Pejabat publik sewajarnya beraksi konkret hingga akhir masa jabatan, pelayanannya adalah mimpi akan terwujud, janji akan terpenuhi, dan rekonsiliasi akan terjadi.
19 Apr 2025 04:00 WIB · Opini
Pada hari Paskah, umat Kristiani merayakan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Kita bisa merasakan adanya suasana kemenangan dan kegembiraan yang dimeriahkan melalui lagu-lagu, dengan diiringi sorak-sorai ”Alleluia… Alleluia… Alleluia…!”
Di balik sukacita kebangkitan tersebut, ada penderitaan dan kematian Yesus di kayu salib pada Jumat Agung.
Dengan mengimani dan merayakan Paskah, kita diyakinkan bahwa yang jahat dikalahkan dan maut dihancurkan karena kasih dan kuasa Allah dalam diri Yesus Kristus.
Melalui misteri Paskah, kita diteguhkan bahwa penderitaan dan salib adalah jalan menuju kebahagiaan dan kemenangan. Kematian dan dukacita Jumat Agung adalah pintu menuju kebangkitan dan sukacita Paskah. Tiada Paskah tanpa Jumat Agung.
Saat merayakan Paskah, kita diajak merenungkan bagaimana Allah melakukan rekonsiliasi dan membuat resolusi sebagai solusi untuk menyelamatkan manusia.
Rekonsiliasi adalah tindakan mempertemukan pihak-pihak yang tidak cocok, berseteru, atau berkonflik, agar tercipta suasana damai dan sejahtera.
Dalam kehidupan agama, pihak yang berkonflik adalah Allah dan manusia, serta manusia dengan sesamanya. Tiada keselarasan antara sikap dan tindakan manusia dengan kehendak Allah. Manusia berdosa melanggar kehendak Allah dan berbuat jahat terhadap sesamanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/14/de4de4a9b95adf2ba9475071cbe93fea-20250414ron03.jpg)
Karena dosa-dosanya, manusia seharusnya binasa. Karena kejahatannya, manusia seharusnya dihukum. Karena kesalahannya, manusia seharusnya menderita.
Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, untuk menghindari kebinasaan, penderitaan, dan hukuman tersebut, manusia harus membuat upacara perdamaian dengan mempersembahkan binatang sebagai korban penebus dosa. Akan tetapi, persembahan korban binatang ini tidak sempurna.
Sebagai solusi, Allah membuat resolusi, yaitu keputusan melakukan rekonsiliasi melalui Putra-Nya yang tunggal, sebagai korban perdamaian yang sempurna.
”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”. (Yoh 3: 16)
Melalui misteri inkarnasi, Putra Allah lahir sebagai manusia. Ia menjadi sama seperti manusia, kecuali dalam hal dosa untuk menjadi tebusan bagi dosa manusia.
”Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang”. (Markus 10: 45)
Jalan penebusan ini ditempuh lewat jalan penderitaan dan wafat di atas kayu salib pada Jumat Agung. ”Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan”. (Mat 17: 22-23)
Paskah adalah solusi untuk menyelamatkan manusia dan resolusi untuk terjadinya rekonsiliasi antara manusia dan Allah, hingga manusia pun dapat berdamai dengan sesamanya.
Saat merenungkan misteri Paskah, sebagai solusi atas masalah kehidupan berbangsa, kita diundang untuk membuat resolusi agar terjadi rekonsiliasi dengan (kesalahan) masa lalu dan berdamai dengan sesama (anak bangsa).
Untuk mendamaikan manusia dengan Allah, Yesus rela menyangkal diri sebagai Tuhan dan memanggul salib sebagai manusia yang taat kepada Allah sampai wafat di kayu salib.
Tiada rekonsiliasi sejati tanpa adanya kesanggupan untuk menyangkal diri dan berkorban bagai memanggul salib. Tiada rekonsiliasi tanpa kerelaan para pelayan dan pejabat publik untuk menyangkal diri dan berkorban demi kepentingan rakyat.
Tiada rekonsiliasi tanpa kerelaan rakyat untuk mendukung pejabat dan pelayan publik dalam menjalankan tugas, tanggung jawab, dan wewenangnya secara bijaksana, yaitu dengan cara yang baik, benar, santun, dan kudus.
Rekonsiliasi macam apa yang menjadi resolusi yang hendak dijalankan para pelayan dan pejabat publik?
Seorang pemimpi dan pengumbar janji biasa melakukan observasi dan berimajinasi tanpa resolusi dan aksi, sementara seorang pembuat resolusi akan langsung beraksi sebagai solusi.
Pemimpi akan terus berharap tanpa aksi konkret hingga pada akhir masa jabatan dan pelayanannya pun hanya janji dan tetaplah sebuah mimpi. Sementara pembuat resolusi akan melakukan aksi konkret hingga akhir masa jabatan, dan pelayanannya adalah mimpi akan terwujud, janji akan terpenuhi, dan rekonsiliasi akan terjadi.
Kita membutuhkan pemimpin—baik pejabat pemerintahan, tokoh agama dan budaya, maupun pemimpin umat dan masyarakat—yang mampu membuat resolusi dan aksi konkret, sebagai rekonsiliasi dan solusi atas berbagai pelanggaran terhadap Pancasila.
Berkaitan dengan sila pertama, kedua, dan ketiga, apa yang bisa kita lakukan agar semua orang tanpa kecuali dapat menunaikan ibadat sesuai dengan agama dan kepercayaannya, dengan aman dan nyaman, serta dihargai dan dijunjung tinggi harkat dan martabat manusianya, dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini?
Berkaitan dengan sila keempat dan kelima, bagaimana kita dapat memulihkan kehidupan demokrasi dan mewujudkan keadilan sosial yang makin merata bagi seluruh rakyat Indonesia?
Kalau komitmen mewujudkan sila-sila Pancasila ini menjadi resolusi dan aksi kita bersama saat ini, Indonesia Emas pun bukan lagi sebuah mimpi dan janji, melainkan jalan rekonsiliasi atas berbagai konflik pada masa lalu dan solusi untuk mencapai cita-cita masa depan bangsa Indonesia yang berdaulat, maju, adil, dan makmur pada tahun 2045.
Pada saat itulah, kita akan mengalami sukacita Paskah ”Alleluia Indonesia Alleluia!”
Untuk mencapai Paskah Indonesia Emas nanti, kita harus menempuh perjalanan Jumat Agung saat ini dengan penyangkalan dan pengorbanan diri dalam menunaikan tugas, tanggung jawab, dan wewenang sesuai dengan fungsi dan posisi kita masing-masing bagaikan memanggul salib demi kesejahteraan rakyat, keselamatan bersama, dan kejayaan Indonesia.
Bukankah pepatah kita juga mengatakan, ”Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.”
Marilah kita berjalan bersama memanggul salib menuju Paskah Indonesia Emas 2045.
Antonius Subianto Bunjamin, Uskup Bandung, Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)
Penulis:
Antonius Subianto BunjaminEditor:
Neli Triana, Sri Hartati SamhadiPenyelaras Bahasa:
Nur Adji