Banyak pihak meragukan Mojtaba pemegang kendali utama Iran saat ini. Namun, kalau bukan Mojtaba, siapa yang menjalankan Iran?
24 Mar 2026 12:00 WIB · Internasional
AFP/ISNA/AMIR KHOLOUSI
Keberadaan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei diselubungi misteri. Sejak serangan bom AS-Israel menewaskan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, 28 Februari 2026, Mojtaba tak pernah terlihat di depan publik. Ia belum pernah tampil, baik suara maupun sosoknya.
Beberapa hari setelah diangkat sebagai pemimpin tertinggi Iran, 9 Maret 2026, beredar kabar ia terluka dalam serangan bom yang menewaskan ayahnya itu. Serangan tersebut juga menewaskan ibu, saudara perempuan, istri dan anaknya, serta sejumlah kerabat Mojtaba dan beberapa petinggi Garda Revolusi Iran (IRGC).
Keberadaan Mojtaba (56) semakin dipertanyakan karena dua pernyataan resminya hanya muncul dalam bentuk teks. Pesan pertamanya, 12 Maret 2026, dibacakan pembawa berita dalam sebuah siaran televisi pemerintah. Pesan keduanya, kembali dirilis tanpa video atau suara Mojtaba, disampaikan dalam peringatan tahun baru Persia Nowruz dan Idul Fitri, Jumat (20/3/2026).
Teheran berkali-kali menegaskan Mojtaba tetap memegang kendali Iran dan bertugas sepenuhnya di balik layar. Keberadaannya sengaja dirahasiakan demi keselamatannya. Bahkan, suaranya tak disiarkan guna menghindari pelacakan AS dan Israel.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/13/7ae39594-348d-470f-94c3-16a9232caaef.jpg)
Namun, semakin lama ia tak muncul, semakin kuat kecurigaan ia sedang tak baik-baik saja. Berdasarkan laporan terbaru media AS, The Washington Post, Senin (23/3/2026), Mojtaba terluka dan terisolasi. Ia juga diberitakan tidak merespons pesan-pesan yang disampaikan kepadanya. Informasi ini disebutkan dari pejabat keamanan AS dan Israel.
Meski demikian, Iran tak sedang mengalami kekosongan kepemimpinan. Pejabat Israel mengatakan para ulama dan pemimpin Garda Revolusi Iran telah mengonsolidasikan kendali atas Iran.
Info tanpa verifikasi itu menambah kesimpangsiuran keberadaan Mojtaba. Bahkan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump pun tak bisa memastikan keberadaannya. Trump mengatakan, karena Mojtaba tak terlacak keberadaannya, AS tak menemukan sosok di Iran yang bisa diajak negosiasi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/13/2ef984a0-1528-46f7-b60c-6e832899d07c.jpg)
”Saya tidak yakin siapa yang menjalankan Iran sekarang. Kami tidak bisa menjamin apa sebenarnya yang sedang terjadi di sana,” kata Netanyahu dalam konferensi pers, Kamis pekan lalu.
Hal ini mengindikasikan Israel dan AS tak tahu apa yang terjadi dalam struktur kepemimpinan Iran. Mungkin memang inilah tujuan Teheran.
Informasi keberadaan Mojtaba di media luar Iran terus berubah. Pada 11 Maret 2026, sehari sebelum pernyataan resmi pertamanya, Kantor Berita Reuters mengabarkan ia terluka ringan, tetapi tetap aktif menjalankan tugas. Informasi ini disebut dari pejabat Iran.
Di hari yang sama, seorang pejabat senior Israel juga mengatakan, intelijen Israel memperoleh informasi Mojtaba terluka ringan. Tak lama, Duta Besar Iran untuk Tunisia Mir Masoud Hosseinian juga mengatakan hal yang sama. Ia dalam kondisi aman dan sehat. ”Bukan luka serius dan ia sedang dalam pemulihan,” katanya pada kantor berita Associated Press,
Selanjutnya, dari Kuwait, 15 Maret 2026, Harian Al-Jarida memberitakan, Mojtaba dipindahkan ke Moskwa dengan pesawat militer Rusia. Mojtaba dilaporkan telah menjalani operasi dan kini dirawat di sebuah klinik atau rumah sakit di kompleks kepresidenan di Moskwa.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/03/c76b1590-0171-4fe2-ad85-df74716213d8.jpg)
Namun dari Rusia, Duta Besar Iran di Moskwa Kazem Jalali membantahnya. Ia menyatakan berita itu tak benar. ”Berita tentang pemindahan pemimpin tertinggi revolusi ke Rusia untuk perawatan adalah perang psikologis baru,” kata Jalali di media sosial.
Sebaliknya, media Iran konsisten menyebut Mojtaba aktif menjalankan kepemimpinan dari balik layar. Saluran televisi Pemerintah Iran, Press TV, 16 Maret, melaporkan Mojtaba mengeluarkan dekrit. Isinya agar para pejabat yang telah ditunjuk ayahnya tetap melanjutkan tugas.
Sehari kemudian, Mojtaba juga diberitakan telah menggelar sidang kebijakan luar negeri pertamanya. Namun, tak ada penjelasan ataupun dokumentasi kehadirannya. Ia juga diberitakan mengecam pembunuhan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani.
Berita terbaru Mojtaba di Iran diterbitkan kantor berita semiresmi Iran, Fars, pada 22 Maret 2026. Berita berbahasa Parsi tersebut mengisahkan harapan warga melihatnya di shalat Idul Fitri dan Nowruz, tahun baru Persia. Namun, ia tak tampil. Di laporan itu disebutkan, saat ini keselamatannya lebih penting dibandingkan dengan tampil di publik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/13/84824984-4429-4a6e-9615-a10f0ed94690.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/02/cab26961f5eade09dbea9808fba86d7a-20260302_AFP_Lokasi_Kediaman_Ali_Khamenei_mumed.png)
Banyak pihak meragukan Mojtaba pemegang kendali utama Iran saat ini. Namun, kalau bukan Mojtaba, siapa menjalankan Iran?
Para ahli menilai kendali itu sekarang ada di Garda Revolusi Iran. Hal ini setidaknya terlihat dari pernyataan komandan Garda Revolusi Iran yang mulai tampil beberapa hari terakhir. ”Garda Revolusi sekarang yang menjalankan negara itu,” kata Ali Vaez, Direktur Proyek Iran di International Crisis Group.
Sebelum perang, kepemimpinan sipil Iran sepenuhnya tunduk kepada pemimpin tertinggi, sementara Garda Revolusi menjadi kekuatan kedua paling berpengaruh di negara itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/01/869a3b83b3480e9b97bb0571ba052522-AP25026620956320.jpg)
Trump dan Netanyahu mengklaim kemenangan atas pembunuhan terhadap pucuk pimpinan tertinggi Iran. Sampai 18 Maret 2026, Israel menyebut telah membunuh setidaknya 43 komandan dan pejabat senior Iran.
Namun, Teheran menegaskan, struktur pemerintahannya memang dirancang untuk bertahan menghadapi pukulan semacam itu. Setiap posisi penting di Iran disiapkan dengan beberapa pengganti sekaligus.
Kunci ketangguhan kepemimpinan Iran terutama pada strukturnya yang unik, yaitu tak terpusat dan menyebar. Sistem ini disebut sistem pertahanan mozaik terdesentralisasi (decentralized mosaic defense).
Setelah Khamenei tewas, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengumumkan Iran mengaktifkan strategi sistem mozaik itu. ”Decentralized mosaic defense memungkinkan kami menentukan kapan dan bagaimana perang akan berakhir,” katanya di media sosial.
Sistem itu dirancang untuk menyebar struktur komando, sistem senjata, dan unit operasi ke berbagai wilayah serta lini organisasi. Tujuannya agar fungsi militer Iran tetap berjalan meski pusat komando terpukul.
’Decentralized mosaic defense’ memungkinkan kami menentukan kapan dan bagaimana perang akan berakhir.
Pada praktiknya, sistem ini menyebarkan kewenangan ke komandan-komandan level bawah. Hanya instruksi umum yang berlaku, bukan perintah terpusat. Strategi ini dikembangkan Garda Revolusi Iran selama dua dekade setelah serangan AS ke Irak. Karena itu, hilangnya satu tokoh, siapa pun dia, tidak membuat sistem negara runtuh.
”Unit-unit militer kami sekarang pada kenyataannya independen dan dalam beberapa hal terisolasi dan mereka bertindak berdasarkan instruksi umum, yang telah diberikan kepada mereka sebelumnya,” katanya.
Meski begitu, kepemimpinan Iran tidak sepenuhnya tanpa wajah. Satu figur yang kian sentral adalah Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf (64). Qalibaf adalah mantan jenderal Garda Revolusi. Ia juga mantan wali kota Teheran dan mantan kepala polisi nasional Iran.
Qalibaf juga beberapa kali menjadi calon presiden di Pemilu Iran. Setelah tewasnya Larijani, Qalibaf kini menjadi simpul penting antara elite politik, keamanan, dan ulama.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/25/a042f4df9b67004ed07cf363db0dc369-Iran_135721826.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/10/a6bfb92b-209a-4a28-aba9-d1edd1cfb8d0.jpg)
Selain Qalibaf, sosok kuat lain adalah Araghchi. Namun, meski dekat dengan IRGC, Araghchi adalah figur sipil. Status sipil itu membuat posisinya tak sekuat Qalibaf.
Ia Menteri Luar Negeri Iran sejak Agustus 2024 dan disebut sebagai salah satu menlu paling kuat dalam sejarah Republik Islam Iran. Araghchi menjadi kepala perunding nuklir Iran dari 2013 hingga 2021.
Ia pernah bergabung dengan Garda Revolusi Iran saat muda dan bertempur dalam Perang Iran-Irak. Sampai sekarang, Araghchi memiliki hubungan baik dengan berbagai faksi politik di Iran.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian justru jarang terdengar. Ia merupakan pemimpin sipil yang dikenal reformis. Perannya kini lebih sebagai kanal diplomatik dan administratif publik, bukan pusat kuasa utama di Teheran.
Siapa pun yang memegang kendali utama di Iran, dalam struktur kepemimpinan mozaik itu, keberadaan Mojtaba tidak lagi sepenuhnya menentukan menang atau kalahnya Iran. (AP/REUTERS)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra