Beban kesehatan yang bakal ditimbulkan minuman berpemanis bakal membesar karena konsumsinya di kalangan anak-anak dan remaja cenderung meningkat.
07 Jan 2025 08:23 WIB · Humaniora
JAKARTA, KOMPAS — Riset terbaru menunjukkan, jutaan kasus baru diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular terjadi setiap tahun secara global akibat konsumsi minuman manis. Temuan ini memicu kekhawatiran bakal membengkaknya beban kesehatan ke depan karena saat ini tren peningkatan konsumsi minuman berpemanis di kalangan anak-anak dan usia belasan tahun masih terjadi.
Studi terbaru oleh para peneliti di Gerald J dan Dorothy R Friedman School of Nutrition Science and Policy di Tufts University, yang diterbitkan di Nature Medicine pada Senin (6/1/2025), menunjukkan, sebanyak 2,2 juta kasus baru diabetes tipe 2 dan 1,2 juta kasus baru penyakit kardiovaskular terjadi setiap tahun secara global akibat konsumsi minuman manis.
Di negara-negara berkembang, jumlah kasus diabetes paling tinggi. Di kawasan Sub-Sahara Afrika, studi tersebut menemukan bahwa minuman manis berkontribusi terhadap lebih dari 21 persen dari semua kasus diabetes baru. Di Amerika Latin dan Karibia, minuman manis berkontribusi terhadap hampir 24 persen kasus diabetes baru dan lebih dari 11 persen kasus baru penyakit kardiovaskular.
Kolombia, Meksiko, dan Afrika Selatan adalah negara-negara yang paling tinggi mengalami lonjakan kasus baru dua penyakit kronis ini. Lebih dari 48 persen dari semua kasus diabetes baru di Kolombia disebabkan oleh konsumsi minuman manis. Hampir sepertiga dari semua kasus diabetes baru di Meksiko terkait dengan konsumsi minuman manis. Di Afrika Selatan, 27,6 persen kasus diabetes baru dan 14,6 persen kasus penyakit kardiovaskular disebabkan oleh konsumsi minuman manis.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/03/09/20200308-H25-TCJ-Pajak-Minuman-Manis-mumed_1583689072.gif)
Menurut para peneliti, minuman manis dicerna dengan cepat, menyebabkan lonjakan kadar gula darah dengan sedikit nilai gizi. Konsumsi rutin dari waktu ke waktu menyebabkan penambahan berat badan, resistensi insulin, dan sejumlah masalah metabolisme yang terkait dengan diabetes tipe 2 dan penyakit jantung, dua penyebab kematian utama di dunia.
”Minuman manis dipasarkan dan dijual secara besar-besaran di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Komunitas ini tidak hanya mengonsumsi produk yang berbahaya, tetapi mereka juga sering kali kurang siap menghadapi konsekuensi kesehatan jangka panjang,” kata Dariush Mozaffarian, penulis senior hasil studi tersebut dan Direktur Food is Medicine Institute di Friedman School.
Menurut para peneliti, seiring berkembangnya negara dan meningkatnya pendapatan, minuman manis menjadi lebih mudah diakses. Laki-laki lebih mungkin menderita konsekuensi dari konsumsi minuman manis daripada perempuan, seperti halnya orang dewasa yang lebih muda dibandingkan dengan orang yang lebih tua.
”Kita memerlukan intervensi berbasis bukti yang mendesak untuk mengekang konsumsi minuman manis di seluruh dunia, sebelum lebih banyak nyawa yang terenggut akibat dampaknya terhadap diabetes dan penyakit jantung,” kata Laura Lara-Castor, penulis pertama hasil studi, lulusan Friedman School yang kini bekerja di University of Washington.
