Lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat. Tim panjat tebing disiplin ”speed” Indonesia mengemban misi itu di seri Piala Dunia 2025 Bali, 2-4 Mei.
01 Mei 2025 11:06 WIB · Olahraga
Ketika ditanya bagaimana perasaannya akan tampil di seri Piala Dunia Panjat Tebing 2025 di rumah sendiri, mata Desak Made Rita Kusuma Dewi berbinar. Desak antusias. Sebab, untuk pertama kalinya, pemanjat tebing disiplin speed asal Buleleng ini akan tampil di ajang internasional yang digelar di Bali, tepatnya di Pulau Peninsula The Nusa Dua.
”Pasti akan lebih deg-degan tampil di seri Piala Dunia di Bali dan bakal ditonton sama keluarga, terutama orangtua. Biasanya di negara lain atau di Jakarta. Dulu juga terbiasa tidak ditonton karena orangtua izin kerja, tapi untuk sekarang pertama kalinya akan ditonton mereka,” ucap Desak yang tak sabar menanti momen itu tiba.
Desak adalah salah satu pemanjat terbaik dari Pulau Dewata. Dalam kesempatan pertamanya tampil di hadapan publik sendiri pada 2-4 Mei 2025, Desak didorong motivasi yang berlimpah. Dia ingin membanggakan diri, keluarga, daerah, dan negaranya pada ajang level dunia tersebut.
Terlebih, pada seri sebelumnya di Wujiang, China, pekan lalu, Desak belum bisa melangkah lebih jauh. Pemanjat berusia 24 tahun ini terhenti pada babak perempat final setelah sempat menorehkan catatan waktu terbaik kedua pada babak kualifikasi.

Sebagai pemanjat speed, Desak ingin terus menajamkan catatan waktunya. Peraih medali emas di Kejuaraan Dunia Panjat Tebing 2023 di Bern ini bertekad memanjat dinding panjat dan menyentuh tombol finis lebih cepat. Minimal, dia ingin bisa menyamai rekor pribadinya, 6,36 detik. Tujuan utamanya tahun ini ialah menembus catatan di bawah 6 detik.
”Apalagi, pas Desak tampil bertepatan dengan hari raya Kuningan, semoga bisa mendapatkan keberkahan dan kelancaran untuk bisa tampil maksimal dan meraih prestasi,” ucap Desak.
Misi untuk memanjat dengan waktu yang lebih cepat juga disampaikan atlet speed putra, Kiromal Katibin. Di Wujiang, Kiromal menjadi pemanjat Indonesia yang melangkah paling jauh dan berhasil membawa pulang medali perunggu.
Prestasi di Wujiang menjadi modal Kiromal untuk tampil lebih baik saat berlomba di Indonesia. Apalagi, pemanjat asal Batang, Jawa Tengah, ini sudah mampu mendekati rekor dunia yang saat ini dipegang Samuel Watson (Amerika Serikat).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/29/8e44d470-f423-4eb6-b5fb-1570e215f3ed_png.png)
Kiromal mencatatkan waktu personal terbaik 4,75 detik, hanya terpaut 0,01 detik dari rekor Watson. Dia bertekad menajamkan waktunya lagi dan meraih prestasi lebih tinggi melampaui Wujiang.
”Saya berharap di Bali lebih tenang lagi dan bisa konsisten mempertahankan waktu di bawah lima detik, dan tentu saja semoga bisa memecahkan rekor dunia,” tutur Kiromal yang berkali-kali mengutarakan keinginannya untuk kembali menduduki takhta rekor dunia.
Dari tekad para pemanjat itu pula tecermin misi panjat tebing yang sesuai dengan moto Olimpiade: citius, altius, fortius. Untuk menjadi lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat.
Para pemanjat tebing Indonesia diharapkan tampil lebih kuat, terlebih secara skuad lebih banyak. Indonesia turun dengan kekuatan penuh, memaksimalkan kuota yang tersedia.
Berdasarkan aturan Federasi Internasional Panjat Tebing (IFSC), Indonesia mendapatkan kuota tetap dua orang per jender di Piala Dunia. Selain itu, Indonesia memiliki dua kuota tambahan empat putra dan tiga putri yang mengacu pada performa di Piala Dunia tahun sebelumnya.

Khusus di Bali, Indonesia mendapatkan kuota lainnya sebagai tuan rumah hingga empat peserta per jenis kelamin. Alhasil, tim speed Indonesia berkekuatan 19 orang yang terdiri dari 10 pemanjat putra dan 9 pemanjat putri.
Selain para pemanjat yang menghuni pemusatan latihan nasional, tim speed Indonesia juga diperkuat atlet daerah. Menurut Ketua Bidang Pembinaan Prestasi Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) M Rizali Umarella, mereka merupakan atlet-atlet terbaik daerah yang menunjukkan penampilan apik pada beberapa kesempatan, termasuk PON Aceh-Sumut 2024.
”Ini berkaitan dengan memberikan kesempatan kepada atlet terbaik daerah bertumbuh. Karena ketika bicara pelatnas, ada hal-hal yang membuat tidak bisa semua atlet terbaik ini masuk, termasuk perkara pendanaan. Namun, kami tetap berupaya melibatkan mereka di ajang dunia,” ucap Rizali.
”Ini juga soal memberikan kesempatan kepada atlet dan pelatih untuk tahu euforia Piala Dunia. Di sisi lain, kehadiran atlet daerah pun bagian dari lapisan-lapisan pelatnas sehingga tim ini tetap berkesinambungan,” tuturnya.
Dengan lebih banyak pemanjat Indonesia yang bisa ikut serta, Rizali berharap semakin terbuka juga peluang untuk berprestasi. Dia berkaca pada seri Piala Dunia di Wujiang ketika China mampu mendominasi pada kategori putra dan putri.
Pada kategori putri di Wujiang, misalnya, 10 peserta dari total 37 peserta berasal dari China. Semua wakil China, yang beberapa di antaranya debutan di Piala Dunia, berhasil menembus babak final dengan hanya dua yang tidak mencatatkan waktu 6 detik sekian. Shaoqin Zhang keluar sebagai juara pada kategori ini.
Para pemanjat Indonesia juga punya catatan baik saat berlomba di hadapan publik sendiri. Pada seri Piala Dunia 2023 di Jakarta, misalnya, Indonesia membawa pulang medali emas dari Raharjati Nursamsa dan medali perunggu dari Kiromal Katibin untuk kategori putra. Desak Made juga mempersembahkan medali perak pada kategori putri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/05/07/83bc1e79-254d-4a94-a95c-295777e775c7_jpg.jpg)
Adapun pada seri Piala Dunia pertama yang digelar di Indonesia pada 2022 di Jakarta, para pemanjat tuan rumah bahkan menciptakan final sesama Indonesia pada kategori putra. Kiromal beradu kecepatan dengan Aspar, perlombaan yang akhirnya dimenangi Aspar.
”Di Bali, tetap ada target. Namun, target itu macam-macam, tidak selalu dalam bentuk juara. Saat ini, untuk speed, kan, sedang fase cooling down setelah tahun yang padat pada 2024. Meski begitu, tetap ada target soal progres meski kondisi tidak ideal karena jadwal yang padat,” tutur Rizali.
Hal serupa disampaikan pelatih tim panjat tebing Indonesia Hendra Basir. Terpenting, kata Hendra, pihaknya sudah memetakan persaingan tahun ini. Wujiang telah menjadi ajang munculnya kejutan-kejuatan dari beberapa negara, tidak terkecuali China.
Pada kategori putra, China juga membawa pulang medali emas setelah Jianguo Long keluar sebagai yang tercepat pada babak final. Di sisi lain, kata Hendra, ini juga menunjukkan persaingan yang kian ketat di disiplin speed.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/09/30/6650fc29-a0ce-4055-b50c-fa9f8d4e654b_jpg.jpg)
Waktu yang dicatat oleh pemanjat terbaik ke-16 dalam setiap babak kualifikasi sering digunakan sebagai indikator seberapa cepat kompetisi tersebut. Berdasarkan indikator ini, seri Wujiang merupakan kompetisi tercepat sepanjang masa karena catatan waktu untuk putra ditetapkan pada 5,16 detik, dan untuk putri pada 7,11 detik.
”Ya, saya pikir ada ledakan yang luar biasa dari kompetitor-kompetitor. Tapi, atlet Indonesia juga tetap berprogres gitu. Artinya, situasi masih terjaga. Alih-alih fokus pada perkembangan negara lain, kami mencoba fokus pada kemampuan sendiri,” ujar Hendra.
Di Pulau Dewata, para pemanjat Indonesia tak sekadar mengejar catatan waktu, mereka juga mengejar makna dari semboyan: lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat. Di antara sorak pendukung sendiri, dinding panjat menjadi tempat bagi ambisi dan asa mereka. Pada akhirnya, setiap sentuhan pada tombol finis adalah ikrar bahwa mimpi bisa dicapai dari tanah sendiri.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji