Mobil listrik umumnya dimiliki golongan ekonomi atas yang tinggal di wilayah urban. Selain minim emisi karbon, kendaraan ini juga minim biaya operasional.
01 Mar 2025 07:00 WIB · Riset
Penjualan mobil listrik di Indonesia laris manis, terutama yang berharga kisaran Rp 300 jutaan. Mobil seharga itu umumnya dimiliki oleh golongan masyarakat kelas ekonomi atas yang tinggal di wilayah urban. Selain minim emisi karbon, mobil listrik juga menghemat biaya perjalanan harian yang identik dengan kemacetan perkotaan.
Pada mulanya, mobil listrik diciptakan untuk menekan emisi karbon yang dihasilkan oleh mesin pembakaran konvensional atau internal combustion engine (ICE). Seiring meningkatnya jumlah pengguna mobil listrik, ternyata aspek kehematan biaya operasional lebih dominan daripada aspek ramah lingkungan yang menjadi tujuan utama keberadaan electric vehicle (EV) itu.
Dalam laporan survei berjudul The Road Ahead: Indonesia's Electric Vehicle Readiness and Consumer Insights 2024 yang dirilis oleh PwC (PricewaterhouseCoopers) mengungkap bahwa alasan utama seseorang membeli dan mengendarai mobil listrik karena alasan hemat biaya.
Terdapat 73 persen reponden survei PwC di Indonesia menyatakan bahwa mereka mengadopsi mobil listrik karena bisa menghemat biaya operasional harian. Sementara itu, alasan membeli mobil listrik karena faktor ramah lingkungan diakui oleh sekitar 47 persen responden.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/26/e287548f-afb7-45a8-bead-0762b7d4add6_png.png)
Alasan serupa juga diungkapkan oleh responden survei PwC di berbagai wilayah di dunia, seperti di Asia Pasifik, Amerika Utara, Amerika Latin, Eropa, Timur Tengah, hingga Afrika. Faktor utama yang mendorong konsumen bersedia membeli kendaraan listrik sebagai moda transportasi hariannya karena tidak perlu lagi membeli bahan bakar minyak (BBM).
Selain hemat biaya bahan bakar, penghematan lainnya juga terletak pada biaya perawatan rutin. Mobil listrik memiliki komponen bergerak yang terbilang minim jika dibandingkan dengan mobil ICE. Artinya. keausan komponennya juga minim, sehingga menekan biaya perawatan dan pembelian suku cadang.
Sebagai ilustrasinya, mobil listrik merek pabrikan China, BYD, memerlukan perawatan berkala pertama ketika mencapai 5.000 kilometer (km) atau tiga bulan awal pascapembelian. Servis kedua dan seterusnya dilakukan setiap kelipatan 20.000 km. Sementara itu, servis berkala mobil bermesin BBM harus dilakukan setiap 10.000 km. Artinya, kebutuhan biaya pemeriksaan berkala mobil listrik hanya separuh dari mobil konvensional.
Pemilik mobil listrik yang disurvei oleh PwC mayoritas adalah penduduk kota-kota besar seperti Jakarta, Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang, Surabaya, Semarang, Medan, dan kota besar lainnya. Proporsi responden yang memiliki mobil listrik dan berdomisili di kota besar mencapai 85 persen. Rata-rata dari mereka berusia 42 tahun.
Hasil survei menujukkan bahwa rentang harga mobil listrik yang mereka beli sangat bervariasi. Kelompok terbanyak, yakni sekitar 15 persen menyatakan mau dan mampu membeli mobil pada kisaran harga Rp 323 juta – Rp 484 juta. Selain itu, ada pula 14 persen responden lainnya yang mampu merogoh kocek antara Rp 485 juta hingga Rp 645 juta untuk membeli EV.
Melihat dari minat dan kemampuan finansial serta dipadukan dengan domisili dan usia reponden dapat diketahui bahwa mereka yang mau dan mampu membeli mobil listrik adalah kalangan atas perkotaan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/26/45248a0a-0e7d-42d8-8a93-c237138e39da_png.png)
Hasil survei kemauan membayar atau willingness to pay (WTP) untuk membeli mobil listrik dapat dikatakan serasi dengan catatan penjualan mobil listrik yang dirilis oleh pihak Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO).
Sepanjang tahun 2024, penjualan mobil listrik didominasi oleh mobil yang ditawarkan pada rentang harga Rp 300 juta hingga Rp 499 juta. Angka penjualan mobil listrik pada kelas harga tersebut mencapai 25.534 unit atau mencakup 59 persen dari total keseluruhan penjualan EV pada kurun 2024.
Mobil terlaris di kelas harga Rp 300 jutaan adalah Wuling Cloud 460 KM (berjarak tempuh baterai sejauh 460 km) yang terjual sebanyak 3.521 unit. Pada urutan kedua disusul Wuling Binguo 410 KM versi Direct Current (DC) dengan catatan penjualan 3.483 unit.
Selanjutnya, pada kelas harga Rp 400 jutaan penjualan didominasi oleh BYD M6 Superior dan M6 Superior Captain dengan total penjualan dua varian tersebut mencapai 5.560 unit. Penjualan BYD M6 disaingi oleh Chery Omoda E5 yang membukukan penjualan hingga 4.250 unit.
Melihat dari data penjualan tersebut, pasar mobil listrik Indonesia pada kisaran harga Rp 300 jutaan dikuasai oleh Wuling, sedangkan di kelas harga Rp 400 jutaan didominasi oleh persaingan BYD dan Chery.
Mengacu pada rentang harganya, mobil listrik terlaris tahun 2024 di Indonesia itu umumnya hanya dapat dijangkau oleh mereka yang berdompet tebal. Kelas ekonomi atas inilah yang hingga saat ini menjadi target pasar mobil listrik yang paling potensial.
Konsumen utama mobil listrik yang mayoritas kelompok ekonomi mapan itu berdampak pada tren penjualan mobil listrik yang cenderung terus meningkat. Bahkan, trennya kemungkinan akan terus menguat mengalahkan tren penjualan mobil ICE.
Penjualan mobil listrik terus tumbuh sejak tiga tahun silam. Pada 2022, dalam setahun terjual 10.327 unit mobil listrik. Pada tahun berikutnya terjual 17.062 unit dan masih tumbuh terus pada tahun 2024 hingga terjual 43.193 unit. Dalam kurun dua tahun itu, penjualan EV melonjak hingga sekitar empat kali lipat.
Sebaliknya, penjualan mobil ICE cenderung terus menyusut. Laporan GAIKINDO pada tahun 2022 menunjukkan catatan penjualan mobil ICE sebanyak 937.074 unit. Setahun berikutnya, susut di angka 852.216 unit dan pada tahun 2024 kembali turun hingga menjadi 692.800 unit.
Berkaca dari data tersebut, penjualan mobil konvensional berbahan bakar bensin, solar dan Compressed Natural Gas (CNG) mengalami penurunan sekitar 17 persen pada tahun 2024. Kondisi sebaliknya terjadi pada penjualan mobil listrik, di mana pada tahun 2024 justru tumbuh 153 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/26/99ee48ab-cfcc-4f76-acd2-f8ba1dcebd34_png.png)
Salah satu faktor yang menstimulus pembelian mobil listrik di Indonesia adalah Peraturan Menteri Keuangan Nomor 10 Tahun 2024 dan Peraturan Menteri Investasi dan Hilirisasi Nomor 1 Tahun 2024 yang mengatur pembebasan bea impor dan PPnBM untuk mobil listrik completed build up (CBU) ditanggung oleh pemerintah. Aturan ini berlaku hingga Desember 2025.
Kebijakan itu turut mengakselerasi penjualan mobil listrik terutama yang diimpor dalam bentuk sudah dirakit atau CBU. Impor mobil listrik CBU pada tahun 2024 meningkat lebih dari 3 kali lipat jumlahnya.
Fenomena tersebut kian menegaskan bahwa sebagian besar pembeli mobil listrik di tahun 2024 adalah dari golongan ekonomi mapan. Pasalnya, harga mobil CBU mayoritas lebih mahal dari pada mobil yang dirakit di dalam negeri atau Completely Knocked Down (CKD).
Hasil survei PwC yang mengungkap profil dan motivasi pembeli mobil listrik di Indonesia serta dipadukan dengan data penjualan dari GAIKINDO menyiratkan bahwa EV menjadi andalan bagi konsumen kaya perkotaan untuk menekan biaya perjalanan harian mereka.
Untuk sementara waktu, kalangan atas merupakan kelompok yang paling menikmati manfaat dari mobil listrik dan segala kebijakan yang diberikan oleh pemerintah. Di antaranya seperti insentif keringanan pajak, insentif pembelian, serta bebas aturan ganjil-genap (di Jakarta) merupakan daya tarik yang sangat besar untuk membeli EV itu.
Selain berdampak baik bagi lingkungan karena minim emisi karbon, mobil listrik juga minim biaya perawatan sehingga memiliki tingkat kehematan biaya operasional yang relatif tinggi dibandingkan mobil konvensional. Jadi, membeli EV yang harganya cenderung lebih mahal sekalipun dari mobil ICE bukan menjadi penghalang bagi golongan mampu untuk meminangnya. Bisa jadi, karena sepadan dengan benefitnya dalam jangka panjang. (LITBANG KOMPAS)
Penulis:
Yohanes Advent KrisdamarjatiEditor:
Budiawan Sidik APenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari