Dalam 13 kali penampilan di Piala Dunia, Swiss selalu konsisten lolos fase grup. Konsistensi tim ”Salib Merah” akan diganggu Kanada, Bosnia-Herzegovina, dan Qatar.
10 Jun 2026 09:15 WIB · Olahraga
AFP
Dalam Piala Dunia, Swiss selalu konsisten mampu lolos grup. Keunggulan tim Swiss bukan tanpa alasan. Di antara tiga tim lainnya, Swiss memiliki penampilan paling banyak dalam ajang sepak bola terakbar ini. Mereka mencatat 13 kali penampilan di Piala Dunia sejak 1996 dan hampir selalu lolos ke babak 16 besar.
Di Grup B, tim ”Salib Merah” disebut sebagai yang paling konsisten untuk lolos grup. Empat tahun lalu di Qatar, Swiss lolos dari grup neraka, tempat mereka bersaing dengan Brasil, Kamerun, dan Serbia. Dari tiga pertandingan, mereka hanya kalah dari Brasil, itu pun dengan skor tipis 0-1.
Konsistensi ini yang ingin dipertahankan Murat Yakin, pelatih Swiss. Yakin menilai timnya kali ini lebih solid daripada edisi empat tahun lalu. Yakin sudah mengumumkan 26 pemain yang ia boyong ke Amerika. Dari total 26 pemain itu, 17 pemain merupakan pemain yang bermain di Piala Dunia sebelumnya.
Nama-nama besar datang ke Amerika dengan segudang prestasi di liga masing-masing, salah satunya, Granit Xhaka, kapten tim sekaligus pemilik 105 penampilan dengan total 9.286 menit bermain.
Xhaka adalah jenderal lapangan. Bersama Bayer Leverkusen, ia menikmati gelar juara pertama mereka di Bundesliga. Pemain berusia 33 tahun itu lalu diboyong kembali ke Liga Inggris bersama Sunderland yang sukses masuk ke Liga Eropa musim depan untuk pertama kalinya sejak 1973.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/06/21/587b38ae-c7d8-492c-8cce-4d1f4046323e.jpeg)
Selain Xhaka, Yakin juga memanggil Manuel Akanji, bek 30 tahun yang sukses bersama Manchester City. Ditambah lagi, Akanji jadi benteng andalan Christian Chivu musim ini kala Inter Milan merebut dua gelar sekaligus dan mendominasi Liga Italia.
”Selama beberapa tahun terakhir, kami telah mengembangkan rasa persatuan yang fantastis dan semangat tim yang hebat. Itulah sebabnya, penting bagi saya dan staf untuk tidak melakukan perubahan drastis dan mengandalkan pemain-pemain yang sudah terbukti kemampuannya,” ujar Yakin seusai mengumumkan 26 pemain yang ia bawa ke Piala Dunia 2026, Kamis (21/5/2026).
Pesaing Swiss yang siap memberikan kejutan adalah Bosnia-Herzegovina. Masih ingat nyanyian pendukung Bosnia-Herzegovina saat menumbangkan Italia, juara dunia empat kali, di fase kualifikasi?
”Saya dari Bosnia, bawa saya ke Amerika,” nyanyi para penggemar di Stadion Zenica selama final playoff melawan Italia.
Doa 15.000 penonton pun terkabul. Mereka menghantam Italia lewat adu peruntungan titik putih dengan skor 4-1.
Tak hanya Italia, Wales juga mereka singkirkan pada pertandingan sebelumnya. Kedua kemenangan besar itu sangat dramatis. Bosnia-Herzegovina memenangi kedua pertandingan setelah tertinggal di waktu normal lalu berjuang di adu penalti.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/17/33933293-d883-4fdc-b7cd-4fb3968e4afd.jpg)
Bosnia-Herzegovina selalu berhasil memberikan kejutan. Namun, siapa pahlawan Bosnia-Herzegovina? Semua orang mungkin menjawab pemain veteran yang melegenda, Edin Dzeko.
Ia mencetak gol penyama kedudukan saat Bosnia-Herzegovina mengalahkan Italia di usianya yang sudah 40 tahun. Pengalaman dan instingnya tak juga luntur.
Sudah banyak gelar ia raih bersama Manchester City, Inter Milan, dan Roma. Pengalamannya tak bisa dianggap remeh. Ia penyerang paling berbahaya di Bosnia-Herzegovina yang harus diantisipasi tim lain di Grup B.
Mungkin Dzeko dan kawan-kawan bisa jadi lawan yang merepotkan Swiss dan menjatuhkan konsistensi mereka. Jika mencetak gol lagi, ia bisa mendekati rekor Roger Milla, legenda Kamerun, yang jadi pemain tertua pencetak gol di Piala Dunia.
Sebagai unggulan Grup B, tim ’Salib Merah’ sangat mungkin bakal mampu melangkah lebih jauh. Mereka secara konsisten selalu lolos grup pada 13 penampilan mereka di Piala Dunia.
Tim ini memang baru dua kali bermain di ajang Piala Dunia sejak 1993. Bosnia-Herzegovina merupakan negara pecahan Yugoslavia. Tim nasional sebelumnya pernah mencapai babak gugur di Piala Dunia Afrika Selatan 2010, tempat mereka kalah dari Portugal. Mereka kemudian mengamankan kualifikasi langsung untuk Brasil 2014, bahkan naik hingga peringkat kedelapan dalam Peringkat Dunia FIFA pada saat itu.
Dipimpin oleh Pelatih Sergej Barbarez, Bosnia-Herzegovina kini menuju ajang global ini dengan ambisi yang diperbarui.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/22/f8bf9cd0721dacb405abedcfc79775b8-20260522_GKT_Hadiah_Piala_Dunia_3_mumed.jpg)
”Jika kamu bertanya sepuluh tahun lalu apakah saya akan bermain pada umur 40 tahun, mungkin saya jawab tidak. Namun, saya mendengarkan tubuh saya dan selalu berlatih keras. Saya merasa baik dan lebih penting lagi saya masih bisa membantu tim,” kata Dzeko, dikutip dari Transfermarkt, Jumat (15/5/2026).
Jika Bosnia-Herzegovina bermodal pengalaman pemain, Qatar pun tak mau kalah. Tim ”Merah Marun”, julukan Qatar, datang dengan strategi permainan yang bisa saja mengejutkan banyak orang.
Julen Lopetegui memimpin Qatar sejak Mei 2025 dan hanya membutuhkan waktu lima bulan untuk membawa negara ini lolos ke Piala Dunia 2026, penampilan kedua mereka di ajang ini. Ia memastikan tiket ke Amerika Utara setelah mengalahkan Uni Emirat Arab dengan skor 2-1.
Dua gol diciptakan dari skema membangun serangan dua sisi lebar lapangan yang kemudian diakhiri oleh gol sundulan Boualem Khoukhi dan Pedro Miguel. Mereka finis di puncak grup kualifikasi Asia.
Dari tujuh pertandingan, Lopetegui berhasil mempersembahkan lima kemenangan, satu kali seri, dan satu kali kalah. Wakil Asia ini bertekad tidak hanya menjadi penggembira di Amerika.
Lalu, bagaimana dengan Kanada? Negara ini adalah satu dari tiga tuan rumah Piala Dunia 2026. Mereka tentunya sudah penuh persiapan. Pelatih asal Amerika Serikat, Jesse Marsch, punya target membawa Kanada lolos dari penyisihan grup. Ia bahkan punya mimpi besar di edisi kali ini.
Marsch memang belum mengumumkan siapa saja pemain yang akan diangkut, tetapi semua orang mempertanyakan satu nama, Alphonso Davies.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/11/28/04a2bd1d-d7bd-4f0a-9849-056576e65796.jpg)
Bek sayap yang bermain di Bayern Muenchen ini memang jadi andalan Kanada. Namun, cedera membuat menit bermainnya hancur lebur di Muenchen.
”Ia mungkin akan bermain, tetapi mungkin tidak pulih tepat waktu pada pertandingan pembuka,” kata Marsch.
Pertandingan pembuka akan menyajikan Kanada melawan Bosnia-Herzegovina pada 12 Juni mendatang. Meski tanpa Davies, yakinlah Stadion Toronto, Kanada, akan disesaki pendukung si ”Merah” (”Les Rouges” atau ”The Reds”).
Opta Analyst memberikan prediksinya bahwa Swiss jadi unggulan utama yang bakal lolos di Grup B dengan total kans 85,84 persen. Sementara Kanada diprediksi lolos dengan kans 79,26 persen, lebih besar ketimbang Bosnia-Herzegovina sebesar 62,94 persen dan Qatar yang hanya 42,66 persen untuk lolos grup.
Sebagai unggulan Grup B, tim Salib Merah sangat mungkin bakal mampu melangkah lebih jauh. Mereka secara konsisten selalu lolos grup pada 13 penampilan mereka di Piala Dunia.
Adakah yang bisa meruntuhkan konsistensi itu? Mampukah Edin Dzeko kembali membuat kejutan? Jangan lewatkan persaingan seru di grup ini. (AP/AFP)
Penulis:
Dionisius Reynaldo TriwibowoEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan