Dalam setahun, ada 50 hari di Inuvik, Kanada, mendapat sinar matahari ”full” selama 24 jam. Ada pula 30 hari tanpa sinar matahari langsung. Bagaimana puasa di sana?
06 Mar 2025 04:00 WIB · Internasional
Bulan Ramadhan menjadi bulan suci saat umat Islam di berbagai penjuru bumi, termasuk mereka yang tinggal di wilayah dekat Kutub Utara, menjalankan ibadah puasa. Di Indonesia, puasa akan berkisar 13-14 jam sehari. Bagaimana dengan puasa di belahan Bumi paling utara?
Secara geografis, Kutub Utara merupakan kawasan di ujung utara planet Bumi. Pada musim panas, negara-negara di sekitar kawasan itu akan menikmati siang hari yang panjang, bahkan terkadang 24 jam, dan waktu gelap sebentar saja.
Sebaliknya, pada musim dingin, wilayah di sekitar lingkar Arktik itu akan memiliki siang yang singkat dan malam yang panjang.
Bagi umat Islam yang tinggal di wilayah-wilayah di sekitar Kutub Utara, faktor lokasi geografis itu menghadirkan situasi yang menarik, kompleks, bahkan menjadi tantangan bagi mereka yang hendak menjalankan ibadah puasa. Tak terkecuali mereka yang tinggal di wilayah Inuvik, sebuah kota yang terletak 200 kilometer sisi utara Lingkar Arktik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/05/894b00ff3808e6ff0425849d80f7916e-CANADA_RELIGION_RAMADAN_127952965.jpg)
Muslim di Inuvik menghadapi tantangan dalam menjalankan ibadah mereka. Terutama ketika mereka mengikuti jadwal puasa dan shalat, ibadah yang pelaksanaannya berkaitan dengan posisi matahari.
Bayangkan, Inuvik mendapat sinar matahari full selama 24 jam dalam rentang waktu 50 hari lebih dalam setahun. Kawasan Inuvik juga mengalami malam kutub, atau tidak ada sinar matahari langsung, sekitar 30 hari setiap tahunnya.
Inuvik mendapat sinar matahari ”full” selama 24 jam dalam rentang waktu 50 hari lebih dalam setahun. Kawasan itu juga mengalami malam kutub atau tidak ada sinar matahari langsung, sekitar 30 hari setiap tahunnya.
Bila waktu puasa dan shalat disesuaikan dengan posisi matahari, jelas, situasi ini menjadi tantangan bagi umat Islam di sana. Bisa-bisa waktu puasa di musim panas akan menjadi sangat panjang, bisa belasan jam hingga hampir 24 jam jika berpatokan murni pada posisi matahari. Sementara di musim dingin, durasi puasa akan sangat singkat.
”Pertama kali itu seperti kejutan. Saya tidak percaya. Pertama kali dalam hidup saya, saya shalat lima waktu ketika matahari masih bersinar,” kata Saleh Hasabelnabi, Imam Masjid Midnight Sun, Inuvik.
Menghadapi situasi tersebut, komunitas Muslim di Inuvik mengikuti penetapan waktu patokan shalat dengan mengacu pada waktu di Mekkah, kota paling suci bagi umat Islam, Arab Saudi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/05/8fff51ea-13ac-4a45-b865-68d19d0090cf_jpg.jpg)
Namun, umat Islam di Inuvik mau tak mau memilih menyesuaikan diri dengan lingkungan di sana. Seperti yang dilakukan Mohamed Asad Behrawar (36), pekerja bidang akuntansi yang baru-baru ini pindah ke Inuvik.
Ia mengatakan, menyesuaikan diri dengan malam putih—fenomena matahari tidak terbenam di malam hari—tidaklah sulit. Sebelum pindah ke Inuvik, ia pernah tinggal di Edmonton, ibu kota Provinsi Alberta, Kanada. Di sana, hari-hari musim panas juga sama saja panjangnya dengan di Inuvik.
”Namun, tetap saja sulit untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan ini. Agak keras,” kata Behrawar.
Keluhan Behrawar juga menjadi keluhan bagi Abadallah El-Bekai (75), warga Palestina kelahiran Lebanon. ”Saya terjebak. Setiap tahun saya berkata, ’Ini tahun terakhir saya di Inuvik’,” kata Abadallah El-Bekai seraya terkekeh mengingat kembali semua usahanya untuk meninggalkan komunitas Muslim Inuvik di Teritori Barat Laut Kanada itu.
Di Inuvik, El-Bekai tetap istikamah menjalankan ibadahnya, hingga tidak terasa baginya sudah 25 tahun ia tinggal di Inuvik. ”Tuhan tidak mengizinkan saya pergi. Mungkin saya telah berbuat jahat dalam hidup saya, Tuhan mengirim saya ke sini!” ujarnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/05/7090ae2f-717d-4605-afd7-0d48705a6020_jpg.jpg)
El-Bekai dan Behrawar merupakan bagian dari komunitas Muslim di Inuvik yang beranggotakan 100-120 orang. Populasi di Inuvik berjumlah sekitar 3.400 orang.
Sejumlah anggota jemaah Masjid Midnight Sun awalnya merupakan para pengungsi yang datang ke Kanada. Mereka lalu pindah ke utara untuk mencari penghasilan yang lebih tinggi. Beberapa dari mereka bekerja sebagai pengemudi taksi.
”Jemaah tidak lagi bertambah, tetapi tetap stabil dengan jumlah berkisar 100-120 anggota,” kata Saleh Hasabelnabi, Imam Masjid Midnight Sun, Induvik, yang telah tinggal di Inuvik selama 16 tahun.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/05/d9e0eb6d-0ec4-4c8d-bb65-40b0f753c9b5_jpg.jpg)
Komunitas kecil itu beribadah di sebuah masjid yang dikenal dengan nama Masjid Midnight Sun. Masjid ini juga disebut ”Masjid Kecil di Tundra”. Masjid itu dibuka pada Agustus 2010 untuk melayani warga Muslim Kanada yang bermigrasi ke utara untuk bekerja. Ada tren meningkat dalam jumlah warga Muslim yang bermigrasi itu.
Bangunan Masjid Midnight Sun dibangun di Winnipeg, Provinsi Manitoba. Kemudian masjid diangkut sejauh 4.000 kilometer ke utara dengan truk. Sekarang, bangunan itu menjadi masjid paling utara di belahan Bumi barat.
Sama seperti Ramadhan di tahun-tahun sebelumnya, tahun ini Masjid Midnight Sun menjadi pusat berkumpulnya komunitas Muslim Inuvik untuk beribadah dan berbuka puasa.
Sama seperti Ramadhan di tahun-tahun sebelumnya, tahun ini Masjid Midnight Sun menjadi pusat ibadah. Di masjid itu, komunitas Muslim Inuvik berkumpul untuk beribadah dan berbuka puasa.
Tahun ini, Ramadhan di Inuvik berlangsung di pengujung musim dingin. Para anggota jemaah datang ke masjid, melawan cuaca dingin. Di hari ketiga puasa, mereka berkumpul di Masjid Midnight Sun untuk berbuka puasa.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/05/0ec460c0-387b-4238-a52b-0339b7c2c3d7_jpg.jpg)
Mereka membawa berbagai hidangan berupa ayam, nasi, dan makanan lain yang dikemas dalam wadah. Makanan itu merupakan makanan khas Sudan.
Mereka kemudian duduk bersama dan makan. Di dalam kelompok itu juga ada El-Bekai, yang sangat ingin tinggal di tempat lain, dengan senang hati mengobrol sambil makan.
Rutinitas tersebut membuat komunitas Muslim Inuvik menjadi ”terlihat” dan dikenal warga setempat. Abdul Wahab Saleem, ulama berusia 37 tahun yang berkunjung dari Edmonton, menggambarkan kaum Muslim di Inuvik sebagai minoritas yang terlihat.
”Anda berjalan-jalan di luar, Anda akan melihat kaum Muslim sepanjang waktu, setiap kali Anda naik taksi, kemungkinan besar itu adalah seorang Muslim,” pungkas Saleem.
Terlepas dari imaji itu, El-Bekai dan anggota komunitas Muslim lainnya masih harus berjuang menunaikan ibadah puasa. Dalam lingkungan yang keras dengan suhu dingin, mereka masih harus menuntaskan 25 hari puasa lagi sebelum sampai di hari kemenangan. (AFP)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Muhammad Samsul Hadi