Ramadhan di Gaza, Ketegaran Palestina di Tengah Kehancuran

Saking kerasnya kehidupan akibat kehancuran yang ada, beberapa warga mengaku hanya bergantung pada keimanan kepada Tuhan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

02 Mar 2025 17:54 WIB · Internasional

Oleh Helena Fransisca Nababan

Pada Sabtu (1/3/2025), Ramadhan kembali menyapa umat Islam di Jalur Gaza. Situasi belum berubah. Sama saja dengan Ramadhan 2024, warga Gaza kembali menjalankan ibadah puasa dalam keterbatasan, ketidakjelasan, rasa sakit, rasa cemas dan takut, hingga rasa sedih akibat kehilangan sanak saudara, anak, juga orang terkasih.

Ramadhan penuh ujian. Demikian Fatima Al-Absi (57), warga Jabaliya, Jalur Gaza, memaknai Ramadhan tahun ini.

Perang antara kelompok Hamas dan Israel yang meletus sejak 7 Oktober 2023 telah mencabik-cabik dan menghancurkan kehidupan warga Jalur Gaza di semua aspek. Media Al Jazeera pada 15 Januari 2025, mengutip data Otoritas Palestina, menyebutkan dalam 15 bulan perang, 46.707 orang tewas terbunuh. Sebanyak 18.000 korban jiwa di antaranya adalah anak-anak.

Al-Absi mengatakan, suami dan menantu laki-lakinya termasuk dalam daftar korban tewas itu. Ia juga menyebutkan, rumahnya sudah rusak dan terbakar. Masjid yang biasa ia datangi selama Ramadhan hancur.

”Semuanya telah berubah. Tidak ada suami, tidak ada rumah, tidak ada makanan yang layak, dan tidak ada kehidupan yang layak,” kata Al-Absi, Sabtu (1/3/2025), saat keluarganya menjalankan puasa hari pertama.

Mideast Wars Gaza Ramadan

Ramadhan tahun ini dimulai saat perjanjian gencatan senjata Hamas dan Israel berlangsung. Gencatan senjata tahap I itu sempat menghentikan perang yang sudah berlangsung lebih dari 15 bulan.

Namun, gencatan senjata tahap I itu pun sudah berakhir, Minggu (2/3/2025). Pemerintah Israel mengatakan pada Minggu dini hari, mereka mendukung usulan Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff untuk memperpanjang fase pertama gencatan senjata di Gaza hingga Ramadhan dan Paskah.

Sementara Hamas belum memberi tanggapan secara resmi atas proposal Witkoff itu. Hamas masih bersikeras untuk merundingkan gencatan senjata tahap II.

Pernyataan untuk memperpanjang gencatan senjata fase pertama dari kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu muncul beberapa menit setelah fase pertama berakhir. Tak lama kemudian, Israel mengumumkan penutupan akses bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Hamas mengecam keras langkah Israel tersebut serta menyebutnya sebagai ”tindak pemerasan” dan ”pelanggaran terang-benderang atas kesepakatan (gencatan senjata).

Fabric covers the damaged apartment where Fatima Al-Absi lives in Jabaliya, northern Gaza Strip, on Saturday, March 1, 2025. (AP Photo/Jehad Alshrafi)

Dibandingkan dengan Ramadhan 2024, pada Ramadhan tahun ini banyak warga Gaza merasa sedikit lega dan lebih baik dengan berlangsungnya gencatan senjata. Namun, tetap saja sedikit kelegaan itu dibayangi kekhawatiran dan ketakutan tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.

Selain itu, jelas dan tak bisa ditutupi rasa kesedihan atas kerugian pribadi dan kolektif, luka-luka, dan banyak bekas luka yang tertinggal. ”Kami takut karena tidak ada stabilitas,” kata Al-Absi.

Quote

Saya telah kehilangan banyak hal. Hidup itu sulit. Semoga Tuhan memberi kita kesabaran dan kekuatan. (Fatima Al-Absi, warga Jabaliya, Jalur Gaza)

Ia menuturkan, dirinya berdoa agar perang segera berakhir. Ia sudah tidak dapat menanggung lagi kerugian lebih lanjut. Ia dan keluarganya yang masih hidup terpaksa tinggal di tengah reruntuhan gedung apartemen miliknya yang hancur.

”Saya telah kehilangan banyak hal,” ujar Al-Absi. ”Hidup itu sulit. Semoga Tuhan memberi kita kesabaran dan kekuatan.”

The family of Fatima Al-Absi share Iftar, the fast-breaking meal, on the first day of Ramadan in their damaged apartment in Jabaliya, northern Gaza Strip, on Saturday, March 1, 2025. (AP Photo/Jehad Alshrafi)

Amal Abu Sariyah, warga Kota Gaza, mengatakan, ”Kita tidak dapat memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya.”

”Ya, negara ini hancur dan situasinya sangat buruk. Tetapi, perasaan bahwa penembakan dan pembunuhan telah berhenti, membuat Anda (merasa) bahwa tahun ini lebih baik daripada tahun lalu,” kata Sariyah sebelum Ramadhan.

Sariyah menambahkan, Ramadhan 2024 sangat buruk bagi rakyat Palestina. Ramadhan 2024 dibayangi oleh perang dan pengungsian. Ramadhan 2024 di Gaza dimulai dengan perundingan gencatan senjata yang kemudian terhenti, kelaparan semakin parah di seluruh jalur tersebut, dan tidak terlihat adanya tanda-tanda berakhirnya perang.

Sementara itu, gencatan senjata yang berlangsung kali ini memberi kesempatan bagi ratusan ribu warga Gaza untuk kembali membanjiri Gaza utara. Namun, setelah lega dan gembira seusai kembali ke rumah mereka yang rusak atau hancur, mereka harus kembali bergulat dengan kehidupan yang keras dan kesulitan ekonomi.

TOPSHOT - People gather for the iftar, or fast-breaking meal, on the first day of the Muslim holy fasting month of Ramadan in Jabalia in the northern Gaza Strip on March 1, 2025 by the rubble of collapsed buildings that were destroyed during the war between Israel and Hamas, amid the ongoing truce. (Photo by Bashar TALEB / AFP)

Alhasil, untuk menyambut Ramadhan, warga hanya berbelanja kebutuhan pokok dan makanan penting saja. Fatima Barbakh, warga kota Khan Younis, mengatakan bahwa belanja Ramadhan-nya terbatas pada kebutuhan pokok.

”Kami tidak dapat membeli lentera atau hiasan seperti yang kami lakukan setiap Ramadhan,” kata Barbakh.

Saking kerasnya kehidupan, beberapa warga sampai mengatakan, mereka bergantung pada iman mereka kepada Tuhan untuk menyediakan kebutuhan mereka. ”Saya dulu biasa membantu orang. Sekarang, saya tidak bisa menolong diri saya sendiri,” kata Nasser Shoueikh.

”Situasi saya, syukurlah, dulu lebih baik dan saya tidak membutuhkan apa pun. Kami mohon agar Tuhan menyertai kami,” imbuh Shoueikh.

Kini, meski perang terhenti sementara karena gencatan senjata, Al-Absi dan warga Gaza lainnya tetap harus terus bertahan dan berjuang, serta hanya bisa mengenang masa-masa kehangatan dan keceriaan Ramadhan, serta berbagai kesibukan yang menyertai sebelum perang. 

Dengan getir Al-Absi mengingat bagaimana ia biasa berbuka puasa bersama suaminya, betapa ia merindukan masa-masa itu, dan bagaimana ia mengingatnya saat berdoa.

”Kami tidak menginginkan perang. Kami menginginkan kedamaian dan keamanan,” ujar Al-Absi penuh harap. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi