Modifikasi Cuaca untuk Atasi Karhutla di Sumbar

Modifikasi cuaca dibutuhkan agar hujan segera turun di lokasi karhutla terparah di Sumbar yang sudah 30-60 hari tidak turun hujan.

25 Jul 2025 16:18 WIB · Lingkungan

Oleh Yola Sastra

PADANG PARIAMAN, KOMPAS — Badan Nasional Penanggulangan Bencana bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika melakukan modifikasi cuaca untuk percepatan penanganan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Sumatera Barat. Garam ditebarkan agar hujan segera turun di lokasi yang dilanda karhutla. 

Operasi modifikasi cuaca (OMC) di Sumbar dimulai pada Jumat (25/7/2025) pukul 11.40. Pesawat caravan PK-NGT yang mengangkut 1 ton garam atau natrium klorida (NaCl) lepas landas dari Bandara Internasional Minangkabau, Kabupaten Pariaman.

Melalui pesawat itu, petugas menebarkan garam di langit yang telah dipetakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) agar segera turun hujan di wilayah yang dilanda karhutla, terutama di dua kabupaten yang berstatus tanggap darurat bencana karhutla, yaitu Lima Puluh Kota dan Solok.

”Untuk sortie pertama, kami menargetkan wilayah Lima Puluh Kota dan Solok serta wilayah sekitarnya, seperti Sijunjung dan Tanah Datar,” kata Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Minangkabau-Padang Pariaman BMKG Desindra Deddy Kurniawan di sela-sela penerbangan pertama OMC.

Desindra menjelaskan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menargetkan OMC di Sumbar ini berlangsung selama lima hari pada 25-29 Juli 2025. Setiap hari ada dua sortie dengan jumlah garam yang ditebar satu ton per sortie. Namun, dalam penerapannya, akan dievaluasi apakah OMC akan diperpanjang atau tidak.

Petugas menyiapkan garam (NaCl) di dalam pesawat caravan PK-NGT untuk pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) yang diadakan BNPB dan BMKG dalam penanganan bencana kebakaran hutan dan lahan Provinsi Sumatera Barat di Bandara Internasional Minangkabau, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Jumat (25/7/2025).
Petugas menyiapkan garam (NaCl) di dalam pesawat caravan PK-NGT untuk pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) yang diadakan BNPB dan BMKG dalam penanganan bencana kebakaran hutan dan lahan Provinsi Sumatera Barat di Bandara Internasional Minangkabau, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Jumat (25/7/2025).
Petugas mempersiapkan pesawat caravan PK-NGT yang mengangkut 1 ton garam (NaCl) untuk pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) yang diadakan BNPB dan BMKG dalam penanganan bencana kebakaran hutan dan lahan Provinsi Sumatera Barat di Bandara Internasional Minangkabau, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Jumat (25/7/2025).
Pesawat caravan PK-NGT yang mengangkut 1 ton garam (NaCl) untuk pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) yang diadakan BNPB dan BMKG dalam penanganan bencana kebakaran hutan dan lahan Provinsi Sumatera Barat lepas landas di Bandara Internasional Minangkabau, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Jumat (25/7/2025).
Pesawat caravan PK-NGT yang mengangkut 1 ton garam (NaCl) untuk pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) yang diadakan BNPB dan BMKG dalam penanganan bencana kebakaran hutan dan lahan Provinsi Sumatera Barat lepas landas di Bandara Internasional Minangkabau, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Jumat (25/7/2025).
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Minangkabau-Padang Pariaman BMKG Desindra Deddy Kurniawan (kanan) didampingi Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Sumatera Barat menjawab pertanyaan wartawan tentang operasi modifikasi cuaca dalam penanganan karhutla di Bandara Internasional Minangkabau, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Jumat (25/7/2025).

Mengurangi potensi kebakaran

Menurut Desindra, penerapan teknologi modifikasi cuaca ini menjadi langkah penting dalam penanganan karhutla di Sumbar. Sebab, dari catatan BMKG, beberapa wilayah di Sumbar mengalami kekeringan panjang, bahkan mendekati ekstrem. Solok, misalnya, hari tanpa hujanya sudah mencapai 30-60 hari, sedangkan Lima Puluh Kota berkisar 20-30 hari.

”Penerapan TMC menjadi solusi riil untuk pembasahan sehingga dengan ada hujan, permukaan kembali basah dan mengurangi potensi terjadi titik panas dan titik api di Sumbar,” ujar Desindra.

Pelaksanaan OMC di Sumbar, kata Desindra, ditargetkan menghasilkan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang dengan intensitas 20-50 milimeter per hari.

Desindra menambahkan, tahun ini, kemarau di Sumbar berlangsung sejak Mei dan diprakirakan terjadi hingga awal September. Adapun Juli di Sumbar merupakan puncak musim kemarau. Jika dilihat dari jumlah hari tanpa hujan, kondisi kemarau tahun ini lebih parah dibanding sebelumnya.

”Dibanding tahun lalu, hari tanpa hujan di Sumbar tahun ini lebih parah karena sudah mendekati ekstrem, di atas 60 hari tanpa hujan. Kondisi ini yang memicu banyaknya titik panas di Sumbar,” katanya.

Kebakaran hutan dan lahan di Nagari Sarilamak, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, Minggu (20/7/2025).
Kebakaran hutan dan lahan menghasilkan kabut asap di Nagari Sarilamak, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, Senin (21/7/2025).
Petugas berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan di tengah kabut asap di Nagari Koto Tuo, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, Minggu (20/7/2025).
Petugas memadamkan api dalam kebakaran hutan dan lahan di Nagari Tarantang, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, Rabu (25/6/2025).

Kepala Pelaksana BPBD Sumbar Rudy Rinaldy mengatakan, pihaknya sangat mengharapkan adanya OMC. Sebab, petugas di lapangan kewalahan dalam memadamkan api karena lokasinya sulit dijangkau.

”Topografi lokasi lerengnya tajam dan curam. Lokasinya juga sulit dijangkau mobil pemadam kebakaran karena berada dalam kawasan hutan,” kata Rudy.

Rudy menyebut, setidaknya ada tujuh kabupaten/kota yang melaporkan kejadian karhutla kepada BPBD Sumbar. Secara total, ada sekitar 500 hektar hutan dan lahan yang terdampak kebakaran. ”Karhutla terparah di Solok dan Limapuluh Kota,” ujarnya.

Merujuk prakiraan BMKG bahwa musim kemarau di Sumbar berlangsung hingga awal September, Rudy pun mengimbau warga agar berhati-hati menyalakan api dan tidak membuka atau mempersiapkan lahan dengan cara membakar.

”Jangan sekali-kali membakar hutan dan membuka lahan dengan cara membakar karena dampaknya luar biasa, tidak hanya untuk pelaku, tetapi juga berbahaya untuk orang lain,” katanya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yola Sastra
 | 

Editor:

Harry Susilo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul