Penghargaan Golden Globes ke-82 jadi kejutan manis bagi aktor lawas Demi Moore. Demikian juga bagi para pemenang lainnya.
07 Jan 2025 10:33 WIB · Hiburan
Ajang Penghargaan Golden Globes ke-82 menjadi sorotan dengan deretan pemenang yang tahun ini mencetak sejarah. Acara yang berlangsung Minggu (05/1/2024) malam waktu setempat di California, AS, ini, tak hanya menampilkan film-film terbaik, namun juga momen emosional para pemenangnya, termasuk dari aktor senior Demi Moore dan Sebastian Stan.
Sebagai ajang pembuka tahun dalam penghargaan industri film, Golden Globes tahun ini menyoroti film musikal dan drama yang penuh pesan mendalam. Mulai dari perjuangan imigran hingga penerimaan identitas diri.
Aktor lawas Demi Moore dinobatkan sebagai salah satu pemenang penghargaan Golden Globes ke-82. Pencapaian tersebut menjadi suatu hal yang sangat mengharukan bagi Moore mengingat penghargaan tersebut adalah yang perdana baginya setelah nyaris lima dekade malang melintang di industri film Hollywood.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/06/f8c85b4a-dfa1-4994-ad2a-38121f22feb9_jpg.jpg)
“Saya telah melakukan ini sejak lama. Lebih dari 45 tahun. Ini adalah pertama kalinya saya memenangkan apa pun sebagai seorang aktris," ujarnya sambil memegang piala penghargaannya itu.
Moore diganjar penghargaan untuk kategori aktris terbaik lewat film terbarunya, The Substance (2024). Film itu sendiri berkisah tentang seorang aktris, dengan ketenaran semakin memudar. Sang aktris kemudian berjuang mencari sumber awet muda.
Seolah sama dengan kisah yang diperankannya tadi, Moore beberapa tahun lalu mengaku sempat mengira kariernya di dunia film sudah tak akan lama lagi dan akan berakhir.
Namun saat membaca naskah The Substance, yang satu saat ditawarkan kepadanya, kepercayaan diri Moore bangkit. “Alam semesta (sepertinya) mengatakan kepadaku kariermu belum (akan) berakhir,” ujarnya.
Di ajang sama aktor Sebastian Stan juga memenangkan penghargaan sebagai aktor terbaik. Stan mendapat penghargaan itu atas permainannya di film A Different Man (2024).
Film itu berkisah tentang seorang yang menjalani perawatan eksperimental untuk kondisi wajahnya yang rusak namun kemudian menyesali konsekuensinya. Lewat filmnya Stan mencoba mengampanyekan penghargaan terhadap para penderita disabilitas.
"Ketidaktahuan dan ketidaknyamanan kita terhadap disabilitas dan cacat harus diakhiri sekarang. Kita harus menganggapnya sebagai hal yang wajar dan terus mengekspos diri kita terhadapnya," ujar Stan.
Golden Globes juga menobatkan film musikal surealis Emilia Perez dan drama imigran epik The Brutalist menjadi pemenang utama. Film Emilia Perez, garapan sutradara asal Perancis, Jacques Audiard, berkisah dengan latar budaya dan bahasa Meksiko.
Film Emilia Perez sebelumnya mengantongi “bekal” terbanyak, 10 nominasi, dan dinobatkan sukses meraup empat penghargaan sekaligus, termasuk sebagai film komedi atau musikal terbaik. Selain menang penghargaan film berbahasa non-Inggris terbaik, film itu juga menang kategori lagu orisinal terbaik.
Sementara itu salah seorang pemerannya, Zoe Saldana, juga dinobatkan menjadi aktris pendukung terbaik, mengalahkan lawan mainnya Selena Gomez. Saat menerima penghargaan Saldana sangat terharu dan bahkan menangis atas keberhasilan film, yang berkisah tentang seorang gembong narkoba Meksiko, yang bertobat.
Tak hanya berhenti menjadi gembong narkoba, sang tokoh utama juga diceritakan beralih ke kehidupan baru, dengan bertransisi menjadi seorang wanita. Karakter utama dimainkan Karla Sofia Gascon. Di dunia nyata Gascon juga dikenal sebagai bintang film transgender.
Dengan tak kalah emosional jika dibandingkan Demi Moore, Gascon menyampaikan pesannya dengan penuh perasaan di atas panggung penghargaan tersebut.
"Anda mungkin bisa memenjarakan kami, Anda bisa memukuli kami, tetapi Anda tidak akan pernah bisa merenggut jiwa kami, perlawanan kami, identitas kami. Angkat suara Anda dan katakan, 'Saya menang. Saya adalah saya, bukan yang Anda inginkan'," ujar Gascon.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/06/bbc37849-9c20-4985-b422-d484b72f61ae_jpg.jpg)
Sementara itu film The Brutalist meraup penghargaan terbaik di dua kategori, film drama terbaik dan aktor terbaik, dengan pemeran utama Adrien Brody dan disutradarai Brady Corbet. Film itu berkisah tentang seorang penyintas Holocaust asal Hungaria, arsitek Yahudi yang selamat dari penganiayaan Nazi lalu bermigrasi ke Amerika Serikat.
Saat menyampaikan pidato kemenangannya di atas panggung, Corbet, yang juga dinobatkan sebagai sutradara terbaik, mengaku dirinya dan juga filmnya itu sempat diragukan. Hal itu lantaran dia membuat film berdurasi tayang sangat panjang mencapai sekitar 3,5 jam.
"Saya diberi tahu kalau tak akan ada seorang pun bakal datang menonton film ini. Tak seorang pun meminta film berdurasi tiga setengah jam tentang seorang desainer pertengahan abad. Akan tetapi film ini (nyatanya) berhasil,” ujar Corbet.
Film tersebut juga dianggap menjadi kemenangan sekaligus kebangkitan kembali karier Brody. Lebih dari dua dekade lalu Brody pernah dinobatkan menjadi pemenang termuda kategori aktor terbaik Piala Oscar untuk film The Pianist (2002).
Di film tersebut Brody juga memerankan seorang penyintas tragedi Holocaust. Dalam pidatonya Brody mengaku sempat merasa momen (kemenangan) seperti itu tidak akan pernah dapat dirasakannya lagi.
”Kisah itu sangat mengingatkan saya ke kisah ibu saya dan perjalanan leluhur saya saat melarikan diri dari kengerian perang untuk bisa datang ke negara besar ini," ujar Brody.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/06/4964125a-3448-4c9f-8e98-b3b3f023e035_jpg.jpg)
Walau keberadaannya sempat mengundang kontroversi, terutama terkait isu kesetaraan ras, ajang penghargaan Golden Globes masih dinilai signifikan. Ibarat sebuah pemanasan, keberhasilan satu film di Golden Globes kerap diyakini bisa membantu mendapatkan penonton baru.
Hal itu juga diyakini bisa membangun momentum penting menuju ajang penghargaan Oscar pada awal Maret mendatang. Walau jumlah penyeleksi masih kalah jauh jika dibandingkan dengan ajang Oscar, Golden Globes dinilai sudah melakukan banyak perbaikan di bawah kepemilikan baru.
Setelah pembubaran Hollywood Foreign Press Association (HFPA) yang dulu menjadi badan pemungutan suara untuk Golden Globes, jumlah penyeleksi calon pemenang penghargaan itu kini melibatkan 334 jurnalis hiburan dari 85 negara.
Jika dibandingkan dengan Academy Awards (Oscar), yang jumlah pemilihnya mencapai 9.000 orang, angka tadi belum seberapa.
Pada tahun 2021 suratkabar Los Angeles Times mengungkap HFPA ternyata tak memiliki anggota berkulit hitam. Hal itu sudah lama memicu kritik tentang pelanggaran etika dan kurangnya keberagaman, yang berujung pada tuntutan perluasan dan reformasi.
Aktor Kieran Culkin memenangkan kategori pendukung terbaik untuk film komedi A Real Pain (2024). Film itu berkisah tentang dua saudara sepupu warga Amerika yang menelusuri kembali akar Eropa mereka.
Film Latvia Flow memenangkan penghargaan film animasi terbaik. Film itu berkisah tentang sebuah pengembaraan surealis tanpa dialog tentang sekelompok hewan, yang dipaksa bekerja sama. Mereka terhanyut dalam perahu melalui dunia yang banjir.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/16/1e042786-c77e-4da5-9822-cc924f593e01.jpg)
Ajang Golden Globes juga memberikan penghargaan terhadap beberapa film serial televisi terbaik. Beberapa di antaranya adalah film epik sejarah Jepang, Shogun, komedi showbiz berjudul Hacks, dan serial terbatas Baby Reindeer.
Penghargaan untuk Shogun salah satunya diberikan pada aktris Anna Sawai, yang sekaligus juga menjadi nominasi sekaligus kemenangan perdananya. Sawai mengaku berterima kasih kepada para pemilihnya. Secara pribadi dia mengaku akan memilih Kathy Bates.
Film drama serial terbatas Baby Reindeer berkisah tentang seorang pria yang menjadi korban penguntit perempuan serta dampak psikologisnya. Richard Gadd, yang membintangi sekaligus menjadi kreator kisah drama psikologis ini menyebut sudah saatnya pemirsa televisi menikmati cerita yang berbicara tentang sifat rumit dan sulit dari zaman kekinian.
"Menurut saya, dalam banyak hal orang-orang seperti menginginkan sesuatu yang berbicara tentang ketidakkonsistenan, yang menyakitkan dalam hidup manusia. Saya pikir selama ini ada semacam kepercayaan di televisi, cerita yang terlalu gelap dan rumit tak akan laku dan tak akan ada yang menonton. Jadi, saya berharap Baby Reindeer telah menyingkirkan teori itu," ujar Gadd. (AFP/REUTERS)
Penulis:
Wisnu DewabrataEditor:
Dahono FitriantoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .