Keyakinan masyarakat menguat. Namun, faktor ini diperkirakan belum akan mengantar pertumbuhan ekonomi 2025 mencapai target sebesar 5,2 persen.
16 Nov 2025 17:48 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/PRIYOMBODO
JAKARTA, KOMPAS — Keyakinan masyarakat terhadap perekonomian mulai menguat. Meski memberikan sinyal awal bagi perbaikan ekonomi, ekspektasi masyarakat masih belum cukup untuk mendorong pertumbuhan sesuai target.
Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) pada Oktober 2025 mengindikasikan, keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi meningkat. Ini tecermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Oktober 2025 yang berada pada level optimistis (di atas level 100), yaitu sebesar 121,2.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan indeks bulan sebelumnya sebesar 115. Adapun penguatan IKK ditopang oleh peningkatan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) sebesar 109,1 dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) sebesar 121,2.
Peneliti Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Deni Friawan, berpendapat, data tersebut dapat menjadi sinyal-sinyal awal (leading indicator) bahwa optimisme masyarakat mulai bangkit kembali.
”Memang kalau dilihat, kecenderungannya itu ada optimisme (masyarakat) yang sudah mulai bangkit. Jadi, ekspektasinya memang sudah membaik,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, pada Minggu (16/11/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/18/574b606039e0e88b5514db7c787caab3-FAK_4145.jpg)
Berkaca dari tren sebelumnya, IKK mulai turun, dari 121,7 pada April 2025 hingga menjadi 115 di September 2025. Capaian ini sekaligus menjadi catatan terendah sejak pandemi Covid-19, tepatnya di April 2022.
Penurunan IKK tersebut pun pada gilirannya terefleksi dalam konsumsi rumah tangga pada triwulan III-2025 yang berada di bawah 5 persen, yakni 4,89 persen. Angka ini lebih rendah dibanding triwulan II-2025 yang mencapai 4,97 persen dan triwulan III-2024 yang sebesar 4,91 persen.
Di sisi lain, pemerintah menggelontorkan paket ekonomi yang efektif berlaku pada triluwan IV-2025, di samping penurunan suku bunga dan suntikan dana sebesar Rp 200 triliun ke perbankan. Alhasil, ekspektasi masyarakat pun berbalik menguat pada Oktober 2025.
”Secara logika, itu (stimulus) pasti akan mendorong demand (permintaan), terutama yang dari sisi konsumsi. Dan, perkiraannya, pertumbuhan ekonomi (triwulan IV-2025) cenderung akan lebih tinggi dibanding triwulan III-2025,” ujar Deni.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/05/e2896f3ca2a9765eb34a3fab917ecc6f-20251105_H01_ARS_Laju_Pertumbuhan_Ekonomi_mumed.png)
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, perekonomian nasional pada triwulan III-2025 tumbuh 5,04 persen secara tahunan. Sementara itu, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi secara agregat pada 2025 mencapai 5,2 persen.
Menurut Deni, pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV-2025 akan lebih tinggi karena didorong oleh faktor musiman libur Natal dan Tahun Baru. Meski demikian, masih tetap akan sulit bagi pemerintah untuk mencapai target pertumbuhan sebesar 5,2 persen.
Dengan target tersebut, setidaknya dibutuhkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,8 persen pada triwulan IV-2025. Padahal, dalam 10 tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV hampir tidak pernah menyentuh angka 5,8 persen.
Yang paling penting sekarang itu, kan, penciptaan lapangan kerja karena isunya saat ini banyak PHK (pemutusan hubungan kerja), pekerjaan yang sulit, penghasilan yang sulit.
Oleh karena itu, Deni melanjutkan, penting bagi pemerintah untuk mempertahankan keyakinan masyarakat pada awal triwulan IV-2025 ini. Keyakinan tersebut akan bertahan, apabila inflasi harga bergejolak mampu dijaga stabil, diikuti dengan upaya penciptaan lapangan pekerjaan.
”Yang paling penting sekarang itu kan penciptaan lapangan kerja karena isunya saat ini banyak PHK (pemutusan hubungan kerja), pekerjaan yang sulit, penghasilan yang sulit. Nah, itu yang harus di-tackle karena, kan, percuma (keyakinan masyarakat) kalau misalnya tidak punya penghasilan,” tuturnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/16/3996dc5ea89933cbbab3361b7ab73d4d-Infografis_Survei_Konsumen_Oktober_2025.jpg)
Di sisi lain, tim riset ekonomi Bank Mandiri memperkirakan, konsumsi rumah tangga akan tumbuh sebesar 4,98 persen pada 2025. Kondisi ini didorong oleh stimulus ekonomi ”8+4+5” pemerintah, penurunan suku bunga acuan, serta persiapan untuk libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
Secara khusus, tim riset ekonomi Bank Mandiri juga mencatat, belanja menunjukkan tren pembalikan (rebound) pada awal triwulan IV-2025. Meskipun demikian, memasuki pertengahan triwulan IV-2025, belanja masyarakat tumbuh melambat.
Berdasarkan data Mandiri Spending Index (MSI), Indeks Belanja Masyarakat pada Oktober 2025 menguat 28 persen dibanding Januari 2025. Angka ini lebih tinggi dibanding pertumbuhan pada September 2025 yang tumbuh 14 persen.
”Belanja melanjutkan tren peningkatan. MSI per 2 November naik 0,8 persen secara mingguan ke level 303 poin, sedikit melambat dari minggu sebelumnya (1,1 persen),” kata Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Andry Asmoro.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/16/b747c7906705700fc3c8d23d01bbc60d-Screenshot_2025_11_16_165730.png)
Pada awal November 2025, porsi belanja barang-barang esensial mencapai 30,2 persen atau naik 0,4 persen poin dibanding Oktober 2025. Demikian pula dengan proporsi belanja barang terkait gaya hidup yang meningkat 3,1 persen poin menjadi 51,3 persen.
Kenaikan proporsi belanja esensial itu utamanya didorong oleh belanja supermarket. Di sisi lain, peningkatan proporsi belanja barang terkait gaya hidup didorong oleh belanja restoran, mode, dan gawai.
Menurut Andry, kondisi ini mengisyaratkan masyarakat tidak hanya fokus pada pengeluaran pokok, melainkan juga mulai mengalokasikan dana untuk hal-hal yang sifatnya non-esensial (discretionary), seperti kuliner, mode, hiburan, atau travel.
”Hal ini mengindikasikan daya beli yang membaik, bukan sekadar bertahan, yang didorong oleh sentimen keyakinan yang lebih baik,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/02/69a769be8fd32115aee2161cc27fe55c-20250302PRI5HR.jpg)
Lebih lanjut, tren kenaikan belanja itu lebih banyak disokong oleh kelompok menengah dan atas yang memiliki kapasitas finansial lebih berdaya tahan. Ini tampak dari Indeks Tabungan Kelompok Menengah pada September 2025 dan Oktober 2025 yang stabil di level 100,8, sedangkan kelompok atas di level 94.
Sebaliknya, Indeks Tabungan Kelompok Bawah terus tertekan hingga berada di angka 73,1 pada Oktober 2025. Angka ini turun dibanding September 2025 yang mencapai 73,3 dan Oktober 2024 sebesar 81,9.
Ke depan, tahun berikutnya, juga akan kita dorong lebih cepat lagi tanpa mengganggu keberlanjutan fiskal (”fiscal sustainability”). Jadi, kehati-hatian fiskalnya kita jaga terus.
Dalam kesempatan lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, fondasi ekonomi domestik mulai membaik dan akan terus berlanjut ke depan. Pada triwulan IV-2025, ekonomi diperkirakan tumbuh di atas 5,5 persen dan diarahkan ke level 6 persen pada 2026.
”Ke depan, tahun berikutnya, juga akan kita dorong lebih cepat lagi tanpa mengganggu keberlanjutan fiskal (fiscal sustainability). Jadi, kehati-hatian fiskalnya kita jaga terus,” katanya dalam media briefing di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (14/11/2025).
Kebijakan fiskal, menurut Purbaya, juga diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, antara lain melalui ekspansi belanja. Ia menegaskan, ekspansi fiskal tidak akan melanggar batas defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/20/ec26c7bb7c2bf392bd66322c08180329-20251020_H10_ARS_Belanja_APBN_Pajak_mumed.png)
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase