Liverpool terhindar dari prediksi kebobolan banyak saat bertandang ke markas PSG. Dengan defisit hanya dua gol, segalanya masih mungkin terjadi di pertemuan kedua.
09 Apr 2026 19:08 WIB · Olahraga
AFP
PARIS, KAMIS — Paris Saint-Germain unggul segalanya atas Liverpool dalam pertemuan pertama perempat final Liga Champions Eropa di Stadion Parc des Princes, Paris, Perancis, Kamis (9/4/2026) dini hari WIB. Menang 2-0, PSG juga mendominasi jalannya laga sejak awal. Di tengah segala dominasi itu, hanya ada satu hal yang barangkali akan disesali Luis Enrique, yaitu kegagalan timnya mencetak lebih banyak gol.
Performa Liverpool dan PSG dalam beberapa pekan belakangan sungguh bertolak belakang. Sebelum menjejakkan kaki di perempat final, misalnya, PSG menghancurkan tim juara dunia Chelsea dengan agregat 8-2. ”Les Parisiens” juga memetik kemenangan dalam empat laga beruntun di semua kompetisi.
Bandingkan dengan Liverpool yang terus didera inkonsistensi sejak awal musim meski berstatus juara bertahan Liga Inggris. Dalam lima laga terakhir saja Liverpool hanya mampu memetik satu kemenangan, satu kali imbang, dan tiga kali kalah. Sebelum melawat ke markas PSG, Liverpool dibekap empat gol tanpa balas oleh Manchester City.
Dengan performa yang angin-anginan seperti itu, wajar jika banyak pengamat meragukan Liverpool bisa kembali memetik kemenangan atas PSG sebagaimana pada babak 16 besar musim lalu. Kala itu Liverpool bisa menang 1-0. Namun, saat ganti menjamu PSG, Liverpool justru takluk 0-1. Laga kemudian harus berlanjut ke adu tendangan penalti yang kemudian dimenangi PSG.
Jangankan menang, banyak pihak bahkan memprediksi Liverpool akan jadi lumbung gol PSG yang tampil dengan kekuatan penuh. PSG memang punya catatan selalu bisa menghancurkan tim-tim Inggris. Sebelumnya saja mereka telah menyingkirkan Aston Villa, Arsenal, dan terakhir Chelsea yang dibantai delapan gol.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/09/303fbdfc2ccc18b5a6460855bb3d5392-France_Champions_League_Soccer_1_.jpeg)
Akan tetapi, Liverpool membelokkan prediksi itu. Tampil di bawah tekanan suporter PSG, tim arahan Arne Slot berusaha tampil disiplin dalam bertahan. Demi meredam agresivitas serangan PSG yang haus gol, Slot sampai harus mengubah sistem Liverpool yang biasanya bermain dengan empat bek menjadi tiga bek.
”Kami berada dalam mode bertahan hidup selama beberapa periode pertandingan. Mungkin untuk periode musim yang sedang kami jalani, kami berada dalam mode bertahan hidup,” ujar Slot seusai laga.
”Jika kami merenungkan keseluruhan pertandingan, kami seharusnya beruntung hanya kalah 0-2 karena mereka memiliki lebih banyak peluang daripada gol yang mereka cetak,” lanjutnya.
Mode bertahan hidup yang disebutkan Slot merujuk pada cara bermain pasif Liverpool sepanjang laga melawan PSG. Tidak seperti PSG yang sejak awal melancarkan inisiatif serangan, para pemain Liverpool justru memilih menunggu.
Ketika para pemain PSG mencoba membangun serangan dari belakang dengan bola-bola pendek, trio lini depan Liverpool yang diisi Florian Wirtz, Hugo Ekitike, dan Dominik Szoboszlai tidak segera naik untuk menutup jalur umpan. Mereka baru berusaha merebut bola saat para pemain PSG mulai memasuki area permainan Liverpool.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/09/69d508df57d373ffbcd00567a59689f3-APTOPIX_France_Champions_League_Soccer_1_.jpeg)
Pendekatan seperti itu jelas membuat PSG sangat leluasa mengendalikan jalannya laga. Dari segi penguasaan bola, misalnya, PSG mendominasi hingga 74 persen. PSG juga lebih banyak mengancam dengan melepaskan 18 tembakan, dengan enam di antaranya tepat sasaran.
Di sisi lain, Liverpool sangat minim dalam urusan mengancam pertahanan PSG. ”Si Merah” total hanya melepaskan tiga tembakan sepanjang laga. Itu pun tidak ada yang mengarah ke gawang lawan. Ini adalah pertama kalinya Liverpool gagal melepaskan tembakan tepat sasaran dalam pertandingan Liga Champions sejak menghadapi Atalanta pada November 2020.
”Saya rasa di paruh terakhir pertandingan, yang terpenting adalah bertahan daripada berpikir kami bisa mencetak gol,” kata Slot.
Rencana Slot memang tidak berhasil. Liverpool tetap kalah, tetapi tidak seperti prediksi banyak pihak sebelumnya. Liverpool pulang dengan kekalahan yang masih mungkin dibalikkan pada pertemuan kedua pekan depan. Slot secara terbuka mengaku tidak akan kembali bermain pasif pada laga penentuan nanti.
”Sekarang kami membawa pertandingan kembali ke (Stadion) Anfield dan mudah-mudahan kami akan menampilkan permainan yang berbeda. Jelas dan nyata bahwa kami tidak akan menggunakan taktik yang sama seperti malam ini,” ujar Slot.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/09/7e5dcc0e954fdc1daf2abc7d4af70809-France_Champions_League_Soccer.jpeg)
Bermain bertahan untuk menghindari kebobolan banyak gol menciptakan kesan bahwa Slot hendak memanfaatkan keuntungan bermain di markas sendiri pada pertemuan kedua. Lolos ke fase gugur lewat posisi delapan besar menjadikan Liverpool berhak tampil sebagai tuan rumah pada pertemuan kedua. Keuntungan itu tidak dimiliki PSG yang melaju ke fase gugur lewat fase playoff lantaran finis di luar posisi delapan besar fase liga.
Secara psikologis, tim tuan rumah pertemuan kedua punya keuntungan untuk ”memanipulasi” hasil akhir laga. Keuntungan bermain di rumah sendiri akan benar-benar dimaksimalkan Liverpool.
Berkaca dari pengalaman musim lalu, Slot tentu menghindari skenario adu penalti yang menyebabkan Liverpool tersingkir. Mau tidak mau, Slot harus meminta para pemainnya tampil lebih agresif dengan mencetak tiga gol tanpa kebobolan.
Dukungan dari suporter Liverpool bisa menjadi pembakar semangat para pemain. Keuntungan bermain di markas sendiri pada pertemuan kedua itulah yang jadi alasan Liverpool pantang kebobolan banyak gol pada pertemuan pertama.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/09/24559a318a83c38c7d1972563124ca53-wires_photo_14_.jpg)
Defisit dua gol di atas kertas masih sangat mungkin diatasi Liverpool. Beda halnya jika mereka takluk lebih dari dua gol. Jika kebobolan banyak gol, bermain di markas sendiri pun tidak lagi menguntungkan, tetapi malah berbalik jadi tekanan.
Enrique pun menyadari, melawat ke markas Liverpool berbekal keunggulan dua gol saja belum membuat posisi PSG aman. Oleh karena itu, ia berjanji bakal mempersiapkan timnya agar mencegah kebangkitan Liverpool.
”Hari ini kami memainkan pertandingan yang sangat bagus, tetapi kami tahu akan sangat sulit bermain di Anfield. Kami akan menderita, tetapi inilah saat-saat Anda harus waspada. Akan sulit, tetapi pola pikir kami tetap sama, terlepas dari stadionnya. Kami akan pergi ke sana untuk menang,” tutur Enrique. (REUTERS)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti