Kardinal Suharyo berpesan agar umat Katolik semakin menghormati sesama manusia serta merawat dan mengembangkan semangat solidaritas ataupun subsidaritas.
20 Apr 2025 15:15 WIB · Humaniora
JAKARTA, KOMPAS — Inti dan makna Paskah tidak sekadar perayaan, tetapi juga mendorong umat Katolik dan Kristiani menjadi manusia Paskah yang setiap tindakannya ditentukan jalan Kristus. Perayaan Paskah juga diharapkan jadi pengingat untuk senantiasa peduli terhadap saudara yang lemah dan menghindari keserakahan.
Renungan dan pesan Paskah itu disampaikan Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo saat memberikan homili atau khotbah Misa Hari Raya Paskah Pontifikal di Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga, Katedral, Jakarta, Minggu (20/4/2025). Tema Paskah yang diangkat pada tahun 2025 adalah ”Kepedulian Lebih kepada Saudara yang Lemah dan Miskin”.
Dalam khotbahnya, Kardinal Suharyo menyinggung berbagai persoalan berbangsa dan bernegara. Masalah tersebut mulai dari tindak pidana perdagangan orang, kerusakan lingkungan penyebab berbagai bencana, judi daring, hingga kekerasan fisik dan mental.
Selain itu, pemimpin tertinggi umat Katolik di Indonesia ini menyoroti persoalan korupsi yang masih banyak terjadi di Indonesia. Mengutip perkataan Paus Fransiskus, Kardinal Suharyo menyebut luka-luka bernanah akibat korupsi merupakan dosa berat yang berteriak ke surga serta merongrong dasar kehidupan pribadi dan masyarakat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/20/55ac13d5d69f9b3461a79a35943a7e34-suharyo.jpg)
Menurut Kardinal Suharyo, korupsi membuat kita tidak mampu melihat masa depan dengan penuh harapan. Keserakahan yang zalim ini juga telah menghancurkan harapan-harapan kaum lemah dan menginjak-injak orang yang paling miskin di antara kaum miskin.
”Korupsi adalah skandal publik yang berat. Tidak sulit disimpulkan bahwa hulu dan hilir dari semua tindakan seperti itu adalah keserakahan. Keserakahan seperti ini dapat dengan mudah mengubah watak pribadi dan akan menghancurkan bukan hanya kehidupan pribadi, melainkan juga kehidupan bersama,” ujarnya.
Menjelang akhir khotbahnya, Kardinal Suharyo berpesan agar umat Katolik semakin menghormati manusia, ikut bertanggung jawab mengusahakan kebaikan bersama, serta merawat dan mengembangkan semangat solidaritas ataupun subsidaritas.
Korupsi adalah skandal publik yang berat. Tidak sulit disimpulkan bahwa hulu dan hilir dari semua tindakan seperti itu adalah keserakahan.
”Kita juga perlu memberikan perhatian lebih kepada saudara-saudara kita yang kurang beruntung dan ikut bertanggung jawab menjaga kelestarian alam,” ucapnya.
Saat konferensi pers, Kardinal Suharyo menekankan bahwa inti dan makna Paskah tidak sekadar perayaan, tetapi juga mendorong umat Katolik dan Kristiani menjadi manusia Paskah. Manusia Paskah senantiasa membiarkan Kristus bangkit di dalam dirinya sehingga pilihan hidup dan tindakannya juga ditentukan oleh Kristus.
Secara umum, indikator orang yang pilihan hidup dan tindakannya ditentukan oleh Kristus adalah selalu berjalan atau berkeliling sambil berbuat baik. Konsep berbuat baik ini sangat luas dan ditentukan sesuai dengan kondisi sosial masyarakat di lingkungannya masing-masing.
”Merayakan Paskah tidak cukup hanya dengan mengikuti misa selama 1,5 atau 2 jam, tetapi perlu juga mendorong orang yang merayakan Paskah untuk menjadi manusia Paskah. Orang yang ada di dalam jabatan pemerintahan silakan memutuskan berbuat baik itu seperti apa, demikian juga yang ada di dalam masyarakat,” kata Kardinal Suharyo.
Kepala Humas Gereja Katedral Jakarta Susyana Suwadie mengatakan, Gereja Katedral mengadakan empat kali misa saat hari raya Paskah dengan jumlah jemaat mencapai ribuan orang. Misa pertama adalah misa pontifikal yang berlangsung pada pagi hari dan dipimpin langsung oleh Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/18/f9b0b31a35e04f7c891280b060e20d97-cropped_image.jpg)
Setelah itu, dilanjutkan misa keluarga pada siang hari yang dipimpin Romo Yohanes Deodatus. Dalam misa keluarga ini juga disampaikan dengan bahasa yang ramah untuk anak-anak. Kemudian misa ketiga dan keempat berlangsung pada sore hari, pukul 15.30 dan 18.00.
Selain misa, sebelumnya Gereja Katedral juga menyajikan penampilan drama Jalan Salib Kreatif pada Jumat (18/4/2025) sebagai renungan bersama peristiwa wafatnya Yesus Kristus. Pementasan drama bertajuk ”Mater Purissima” atau Ibu yang Sangat Suci tersebut menyoroti kisah sengsara Yesus Kristus dari perspektif Bunda Maria.
Gereja Katedral juga mengapresiasi pihak Masjid Istiqlal yang mendukung kelancaran perayaan Paskah 2025. Selama perayaan Tri Hari Suci Paskah, yakni Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Suci, pihak Masjid Istiqlal menyediakan fasilitas parkir dan akses melalui Terowongan Silaturahim untuk mempermudah mobilitas umat Kristiani yang mengikuti misa.
Penulis:
Pradipta Pandu MustikaEditor:
Evy RachmawatiPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar