Tak hanya berkembang, China juga membentuk ulang persaingan global melalui skala besar serta keunggulan biaya. China tak melakukannya dalam satu malam.
02 Mei 2025 05:00 WIB · Ekonomi
Pertumbuhan penjualan kendaraan listrik global semakin masif seiring penguasaan teknologi yang terus meningkat. China menjadi negara kontributor utama statistik itu. Semakin banyak dan beragamnya produsen mobil listrik atau electric vehicle (EV) serta rantai pasok yang dominan membuat laju China makin tak terbendung. Bagaimana mereka melakukannya?
Laporan Rho Motion, lembaga riset pasar EV yang berbasis di Inggris, Selasa (15/4/2025), menunjukkan jumlah EV yang terjual di pasar global pada Maret 2025 sebanyak 1,7 juta unit. Sementara pada triwulan I-2025, total EV yang terjual 4,1 juta unit atau meningkat 29 persen dibandingkan dengan periode sama pada 2024.
Dari total penjualan EV global pada triwulan I-2025 tersebut, China menjadi penyumbang terbesar dengan penjualan 2,4 juta unit atau meningkat 36 persen dibandingkan dengan triwulan I-2024. Adapun Eropa menyumbang penjualan 0,9 juta unit (meningkat 22 persen), Amerika Utara 0,5 juta unit (meningkat 16 persen), dan wilayah lain di dunia dengan 0,3 juta unit (meningkat 27 persen).
Dominasi China itu melanjutkan tren positif tahun-tahun sebelumnya. Mengutip data Badan Energi Internasional (IEA), pada 2023, registasi kendaraan listrik terbesar di dunia terkonsentrasi di China dengan proporsi 60 persen. Adapun new energy vehicle di China meliputi EV berbasis baterai (BEV), plug-in hybrid EV (PHEV), dan fuel cell EV (FCEV).
Berbagai jenama EV dengan volume penjualan terbesar di China, antara lain, BYD, SAIC-GM-Wuling, Tesla, Geely, GAC Aion, Chery, Changan, Li Auto, Nio, dan XPeng. ”Merek-merek China memantapkan diri di pasar EV global. Tak hanya berkembang, mereka juga membentuk ulang persaingan global melalui skala operasional besar dan keunggulan biaya,” ujar Data Manager Rho Motion Charles Lester dikutip dari Benchmark Source.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/15/ef1adff2-d88e-4a34-a4ae-0ddc7946a726_jpg.jpg)
XPeng, misalnya, yang semakin gencar memperluas pasar mobil listrik mereka ke berbagai belahan negara dalam setahun terakhir. Hasilnya, pada triwulan I-2025, tercatat penjualan mobil listrik XPeng mencapai 94.008 unit atau meningkat 331 persen secara tahunan. Konsep mobil listrik pintar atau smart EV terus diperkuat di pasar global.
XPeng X9 2025, mobil listrik premium tipe kendaraan multiguna (MPV) secara masif dipasarkan, termasuk di Singapura, Makau, Thailand, Malaysia, dan Hong Kong. Dengan fitur pengisian daya ultrafast 800V, tambahan 1 detik pengisian ulang daya mampu menambah daya jangkau sejauh 1 kilometer (km). Di China, harganya Rp 830 juta-Rp 960 juta per unit.
Pun begitu dengan BYD yang semakin masif menjangkau pasar mobil listrik di sejumlah negara di dunia. Mengutip Reuters, BYD, yang merupakan produsen EV raksasa asal China, meraup profit 9,2 miliar yuan atau sekitar 1,26 miliar dollar AS pada triwulan I-2025. Itu sesuai estimasi mereka, yakni 8,5 miliar yuan-10 miliar yuan.
Data Rho Motion mencatat, BYD merupakan produsen EV dengan penjualan terbanyak di China pada 2024. Sepertiga EV baru yang terjual di ”Negeri Tirai Bambu” tersebut ialah BYD. Jenama tersebut memiliki lebih dari 40 model EV. Perusahaan yang berdiri pada 1995 (awalnya produsen baterai) itu berencana memperluas pasar EV di Eropa pada 2025.
Mengutip laman CBS, pakar otomotif China, Lei Xing, menuturkan, catatan fantastis China dalam mobil listrik tak terjadi dalam semalam. Yang menjadi faktor kunci ialah kesadaran China, lebih dari satu dekade lalu, yang menganggap EV sebagai inovasi transportasi terpenting sejak Henry Ford merevolusi industri otomotif pada awal abad ke-20.
Pada 2009, Pemerintah China meluncurkan program subsidi percontohan untuk membangun jaringan kendaraan listrik. Program bernama Ten Cities and Thousand Vehicle atau 10 Kota dan 1.000 Kendaraan bertujuan untuk memberikan subsidi bagi kendaraan listrik dan hibrida baru pada sektor transportasi umum, seperti bus dan taksi.
