Ameera baru tahu dirinya batal tampil di Kejuaraan Dunia. Mimpinya untuk unjuk gigi di depan keluarga, teman-teman, dan masyarakat Indonesia kandas begitu saja.
11 Okt 2025 18:49 WIB · Olahraga
Badan pesenam artistik putri Ameera Rahmajanni Hariadi (19) hadir di GOR Radin Inten, Jakarta, Sabtu (11/10/2025) pagi WIB. Namun, jiwanya seolah tertinggal di rumah. Dia tampak bingung dan muram. Ameera tidak mampu menutupi kekecewaan setelah dipastikan batal tampil di Kejuaraan Dunia Senam Artistik Jakarta 2025.
Ameera sudah masuk program pemusatan latihan nasional untuk Kejuaraan Dunia sejak awal 2025. Lalu, hanya sekitar sepekan jelang ajang bergengsi pada 19-25 Oktober itu, namanya dicoret. ”Masih kecewa. Kecewa banget. Kayak, oh iya, beneran? Jahat banget. Jahatnya, tuh, kayak seminggu sebelum (baru diputuskan),” ujarnya.
Seusai pendaftaran nama final, Kamis lalu, pelatihnya, Eva Novalina Butar Butar, berupaya mencari kata-kata yang tepat agar tidak menyakiti hati sang atlet. Namun, Ameera ternyata mengetahui lebih dulu lewat orangtuanya yang kebetulan memeriksa dokumen resmi daftar atlet di situs Federasi Gimnastik Internasional (FIG).
Mimpi dan ambisi pesenam asal Jakarta itu runtuh seketika. Dia tenggelam dalam rasa kecewa. ”Karena ini kapan lagi tampil di Jakarta gitu, kan. Ditonton keluarga dan teman-teman. Terus, kayak rutin aku juga sudah dilatih lama banget. Kayak ingin puncaknya, tuh, di sini (Kejuaraan Dunia),” tutur Ameera.
Indonesia tetap mengirimkan tiga wakil pesenam putri. Namun, Ameera digantikan oleh pesenam Jawa Timur, Larasati Rengganis, yang masih minim pengalaman di ajang internasional dan tidak terlibat dalam program pelatnas. Dua pesenam lainnya sesuai dengan proyeksi awal, yaitu Alarice Mallica Prakoso dan Salsabilla Hadi Pamungkas.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/11/33ed00f7-43f3-4e98-99bc-f6da6702a2f7_jpg.jpg)
Pergantian Ameera sempat diwacanakan oleh Federasi Gimnastik Indonesia saat pemusatan latihan di Doha, Qatar. Ketika itu, sang pesenam tidak bisa berangkat ke Piala Pharaoh 2025 di Kairo, Mesir, akhir September, karena mengalami cedera tulang metatarsal. Ameera langsung diminta pulang ke Indonesia.
Eva meyakinkan federasi bahwa cedera itu akan pulih tepat waktu sebelum Kejuaraan Dunia. Ameera disarankan agar tetap di Doha untuk mendapatkan perawatan cedera lebih baik. Akhirnya Ameera tetap tinggal di Doha selama rekan-rekannya berangkat ke Kairo. Adapun sepulangnya ke Jakarta, dia sudah pulih dan siap tampil lagi.
”Saya sampaikan, Ameera tetap akan tampil sesuai rencana karena kami sudah konsultasi ke dokter ortopedi. Waktu pemulihannya enam minggu. Selama itu, Ameera tetap berlatih di palang bertingkat memakai boots. Jadi, saat kaki boleh dipakai, rangkaian gerakan sudah mencapai 70 persen. Tinggal gerakan akhir,” jelas Eva yang akhirnya menanggung biaya Ameera di Doha seusai instruksi pemulangan dari federasi.
Menurut Eva, federasi mengubah rencana jelang akhir pendaftaran. Ameera diganti dengan pertimbangan tidak bisa tampil di nomor keseluruhan atau empat alat. Padahal, sejak awal tahun, dia hanya diproyeksikan tampil di balok keseimbangan dan palang bertingkat. Adapun Ameera merupakan yang terbaik se-Indonesia di palang bertingkat.
Wajar jika Ameera menilai pertimbangan federasi kurang masuk akal. Dia sudah mencurahkan segala waktu dan tenaga, termasuk cuti kuliah, untuk menampilkan yang terbaik di dua alat tersebut. Namun, peraih emas PON Aceh Sumut 2024 di nomor palang bertingkat itu justru disisihkan karena tidak bisa turun di semua alat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/11/7c26cd92-cc0e-406c-b188-b7b0a847f9c5_jpg.jpg)
Eva khawatir, insiden kali ini akan berdampak terhadap psikologis atletnya dalam jangka panjang. Padahal, Ameera diproyeksikan untuk mewakili Indonesia di Olimpiade Los Angeles 2028. ”Saya minta dia untuk tidak terlalu kecewa dan bisa bangkit lagi, tetapi saya juga tahu itu tidak mudah,” ucap ”Ratu Senam” era ’80-an itu.
Pada sesi pagi itu, Ameera dilatih langsung oleh pelatih asal Polandia yang sudah berpengalaman di level Olimpiade, yaitu Przemyslaw Lis. Dia membantu Eva sejak dua bulan lalu. Saat diwawancara, Lis memberikan gambaran soal bagaimana dunia senam bekerja di level internasional.
Menurut Lis, pesenam tidak harus menguasai seluruh alat. Banyak pesenam hebat dikenal karena spesialisasi di satu alat. Oksana Chusovitina, contohnya, pesenam yang delapan kali tampil di Olimpiade itu dikenal dengan spesialisasi di meja lompat. Fokus satu alat membuatnya bisa bersaing hingga usia 50 tahun.
Keunggulan di satu alat lebih baik daripada performa biasa-biasa saja di seluruh alat. Itu cukup untuk mengantar atlet lolos Olimpiade. Keputusan meminta pesenam untuk fokus di seluruh alat, saat kondisi tidak memungkinkan, pun terasa membingungkan bagi Lis. ”Tentu saja pesenam terbaik melakukan all around, tetapi ya karena dia yang terbaik,” ujar pelatih yang meloloskan pesenam ke Rio 2016 dan Tokyo 2020 itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/11/f7c5f0db-1fe5-43dc-92d4-2a630b9c92f5_jpg.jpg)
Perubahan nama di daftar final mungkin terasa kecil untuk sebagian orang, terutama pengambil keputusan. Namun, dampaknya sangat besar untuk atlet yang menjadi korban. Ameera memang masih berlatih demi program jangka panjang, tetapi presensinya di GOR tidak lebih dari sekadar menjalani rutinitas.
Hatinya sedang merasakan kehampaan yang luar biasa. Dia terluka akibat senam artistik, olahraga yang dicintai dan digeluti sejak kecil. Alih-alih panggung selebrasi, Kejuaraan Dunia kini menjadi ajang yang dihindari. ”Aku kayaknya enggak akan datang nonton. Butuh waktu untuk ngalihin rasa sedih ini,” ucap Ameera.
Penulis:
Kelvin Hianusa, Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul