Misteri Stephen Curry dan 27 Februari

Stephen Curry seperti punya hubungan istimewa dengan tanggal 27 Februari. Namun, apa makna dari momen spesial tanggal tersebut pada musim ini?

02 Mar 2025 03:00 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

Setiap orang punya hari baik, tidak terkecuali Stephen Curry. Bagi pebasket andalan Golden State Warriors itu, sulit mencari hari yang lebih baik dibandingkan ketika tanggal 27 Februari. Entah kebetulan atau tidak, dia selalu mampu menciptakan momen spesial di kandang lawan.

Terbaru, pada 27 Februari waktu setempat di kandang Orlando Magic, Stadion Kia Center, Florida. Curry mencetak 56 poin, di antaranya dari 12 kali tembakan tiga angka, untuk mengantar Warriors menang 121-115. Itu adalah catatan poin keempat terbanyak sepanjang kariernya.

Setiap Curry menembak, bola seperti bisa menemukan jalan sendiri ke keranjang. Sang guard 36 tahun memang diakui sebagai penembak terhebat di Bumi, tetapi dia tidak selalu ”wangi” pada setiap laga. Berbeda dengan tanggal tersebut, semua menjadi serba baik.

Curry merasakan sendiri magis itu. ”Ketika Anda mendapatkan malam seperti ini, Anda bisa melakukan berbagai hal. Anda berada dalam ritme dan seperti bola yang mencari Anda. Saya harus menyalurkan energi pada 27 Februari untuk sepanjang waktu,” katanya.

”Chef Curry”, julukannya, pernah delapan kali mencetak lebih dari 10 tembakan tiga angka dalam sebuah pertandingan. Menariknya, tiga kali di antara itu diciptakan pada tanggal 27 Februari. Malam yang spesial juga tersaji pada dua kesempatan di tahun-tahun sebelumnya.

Momen magis pertama hadir di Stadion Maddison Square Garden, markas New York Knicks, pada 2013. Dia masih berusia 25 tahun dan belum terlalu dipandang. Semua berubah seketika lewat pencapaian 54 poin dengan catatan 11 tembakan tiga angka. Curry mulai digadang-gadang sebagai wajah masa depan NBA.

Pemain LA Lakers LeBron James (Kiri) dan pemain Golden State Warriors Stephen Curry berbincang saat pertandingan pembuka musim baru NBA antara LA Lakers dan Golden State Warriors di Chase Center, San Francisco, Rabu (19/10/2022) WIB. ***SAN FRANCISCO, CALIFORNIA - OCTOBER 18: LeBron James #6 of the Los Angeles Lakers speaks to Stephen Curry #30 of the Golden State Warriors during their game at Chase Center on October 18, 2022 in San Francisco, California. NOTE TO USER: User expressly acknowledges and agrees that, by downloading and or using this photograph, User is consenting to the terms and conditions of the Getty Images License Agreement. Ezra Shaw/Getty Images/AFP

Tiga tahun berselang, pada tanggal yang sama, Curry kembali beraksi setelah mendapatkan gelar juara dan trofi Most Valuable Player pada musim sebelumnya. Dia mengguncang lewat raihan 46 poin dari 12 tembakan tiga angka di markas Oklahoma City Thunder, Stadion Paycom Center.

Spesialnya, Curry memenangi laga lewat tembakan tiga angka dari nyaris separuh lapangan. Dia seperti menegaskan statusnya, sosok di rantai makanan teratas NBA sekaligus yang paling berpengaruh dalam revolusi permainan modern. ”Tidak ada yang seperti ini dalam sejarah basket,” puji LeBron James, sang pebasket paling dominan pada abad ke-21.

Misteri Curry

Lalu, apa artinya penampilan hebat pada satu pertandingan dalam musim yang panjang? Bagi pemain lain mungkin tidak ada. Namun, berbeda dengan Curry. Belajar dari sejarah, keajaiban pada 27 Februari selalu berkaitan dengan sesuatu yang spesial dari pemain bernomor punggung 30 tersebut.

Pada 2013, Curry sedang bersemangat karena Warriors akhirnya menemukan pondasi tepat untuk berprestasi. Dia didampingi oleh Klay Thompson dan Draymond Green. Trio itu pertama kali bersatu pada musim 2012-2013. Hasilnya, Warriors menyudahi tren gagal lolos playoff selama lima musim beruntun.

Curry juga tidak langsung kalah di babak awal dalam penampilan playoff pertamanya. Warriors mampu melaju sampai semifinal wilayah, sebelum ditaklukkan San Antonio Spurs yang merupakan runner-up pada musim tersebut. Kejayaan dinasti Warriors bermula dari titik itu.

Momen tidak kalah spesial terjadi pada 2016. Curry semakin dewasa, begitu juga Thompson dan Green. Warriors begitu sulit dikalahkan. Curry meraih gelar MVP kedua pada musim 2015-2016, sementara Warriors menciptakan rekor terbaik dalam musim reguler (73 menang- 9 kalah) melewati pencapaian dinasti Chicago Bulls pada 1995-1996.

SAN FRANCISCO, CALIFORNIA - FEBRUARY 16: Stephen Curry #30 of the Golden State Warriors and Shaq's OGs attempts a three-point basket against Ryan Dunn #0 of the Phoenix Suns and Candace's Rising Stars during the 74th NBA All-Star Game at Chase Center on February 16, 2025 in San Francisco, California. NOTE TO USER: User expressly acknowledges and agrees that, by downloading and or using this photograph, User is consenting to the terms and conditions of the Getty Images License Agreement.   Ezra Shaw/Getty Images/AFP (Photo by EZRA SHAW / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Dari sisi prestasi, musim ini sebenarnya tidak terlalu spesial bagi Curry. Dia bahkan sempat ”menyerah” pada pertengahan musim karena tidak mendapatkan dukungan yang cukup dari organisasi. Saat ditanya tentang kedatangan pemain bintang baru, Curry terdengar pasrah.

Namun, momentum berbalik seketika setelah terjadi pertukaran pemain pada awal Februari 2025. Bintang berusia 35 tahun, Jimmy Butler, bergabung dari Miami Heat ke Warriors. Dia ditukar dengan salah satunya Andrew Wiggins, pemain yang turut mengantar Warriors juara pada 2022.

Sejak Thompson memutuskan pindah ke Dallas Mavericks pada awal musim, Warriors seolah kehilangan roh. Tidak ada lagi trio yang menjaga dinasti selama satu dekade lebih. Tanpa diduga, pertukaran Butler yang lebih ke arah tindakan putus asa justru menjadi titik balik.

Butler sejauh ini mampu mengisi lubang dalam trio Warriors. Sejak kedatangannya, Warriors mencatatkan laju impresif dengan 7 menang - 1 kalah. Mereka memiliki rekor sama dengan peringkat ke-6, Los Angeles Clippers (32-27). Sebelumnya, Warriors nyaris keluar dari 10 besar.

Perubahan itu yang diperkirakan mampu memotivasi kembali seorang Curry. Selain pada tanggal 27 Februari, dia juga mampu mencatatkan rerata 31 poin setelah kehadiran Butler. Bersama Butler, Curry tidak lagi menanggung beban sendirian di lapangan.

Warriors Magic Basketball

”Steph itu seperti DJ (disk jockey) dalam pesta. Draymond adalah petugas keamanan yang menjaga DJ dan pesta agar tidak terganggu. Jimmy jadi penari di lantai dansa yang bisa menyesuaikan dengan ritme lagu apa pun. Mereka punya komposisi tepat untuk sukses,” kata Baron Davis, mantan pemain Warriors, dalam siniar The Draymond Green Show.

Dari momen spesial pada 27 Februari tahun ini, terlihat kebangkitan seorang Curry. Dia termotivasi menciptakan sesuatu yang istimewa, seperti sebelumnya. Pertanda positif lain setelah petukaran Butler, ”Chef Curry” juga sukses meraih gelar MVP All-Star 2025.

Pertama dan terakhir kali Curry menyabet gelar MVP All-Star sebelumnya adalah pada 2022. Seperti diketahui, sekitar empat bulan setelah itu, dia berdiri di puncak dunia untuk mengangkat trofi juara keempat kali. Hal serupa sangat mungkin terulang di musim ini. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto