hingga 17 Juli 2025, investor asing mencatatkan jual neto Rp 47,11 triliun di pasar keuangan domestik. Ini terdiri dari jual neto Rp 58,01 triliun di pasar saham dan Rp 48,07 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), sedangkan pasar Surat Berharga Negara (SBN) mencatatkan beli neto Rp 59,97 triliun.

Infografik Kinerja Himbara Triwulan I-2025

Di sisi lain, pemotongan suku bunga acuan oleh BI yang telah dilakukan sebanyak tiga kali sejak awal tahun ini akan berdampak positif bagi pergerakan saham perbankan. Namun, efeknya tidak sepenuhnya dapat mengimbangi seluruh isu negatif yang menyelimuti sektor perbankan.

Budi yang juga Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia menambahkan, isu-isu negatif tersebut menyebabkan kinerja industri perbankan kurang optimal. Kondisi itu antara lain tecermin dari pertumbuhan kredit per Juni 2025 yang sebesar 7,77 persen secara tahunan atau terendah sejak Maret 2022.

”Normalnya, pertumbuhan kredit itu 3-4 kali dari pertumbuhan ekonomi dan sekarang hanya sekitar 1-2 kali pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Quote

Mayoritas investor asing menempatkan dananya di saham perbankan. Derasnya aliran modal asing yang keluar sejak awal tahun menyebabkan harga saham-saham perbankan pun anjlok.

Ia merekomendasikan, para investor kalangan menengah ke bawah sebaiknya mengendalikan pengeluaran di tengah ekonomi yang semakin tertekan. Secara selektif, investasi tetap bisa dilakukan, antara lain di SBN, obligasi korporasi berkinerja baik, serta saham-saham defensif yang memberikan dividen besar.

Senada, Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani berpendapat, mayoritas investor asing menempatkan dananya di saham perbankan. Derasnya aliran modal asing yang keluar sejak awal tahun menyebabkan harga saham-saham perbankan pun anjlok.

Pergerakan saham terpantau dari monitor elektronik di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (8/7/2025). Pergerakan indeks pasar saham cenderung stabil saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump merilis tarif baru pada beberapa mitra dagangnya, termasuk Indonesia, pada Selasa pagi WIB.

Selain itu, volatilitas pasar juga dipengaruhi faktor global, seperti ketidakpastian penerapan kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS). Dari sisi domestik, ketidakpastian mengenai kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada awal tahun serta pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri tekstil turut menekan pasar saham.

”Ini semua membuat pasar saham mengalami volatilitas yang tinggi dan keluarnya aliran dana asing (outflow) pada paruh pertama 2025. Namun, ke depan sentimen dan outlook seharusnya membaik,” kata Arjun.

Prospek ke depan

Menurut dia, keputusan BI untuk memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) pada Juli 2025 lalu dapat memberikan sentimen positif bagi pasar saham. Terlebih, BI juga masih melihat prospek pemangkasan lebih lanjut ke depan.

Namun, sentimen positif dari pemangkasan suku bunga tersebut cenderung bersifat jangka pendek. Ini sejalan dengan tren pergerakan indeks sektor finansial yang tumbuh positif pasca-keputusan pemangkasan suku bunga acuan.

Indeks Saham Sektor Finansial

Pasca-pemangkasan suku bunga sebesar 25 bps pada Januari 2025, misalnya, indeks sektor finansial mengalami tren kenaikan dalam sepekan hingg sekitar 5 persen. Begitu pula ketika BI memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 bps pada Mei 2025, indeks sektor finansial selama sepekan naik tipis sebesar 0,55 persen.

”Kesepakatan tarif dengan AS menjadi sentimen positif juga di pasar sehingga berpotensi membuat aliran dana asing kembali ke pasar saham dan kembali masuk emiten perbankan besar lagi. Selain itu, valuasi yang menarik (undervalued) dan pemangkasan BI Rate (suku bunga acuan) menjadi daya tarik bagi investor,” ujar Arjun.

Quote

Jika ekonomi tumbuh, otomatis terjadi pertumbuhan kredit sehingga memengaruhi NIM (’net interset margin’) dan pertumbuhan perbankan.

Dihubungi secara terpisah, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, berpendapat, empat saham bank besar (big four), meliputi BCA, BRI, Bank Mandiri, dan BNI masih ideal untuk menjadi pilihan investasi jangka panjang.

Sebaliknya, dalam jangka pendek, para investor lebih baik menunggu hingga volatilitas pasar mereda. Ke depan, Nafan memperkirakan, harga saham perbankan bisa menguat dipengaruhi oleh katalis positif dari pelonggaran kebijakan moneter ke depan yang telah dimulai dengan pemangkasan suku bunga pada Juli 2025.

”Kalau kita lihat range (jarak) antara BI Rate (suku bunga acuan) dengan inflasi sudah sangat terlampau jauh lebih dari 300 bps. Ini memang peluang bagi BI untuk mewujudkan kebijakan dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi. Jika ekonomi tumbuh, otomatis terjadi pertumbuhan kredit sehingga memengaruhi NIM (net interset margin) dan pertumbuhan perbankan,” kata Nafan.

Infografik Jumlah Investor Pasar Modal Indonesia

Sementara itu, Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus berpendapat, sektor finansial masih memiliki prospek yang cerah pada 2025. Ini didukung oleh penurunan suku bunga yang dapat mendorong penyaluran kredit.

Kendati demikian, kondisi global yang masih belum pasti membuat banyak perusahaan masih menahan diri untuk ekspansi. Akibatnya, penyaluran kredit pun tertahan sehingga akan turut berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi ke depan.

”Justru dengan kehadiran pemangkasan tingkat suku bunga, diharapkan akan memberikan stimulus terhadap perekonomian, meningkatkan penyaluran kredit, serta mendorong pinjaman kredit,” ujar Nicodemus.


Kerabat Kerja

Penulis:

Agustinus Yoga Primantoro
 | 

Editor:

Agnes Theodora
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari