Liga Inggris kembali akhir pekan ini. Teka-teki tentang anomali penampilan gelandang Liverpool, Florian Wirtz, pun menjadi pembahasan lagi. Ada apa dengan Wirtz?
21 Nov 2025 15:50 WIB · Olahraga
AP
LIVERPOOL, JUMAT — Nol. Angka itu adalah jumlah akumulasi gol dan asis gelandang bintang Liverpool, Florian Wirtz, setelah sebelas pekan Liga Inggris musim ini. Performa antiklimaks pemain termahal kedua dalam sejarah liga itu terus menjadi teka-teki, terutama seusai jeda internasional bersama tim nasional Jerman.
Saat membela Jerman, awal pekan kemarin, Wirtz menjadi sosok yang jauh berbeda. Dia tampil apik dan menyumbang dua asis dalam kemenangan Jerman atas Slowakia 6-0. Padahal, sang gelandang kreatif datang ke jeda internasional dengan segudang tanda tanya soal kontribusi minim di Liverpool. Tren itu berbalik seketika.
Seluruh klub tidak stabil musim ini. Jauh lebih sulit untuk masuk ke dalam tim di situasi saat ini.
Teka-teki Wirtz akan berlanjut saat Liverpool menjamu Nottingham Forest di Stadion Anfield, Sabtu (22/11/2025) pukul 22.00 WIB. Dalam laga terakhir ”Si Merah” versus Manchester City, dia kembali dipercaya jadi sebelas pertama oleh Pelatih Arne Slot. Hasilnya, Liverpool bermain sangat buruk dan takluk tiga gol tanpa balas.
Julian Nagelsmann, Pelatih Jerman, membela anak asuhnya. Menurut dia, Wirtz memang butuh waktu untuk beradaptasi dengan sepak bola Inggris, tetapi bukan merupakan penyebab utama keterpurukan Liverpool. Tim asuhan Slot memiliki masalah lebih besar, dan itu sama sekali tidak membantu Wirtz.
”Seluruh klub tidak stabil musim ini. Jauh lebih sulit untuk masuk ke dalam tim di situasi saat ini. Jika Anda lihat laga melawan City, mereka memang tim yang lebih buruk selama 90 menit. Jadi, Flo juga sulit memberikan dampak besar. Situasinya seperti itu, jadi dia membutuhkan sedikit waktu lagi,” ujar Nagelsmann.
Jika dilihat lebih dalam, Slot belum menemukan peran terbaik untuk Wirtz. Terbukti posisi sang pemain masih terus diganti. Wirtz awalnya dipercaya sebagai gelandang serang untuk mengisi peran Dominik Szoboszlai. Belakangan, dia mulai digeser jadi pemain sayap kiri dalam formasi 4-2-3-1, sama seperti posisi di timnas.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/15/aa043e27-cab0-47e5-88d5-afa7f1c5f53d_jpg.jpg)
Meskipun posisinya sama, pendekatan bermain Wirtz berbeda. Dia lebih banyak dimaksimalkan di posisi halfspace kiri saat bersama timnas. Perannya mirip seperti saat bersinar di Bayer Leverkusen. Di Liverpool, gelandang 22 tahun itu justru lebih sering berpindah dari sisi kiri ke sisi kanan saat dalam penguasaan bola.
John Barnes, mantan pemain Liverpool era 90-an, berkata, perbedaan gaya bermain dibandingkan musim lalu turut memperumit proses transisi Si Merah. Liverpool sangat mengandalkan serangan secepat kilat di musim pertama Slot. Mereka hanya butuh beberapa sentuhan untuk sampai di kotak penalti lawan, tidak seperti musim ini.
”Kami sebelumnya mengumpan bola dan ke depan lebih cepat. Sekarang, terlalu banyak sentuhan di lini tengah dan depan. Sekarang ada Wirtz dan (Hugo) Ekitike yang banyak melakukan dribel. Jadi bisa dibilang kami bermain dengan cara yang berbeda,” kata Barnes dalam siniar No Tippy Tappy Football.
Pemain yang paling dirugikan akibat perubahan gaya itu adalah penyerang sayap Mohamed Salah. Dia baru menghasilkan 4 gol dan 2 asis dari 11 laga. Kontribusinya jauh di bawah standar musim lalu, ketika berhasil menyumbang total 29 gol dan 18 asis di liga. Salah tidak lagi mendapat banyak peluang dari situasi transisi.
Terlepas dari itu, Wirtz memang masih kesulitan beradaptasi dengan tempo dan aspek fisik yang jauh lebih intens di Liga Inggris. Dia sering kali kehilangan bola di sepertiga akhir lawan dan kalah berduel. Mantan pemain ternama Inggris, Gary Neville, sampai menyebutnya bagai anak kecil yang bertarung dengan para orang dewasa di lapangan.
Isu adaptasi itu bisa dibuktikan dengan perbandingan penampilan Wirtz di kompetisi lain. Walaupun belum mencapai level terbaik, dia mampu berkontribusi lebih baik saat tampil di Liga Champions. Wirtz sudah menghasilkan dua asis dari empat laga di turnamen paling bergengsi se-Eropa tersebut.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/18/a08a056d-a2f5-4261-8b7f-9acdf00a05d7_jpg.jpg)
Buktinya semakin terlihat dari statistik aspek kreatif di dua kompetisi itu. Jumlah umpan kunci Wirtz di Liga Champions sama dengan di Liga Inggris, 16 kali. Padahal, di liga domestik, dia tampil dengan jumlah menit dua kali lipat lebih banyak. Adapun Wirtz mencatat 1,9 ekspektasi asis (xA) di Eropa, dan hanya 1,1 xA di Inggris.
Di tengah segala teka-teki, laga versus Forest nanti bisa jadi momen kebangkitan bagi Wirtz. Walaupun Forest berhasil mengalahkan Liverpool di Anfield pada musim lalu, mereka sedang dalam masa transisi. Forest sudah memecat dua pelatih dalam dua bulan terakhir, yaitu Nuno Espirito Santo dan Ange Postecoglou.
Sekarang, Forest dipimpin Sean Dyche. Mantan Pelatih Everton itu berkata, Forest masih membangun fondasi awal. ”Anda pasti menginginkan tim Anda bisa percaya diri di mana pun. Itu hal yang penting. Kami ingin kompetitif di setiap laga. Kami mulai membangun mentalitas itu,” ujar Dyche. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto