Lionel Messi membuktikan dirinya masih pantas menyandang predikat pemain terbaik dunia di usianya kini. Bahkan, bisa jadi, puncak kariernya belum mentok.
17 Jun 2026 17:17 WIB · Olahraga
AFP
Tak sedikit orang mengira Piala Dunia 2022 adalah puncak kegemilangan karier Lionel Messi yang ditandai dengan mahkota juara dunia di kepalanya. Tapi, bagaimana kalau perkiraan itu salah? Mungkinkah puncak tersebut masih berada di dataran yang lebih tinggi lagi?
Sinyal itulah yang dipancarkan sang megabintang pada laga pembuka Argentina melawan Aljazair di penyisihan Grup J Piala Dunia 2026, Rabu (17/6/2026) pagi waktu Indonesia. Pemain yang minggu depan berusia 39 tahun tersebut membuktikan sinarnya belumlah redup.
Setahun selepas Piala Dunia 2022, Messi meninggalkan ketatnya kompetisi Eropa bersama PSG untuk bergabung dengan klub liga Amerika Serikat MLS, yakni Inter Miami. Penggemar bola pun mafhum jika MLS dipandang sebagai ”liga pensiunan”, tempat banyak pemain top dunia bermain menjelang menutup karier.
Namun, itu tak terjadi pada Messi. Bahkan, sinarnya malah kian terang di panggung tertinggi sepak bola dunia pada edisi 2026 ini. Laga melawan Aljazair itu memperlihatkan ”La Pulga” masih pantas disebut sebagai pemain terbaik dunia. Messi memborong semua gol dalam partai yang berakhir 3-0 untuk kemenangan tim ”Tango”.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/17/2db18f4c63c082bdd9f4152113928f92-APTOPIX_Argentina_WCup_Soccer_Reacts.jpg)
Hattrick itu pun menjadi trigol pertama Messi dalam Piala Dunia, turnamen yang telah diikutinya selama enam edisi berturut-turut. Messi pertama kali tampil di Piala Dunia 2006 di Jerman atau 20 tahun silam dan total membukukan 27 penampilan, paling banyak dibandingkan dengan pemain lain.
Messi juga tercatat sebagai pemain tertua yang bisa mencetak hattrick di Piala Dunia, yakni pada usia 38 tahun 357 hari. Capaian itu menggeser rekor sebelumnya yang dipegang kompetitor abadinya, Cristiano Ronaldo, yang berusia 33 tahun saat membuat hattrick ke gawang Spanyol pada edisi 2018.
Namun, yang paling mengagumkan adalah pundi-pundi gol Messi kini telah setara dengan Miroslav Klose, pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia, yakni 16 gol.
Peluang La Pulga untuk meninggalkan torehan bomber Jerman itu pun terbuka lebar mengingat Messi dan Argentina tampaknya masih akan melaju jauh di edisi ini.
Pada akhirnya, itu hanya sebuah statistik, tidak lebih.
Seusai laga, Messi menyatakan, bisa menikmati momen ini bersama keluarga, rekan setim, dan orang-orang yang selalu mendampinginya merupakan hal yang indah. ”Saya bahagia,” katanya.
Menurut dia, Argentina cukup beruntung bisa memenangi partai yang alot tersebut. Kemenangan dalam laga pertama ini pun disebutnya sangat penting.
Terkait rekor 16 gol Klose yang disamainya hari ini, Messi mengaku merasa terhormat. Selain Klose, dalam daftar itu juga bercokol legenda Brasil, Ronaldo, dengan 15 gol dan penyerang Perancis, Kylian Mbappe, yang menorehkan 14 gol bersama legenda Jerman Barat, Gerd Muller.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/17/c9e3d9ca8c91bd9a47040c10b7e6911a-20260617_PAL_top_scorer_piala_dunia_sepanjang_masa.png)
”Tapi saya pikir (rekor) itu tak berarti apa-apa. Pada akhirnya, itu hanya sebuah statistik, tidak lebih,” ujar pemain yang telah 200 kali membela Argentina tersebut.
Meski Messi enggan, suka tidak suka rekor itu akan terus mengikutinya. Apalagi, langkah mulus Argentina di laga pertama ini juga membuka jalan bagi kemungkinan rekor lebih fantastis lainnya, yakni memenangi trofi Piala Dunia secara back-to-back alias dua edisi berturut-turut.
Belum ada negara yang bisa melakukan itu dalam era sepak bola modern. Terakhir, pencapaian tersebut ditorehkan Italia pada edisi 1934 dan 1938 serta Brasil pada 1958 dan 1962 kala pialanya masih bernama Jules Rimet.
Melihat performa Messi dalam laga melawan Aljazair, bukan tidak mungkin hal itu terwujud. Messi tercatat menghasilkan enam percobaan gol dengan empat di antaranya tepat sasaran. Artinya, dengan torehan tiga gol, tingkat keberhasilan Messi sebesar 75 persen.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/17/1daed029bf7acb68fa74b55991ae5047-1000954265.jpg)
Titel Man of the Match pun disematkan kepada pemain yang telah mengoleksi 8 gelar pemain terbaik dunia itu. Laman FIFA mencatat, Messi juga membukukan skor tertinggi untuk kategori penyerangan dan kreativitas pada partai tersebut, yakni masing-masing 8,62 dan 7,84.
Kolumnis BBC Sport, Guillem Balague, dalam ulasannya tentang Messi sebelum laga Argentina vs Aljazair, mengatakan, jika ”La Albiceleste” memenangi Piala Dunia kali ini, hampir bisa dipastikan Messi akan berada di pusatnya.
Kebanyakan pemain akan menurun performanya seiring usia, tetapi para pemain elite akan mencari cara untuk beradaptasi. Hal ini seperti dilakukan Cristiano Ronaldo yang menciptakan kembali dirinya sebagai predator kotak penalti ketika kecepatannya hilang.
”Messi tak beradaptasi dengan penurunan. Dia beradaptasi agar bisa tetap mendominasi dan unggul dalam permainan yang selalu mengejarnya,” ucap Balague.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/17/7890886032ff994aee307d93163e60d6-Argentina_v_Algeria__Group_J_FIFA_World_Cup_2026_2_.jpg)
Saat bermain di Inter Miami dan sepanjang Copa America 2024, misalnya, Messi lebih sering berjalan ketimbang berlari di lapangan. Para kritikus pun menggunakan itu sebagai sinyal bahwa era Messi sudah ”habis”.
Namun, Balague menilai hal itu justru menunjukkan kepiawaian Messi. ”Dia sedang membaca jalannya pertandingan, menghemat energi untuk momen-momen yang menentukan,” katanya.
Selama 20 tahun dia telah membuat kita terbiasa menyaksikan hal seperti ini.
Sebelum laga kontra Aljazair, Pelatih Argentina Lionel Scaloni pun menepis anggapan kehadiran Messi malah akan membebani skuad pada Piala Dunia ini. Menurut dia, dampak yang diberikan Messi tak pernah berkurang meskipun bermain dalam kondisi fisik yang berbeda-beda selama beberapa tahun ini.
”Dia selalu hadir dan bermakna fundamental bagi kami, lebih-lebih sekarang,” ucap Scaloni.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/17/71b5f869603d99fb0711a661a300b118-Argentina_v_Algeria__Group_J_FIFA_World_Cup_2026_1_.jpg)
Setelah laga, Scaloni mengaku tak bisa lagi berkata-kata untuk menggambarkan performa Messi. ”Selama 20 tahun dia telah membuat kita terbiasa menyaksikan hal seperti ini. Dia menginspirasi semua orang yang melihatnya bermain,” ujarnya.
Pelatih Aljazair Vladimir Petkovic pun tak ketinggalan memuji sang megabintang. ”Kelas itu permanen. Dia (Messi) beruntung memiliki keistimewaan bahwa seluruh tim Argentina bekerja untuknya dan mendukungnya sehingga selama bertahun-tahun ini dia bisa melakukan banyak hal luar biasa,” ucapnya.
Saatnya mendaki puncak yang lebih tinggi lagi, Messi? (AP/AFP)
Penulis:
Mohamad Final DaengEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto