PIALA DUNIA 2026

Qatar Ingin Hapus Trauma 2022 Saat Bertemu Swiss

Qatar memulai langkah di Piala Dunia 2026 dengan misi melepas trauma empat tahun silam. Sebaliknya, Swiss tidak mau jadi korban kejutan laga perdana.

12 Jun 2026 14:48 WIB · Olahraga

Getty Images via AFP

Oleh Adrian Fajriansyah

SANTA CLARA, JUMAT — Qatar mengusung misi menghapus memori kelam empat tahun lalu saat menghadapi Swiss dalam laga perdana penyisihan Grup B di Stadion San Francisco Bay Area, Santa Clara, Amerika Serikat, Minggu (14/6/2026) pukul 02.00 WIB. Qatar ingin membuktikan diri lebih dari sekadar pelengkap di Piala Dunia 2026.

Bertindak sebagai tuan rumah di Piala Dunia 2022, Qatar menorehkan tinta hitam di hadapan pendukungnya sendiri. Mereka tersingkir di fase grup tanpa mendulang satu poin pun akibat tiga kekalahan beruntun. Hanya menceploskan sebiji gol, Qatar kebobolan tujuh gol.

Tahun ini, mereka ingin hasil berbeda. Setelah perjuangan berat lolos ke putaran final, Pelatih Qatar Julen Lopetegui percaya diri timnya bakal tampil lebih baik.

LOS ANGELES, CALIFORNIA - JUNE 06: Head coach Julen Lopetegui of Qatar looks on prior to the international friendly match between Qatar and El Salvador at BMO Stadium on June 06, 2026 in Los Angeles, California.   Luiza Moraes/Getty Images/AFP (Photo by Luiza Moraes / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

”Kami tahu realitas bahwa para pesaing lebih baik daripada kami. Tetapi, kami tidak menyerah. Ini justru mengharuskan kami lebih siap agar dapat mencapai ambisi dan impian kami menjadi pesaing yang kuat,” ujar Lopetegui, dilansir The Straits Times, Jumat (12/6/2026).

Menghadapi laga melawan Swiss, semangat pantang menyerah wajib dinyalakan. Berdasarkan peringkat FIFA pada 12 Juni 2026, Swiss berada di peringkat ke-19 dunia, sedangkan Qatar di urutan ke-56 dunia.

Ketimpangan peringkat dunia itu bukan sekadar angka statistik, melainkan representasi konsistensi performa kedua negara.

LOS ANGELES, CALIFORNIA - JUNE 06: Edmilson Jr #8 of Qatar looks on during the second half of the international friendly match between Qatar and El Salvador at BMO Stadium on June 06, 2026 in Los Angeles, California.   Luiza Moraes/Getty Images/AFP (Photo by Luiza Moraes / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Sejak mengambil alih kemudi kepelatihan, Lopetegui masih kesulitan menemukan bentuk permainan terbaik timnya. Formasi 4-3-3 milik Lopetegui belum efektif.  Dari 13 laga di bawah arahannya, Qatar justru menderita tujuh kekalahan dan hanya menuai dua kemenangan.

Lini serang yang mengandalkan duet Almoez Ali dan Akram Afif sedang mengalami krisis kreativitas. Terbukti, dari enam laga seusai memastikan diri lolos ke Piala Dunia 2026, skuad ”Merah Marun” gagal menyarangkan gol dalam empat pertandingan.

Performa buruk tersebut meliputi hasil imbang 0-0 melawan tim peringkat ke-100 dunia yang tidak berpartisipasi di Piala Dunia, El Salvador, dalam laga pemanasan pamungkas.

Homam Ahmed dan Akram Afif, pesepak bola Qatar, sebelum pertandingan persahabatan internasional antara Qatar dan El Salvador di Stadion BMO pada 6 Juni 2026 di Los Angeles, California, AS.

Sebaliknya, Swiss datang ke Amerika dengan status sebagai salah satu tim paling stabil di Eropa. Skuad ”La Nati” merupakan perempat finalis Piala Eropa 2024 dan tidak pernah absen menembus babak 16 besar dalam tiga edisi Piala Dunia terakhir, mulai dari Brasil (2014), Rusia (2018), hingga Qatar (2022). Permainan mereka mengandalkan kerja sama tim.

Kolektivitas permainan Swiss ditopang kematangan para pemain bintang yang merumput di liga-liga elite Eropa. Mereka punya gelandang Granit Xhaka, bek Manuel Akanji, dan penyerang Breel Embolo. Formasi andalan 4-2-3-1 dengan menempatkan Xhaka dan Remo Freuler sebagai jangkar kembar diandalkan untuk mengontrol ritme permainan.

Switzerland's Granit Xhaka, back left, talks to assistant coach Davide Calla, while head coach Murat Yakin removes a dummy, during a training session of the national soccer team, Tuesday, June 9, 2026, in San Diego, ahead of the World Cup soccer tournament. (Peter Klaunzer/Keystone via AP)

Akan tetapi, Pelatih Swiss Murat Yakin tidak mau jemawa. Dia mengatakan, laga pembuka selalu menyimpan misteri akibat tekanan mental yang tinggi untuk kedua tim. Dia mencontohkan kekalahan juara bertahan Argentina dari Arab Saudi di partai pembuka Piala Dunia 2022.

”Qatar adalah lawan yang sangat serius. Kami tidak boleh membiarkan apa yang dialami Argentina melawan Arab Saudi empat tahun lalu terjadi kepada kami. Pada akhirnya, turnamen seperti ini selalu berkembang karena kejutan-kejutan yang ada,” kata Yakin, dilansir Reuters, Jumat.

Cuaca ekstrem

Selain adu taktik dan mental di atas lapangan, faktor nonteknis berupa cuaca ekstrem dipastikan akan memberikan pengaruh krusial terhadap hasil akhir laga. Turnamen berlangsung di tengah musim panas Amerika sehingga suhu menyengat dan kelembaban tinggi akan menjadi tantangan serius bagi ketahanan fisik para pemain.

Menanggapi situasi tersebut, FIFA secara resmi telah mengonfirmasi kebijakan jeda hidrasi wajib selama tiga menit di tengah tiap-tiap babak. Kebijakan itu diadopsi demi meminimalkan dampak kelelahan ekstrem yang dapat menurunkan performa dan mengancam keselamatan pemain.

Switzerland's head coach Murat Yakin, left, talks to his player Breel Embolo during a training session for the national soccer team, Wednesday, June 10, 2026, in San Diego, ahead of the World Cup soccer tournament. (Peter Klaunzer/Keystone via AP)

Qatar telah mengantisipasi perbedaan kondisi cuaca itu dengan datang lebih awal ke Amerika. Mereka mendarat di Los Angeles pada Minggu (31/5/2026) agar proses adaptasi lebih optimal.

Adapun Swiss memiliki waktu adaptasi yang lebih singkat. Mereka pun dihadapkan pada faktor kelelahan pemain karena mayoritas kompetisi di Eropa tuntas pada akhir Mei 2026.

Berkaca pada plus minus itu, laga Qatar versus Swiss patut dinantikan. Apakah Swiss kembali meraih hasil positif atau justru Qatar yang lepas dari trauma empat tahun lalu.


Kerabat Kerja

Penulis:

Adrian Fajriansyah
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti