Secara klimatologis, beberapa wilayah di Sumatera Barat sedang memasuki puncak musim kemarau sehingga rentan terjadi kebakaran hutan dan lahan.
10 Jul 2025 15:58 WIB · Lingkungan
PADANG, KOMPAS — Puluhan kasus kebakaran hutan dan lahan atau karhutla terjadi di beberapa daerah di Sumatera Barat saat musim kemarau 2025. Warga pun diingatkan agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, apalagi Sumbar sedang memasuki puncak musim kemarau.
Kepala Dinas Kehutanan Sumbar Ferdinal Asmin, Kamis (10/7/2025), mengatakan, dalam periode Januari-Juni 2025, terjadi 43 kasus karhutla di Sumbar. Jumlah kawasan dan lahan yang terdampak mencapai 75 hektar.
”Awal Juli ini, juga banyak kejadian, ada beberapa kasus, belum ada laporan resmi (dari daerah). Namun, setidaknya, ada sepuluh kasus,” kata Ferdinal, Kamis siang.
Menurut Ferdinal, karhutla terbanyak terjadi di Kabupaten Solok, disusul kabupaten/kota lainnya, yaitu Lima Puluh Kota, Dharmasraya, Sijunjung, Pesisir Selatan, Padang, Pasaman, dan Tanah Datar.
”Sekitar 88 persen kebakaran berada di luar kawasan hutan. Kebakaran umumnya terjadi di areal penggunaan lain (APL),” ujarnya.
Selain faktor musim kemarau, kata Ferdinal, sebagian besar karhutla, terutama di APL, terjadi akibat warga mempersiapkan lahan pertanian dengan cara membakar. Ia pun mengingatkan warga bahwa membuka lahan dengan cara membakar sangat berbahaya dan dapat dijerat sanksi pidana.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/10/622fd42538d92009b546d05fe3a2db10-WhatsApp_Image_2025_07_10_at_15.19.31.jpeg)
Ferdinal melanjutkan, Satgas Karhutla Sumbar merespons laporan karhutla ini dengan pemadaman, sosialisasi kepada masyarakat, dan koordinasi dengan instansi terkait. Dengan maraknya karhutla, dinas juga sudah melapor kepada BPBD Sumbar agar menetapkan status siaga darurat bencana kebakaran.
”Beberapa daerah, terutama Kabupaten Solok dan Kota Solok, banyak kejadian kebakaran. Semestinya ada penetapan status siaga darurat. Banyak kejadian kebakaran di luar kawasan hutan, kami tentu cuma bisa menjangkau yang kami bisa,” katanya.
Aplikasi Sistem Pemantauan Karhutla atau SiPongi+ mencatat, dalam 48 jam terakhir terdapat 21 titik panas di Sumbar dengan tingkat kepercayaan sedang (kuning). Titik-titik panas itu antara lain tersebar di Pesisir Selatan, Solok, Sijunjung, Lima Puluh Kota, Pasaman, dan Pasaman Barat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/10/ab0df1e49bcb97966f320d1e50041213-WhatsApp_Image_2025_07_10_at_15.29.22.jpeg)
Secara terpisah, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Minangkabau-Padang Pariaman BMKG Desindra Deddy Kurniawan mengatakan, secara klimatologis, pada Juli, Sumbar memasuki puncak musim kemarau di beberapa wilayah, kecuali di kawasan pesisir yang tidak mengenal musim kemarau.
”Meskipun musim kemarau, bukan berarti tidak ada hujan sama sekali. Tetap ada potensi hujan, tetapi intensitasnya rendah. Dalam sepuluh hari atau satu dasarian, (curah hujan) tidak mencapai 50 milimeter,” katanya.
Desindra menyebut, BMKG memprakirakan tidak ada potensi hujan lebat hingga 12 Juli 2025. Walakin, secara harian, masih ada potensi hujan, terutama pada sore dan malam hari.
Minimnya intensitas hujan akhir-akhir ini, kata Desindra, memperbesar potensi munculnya titik panas. Ia pun mengimbau masyarakat agar tidak membakar lahan yang berpotensi memicu karhutla. Sebagian besar karhutla dipicu ulah manusia.
”Saat musim kemarau ini sangat penting untuk terus disampaikan kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar karena sangat berbahaya,” ujarnya.
Penulis:
Yola SastraEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari