PIALA DUNIA 2026
Lionel Messi mengejutkan dunia lewat lima golnya untuk Argentina. Reaksi publik terbelah, antara memuji dan sinis. Bakal lebih hebat dari Maradona?
27 Jun 2026 07:00 WIB · Olahraga
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/24/9ef9e916-507c-4edd-a5cb-2075f8e9a3f2.jpg)
Usia Messi menginjak 39 tahun pada 24 Juni 2026. Dengan usia mendekati kepala empat ini, banyak pengamat memprediksi Piala Dunia 2026 akan menjadi ”tarian” terakhirnya untuk Argentina. Dengan keterbatasan fisik seiring usia itu, Messi juga diprediksi bakal bermain ”semampunya”, atau ”sekenanya”.
Toh, dia sudah membawa tim ”Tango” juara dunia pada perhelatan Qatar 2022. Bersamaan dengan teraihnya trofi Piala Dunia kala itu, terbayar lunaslah beban pribadinya sebagai bintang sepak bola Argentina yang membawa ”La Albiceleste” juara dunia. Beban yang terus dipikulnya dan tak kunjung kesampaian, sejak Piala Dunia Jerman 2006, Afrika Selatan 2010, Brasil 2014, dan Rusia 2018.
Maklum, sejak lama Messi, karena aksi olah bola yang menawan, dipercaya sebagai ”titisan Diego Maradona”, tepatnya sejak pertama kali dia memperkuat Argentina di Jerman 2006. Tak heran, publik menanti pembuktian Messi membawa Argentina juara dunia, menyamai prestasi Maradona di Meksiko 1986, dalam tempo cukup lama.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/12/27/00d7b3fa-7a0a-4e9e-ad13-66af44d56910.jpg)
Baru pada penampilan keempatnya di Piala Dunia, Messi menghadiahkan trofi Piala Dunia bagi pencinta tim Argentina. Bagi Messi, pasca-Qatar 2022, beban itu terbayar lunas. Dengan demikian, menjelang Piala Dunia 2026, sudah tak banyak bergaung lagi pertanyaan seputar apakah Messi akan kembali membawa Argentina ke podium tertinggi. Seakan publik maklum bahwa jika ”tarian terakhir” Messi ini tak berujung gelar juara, tak masalah.
Namun, penampilan Messi dalam dua laga perdana Argentina di Piala Dunia 2026 memunculkan pertanyaan baru. Dengan trigolnya saat melawan Aljazair, serta dua gol ke gawang Austria, dan kelimanya juga semua koleksi gol tim ”Tango”, akankah Piala Dunia 2026 kembali menjadi arena Messi mempertontonkan aksi kelas dunianya?
Publik yang terbelah
Harus diakui, ada pemuja sekaligus pembenci Messi, seperti halnya untuk rivalnya sesama bintang: Cristiano Ronaldo. Yang bukan pemuja Messi menilai aksinya saat mencetak trigol ke gawang Aljazair sebagai kecongkakan, tak lebih dari unjuk kesombongan seorang Messi. Itu pula yang menjadi pembuka artikel Matthew Syed di The Times, dengan judul ”Lionel Messi isn’t a bad boy, that’s why fans don’t love him like Maradona”.
Syed berkisah, setelah menulis artikel tentang sosok Messi sebagai pesepak bola terbaik seusai Qatar 2022 yang dijuarai Argentina, dia menerima banyak respons yang mayoritas bernada tidak setuju. ”Anda belum pernah melihat Pele bermain,” salah satunya bilang begitu. Penanggap lain mengatakan, ”Saya bisa bercerita tentang Georgie Best (legenda Irlandia Utara),” dan ”Dia tak akan bisa menyamai prestasi Maradona.”
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/11/53b3bd7ae495209418b0f334ce22725c-AP20330705620204.jpg)
Syed yang menjadi kolumnis olahraga The Times sejak 1999 menganggap respons itu fair-fair saja. Namun, dia juga mengungkapkan bahwa tak pernah menerima respons semacam itu saat menulis bahwa Tiger Woods pegolf terbaik dunia. Padahal, di sisi lain juga ada pemuja Jack Nicklaus, yang tentu tak terlalu suka jika Woods disebut yang terbaik. Atas berbagai respons terkait Messi ini, Syed menulis, ”Terhadap Messi, sebagian orang merespons terlalu personal”.
Bagi Syed, pencapaian Messi hingga saat ini bagaikan anugerah selepas masa kecilnya yang tak alamiah bagi anak-anak seusianya di Rosario. Sama seperti anak-anak dari kawasan miskin Argentina lainnya, Messi juga bermain tanpa alas kaki di kampung halamannya itu, dan karena posturnya yang mungil, dia sering ditendang dan didorong kawan-kawannya. Kariernya juga terkendala pertumbuhan fisik yang tidak normal sehingga harus menjalani terapi hormon.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/08/11/d738fdb0-54c7-4a23-ac86-c90769ee96db.jpg)
Saat berusia 13 tahun dan direkrut Barcelona, Messi juga tidak serta-merta bisa langsung bermain di tim yunior klub elite Spanyol itu karena pertikaian dengan klub asalnya di Argentina, Newell’s Old Boys. ”Namun, berbagai kendala itu tak meredupkan gairahnya terhadap sepak bola,” tulis Syed.
Berbagai fakta pahit pada masa kecil Messi ini yang kadang terabaikan oleh sebagian orang sehingga yang terlihat hanya sisi gemerlap kebintangannya.
Betulkah Messi tak akan menyamai kebintangan Maradona? Mampukah dia lebih hebat dari legenda yang membawa Argentina juara dunia 1986 itu? Pertanyaan ini sedikit banyak akan terjawab dalam beberapa pekan mendatang, dengan mencermati seberapa jauh Argentina melangkah di Piala Dunia AS-Meksiko-Kanada 2026.
Potensi ”ledakan” berikutnya
Sejumlah analisis awal bisa diungkapkan untuk menerka sejumlah potensi ”ledakan” kebintangan Messi di perhelatan kali ini. Pertama, posisi Messi sebagai pencetak gol terbanyak Piala Dunia sepanjang masa, dengan 18 gol hingga laga melawan Austria. Jumlah 18 gol ini masih bisa bertambah seiring laga terakhir Argentina di Grup I melawan tim terlemah Jordania, Minggu (28/6/2026), serta laga-laga Argentina di fase gugur, dengan Messi tetap berpeluang besar dimainkan.
Kedua, kemungkinan Messi mengantar tim ”Tango” menjadi juara dunia tahun ini. Bermodal dua kemenangan meyakinkan dan tanpa kebobolan, prediksi terkait trofi juara bagi Argentina masih terbuka. Jangan lupa, dukungan penuh dari semua personel tim Argentina juga instrumen penting. Ditangani pelatih bertangan dingin Lionel Scaloni, Argentina menyusun tim dan merencanakan taktik untuk mengoptimalkan daya ledak ”Si Kutu”.
Deretan pemain Argentina juga mendukung ambisi gelar juara dunia keempat. Kekuatan Argentina masih mirip skuad Qatar 2022, merata di semua lini. Kiper Emiliano Martinez dikawal tembok pertahanan Cristian Romero, Lisandro Martinez, dan Facundo Medina. Di lini tengah bersiaga para gelandang seperti Enzo Fernandez, Thiago Almada, Rodrigo de Paul, dan Alexis MacAllister. Di depan, selain Messi ada Lautaro Martinez dan Julian Alvarez, tak ketinggalan striker muda Nico Paz (Kompas.id, 25/6/2026).
Jika dua hal itu terwujud: Argentina juara lagi dan Messi tak tergoyahkan sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Piala Dunia, itu prestasi Messi yang melebihi Maradona. Andai itu terjadi, dunia bakal menyambut megabintang baru bernama Lionel Messi.
Penulis:
Adi PrinantyoEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Nur Adji