Di tengah kinerja ekspor otomotif nasional yang relatif menurun, permintaan mobil listrik hibrida Toyota meningkat 111 persen.
02 Feb 2025 18:50 WIB · Ekonomi
Di tengah kondisi industri otomotif yang menantang, catatan positif datang dari segmen kendaraan listrik, termasuk mobil hibrida, yang penjualannya terus tumbuh. Pengembangan kendaraan konvensional yang beriringan dengan kendaraan listrik menjadi salah satu upaya menjaga pertumbuhan industri otomotif sekaligus memenuhi kebutuhan pasar akan produk ramah lingkungan.
Hal itu salah satunya dirasakan Toyota Indonesia. Di tengah kinerja ekspor otomotif nasional yang relatif menurun, permintaan mobil model elektrifikasi justru meningkat 111 persen dari 8.792 unit pada 2023 menjadi 18.553 unit pada 2024. Kenaikan tersebut ditopang ekspor Kijang Innova Zenix sebanyak 11.790 unit dan Yaris Cross sejumlah 6.763 unit. Keduanya ialah mobil hybrid electric vehicle (HEV).
Sebagai catatan, kedua mobil yang memadukan energi baterai dan mesin pembakaran dalam itu diproduksi di pabrik PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Plant 1, di Karawang, Jawa Barat. Di tengah perkembangan kendaraan listrik, kedua mobil itu kian diminati konsumen global dari negara-negara di kawasan Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Timur Tengah.
Tren meningkatnya permintaan kendaraan listrik, termasuk HEV, tidak terlepas dari perubahan perilaku konsumen global, khususnya dalam menghadapi isu perubahan iklim dan lingkungan. Dalam hal ini, industri otomotif seperti TMMIN menjadi bagian dari perubahan dalam transisi energi, dengan membentuk ekosistem kendaraan listrik.
”Salah satunya, melalui strategi multi-pathway untuk menjawab beragam permintaan teknologi kendaraan, tetapi tetap mendukung pertumbuhan industri otomotif Tanah Air sejak masa lalu, masa kini, dan masa depan. Sesuai prinsip kami no one left behind, tak ada teknologi kendaraan yang ditinggalkan,” kata Wakil Presiden Direktur PT TMMIN Bob Azam melalui siaran pers, Kamis (30/1/2024).
Dengan strategi itu, Toyota Indonesia menyediakan sejumlah pilihan teknologi, seperti kendaraan konvensional berteknologi Internal Combustion Engine (ICE) dengan emisi rendah, HEV, plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), battery electric vehicle (BEV), fuel cell electric vehicle (FCEV), hingga bahan bakar terbarukan flexy fuel (biofuel seperti biodiesel ataupun bioetanol.
Adapun TMMIN meluncurkan Kijang Innova Zenix sebagai mobil listrik hibrida pertama yang diproduksi di Indonesia, pada November 2022. Hal tersebut bagaian dari pemenuhan target di tingkat global, karbon netral Toyota pada 2050 serta mengurangi emisi karbon pada operasi manufaktur pada 2035 (Kompas, 22/11/2022).
Sementara itu, pada Desember 2024, Honda Motor Co, Ltd mengenalkan teknologi terbaru untuk Honda e:HEV, yang akan diaplikasikan pada lini kendaraan hibrida generasi berikutnya. Pembaruan mencakup pengembangan mesin, unit penggerak, dan teknologi kontrol terbaru untuk mesin 1,5 liter dan 2,0 liter, dengan tujuan meningkatkan efisiensi lingkungan.
Mengutip laman Honda, dengan generasi terbaru itu, Honda akan memberi joy of mobility yang memenuhi kebutuhan pengemudi modern. Di global, Honda menargetkan penjualan kendaraan hibrida sebanyak 1,3 juta unit pada 2030. Selain itu, melalui efisiensi produksi dan pengurangan biaya, Honda akan memastikan profitabilitas tinggi serta memperkuat fondasi bisnis kendaraan listrik.
Sebelumnya, perkembangan mobil hibrida dibahas dalam kunjungan Japan Chamber of Commerce and Industry (JCCI) di kantor Kementerian Perindustrian, di Jakarta, Kamis (23/1/2025). Disebutkan pihak JCCI, industri otomotif Jepang di Indonesia berkembang dengan sangat masif. Tercatat, telah ada enam pabrik dan mendistribusikan kendaraan kepada 4,9 juta pelanggan di Indonesia.
Produksi kendaraan hibrida oleh perusahaan Jepang di Indonesia menjadi langkah awal dalam netralisasi karbon. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengapresiasi Jepang atas kontribusi dalam industrialisasi di Indonesia, khususnya pada sektor otomotif. Seperti pada 1960-1970, industrialisasi Indonesia banyak diisi perusahaan Jepang yang bergerak di sektor otomotif.
”Kemenperin terus memonitor perusahaan otomotif Jepang di Indonesia terkait ekspornya ke negara-negara di dunia. Meluasnya pasar otomotif hibrida hingga hari ini tak terlepas dari kontribusi perusahaan Jepang yang banyak mengisi pasar otomotif di Indonesia. Untuk menjaga perkembangannya, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan insentif untuk kendaraan hibrida,” ujar Agus.
Pada 2024, saat industri otomotif nasional menantang, pemerintah menggulirkan sejumlah insentif sebagai angin segar guna memacu penjualan domestik dan ekspor kendaraan produksi dalam negeri. Itu berupa diskon Pajak Penjualan Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPNBM DTP) sebesar 3 persen untuk mobil hibrida dalam yang diproduksi di dalam negeri.
Salah satu indikator tengah menantangnya industri otomotif nasional ialah terkait menurunnya ekspor mobil. Mengacu data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), sepanjang Januari-Desember 2024 Toyota Indonesia mencatatkan ekspor 276.089 unit kendaraan atau menurun 5 persen dari periode sama pada 2023 yang sebanyak 290.772 unit.
Kendati demikian, dalam catatan 5 tahun terakhir, 2019-2024, Toyota Indonesia menyumbang sekitar 61 persen dari total completely built up (CBU/utuh) ekspor Indonesia, dengan lebih dari 80 negara tujuan ekspor. Di samping ekspor kendaraan utuh, diekspor juga kendaraan dalam completely knock down (CKD/terurai), mesin, serta komponen dan alat pendukung produksi (dies and jigs).
Setahun terakhir, Veloz dan Fortuner menjadi kendaraan pabrikan TMMIN yang menyumbangkan performa ekspor mencapai 110.714 unit. Toyota pun berupaya menjaga dan meningkatkan daya saing produk buatan dalam negeri dengan kompetensi sumber daya manusia dalam negeri yang mumpuni, yang telah berjalan selama lima dekade.
”Dihadapkan pada kondisi dinamika ekonomi global, Toyota Indonesia akan terus bekerja sama dengan seluruh rantai pasok dari hulu hingga hilir melalui performa ekspor kendaraan T-brand sebanyak 10 varian. Kami memastikan bahwa produk otomotif buatan SDM Tanah Air dapat menjawab kebutuhan pasar global yang semakin kompetitif,” kata Presiden Direktur TMMIN Nandi Julyanto.
Pada 2025, Toyota Indonesia menargetkan kinerja ekspor kendaraan pada level yang sama dengan 2024. Selain itu, juga akan teurs mengkaji peluang perluasan ekspor, dengan mempertimbangkan permintaan dan tren pasar, termasuk negara tujuan ekspor nontradisional guna mengoptimalkan demografi strategis Indonesia.
Data Gaikindo menunjukkan, pada Januari-November 2024, produksi kendaraan roda empat di dalam negeri mencapai 1,09 juta unit atau turun 15,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2023. Sementara pada Januari-Desember 2024, jumlah penjualan mobil dari pabrikan ke diler (wholesales) sebanyak 865.723 unit atau anjlok 13,9 persen dibandingkan 2023.
Catatan Kompas, seperti disampaikan ekonom Bank Permata, Josua Pardede, penurunan produksi dan penjualan mobil tahun pada 2024 terjadi karena beragam faktor. Di antaranya ialah kecenderungan masyarakat dan pelaku bisnis menunda konsumsi barang tahan lama; suku bunga tinggi yang membuat biaya kredit kendaraan bermotor lebih mahal; dan penurunan pendapatan riil akibat inflasi serta ketidakpastian ekonomi yang turut menakan belanja barang sekunder dan tersier (Kompas.id, 11/1/2025).
Menurunnya jumlah penjualan mobil nasional menjadi catatan di tengah upaya Indonesia mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi guna mengejar status negara maju. Di sisi lain, tren meningkatnya permintaan kendaraan listrik, dengan berbagai jenisnya, termasuk mobil listrik hibrida, menjadi peluang bagi Indonesia. Selain lebih ramah lingkungan, perluasan ekspor mobil jenis itu juga meningkatkan devisa serta mendukung diversifikasi ekonomi.
Penulis:
Aditya Putra PerdanaEditor:
Hamzirwan .