Barulah pada 2013 subsidi mulai diberikan kepada konsumen individu melalui sistem tier atau bertingkat berdasarkan jarak tempuh EV. Program subsidi itu dicabut pada 2022. Namun, saat itu China sudah ada di jalur yang tepat untuk mendominasi pasar EV global. Insentif berupa pembebasan pajak penjualan sebesar 10 persen juga diberikan meski nanti akan dihapus bertahap.
Total, Pemerintah China menggelontorkan dana sebesar 231 miliar dollar AS untuk subsidi dari 2009 hingga 2023, seperti laporan Center for Strategic and International Studies. Kunci lainnya ialah pembangunan jaringan stasiun pengisian ulang secara masif. Data National Energy Administration China menunjukkan bahwa per Juni 2024, China memiliki 10,2 juta fasilitas pengisian ulang atau naik 54 persen dari tahun sebelumnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/12/647ae7ef-50bc-4df5-bf3f-e2f8186402da_jpeg.jpg)
Profesor Chen Qing Quan dari Hong Kong University dalam workshop EV yang digelar XPeng d Hong Kong, Selasa (15/4/2025), menuturkan, pengembangan EV di China berkorelasi dengan upaya menekan emisi karbon yang diakibatkan polusi dari kendaraan konvensional. Pada saat bersamaan, listrik yang bersumber dari energi terbarukan juga terus berkembang.
Menurut dia, untuk menjadi seperti sekarang dalam EV, China telah melewati tiga fase dalam pengembangan listrik. Ketiganya adalah fase inkubasi, pertumbuhan, dan kematangan.
Dukungan Pemerintah China dalam pengembangan EV, kata Qing Quan, bukan sebatas subsidi, melainkan juga terkait dengan promosi produksi, penjualan, pembiyaan, dan pembangunan rantai pasok yang lengkap. Tak mengherankan, saat ini China menjadi negara dengan rantai pasok EV terlengkap di dunia.
Tujuan China dalam mengembangkan EV sesuai dengan aspirasi awal, yakni kebebasan dan kebahagiaan melalui mobilitas. ”Di samping itu, keberlanjutan untuk generasi masa depan serta harmoni manusia dan alam,” ujarnya.
Keberlanjutan untuk generasi masa depan serta harmoni manusia dan alam.
Saat ini, seiring semakin beragamnya jenis dan jenama, EV di Indonesia berkembang, utamanya mencakup EV berbasis baterai (BEV) dan EV hibrida. Bahkan, kini EV hibrida plug-in, yang dapat diisi ulang di fasilitas pengisian daya, juga sudah mulai masuk ke Indonesia. Beberapa tahun terakhir, sejumlah insentif juga digelontorkan pemerintah terkait EV.
Berdasarkan laporan Tenggara Strategics, yang diluncurkan pada Kamis (24/4/2025), realisasi investasi di ekosistem kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) hingga tahun 2024 diproyeksikan memberi nilai tambah bagi perekonomian sebesar Rp 29,6 triliun dengan peningkatan sebesar 0,2 persen terhadap produk domestik bruto tahun 2020.
Saat kondisi industri manufaktur nasional masih menantang, termasuk penurunan kontribusi terhadap PDB dan kontraksi di sektor otomotif, pemerintah dinilai perlu mendorong pengembangan ekosistem baterai berbasis nikel sebagai penggerak industri kendaraan listrik. Dalam hal ini, sebagai produsen nikel, Indonesia memiliki peluang untuk mengambil peran dalam rantai pasok EV global.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/15/779db5a5-c25d-47e5-9eed-4589a57e2ffc_jpg.jpg)
Peneliti Tenggara Strategics, Intan Salsabila Firman, mengatakan, ada sejumlah tantangan pengembangan EV di antaranya ialah relatif belum optimalnya insentif fiskal. ”Jadi, perlu ada insentif yang lebih agresif. Lalu, kurangnya awareness dalam teknologi baterai EV, termasuk dalam life cycle baterai,” ujarnya dalam diskusi terkait EV di Jakarta, Kamis (24/4/2025).
Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara menuturkan, salah satu hal krusial ialah konsistensi kebijakan. ”Ini perlu karena industri ini untuk jangka panjang. Indonesia bisa menjadi hub (EV) sehingga kita jangan membatasi teknologi. Dalam hal ini, anggota Gaikindo terbuka kepada siapa pun,” lanjutnya.
Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, seperti disampaikan Gaikindo, populasi kendaraan listrik Indonesia terus meningkat. Pada 2019, kendaraan listrik baru berjumlah 1.437 unit. Lalu, terus meningkat hingga 207.478 unit pada 2024. Pada 2023, market share KBLBB 1,7 persen. Kemudian meningkat menjadi 4,99 persen pada 2024.
Penulis:
Aditya Putra PerdanaEditor:
Hamzirwan .