Para penulis studi tersebut menyerukan pendekatan multicabang, termasuk kampanye kesehatan masyarakat, regulasi iklan minuman manis, dan pajak atas minuman manis. Beberapa negara telah mengambil langkah-langkah ke arah ini. Meksiko, yang memiliki salah satu tingkat konsumsi minuman manis per kapita tertinggi di dunia, memberlakukan pajak atas minuman tersebut pada tahun 2014. Bukti awal menunjukkan bahwa pajak tersebut efektif dalam mengurangi konsumsi, terutama di kalangan individu berpenghasilan rendah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/07/20127b53d526457009236bda09e78e4c-minuman_berpemanis.png)
Temuan baru ini memicu kekhawatiran karena penelitian sebelumnya dari tim yang sama di The BMJ (Agustus 2024) mengungkap tren peningkatan konsumsi minuman berpemanis di kalangan anak-anak dan remaja. Penelitian terhadap kebiasaan makan anak-anak dan remaja dari 185 negara mengungkapkan, remaja rata-rata mengonsumsi hampir 23 persen lebih banyak minuman manis pada 2018 daripada yang mereka konsumsi pada tahun 1990.
Studi ini diambil dari Global Dietary Database, kompilasi komprehensif besar tentang apa yang dimakan atau diminum orang di seluruh dunia, untuk menghasilkan estimasi dan tren global pertama tentang asupan minuman manis pada remaja. Minuman berpemanis dalam riset ini didefinisikan sebagai soda, minuman jus, minuman energi, minuman olahraga, dan minuman buah yang dimaniskan dengan tambahan gula dan mengandung lebih dari 50 kkal per porsi 1 cangkir.
Remaja rata-rata mengonsumsi hampir 23 persen lebih banyak minuman manis pada 2018 daripada yang mereka konsumsi pada tahun 1990.
Dengan menggabungkan data dari setidaknya 1.200 survei dari tahun 1990 hingga 2018 dalam sebuah model besar, tim peneliti menemukan bahwa kaum muda (usia 3 hingga 19 tahun) minum lebih banyak dan memiliki asupan hampir dua kali lipat dari keseluruhan orang dewasa.
Asupan minuman manis di kalangan kaum muda sangat bervariasi menurut kawasan, rata-rata 3,6 porsi per minggu secara global dan berkisar dari 1,3 porsi per minggu di Asia Selatan hingga 9,1 porsi di Amerika Latin dan Karibia. Para peneliti menemukan bahwa anak-anak dan remaja di 56 negara, yang mewakili 238 juta kaum muda atau 10 persen dari populasi kaum muda global, rata-rata mengonsumsi 7 porsi atau lebih per minggu.
”Minuman manis meningkatkan pertambahan berat badan dan risiko obesitas. Jadi, meskipun anak-anak tidak sering terkena diabetes atau penyakit kardiovaskular saat mereka masih muda, mungkin ada dampak yang signifikan di kemudian hari,” kata penulis pertama Laura Lara-Castor.
Lara-Castor mengatakan, temuan studi ini menyoroti perlunya edukasi dan intervensi kebijakan untuk mengubah perilaku sejak dini dan mencegah hasil yang merugikan terkait dengan asupan minuman manis di masa kanak-kanak.
Di antara negara-negara dengan populasi terpadat di dunia, negara-negara dengan asupan minuman manis tertinggi oleh kaum muda pada tahun 2018 termasuk Meksiko (10,1 porsi per minggu), diikuti Uganda (6,9 porsi), Pakistan (6,4 porsi), Afrika Selatan (6,2 porsi), dan Amerika Serikat (6,2 porsi). Melihat tren dari 1990 hingga 2018, kawasan dengan peningkatan konsumsi terbesar di kalangan anak muda adalah Sub-Sahara Afrika, di mana rata-rata porsi mingguan tumbuh 106 persen menjadi 2,17 porsi per minggu, sebuah percepatan yang mengkhawatirkan.
”Temuan kami seharusnya membunyikan lonceng peringatan di hampir setiap negara di seluruh dunia,” kata Mozaffarian. ”Asupan dan tren yang kami lihat menimbulkan ancaman signifikan terhadap kesehatan masyarakat, yang dapat dan harus kita atasi demi masa depan populasi yang lebih sehat.”
Penulis:
Ahmad ArifEditor:
Adhitya RamadhanPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .