BYD mengoreksi target penjualan global 2025 dari 5,5 juta menjadi 4,6 juta mobil. Penjualan domestik November turun 4,4 persen.
14 Des 2025 16:24 WIB · Internasional
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
BEIJING, MINGGU — Mobil-mobil buatan China semakin susah laku di pasar domestik. Sebaliknya, ekspor mobil China terus meningkat. Pasar mobil mewah juga tertekan.
Associated Press pada Minggu (14/12/2025) mengulas penurunan penjualan mobil mewah. Sementara Caixin dan Sina mengulas penurunan penjualan mobil di pasar domestik China secara keseluruhan.
Data Standard & Poor’s menunjukkan, porsi pasar mobil mewah pada Januari-September 2025 hanya 13 persen. Pada 2023, porsinya 15 persen dan 2024 14 persen.
Pabrikan Italia, Ferrari, mencatat penurunan ekspor hingga 13 persen ke China, Hong Kong, dan Taiwan. ”Pasar segmen premium dan mewah di China amat menegangkan,” demikian pernyataan Ferrari.
Bukan cuma pabrikan asing terimbas. Pabrikan dalam negeri yang menawarkan harga lebih murah juga terimbas.
Data CAAM menunjukkan, penjualan total sepanjang November 2025 terpangkas 4,4 persen dibandingkan periode sama 2024. Sebaliknya, ekspor naik 48,5 persen. Pabrikan China mengirimkan 728.000 mobil ke berbagai negara sepanjang November 2025 saja.
Media China, Sina, melaporkan bahwa penjualan juga memburuk pada pekan pertama Desember 2025. Untuk penjualan eceran, turun delapan persen dibandingkan November 2025 dan anjlok 32 persen dibandingkan Desember 2024. Sementara untuk penjualan grosir, penurunannya malah mencapai 40 persen apabila dibandingkan Desember 2024 dan 18 persen jika dibandingkan November 2025.
Pabrikan China mencatat dua jenis penjualan: eceran dan grosir. Penjualan eceran adalah mobil yang dikirimkan pabrik ke konsumen akhir. Sementara penjualan grosir adalah mobil dari pabrik ke gerai-gerai penjualan. Tidak semua penjualan grosir segera laku seperti penjualan eceran.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/16/af0a225e0e2cb72708a37815913ad921-20250916TOK15.jpg)
Bukan cuma mobil dengan bahan bakar minyak (BBM), mobil listrik juga berkurang penjualannya. CAAM mencatat, penjualan mobil listrik di pasar domestik China pada Desember 2025 turun 17 persen dibandingkan Desember 2024 dan turun 10 persen dibandingkan November 2025.
Sepanjang 2025, jumlah mobil BBM yang dijual di China turun 27 persen dibandingkan 2024. Sementara mobil hibrida turun 10 persen. Lebih dari separuh mobil baru yang terjual di China merupakan mobil listrik.
Raksasa China, BYD, juga melaporkan tren penurunan penjualan. Dibandingkan 10 bulan lainnya di 2025, penjualan BYD pada November 2025 memang paling tinggi. Walakin, dibandingkan November 2024, penjualan BYD bulan lalu terkoreksi 5,25 persen.
Presiden BYD Wang Chuanfu mengatakan, BYD terpaksa mengoreksi target penjualan global 2025 dari 5,5 juta menjadi 4,6 juta mobil. Daya saing BYD akan ditentukan oleh peningkatan kinerja pengisian daya, penguatan layanan purnajual, dan memacu ekspor.
Ia menyebut, penurunan penjualan sebagai biasa dalam siklus pengembangan produk dan teknologi. Di sisi lain, ia mencatat ada kegelisahan pengguna. Kegelisahannya antara lain pengisian daya lebih lambat saat suhu rendah.
Dengan 120.000 teknisi, Wang menjanjikan BYD akan terus memperkuat kapasitas teknisnya. BYD diyakini akan terus meningkatkan daya saingnya.
Badan Pengatur Pasar China (SAMR) mengeluarkan panduan baru untuk harga mobil. Panduan itu terkait pengaturan harga, kerangka kelembagaan, dan praktik kepatuhan pada aturan.
SAMR fokus pada pengaturan harga sepihak oleh pabrikan. Ke depan, gerai penjual tidak bisa semaunya membuat promosi. Semua upaya yang bisa mengarah ke persaingan usaha tidak sehat ditekan lewat aturan baru itu.
Panduan diterbitkan karena selama ini dianggap ada ketidakjelasan cara penetapan harga oleh pabrikan. BYD mendadak memangkas rata-rata 34 persen harga aneka produknya. Bukan cuma pabrikan asing, pabrikan domestik juga limbung menghadapi strategi harga BYD tersebut.
Sebagai raksasa, BYD kerap menjadi sasaran aturan China. Juni lalu, BYD paling terimbas aturan soal pembayaran para pemasok.
Beijing melarang pabrikan membuat sistem pembayaran sendiri. Hal itu berimbas pada Dilian, sistem pembayaran elektronika yang dikembangkan BYD untuk rantai pasoknya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/16/90514bd569f4025dd66acdcd66c006de-20250916TOK29.jpg)
Dilian semacam surat utang elektronika. Intinya, dokumen itu mengakui bahwa suatu badan usaha punya piutang karena memasok ke BYD. Utang akan dibayar BYD dalam jangka hampir lima bulan sejak barang dan tagihan diterima.
Pada Juni, Kementerian Industri dan Teknologi Informatika (MIIT) China mendorong pemangkasan waktu pembayaran. Maksimum dua bulan sejak barang dan tagihan diterima, pemasok harus dibayar. MIIT dan para regulator terkait di China menyebut, hal itu untuk menyehatkan rantai pasok otomotif dan perekonomian secara keseluruhan.
Dilaporkan Reuters pada November lalu, BYD akhirnya memberi tahu sebagian pemasoknya bahwa pemakaian Dilian akan ditinggalkan.
Wei Jianjun, ketua Great Wall Motor, menyebut bahwa industri otomotif China sebenarnya dalam bayangan ”Krisis Evergrande”. Ia merujuk pada pengembang besar China yang gagal membayar utang miliaran dollar AS dan aneka proyeknya berhenti atau tak laku dijual. Krisis itu, kata Wei, bisa meletus kapan saja.
Ia tidak menuding siapa pun. Walakin, berbagai pihak menduga ia menuding BYD.
Manajer Divisi Jenama dan Humas BYD Li Yunfei menyanggah BYD dalam krisis utang. Menyebut, rasio aset dibandingkan kewajiban BYD yang mencapai 70 persen disebut hal lazim di berbagai perusahaan global.
Ford mencatat rasio 84 persen, General Motors 76 persen, dan Apple sampai 80 persen. Sementara pabrikan China, Geely dan Seres, mencatat masing-masing 68 dan 76 persen. Total agregat utang BYD, lanjut Yi, juga masih di bawah berbagai pabrikan di dalam dan luar China.
Ia juga menyebut, Great Wall menetapkan tempo pembayaran lebih lama dibandingkan BYD. Great Wall 163 hari, BYD 127 hari.
Sementara alam pernyataan ke Reuters pada November 2025, BYD menyebut Dalian sesuatu aturan di China. Sementara sumber Reuters menyebut, Dalian berbeda dari surat pengakuan utang yang lazim di China.
Dalian mengenakan potongan 6 persen kalau dicairkan sebelum jatuh tempo. Sementara di tempat lain cuma 2 persen.
Dalian disebut menjadi kunci sukses BYD mengendalikan dana. Sistem itu membuat BYD bisa menimbun uang dalam jumlah besar. Dengan demikian, BYD tidak perlu mengandalkan sumber pendanaan dari luar.
Hal itu memungkinkan BYD bisa terus memacu promosi dan pengembangan produk tanpa perlu memusingkan lonjakan bunga. Jika meninggalkan Dilian, terutama kala penjualan melambat, BYD bisa tertekan.
GMT Research di Hong Kong menyebut, sistem Dalian membuat nilai riil utang BYD lebih besar dibandingkan yang diumumkan. Menurut BYD, utang mereka 27,2 miliar yuan. Sementara itu, GMT Research menaksir utang riil BYD mencapai 323 miliar yuan atau lebih dari 10 kali lipat dibandingkan yang diumumkan. (REUTERS/AFP)
Penulis:
Kris MadaEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra